Seminggu berlalu sejak pertemuan pertama yang mengubah dunia Nayla. Sejak hari itu, wajah Ustadz Rafa Al Fatih entah kenapa selalu muncul dalam pikirannya, bukan karena jatuh cinta, tentu saja (setidaknya, begitu pembelaan Nayla pada dirinya sendiri), tapi karena rasa penasaran. Penasaran, kenapa pria setenang dan sesopan itu bisa menerima ide gila perjodohan dengan dirinya, gadis yang bahkan mengaji pun masih terbata.
Namun pagi itu, tepat ketika matahari menyelinap di balik jendela kamarnya, Nayla dikejutkan oleh suara ibunya.
“Nayla, tolong siap-siap ya. Siang ini keluarga Ustadz Rafa mau datang.”
Nayla yang baru saja bangun dan masih menggenggam bantal langsung terlonjak.
“APA?! Datang lagi?!” serunya setengah menjerit.
“Iya, Nayla sayang. Tapi kali ini bukan cuma Ustadz Rafa, dia datang bersama kedua orang tua angkatnya. Mereka mau… melamar.”
Bantal di tangan Nayla nyaris terlempar ke langit-langit.
“Melamar?!” serunya panik. “Mah, Nayla aja belum siap! Kuliah aja masih dua tahun lagi, gimana bisa langsung dilamar?”
Ibunya hanya tersenyum tenang, seperti sudah hafal dengan reaksi putrinya yang dramatis.
“Nay, tenang. Kamu bicarakan saja baik-baik nanti. Kalau memang belum siap menikah, sampaikan langsung pada beliau. Ustadz Rafa itu orangnya bijak kok.”
Nayla mengeluh panjang.
“Ya Allah, kenapa hidup gue kayak drama religi sih…”
Menjelang siang, rumah keluarga Kartasasmitha kembali harum oleh aroma masakan ibu. Ruang tamu dihias sederhana, namun elegan. Sementara Nayla mondar-mandir di kamarnya, menatap pantulan dirinya di cermin.
“Kenapa setiap kali mau ketemu dia, jantung gue kayak balap motor sih,” gumamnya sambil mengibas-ngibaskan wajah dengan tangan.
Kali ini ia memilih gamis biru muda yang sederhana. Tidak terlalu syar’i, tapi cukup sopan untuk acara resmi. Wajahnya hanya dipoles bedak tipis, dan rambutnya diikat rapi lalu ditutup kerudung segi empat polos.
Saat suara mobil terdengar di depan rumah, Nayla langsung menegakkan tubuhnya. Dari jendela, ia bisa melihat sosok Ustadz Rafa keluar dari mobil hitam bersama dua orang yang tampak anggun dan berwibawa, sepasang suami istri paruh baya yang terlihat berpendidikan.
Ayah Nayla menyambut mereka dengan hangat.
“Assalamu’alaikum, silakan masuk, Pak, Bu, Ustadz.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Rafa sambil tersenyum sopan.
Nayla berdiri kaku di ruang tamu, menunduk saat Ustadz Rafa menatapnya. Senyuman pria itu tetap sama seperti seminggu lalu, menenangkan, tapi entah kenapa justru membuat Nayla makin gugup.
Setelah berbincang sejenak, barulah pembicaraan inti dimulai.
Ayah Nayla menatap lembut ke arah putrinya. “Ustadz Rafa datang hari ini bersama kedua orang tua angkatnya, ingin melamar kamu, Nak.”
Nayla yang sedang menunduk langsung menegakkan tubuh.
“Melamar?” suaranya lirih, tapi cukup terdengar oleh semua orang.
Wajahnya memerah, namun ia memberanikan diri bicara.
“Maaf sebelumnya, Ustadz Rafa” ucapnya pelan. “Jujur sebenarnya saya belum siap untuk menikah sekarang. Saya masih kuliah, dan kuliah saya belum selesai, masih dua tahun lagi.”
Ruangan mendadak hening. Ibunya menatapnya khawatir, ayahnya menghela napas. Tapi Rafa hanya tersenyum. Senyuman yang sama, begitu teduh dan penuh pengertian.
“Alhamdulillah,” katanya pelan. “Berarti kamu punya tujuan yang jelas, Nayla.”
Nayla menatapnya bingung. “Maksudnya?”
“Artinya kamu ingin menyelesaikan tanggung jawabmu dulu. Itu sikap yang baik. Islam tidak melarang wanita untuk menuntut ilmu sebelum menikah. Saya tidak datang hari ini untuk memaksa.”
Rafa menatapnya lembut, suaranya tenang dan penuh keyakinan.
“Saya datang untuk melamar, iya. Tapi saya tidak memaksa untuk menikah sekarang. Kalau kamu ingin fokus dulu pada kuliah, silakan. Saya bisa menunggu.”
Mata Nayla membesar. “Serius, Ustadz? Boleh?”
Rafa tersenyum kecil. “Tentu. Tapi saya hanya punya satu permintaan kecil.”
Nayla menelan ludah. “Apa itu?”
“Kita bertunangan minggu depan, jika kamu berkenan. Tidak lebih dari itu. Hanya tanda niat baik, agar hubungan kita halal di mata Allah dan orang tua.”
Kata-kata itu seperti menembus langsung ke hati Nayla. Ia menunduk, berpikir keras.
Tunangan? Ia belum siap menikah, tapi mungkin… bertunangan bukan hal yang buruk.
Ia menatap Rafa lagi, ragu tapi jujur. “Kalau begitu… saya setuju, tapi dengan beberapa syarat.”
Rafa mengangguk tenang. “Sebutkan.”
Nayla mengangkat satu jari. “Pertama, saya nggak bisa langsung berubah. Maksud saya… saya belum bisa langsung pakai kerudung syar’i tiap hari. Kadang saya masih suka pakai baju biasa, dan saya belum bisa rutin ngaji.”
Rafa tersenyum. “Baik.”
“Terus… saya juga belum paham banyak soal agama. Jadi jangan harap saya langsung jadi calon istri salehah gitu.”
Rafa menunduk hormat. “Saya tidak berharap kamu berubah dalam semalam, Nayla. Tapi saya ingin menemani kamu belajar.”
Suara itu membuat Nayla nyaris kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa dilihat bukan karena penampilan atau gaya hidupnya, tapi karena dirinya sendiri.
Sebelum pamit, Rafa berdiri dan menyerahkan sebuah bingkisan kecil berbalut kain putih.
“Saya tidak membawa cincin hari ini,” katanya. “Tapi saya ingin memberi sesuatu yang lebih berarti.”
Nayla membuka kain itu perlahan. Di dalamnya ada satu sajadah berwarna lembut dan sebuah buku berjudul Tuntunan Shalat Sehari-hari.
“Sajadah ini saya sebut Sajadah Cinta,” ucap Rafa pelan. “Karena dari sanalah cinta sejati dimulai. Dengan cinta kepada Allah, bukan manusia.”
Nayla menggigit bibir. Ada sesuatu yang menekan dadanya.
“Terima kasih, Ustadz,” katanya pelan. “Saya akan coba belajar.”
Rafa tersenyum hangat. “InsyaAllah, saya yakin kamu bisa.”
Namun tak semua orang menyambut keputusan Rafa dengan hati tenang.
Di perjalanan pulang, ibu angkatnya, Ny. Zahra, menatap Rafa dengan ekspresi tak setuju.
“Rafa, Ibu mau tanya. Kamu yakin dengan keputusanmu?”
Rafa menatap lurus ke jalan, suaranya tenang. “InsyaAllah, yakin, Bu.”
“Tapi kenapa Nayla, Nak?” suara ibunya melembut tapi tajam. “Ibu dengar sendiri tadi, dia bahkan belum paham agama. Ibu sebenarnya berharap kamu dengan Melody saja. Dia itu sudah seperti anak Ibu sendiri. Lulusan Kairo, cerdas, sopan, dan sepadan denganmu.”
Ayah angkat Rafa, Pak Damar, ikut menimpali. “Ibu benar, Rafa. Kamu tahu Ibu itu tidak menolak Nayla karena tidak suka, tapi karena kami ingin yang terbaik buat kamu.”
Rafa tersenyum tipis.
“Rafa tahu, Bu, Pak. Tapi justru karena itu Rafa yakin, Allah mempertemukan Rafa dengan Nayla bukan tanpa alasan. Mungkin melalui Rafa, Allah ingin membimbing dia. Dan siapa tahu, melalui dia, Allah juga sedang mendidik Rafa agar lebih sabar dan rendah hati.”
Hening sesaat memenuhi mobil.
Ny. Zahra menatap Rafa lama, lalu menghela napas. “Kamu selalu begitu, Rafa. Tenang dan yakin seperti ayahmu dulu. Baiklah, kalau itu keputusanmu, Ibu tidak akan menghalangi.”
Rafa menoleh, tersenyum lembut. “Terima kasih, Ibu.”
Sementara itu, di kamar Nayla malam itu, sajadah yang diberikan Rafa terbentang di atas meja riasnya. Ia menatapnya lama, jemarinya menyentuh lembut permukaannya.
“Sajadah Cinta, ya…” bisiknya.
Ada sesuatu yang berubah di dadanya. Ia belum tahu apa itu, mungkin rasa penasaran, mungkin kagum, mungkin juga rasa yang belum berani ia akui.
Tapi yang pasti, malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nayla menunduk dan berdoa, bukan karena disuruh ibunya, tapi karena hatinya sendiri yang ingin bicara.
Dan di kejauhan, mungkin tanpa ia sadari, ada seorang pria bernama Rafa yang juga tengah berdoa, memohon agar Allah memberkahi setiap langkah kecil perubahan itu, agar kelak, Sajadah Cinta benar-benar menjadi saksi awal perjalanan mereka menuju cinta yang diridhai-Nya.