Cafe Bekesah
Malam ini aku ingin keluar menghirup udara segar, mencari inspirasi untuk bahan membuat puisi. Aku memang sangat suka membuat puisi sekedar menghibur diri sendiri, apalagi saat ini aku sedang mengikuti Antopologi puisi bersama dengan para penulis hebat di seluruh Indonesia. Aku tidak ingin puisiku biasa-biasa saja harus sesuai dengan tema yang diberikan.
Aku mengajak Ikhlas sepupu laki-laki ku untuk ikut menemani aku nongkrong disalah satu café yang ada di halaman kantor Pos. kebetulan disana juga tempat temanku bekerja, jadi aku rasa tidak ada salahnya untuk mengunjungi teman lama sembari bersilaturahmi. Lagian tempatnya juga asik, Out Door, ada banyak kursi dan meja kecil yang muat 4 orang terbuat dari kayu dengan lampu neon hias yang menjuntai, dikelilingi oleh tanaman pagar menambah kesan estetik, cocok untuk mencari inspirasi untuk bahan puisiku dan udaranya juga segar meski sedikit bising oleh kendaraan yang lalu lalang karena lokasi cafenya yang tepat berada di pinggir jalan utama Kota Tarakan.
Setelah beberapa menit aku mengendarai Jupiter MX biru putih kesayanganku, akhirnya aku sampai juga di lokasi, suasananya lumayan ramai pengujung saat itu, setelah aku memarkirkan kendaraanku segera aku mencari spot yang sekiranya pas untuk aku bisa berimajinasi tanpa ada gangguan oleh celotehan anak-anak muda yang ada disana. Akhirnya aku mengambil meja paling pojok dekat pintu keluar yang suasananya agak sepi.
Tidak beberapa lama kami duduk, kami dihampiri oleh Novan barista café Bekesah sekaligus teman lamaku.
“assalamualaikum bro” sapanya
“walaikumsalam”
“lagi sibuk kayaknya nih, skripsian kah” timpalnya sambil mengambil kursi kosong disebelahku.
“ah, ngga juga, ini aku lagi mencari inspirasi buat bahan puisiku, aku fikir di sini cocok buat berimajinasi, hehehe ” kami tertawa bersama.
“terima kasih lah kalau tempat kami ini bisa membantumu menemukan inspirasi untuk puisimu, semoga bisa segera menjadi penyair handal bro”
“hahaha, kejauhan van kalau mau menjadi penyair, ilmunya masih cetek, ini aja aku buat puisi karena senang aja, disukai ya alhamdulillah, kalau enggapun yah, harus banyak-banyak belajar lagi” sanggahku sambil menyalakan laptop.
“oh iya, kalian mau minum apa, biar aku buatkan” tawarnya
“apa aja menunya” tanyaku
“hehe, kebetulan kami belum ada daftar menunya Bro, kalau mau kalian kesana lah lihat di X Banner yang ada disana” novan menunjuk pintu masuk café, di sana terdapat daftar menu pada X Banner besar yang berdiri tegak sana.
“maklumlah masih baru bro”
“yuk ikhlas kita kesana, kamu juga harus lihat sendiri mau minum apa” kamipun beranjak dari tempat duduk dan menuju X Banner untuk melihat daftar menu.
Setelah puas melihat-lihat menu dan bertanya tentang perbedaan apa saja dari setiap minuman, akhirnya aku memutuskan untuk memesan Es Browns Sugar karena ada campuran gula aren asli, kebetulan aku salah satu penikmat gula aren dalam bentuk campuran apapun termasuk kopi, sedangkan ikhlas sepupuku memesan Green tea mentol, dengan campuran mentol yang membuat sensasi dingin menyegarkan.
Tidak beberapa lama kami duduk pesanan kami diantar langsung oleh Novan.
“ini bro pesanan kalian, selamat menikmati” suguhya ramah
“terima kasih mas bro”
“sama-sama, tapi maaf nih aku tinggal sebentar, soalnya lagi banyak pesanan” pamitnya sopan
“oke van santai aja, aku juga sambil nyari inspirasi nih”
Novan adalah teman seperguruan dalam pencak silat, hanya saja aku jarang untuk ikut latihan makanya sampai sekarang keterampilan bela diriku masih jauh dibawah dia, dibandingkan degan novan dia sudah melesat ketingkat yang lebih tinggi, bahkan dia sudah tingkat pendekar dengan sabuk merah. Sejenak aku berfikir, bahwa semua usaha dan konsistensi dalam menekuni sesuatu pasti akan membuahkan hasil yang sebanding bahkan lebih, terkadang aku iri dengan dia yang bisa meningkat secepat ini sedangkan aku masih berjalan ditempat, karena terlalu membagi fokus dan waktuku untuk hal-hal yang aku sukai.
“mungkin aku memang tidak ada bakat dalam seni beladiri” gumamku dalam hati sambil terus memperhatikan layar laptopku yang bahkan belum mengetik satu huruf pun. Melihat Novan yang sangat bersemangat menekuni seni beladiri pecak silat ini, mengingatkanku saat aku masih duduk dibangku SMA di Sulawesi yang selalu giat ikut latihan seni beladiri Karate, tiada hari tanpa latihan, karena semangat untuk itu sangat menggebu-gebu, bahkan aku juga menjadi seorang pelatih dari cabang baru yang dibuka oleh perguruanku saat itu, namun saat lulus SMA dan aku kembali ke tanah Kalimantan ini semua duniaku dipenuhi dengan kenyataan bahwa tidak kerja tidak makan, yah mau bagaimana lagi kita juga harus berfikir realistis.
“aha, aku dapat ide…” pekik ku mengagetkan ikhlas yang sedang menikmati green tea mentolnya.
“kamu kenapa kak, bikin orang kaget saja” protesnya yang hampir memuntahkan minumanya.
“hehehe, biasa aku baru mendapatkan inspirasi buat puisiku” sanggahku tanpa rasa beersalah.
Lalu aku mulai mengetik setiap kata cerita yang tiba-tiba muncul dari lamunanku barusan, tidak ada satu katapun yang aku lewatkan bagai menyalin kata yang sudah ada dikepalaku ke lembaran word yang kosong dengan penuh semangat. Setelah aku merasa cukup, kembali aku baca ulang lagi puisi yang baru aku ketik dan setelah selesai dengan segala revisianku, aku meminta ikhlas untuk mendengarkan dengan seksama dan mengomentari isi dari puisi yang kubacakan.
AKU BERJUANG
…..
Aku sudah berjuang
Lebih keras dari siapapun
Aku sudah bersabar
Lebih lama dari yang kutahu
Aku sudah iklas terluka berdarah
Lebih sakit dari apapun.
…..
“bagus kak” katanya sambil mencoba memahami makna dari puisiku
“tapi apa artinya itu” dia Kembali bertanya
“puisi ini menceritakan tentang perjuangan seseorang namun merasa usahanya sia-sia dan tidak ada hasilnya” jelasku sudah seperti dosen yang menjelaskan pada mahasiswanya.
“ooohhh…. Begitu…” angguknya
Sebenarnya puisi ini adalah isi hatiku, namun aku enggan untuk mengatakan kalau puisi ini adalah perwujudan isi hatiku, karena aku tidak mau terlihat sebagai orang yang lemah, maka aku memilih untuk menyamarkan isi hatiku melalui puisi.