Senin pagi datang dengan langit cerah. Matahari muncul malu-malu dari balik awan tipis, menyinari halaman rumah Nayla dengan cahaya hangat. Burung-burung berkicau riang di pepohonan depan rumah, seolah ikut menyambut hari baru.
Nayla duduk di depan meja riasnya dengan hati tidak tenang. Sejak kejadian di kantor Rafa bersama Melody, perasaannya masih campur aduk. Malam-malam sebelumnya ia lewati dengan banyak istighfar dan shalat malam, berusaha menenangkan hatinya. Tapi setiap kali bayangan Melody muncul, rasa minder itu kembali datang.
“Cantik… pintar… dekat dengan Rafa,” gumamnya lirih. “Apa aku bisa sepadan?”
Ia menghela napas panjang, lalu menata bajunya dengan rapi. Kali ini dia tidak lagi memakai kaos street tetapi Nayla lebih sering memakai kemeja longgar dan celana panjang yang sopan. Hari ini perkuliahan dimulai lagi setelah libur akhir pekan. Ia memutuskan berangkat lebih awal, berharap bisa menenangkan diri di kampus sebelum kelas dimulai.
Baru saja ia hendak melangkah keluar pintu utama, suara klakson pelan terdengar dari depan.
Tiiin…
Nayla terkejut. Sebuah mobil hitam elegan terparkir di depan rumah. Dari jendela depan, muncul sosok yang tak asing — Ustadz Rafa.
“Assalamu’alaikum, Nayla,” sapa Rafa sambil tersenyum hangat. “Boleh saya antar ke kampus hari ini?”
Nayla membeku di tempat. “U-ustadz Rafa, Ustad mau ada apa ke sini?” tanyanya terbata, matanya membulat tak percaya.
“Iya,” jawab Rafa santai. “Kebetulan kantor saya agak searah dengan kampusmu. Lagipula, sudah tugas saya menjaga calon istri saya, kan?” katanya dengan nada menggoda tapi tetap sopan.
Wajah Nayla sontak merona. Ia menunduk cepat, tak berani membalas tatapan mata teduh itu.
“Eh… i-iya… tapi nggak usah repot-repot, Ustadz. Saya bisa naik mobil sendiri kok,” katanya gugup.
Rafa tertawa kecil. “Bukan repot, Nayla. Ini justru saya yang senang. Ayo, masuk. Kalau terus berdiri di depan pagar begini, tetangga bisa salah paham,” ucapnya berseloroh.
Dengan hati berdebar, Nayla akhirnya masuk ke mobil. Aroma kayu cendana lembut memenuhi kabin, khas mobil Rafa. Mereka berdua duduk dalam hening beberapa detik. Hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Mobil melaju perlahan menyusuri jalan kota yang mulai ramai. Rafa mengemudi dengan tenang, sesekali melirik Nayla yang duduk kaku sambil menatap jalan. Raut wajah Nayla berbeda dari biasanya, ada gurat resah yang jelas terlihat.
“Nayla,” suara Rafa pelan tapi hangat, “kamu kelihatan nggak seperti biasanya. Ada yang kamu pikirkan?”
Nayla terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang sudah sejak tadi mengganjal di dadanya. Ia tidak ingin terlihat lemah, tapi hatinya terasa sesak. Tanpa ia sadari, air matanya mulai mengalir pelan di pipi.
Rafa menyadarinya dari sudut mata. Ia langsung mengarahkan mobil ke pinggir jalan yang rindang, mematikan mesin, dan menoleh sepenuhnya ke arah Nayla.
“Nayla…” panggilnya lembut. “Kenapa nangis? Apa saya ada salah sama kamu?”
Nayla cepat-cepat menyeka air matanya, namun semakin ia usap, semakin deras air itu turun. Ia menunduk dalam-dalam.
“Nggak, Ustadz… Ustadz nggak salah apa-apa,” jawabnya terbata. “Saya aja yang… yang merasa nggak pantas.”
“Tidak pantas?” Rafa mengernyit bingung. “Maksudnya?”
Nayla menarik napas dalam, mencoba menyusun kata. “Saya… lihat sendiri waktu itu. Melody datang, dan cara dia bicara… cara dia memandang Ustadz. Saya… saya jadi minder. Dia cantik, pintar, kelihatan cocok banget sama Ustadz. Sedangkan saya…” suaranya mengecil. “Saya cuma Nayla biasa, yang masih banyak belajar.”
Ucapan itu diiringi tangis pelan. Nayla tak berani menatap Rafa, takut melihat jawaban yang mungkin akan membuat hatinya lebih sakit.
Rafa mendengarkan tanpa menyela. Ia membiarkan Nayla mengeluarkan semua uneg-unegnya. Setelah Nayla mulai tenang, Rafa menghela napas panjang dan berkata dengan suara lembut tapi mantap,
“Nay… aku tahu, ini pasti tentang Melody. Boleh aku jelaskan semuanya dengan jujur?”
Nayla pelan mengangguk.
“Melody itu teman kuliahku dulu, sebelum saya kenal kamu,” Rafa memulai. “Kami memang sering satu program dakwah kampus. Kamu tahu ‘kan, aku anak angkat, mereka kagum sama Melody karena prestasinya luar biasa. Dia hafizhah, aktif organisasi, dan memang banyak orang menganggap dia ‘sempurna’. Dan saat lulus S1, aku tetap stay di sini melanjutkan bisnis property, Melody meneruskan S2 nya di Kairo."
Nayla terdiam, menatap Rafa perlahan. Rafa melanjutkan dengan mata jujur menatapnya,
“Tapi, Nay… sejak awal, saya berani bersumpah Demi Allah, tidak pernah melihat Melody lebih dari teman dakwah. Aku hormat padanya, iya. Tapi tidak ada perasaan khusus. Allah menjadi saksi, saya tidak pernah menjanjikan apapun padanya.”
Ia menarik napas lagi, lalu menatap Nayla lebih dalam. “Dan ketika saya kenal kamu… semuanya berubah. Ada ketenangan yang saya rasakan saat dekat kamu. Kamu bukan sempurna, Nayla, dan aku pun bukan. Tapi kamu membawa ketulusan yang jarang saya temui. Kamu apa adanya. Kamu nggak berpura-pura menjadi siapa pun. Itulah yang membuat saya… jatuh cinta sama kamu karena Allah.”
Nayla membeku. Kata-kata itu seperti air sejuk yang mengalir ke hatinya. Namun Rafa belum selesai.
“InsyaAllah, saya serius dengan kamu. Saya tidak ingin membanding-bandingkan kamu dengan siapa pun. Melody bukan masa lalu saya yang harus saya ‘tutup-tutupi’. Dia hanya bagian dari perjalanan hidup sebelum saya bertemu kamu. Dan sekarang… kamu yang ada di sini, di sampingku,” ucapnya sambil menatap mata Nayla dengan ketulusan penuh.
Nayla menunduk, air mata kembali menetes, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan haru. Hatinya seperti dipeluk hangat oleh kalimat Rafa.
“Tapi… saya takut, Ustadz. Takut suatu saat saya nggak bisa jadi seperti yang Ustadz harapkan,” ucap Nayla lirih.
Rafa tersenyum lembut. “Nayla… saya menikah bukan untuk mencari kesempurnaan. Saya ingin kita saling belajar, saling menumbuhkan iman. Saya bukan malaikat, dan kamu juga bukan. Tapi kalau kita saling berpegang pada Allah, insyaAllah kita bisa jalan bersama sampai Jannah-Nya.”
Kalimat itu membuat Nayla tidak mampu lagi menahan air matanya. Ia menutup wajah dengan tangan, terisak pelan. Rafa tidak menyentuhnya, karena menjaga adab, namun suaranya pelan menenangkan.
“Menangislah kalau memang itu bisa melegakan. Tapi jangan pernah minder hanya karena kamu membandingkan dirimu dengan orang lain. Allah memilihmu bukan tanpa alasan, Nayla.”
Setelah beberapa saat, Nayla mulai tenang. Ia mengusap sisa air mata dan tersenyum malu.
“Maaf ya, Ustadz… saya cengeng banget,” katanya sambil tertawa kecil di sela isak.
Rafa ikut tertawa pelan. “Bukan cengeng… tapi jujur. Saya justru senang kamu mau terbuka. Ini tanda Allah sedang membersihkan prasangka di hati kita.”
Setelah obrolan itu, Rafa menyalakan kembali mesin mobil. Perjalanan dilanjutkan dengan suasana jauh lebih hangat. Nayla sesekali mencuri pandang ke Rafa yang fokus menyetir. Di dalam hatinya muncul rasa syukur yang dalam.
“Ya Allah… aku hampir kalah oleh rasa minderku sendiri,” batinnya.
Sebelum sampai di kampus, Rafa kembali berbicara.
“Nayla,” katanya lembut, “saya tahu hubungan kita masih proses. Tapi saya ingin kamu tahu… setiap langkah yang saya ambil bersamamu, saya niatkan karena Allah. Kalau kamu ada rasa khawatir, jangan dipendam. Sampaikan. Aku pun akan belajar untuk menjadi pendengar yang baik.”
Nayla mengangguk mantap. “InsyaAllah, Ustadz. Terima kasih… sudah sabar sama saya.”
“Bukan sabar,” jawab Rafa tersenyum. “Ini bagian dari perjuangan menuju keberkahan bersama.”
Mobil berhenti di depan gerbang kampus. Beberapa mahasiswa mulai berdatangan. Beberapa mata sempat melirik ke arah mereka, melihat sosok Ustadz Rafa yang dikenal banyak orang.
“Sudah sampai,” kata Rafa. “Semangat kuliahnya, calon ustadzahku,” ucapnya sambil tersenyum jahil.
Wajah Nayla langsung merah padam. “U-Ustadzah!” protesnya malu-malu.
Rafa tertawa kecil. “Assalamu’alaikum, Nayla. Hati-hati ya. Nanti sore saya jemput lagi.”
“Wa’alaikumussalam…,” jawab Nayla pelan, namun senyum di wajahnya kali ini tulus, berbeda dari pagi tadi.
Nayla melangkah ke dalam kampus dengan langkah ringan. Hatinya tidak lagi sesak. Kalimat Rafa terngiang-ngiang:
“Aku menikah bukan untuk mencari kesempurnaan, tapi untuk saling menumbuhkan iman.”
Di dalam kelas, teman-temannya sempat menggoda melihat wajahnya yang cerah. Ia hanya menunduk malu, tapi dalam hatinya ada kebahagiaan baru yang tak bisa disembunyikan.
Sementara itu, di mobilnya, Rafa menatap langit sejenak dan berbisik pelan,
“Alhamdulillah ya Allah… Engkau luruskan apa yang sempat bengkok. Jadikan kami pasangan yang saling menguatkan dalam jalan-Mu.”
Hari itu menjadi titik awal baru bagi Nayla dan Rafa. Bukan lagi diwarnai rasa minder atau ragu, tapi dengan kepercayaan, kejujuran, dan niat lillahi ta’ala yang semakin menguatkan mereka.