BAB 1 Malam di Atlantik Club
Lampu neon Atlantik Club di Kota Kembang menyala terang, memantulkan cahaya ungu dan biru ke seluruh ruangan. Musik EDM menggelegar, bass-nya membuat lantai bergoyang. Tasya Aruna berdiri di tengah kerumunan, dress hitam ketat pendek membalut tubuh moleknya yang putih mulus. Rambut panjangnya bergoyang saat dia mengangkat tangan, Toelstory di tangan sambil tersenyum manis ke kamera.
“Weekend vibes di Atlantik Siapa yang lagi di sini?” caption-nya singkat, langsung di-post ke Toelgram. Dalam hitungan detik, like dan komentar mulai berdatangan.
Di sampingnya, Roby Pratama merangkul pinggang Tasya dengan posesif. Cowok 23 tahun itu tampan dengan badan fit hasil gym rutin. Kaos hitam ketat menonjolkan otot lengannya. “Sayang, malam ini kita flex keras ya,” bisik Roby di telinga Tasya sambil tangannya merayap ke bawah pinggang. “Foto bareng dong, biar temen-temen iri.”
Mereka berpose, Roby mencium pipi Tasya dari samping. Tasya tertawa kecil, mengupload story bersama. “Kita tim terbaik,” kata Roby sambil tertawa, tapi matanya sedikit gelap. “Eh, kemarin aku kalah spin lagi. Besok pagi ada turnamen bagus. Kamu bisa pinjem dulu nggak? Cuma 2 juta.”
Tasya menghela napas pelan, tapi tetap tersenyum. “Iya nanti aku cari cara,” jawabnya sambil mengusap d**a Roby. Mereka memang suka begini — cari jalan pintas demi gaya hidup yang mereka lihat di Toelgram orang lain. Clubbing di Atlantik Club setiap akhir pekan, foto aesthetic, makan di tempat mahal, meski dompet sering menjerit.
Teman Roby, seorang promoter klub, tiba-tiba mendekat. “Roby! Lo berdua naik ke VIP yuk. Ada tamu penting, traktir botol mahal. Gratis masuk.”
Roby langsung antusias. “Ayo Sayang, kesempatan bagus buat flex lebih tinggi.” Tasya mengangguk, meski hatinya biasa saja. Mereka naik lift khusus VIP, pintu terbuka ke area yang jauh lebih mewah. Sofa kulit, lampu redup, pelayan berpakaian rapi, dan botol-botol champagne mahal di meja.
Di sudut VIP, seorang pria duduk dengan aura yang langsung menarik perhatian. Usia sekitar 38 tahun, rambut hitam rapi dengan sedikit uban di pelipis, rahang tegas, dan mata tajam. Jas hitam mahal membalut tubuhnya yang atletis. Om Bram Wijaya. Pengusaha properti dan hotel chain terkenal di Kota Kembang. Di sebelahnya ada dua teman bisnisnya yang sedang tertawa sambil minum.
Promoter itu memperkenalkan. “Ini Om Bram, bos besar. Om, ini Roby dan pacarnya, Tasya.”
Om Bram menatap Tasya dari atas ke bawah, pandangannya lambat dan intens, seolah sedang menilai barang berharga. “Tasya,” katanya dengan suara bariton yang dalam. “Kamu kuliah di mana?”
“Kota Kembang University, semester 5 Komunikasi, Om,” jawab Tasya sopan, tapi ada getar aneh di dadanya. Pria ini berbeda dari cowok-cowok seusianya. Lebih tenang, lebih berkuasa.
Mereka duduk. Om Bram langsung memesan botol whisky impor dan champagne. Roby senang sekali, langsung foto botol-botol itu diam-diam untuk Toelstory-nya. “Om royal banget,” bisik Roby ke Tasya sambil nyengir.
Obrolan mengalir. Om Bram bertanya tentang kuliah Tasya, mimpi-mimpinya, dan sesekali memuji penampilannya. “Kamu terlalu cantik buat cuma clubbing biasa di Atlantik. Gadis sepertimu pantas dapat yang lebih baik,” katanya sambil menatap langsung ke mata Tasya. Roby agak cemburu, tapi tetap diam karena melihat Om Bram traktir tanpa batas.
Malam semakin larut. Roby mulai mabuk sedikit, tangannya semakin meraba Tasya di bawah meja. Tapi Tasya merasa tatapan Om Bram terus mengikutinya. Saat Roby ke toilet, Om Bram mendekat. Dia mengeluarkan ponselnya.
“Simpan nomor Om,” katanya pelan, suaranya rendah dan menggoda. “Kalau bosan sama yang muda-muda dan mau sesuatu yang lebih… nyaman, chat Om saja.”
Tasya menerima nomor itu. Jantungnya berdegup kencang. Dia tahu ini berbahaya, tapi ada sesuatu yang menarik — kemewahan yang terpancar dari pria itu.
Roby kembali, dan tak lama mereka pamit. Di mobil Roby yang sudah tua, Roby langsung m***m. Dia mencium leher Tasya sambil menyetir. “Pulang ke kosan yuk, Sayang. Aku kangen badanmu.” Tangan Roby merayap ke paha Tasya.
Tasya tersenyum, tapi pikirannya melayang ke kartu nama digital yang baru disimpannya. “Malam ini capek, Rob. Besok aja ya,” katanya lembut. Roby menghela napas kecewa, tapi tetap antar Tasya ke kosannya yang sederhana di pinggir Kota Kembang.
Sesampainya di kamar kos yang sempit, Tasya mandi cepat. Rambutnya masih basah saat dia duduk di tempat tidur, membuka Toelgram. Dia mencari nama Om Bram Wijaya. Akunnya private, tapi foto profilnya menunjukkan pria tampan di depan gedung tinggi. Tasya ragu sebentar, lalu mengetik chat.
Tasya: Malam Om, ini Tasya dari Atlantik tadi. Terima kasih atas traktirannya.
Balasan datang cepat, hanya dalam hitungan menit.
Om Bram: Akhirnya kamu chat juga. Om tunggu. Mau ketemu sekarang? Om jemput.
Tasya menggigit bibir. Jam sudah menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Roby tadi bilang besok butuh uang judi. Kosannya pengap. Dan Om Bram… menawarkan sesuatu yang berbeda.
Tasya: Oke Om. Tapi jangan lama ya.
Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan kos Tasya. Sopir membukakan pintu. Tasya naik dengan jantung berdegup. Mobil itu meluncur ke pusat Kota Kembang, menuju tower tinggi yang berkilauan — Oasis Residences.
Mereka naik lift private ke lantai paling atas. Pintu apartemen terbuka, dan Tasya tercengang. Ruangan luas dengan lantai marmer, furnitur minimalis mewah, dan dinding kaca dari lantai ke langit-langit yang menampilkan pemandangan malam Kota Kembang — lampu-lampu kota seperti lautan bintang.
Om Bram berdiri di depan jendela, jasnya sudah dilepas, hanya kemeja hitam yang sedikit terbuka di d**a. “Selamat datang, Gadis kecilku,” katanya sambil tersenyum tipis. Suaranya rendah, penuh kuasa.
Tasya mendekat. “Om… ini apartemen Om?”
“Bukan. Ini apartemen yang Om siapkan khusus. Kalau kamu suka, bisa sering ke sini.”
Om Bram mendekat. Tangannya menyentuh pinggang Tasya, menariknya pelan. Ciuman pertama mereka dalam dan penuh nafsu. Bibir Om Bram hangat, ahli, tidak terburu-buru seperti Roby. Tangan pria itu menjelajah punggung Tasya, membuka resleting dress-nya dengan satu gerakan halus.
Dress hitam itu jatuh ke lantai. Tasya berdiri hanya dengan lingerie hitam tipis di depan jendela kaca besar. Tubuhnya terpantul samar di kaca, diterangi lampu kota di belakang.
“Cantik sekali,” bisik Om Bram di telinganya. Dia mencium leher Tasya, turun ke bahu, lalu tangannya meremas p******a Tasya dengan lembut tapi tegas. Jari-jarinya bermain di puncak yang mengeras. Tasya mengerang pelan, lututnya sedikit lemas.
Om Bram membalik tubuh Tasya menghadap jendela. d**a Tasya menempel ke kaca dingin, kontras dengan tubuh hangat Om Bram di belakangnya. “Lihat kota ini, Sayang. Semua ini bisa jadi milikmu kalau kamu mau main dengan Om.”
Tangan Om Bram turun ke bawah, menyentuh celana dalam Tasya yang sudah basah. Dia mengusap pelan, lalu menyelipkan jari ke dalam. Tasya menggigit bibir, napasnya tersengal. Om Bram ahli — gerakannya tepat, menekan titik-titik sensitif yang membuat Tasya gemetar.
“Om… ahh…” desah Tasya.
Om Bram membuka celana dalam Tasya, membiarkannya jatuh. Dia berlutut sebentar, mencium b****g Tasya dari belakang, lidahnya menjelajah. Tasya hampir menjerit saat lidah itu menyentuh intinya. Sensasi basah dan hangat membuat kepalanya pusing.
Setelah beberapa menit menyiksa dengan kenikmatan, Om Bram berdiri lagi. Tasya mendengar suara resleting. Dia merasakan kejantanan Om Bram yang keras dan panas menempel di bokongnya. Om Bram menggesek pelan, lalu mendorong masuk perlahan.
“Ahh… besar sekali, Om…” erang Tasya.
Om Bram memeluk pinggang Tasya dari belakang, mulai bergerak ritmis. Setiap dorongan dalam dan kuat, membuat p******a Tasya bergesekan dengan kaca jendela. Pemandangan Kota Kembang di depan mata mereka — lampu-lampu berkelap-kelip seolah menjadi saksi.
“Enak, Sayang? Om suka yang seperti ini,” bisik Om Bram sambil mempercepat gerakan. Tangannya meremas p******a Tasya, jempolnya memainkan p****g. Tasya hanya bisa mengerang, tubuhnya bergetar setiap kali Om Bram menghantam titik paling dalam.
Posisi mereka persis seperti di film dewasa — Tasya menghadap jendela, Om Bram di belakang, tangan pria itu memeluk pinggang dan d**a Tasya dengan posesif.
Klimaks datang bersamaan. Tasya menjerit pelan, tubuhnya mengejang kuat. Om Bram mengerang rendah, melepaskan panasnya di dalam Tasya. Mereka berdua terengah-engah, keringat bercampur.
Om Bram mencium pundak Tasya lembut. “Kamu luar biasa, Gadis kecilku.”
Mereka pindah ke sofa besar. Tasya berbaring di pangkuan Om Bram, masih telanjang. Om Bram mengambil ponselnya.
“Om transfer sekarang ya. Anggap ini hadiah pertama. Kalau kamu mau lanjut, besok Om bisa kasih lebih. Apartemen ini juga bisa jadi milikmu kalau kamu setuju jadi… teman Om.”
Tasya melihat notifikasi di ponselnya. Transfer masuk dari Om Bram Wijaya — nominal yang membuat matanya membelalak. Jauh lebih besar dari yang Roby minta untuk judi.
“Terima kasih, Om…” bisik Tasya, suaranya masih lemah karena kenikmatan tadi.
Om Bram tersenyum. “Pulanglah sebelum pagi. Tapi ingat, ini baru awal.”
Tasya berpakaian lagi, Om Bram mengantarnya turun dengan mobil yang sama. Di perjalanan pulang, Tasya membuka BoomChat. Ada pesan dari Roby yang masuk pukul 03.45.
Roby: Sayang, transfer dulu 2 juta buat spin pagi ini ya. Kemarin kalah parah. Besok aku traktir kamu makan enak.
Tasya menatap nominal transfer dari Om Bram. Dia tersenyum tipis, tapi ada rasa aneh di d**a — campuran senang, bersalah, dan ketagihan yang baru mulai.
Dia balas chat Roby:
Tasya: Iya, nanti pagi aku transfer.
Tasya mematikan ponsel, menatap lampu Kota Kembang yang mulai memudar menjelang pagi. Pikirannya berputar.
“Permainan yang tak seharusnya dimulai… baru saja berawal malam ini.”