Minggu pagi, matahari bersinar lembut, menembus tirai jendela kamar Nayla. Aroma semur ayam dan sambal goreng kentang tercium dari dapur. Suara riang ibunya terdengar jelas memanggil.
“Naylaaa… ayo bangun, sayang! Hari ini Ibu masak spesial buat Ustadz Rafa. Tolong nanti kamu antar langsung ke kantornya, ya.”
Nayla menggeliat malas di tempat tidur. “Hah? Ke kantornya Ustadz Rafa?” gumamnya setengah sadar. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan kalau ia tidak salah dengar.
“Iya,” sahut ibunya sambil tersenyum dari dapur. “Mama inget kalau hari Minggu itu Ustadz Rafa tetap ngantor, karena ada beberapa proyek arsitektur yang harus diselesaikan. Sekalian Mama titipkan masakan ini, biar kamu kenalan lebih baik. Masa calon tunangan nggak pernah ketemu lagi setelah lamaran?”
Nayla menegakkan tubuhnya, pipinya memanas.
“Calon tunangan… Mah, jangan ngomong begitu ah,” protesnya pelan, tapi tak mampu menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Dengan setengah hati tapi juga dengan perasaan campur aduk, Nayla akhirnya bersiap. Ia memilih gamis putih gading dengan kerudung pastel polos. Tidak terlalu mewah, tapi cukup rapi. Di depan kaca, ia menarik napas dalam.
“Santai, Nayla… ini cuma nganter makanan. Cuma nganter… bukan kencan,” katanya pada bayangan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, ia menyalakan mobil Jeep putihnya, berangkat membawa dua rantang besar berisi masakan. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, setiap mendengar nama Ustadz Rafa, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan, antara gugup, kagum, dan… sedikit malu.
Kantor arsitektur tempat Rafa bekerja terletak di bangunan dua lantai bergaya minimalis modern, dengan nuansa putih dan cokelat kayu. Nayla memarkir mobilnya di depan, lalu menaiki tangga dengan hati-hati sambil membawa rantang.
Begitu masuk ke lobi, ia disambut resepsionis yang ramah.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”
“Pagi. Saya Nayla… eh, saya cuman mau mengantarkan makanan untuk Ustadz Rafa,” jawabnya agak kikuk.
“Ohh… Ustadz Rafa sedang di ruangannya. Silakan ke lantai dua, belok kanan, ruangan kaca paling ujung,” ujar resepsionis dengan senyum menggoda. “Wah… keberuntungan banget ya bisa nganterin beliau. Banyak karyawan cewek yang nge-fans, loh.”
Nayla hanya membalas dengan senyum kaku dan cepat-cepat naik ke lantai dua, tidak mau berlama-lama mendengar komentar itu. Sesampainya di depan ruangan Rafa, ia menarik napas pelan dan mengetuk pintu.
Tok tok tok…
“Silakan masuk,” suara Rafa terdengar tenang dari dalam.
Nayla membuka pintu perlahan. Pandangannya langsung tertumbuk pada sosok Rafa yang duduk di balik meja kerja besar, dengan tumpukan blueprint dan laptop terbuka. Ia mengenakan kemeja putih bersih, tangan kirinya menggulung lengan baju hingga siku. Kacamata tipis bertengger di hidung, memberi kesan serius tapi tetap teduh.
“Assalamu’alaikum…” sapa Nayla pelan.
Rafa mendongak, senyum hangatnya langsung muncul.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Nayla? MasyaAllah… pagi-pagi sudah datang. Ini apa?” tanyanya sambil berdiri dan menghampiri.
“Hmm... ini Mama yang masak. Katanya titip diantar ke sini,” jawab Nayla gugup, menyerahkan rantang itu.
Rafa menerimanya dengan hati-hati.
“Jazakillah khair… sampaikan terima kasih banyak buat Ibu. Masakan beliau selalu bikin kantor ini heboh, soalnya biasanya saya bagi-bagi juga ke tim.”
Nayla tersenyum malu. “Oh gitu ya…”
“Sekalian, kalau Nayla belum ada acara… gimana kalau makan siang bareng di kantin belakang? Di sana tempatnya tenang, nggak banyak orang luar yang tahu,” ajak Rafa sopan.
Awalnya Nayla ingin langsung pamit, tapi melihat tatapan tulus Rafa, entah kenapa ia tidak tega menolak.
“Boleh deh… kalau nggak merepotkan,” jawabnya pelan.
“Nggak sama sekali,” ucap Rafa lembut. “Ayo, biar saya bantu bawakan rantangnya.”
Kantin belakang kantor itu sederhana tapi asri. Banyak tanaman rambat dan kolam ikan kecil dengan gemericik air yang menenangkan. Beberapa karyawan lewat, memberi salam hormat pada Rafa, menunjukkan betapa dihormatinya sosok itu.
Rafa membuka rantang satu per satu. Aroma semur ayam langsung menyebar, membuat beberapa orang yang lewat melirik iri. Nayla tertawa kecil.
“Wah, kayaknya banyak yang ngiler,” godanya.
Rafa ikut tersenyum.
“Iya, soalnya Ibu kamu masaknya enak banget. Saya sampai hafal aroma khasnya.”
Saat makan, Nayla sesekali melirik Rafa diam-diam. Ia kagum melihat bagaimana Rafa bersikap pada karyawan: sopan, rendah hati, dan tidak pernah membeda-bedakan. Bahkan saat ada office boy lewat membawa air, Rafa berdiri sejenak memberi salam dengan hormat.
“MasyaAllah…,” gumam Nayla dalam hati. “Dia bukan cuma ustadz… tapi juga profesional, sabar, dan rendah hati.”
Hatinya mulai hangat, perasaan kagumnya semakin dalam. Namun suasana tenang itu tiba-tiba berubah drastis.
“Rafa!”
Sebuah suara lembut namun tegas terdengar dari arah pintu kantin. Nayla menoleh dan mendapati seorang wanita cantik berhijab rapi berjalan mendekat. Wajahnya teduh, kulitnya cerah, matanya tajam tapi anggun. Pakaian yang ia kenakan syar’i elegan, khas lulusan pesantren atau timur tengah. Wanita itu bernama Melody.
Rafa berdiri, menyambut dengan sopan. “Melody? Kamu ngapain ke sini?”
“Aku lewat daerah sini, sekalian mampir. Aku mau kasih beberapa dokumen kerja sama program dakwah kampus. Aku tanya ke resepsionis, katanya kamu di sini.”
Nayla menunduk pelan, merasa canggung. Ia tidak mengenal Melody, tapi dari cara Melody memandang Rafa… seolah mereka cukup dekat.
Melody baru menyadari kehadiran Nayla, dan sejenak ekspresinya berubah. Tatapannya penuh tanda tanya, tapi tersenyum sopan.
“Oh… maaf, saya nggak bermaksud mengganggu. Ini siapa, Rafa?”
Tanpa ragu, Rafa menjawab dengan tenang tapi tegas.
“Ini Nayla… insyaAllah calon istri saya.”
Suasana seketika hening. Melody terkejut, matanya membesar sesaat sebelum ia bisa menyembunyikannya dengan senyum.
“O-oh… begitu ya. MasyaAllah…” katanya pelan, meski terdengar getir.
Nayla nyaris tersedak air putih. Wajahnya panas, jantungnya seperti berhenti berdetak. Calon istri? Ia menunduk semakin dalam.
Melody lalu duduk di kursi sebelah mereka, mulai berbicara tentang banyak hal, mengenai dakwah, kegiatan sosial, bahkan hal-hal kecil yang seolah ingin menunjukkan kedekatannya dengan Rafa. Nada bicaranya tidak kasar, tapi ada aura “rasa memiliki” yang membuat Nayla tidak nyaman.
Setiap Melody menyebut kenangan lama mereka, Nayla merasa makin kecil. Dalam hati ia bergumam,
“Ya ampun… itu cewek siapa ya? Cantik banget kayak bidadari, pintar, alim… pasti mantannya Ustadz Rafa, deh. Nggak mungkin enggak.”
Perasaan minder menyelusup tanpa bisa ia cegah. Akhirnya, dengan suara pelan ia berkata,
“Maaf Ustadz… saya pamit dulu, ya. Ada urusan sedikit.”
Rafa menoleh cepat. “Lho, Nayla...”
“Nggak apa-apa,” potong Nayla dengan senyum kaku. “Terima kasih untuk makan siangnya.”
Tanpa menunggu tanggapan, Nayla berdiri dan melangkah cepat keluar. Dadanya sesak, matanya panas.
Rafa bangkit ingin mengejar, tapi Melody menahan tangannya.
“Rafa, sebentar… aku...”
Rafa menarik tangannya pelan tapi tegas.
“Maaf, Melody. Kita bukan mahram. Tolong jangan sentuh saya. Saya harus kejar Nayla.”
Wajah Melody memucat, tangannya terhenti di udara. Rafa segera berlari ke parkiran belakang, namun mobil Nayla sudah tidak ada.
Di dalam mobil, Nayla menggenggam setir erat-erat. Matanya menerawang ke depan, tapi pikirannya penuh suara Melody dan ucapan Rafa tadi.
“Cantik banget… kayak ustadzah beneran,” gumamnya pelan. “Aku siapa sih? Nggak sepadan banget. Dia pasti nyesel nanti…”
Namun di balik kegundahan itu, ada secuil rasa aneh, rasa ingin membuktikan bahwa dirinya juga bisa belajar dan menjadi lebih baik. Tapi perasaan minder masih lebih dominan saat itu.
Rafa berdiri di parkiran cukup lama, menatap kosong ke arah jalan yang baru saja dilalui mobil Nayla. Hatinya diliputi kekhawatiran.
“Ya Allah, jangan biarkan kesalahpahaman kecil ini menjadi besar,” doanya dalam hati.
Melody mendekat perlahan. “Rafa… aku minta maaf, aku nggak tahu tadi siapa dia. Aku benar-benar nggak bermaksud…”
Rafa menatapnya dengan lembut tapi tegas.
“Melody, aku menghargai niat baikmu. Tapi mulai sekarang, aku mohon jaga jarak. Nayla bukan sekadar ‘orang baru’. Dia amanah dari Allah yang harus aku jaga.”
Melody terdiam, menunduk.
“Baik, Rafa,” katanya lirih.
Malam itu, Nayla kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ia melepaskan kerudung, duduk di depan sajadah yang pernah diberikan Rafa. Jemarinya menyentuh lembut permukaannya.
“Sajadah Cinta…” bisiknya. “Tapi kenapa hati ini malah sakit begini?”
Air mata menetes perlahan, bukan karena marah, tapi karena bingung pada perasaannya sendiri. Di sisi lain, Rafa duduk di ruangannya, membuka mushaf, dan menengadahkan tangan.
“Ya Allah… jika Nayla memang takdirku, kuatkan hatinya dan hatiku. Jadikan pertemuan ini bukan ujian yang memisahkan, tapi jalan untuk saling belajar dan menguatkan dalam kebaikan.”