Pagi di kosan Tasya terasa lebih pengap dari biasanya. Cahaya matahari menyusup lewat gorden tipis yang sudah kusam, menerangi kamar sempit berukuran 3x3 meter. Tasya Aruna berbaring telentang di kasur single, tubuhnya masih terasa pegal di tempat-tempat yang semalam disentuh Om Bram. Dia mengangkat tangan, menyentuh lehernya pelan. Ada bekas merah samar di bawah telinga — bekas hisapan yang harus ditutup makeup sebelum ketemu Roby.
Tasya mengambil ponsel di samping bantal. Jam menunjukkan pukul 09.17. Notifikasi pertama yang muncul adalah transfer masuk dari Om Bram Wijaya. Nominalnya masih membuat jantung Tasya berdegup kencang: cukup untuk bayar kos tiga bulan sekaligus, belanja di Omega Luxe Pavilion, dan masih sisa banyak. Di bawah notifikasi itu, ada pesan singkat dari Om Bram yang dikirim pukul 07.45.
Om Bram: Selamat pagi, Gadis kecilku. Semoga kamu tidur nyenyak. Apartemen Oasis masih menunggu kalau kamu mau kembali malam ini.
Tasya tersenyum tipis, tapi senyum itu cepat pudar saat BoomChat bergetar. Roby Pratama.
Roby: Sayanggg udah bangun? Aku lagi nunggu spin pagi ini. Kemarin kalah parah, hari ini harus balik modal. Transfer 2 juta dulu ya, nanti aku balikin pas menang. Love you
Tasya menghela napas panjang. Dia duduk di tepi kasur, rambut panjangnya acak-acakan. Semalam dia bilang ke Roby ada “freelance foto”, tapi kenyataannya uang itu dari Om Bram. Tasya buka aplikasi bank, melihat saldo yang baru masuk. Tanpa berpikir terlalu lama, dia transfer 2 juta ke rekening Roby. Notifikasi “Transfer berhasil” langsung muncul.
Tak sampai semenit, Roby video call. Wajahnya muncul di layar, rambut masih acak-acakan, tapi senyumnya lebar.
“Sayang! Kamu terbaik deh. Baru masuk langsung aku spin. Makasih ya,” kata Roby sambil tertawa. “Nanti malam aku jemput ya? Kita ke Atlantik lagi atau ke kosan aku aja. Aku kangen banget sama badanmu.”
Tasya memaksakan senyum. “Malam ini ada tugas kelompok kampus, Rob. Pulangnya agak malam. Besok aja ya?”
Roby manyun sebentar, tapi langsung cerah lagi. “Oke deh, yang penting duitnya udah masuk. Kamu emang jago cari uang freelance. Aku bangga sama pacarku.” Dia meniup ciuman ke kamera sebelum mematikan video call.
Tasya meletakkan ponsel, menatap langit-langit kosannya yang retak. “Freelance,” gumamnya pelan. Rasa bersalah menyelinap, tapi lebih kuat lagi adalah rasa lega karena Roby tidak curiga. Dan… ada getar aneh di perutnya setiap mengingat malam di Oasis Residences.
Siang itu Tasya kuliah seperti biasa di Kota Kembang University. Tapi pikirannya tidak fokus. Di kelas Komunikasi, dia hanya mengangguk-angguk saat dosen bicara tentang media sosial. Toelgram-nya sesekali dibuka, melihat story Om Bram yang baru di-post: foto tangan memegang secangkir kopi di balkon apartemen dengan caption “Morning in the city”. Tasya tahu itu balkon Oasis Residences.
Pukul 16.30, chat dari Om Bram masuk.
Om Bram: Malam ini ke Oasis lagi? Om sudah siapkan wine dan makan malam. Bawa baju ganti kalau mau menginap. Om tunggu kamu.
Tasya menggigit bibir bawah. Jarinya ragu di atas layar. Tapi ingatan akan sentuhan Om Bram semalam, pemandangan Kota Kembang dari jendela kaca, dan nominal transfer tadi pagi membuat keputusannya cepat.
Tasya: Oke Om. Aku datang jam 7 malam.
Dia langsung chat Roby untuk membohong lagi.
Tasya: Sayang, tugas kelompoknya molor. Pulangnya pasti larut. Jangan nunggu ya.
Roby: Yahh sedih. Tapi oke, semangat tugasnya. Jangan capek-capek ya Sayang
Tasya mematikan ponsel, menghela napas. “Maaf Rob,” bisiknya pelan.
Pukul 19.00 tepat, mobil mewah yang sama menjemput Tasya di depan kos. Sopir Om Bram sudah hafal alamat. Saat tiba di Oasis Residences, lift private langsung membawanya ke lantai penthouse. Pintu apartemen terbuka sebelum Tasya menekan bel.
Om Bram berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam lengan digulung sampai siku, celana bahan formal yang pas di tubuh atletisnya. Aroma parfum mahal langsung menyambut Tasya.
“Datang juga akhirnya,” kata Om Bram dengan senyum tipis. Dia menarik Tasya masuk, langsung memeluk pinggangnya dan mencium bibirnya dalam. Ciuman itu tidak lembut seperti semalam — lebih lapar, lebih menuntut.
“Om… makan malamnya?” tanya Tasya terengah saat ciuman terlepas.
“Later,” jawab Om Bram singkat. “Om lapar yang lain dulu.”
Dia membawa Tasya ke ruang tamu yang luas. Di meja sudah tersedia wine merah dan beberapa tapas mahal, tapi Om Bram tidak menyentuhnya. Dia menuang wine ke dua gelas, memberi satu ke Tasya, lalu menariknya duduk di sofa panjang.
“Minum dulu,” perintah Om Bram lembut. Tasya meneguk wine, rasa asam-manis langsung menyebar di lidahnya. Om Bram ikut minum, lalu meletakkan gelasnya.
Tangan Om Bram menyentuh paha Tasya yang terbuka karena rok pendek yang dipakainya. Jari-jarinya naik pelan, menyusuri kulit mulus sampai ke pinggir celana dalam. “Kamu sudah basah, Gadis kecilku?” bisiknya di telinga Tasya.
Tasya mengangguk pelan, napasnya mulai tersengal. Om Bram tersenyum puas. Dia membuka kancing rok Tasya, menurunkannya bersama celana dalam dalam satu gerakan. Tasya sekarang hanya memakai kaos tipis dan bra.
Om Bram berlutut di depan sofa, membuka paha Tasya lebar-lebar. “Lihat Om,” katanya. Lidahnya langsung menyentuh inti Tasya yang sudah basah. Gerakan lidahnya ahli — menjilat, menghisap, memutar di titik sensitif. Tasya mengerang keras, tangannya mencengkeram rambut Om Bram.
“Ahh… Om… enak sekali…”
Om Bram tidak berhenti. Dia memasukkan dua jari sekaligus, menggerakkannya cepat sambil lidahnya terus bekerja. Tasya menggeliat, pinggulnya terangkat mengikuti ritme. Wine yang tadi diminum membuat tubuhnya lebih panas. Orgasm pertama datang cepat, membuat Tasya menjerit pelan, cairannya membasahi mulut Om Bram.
Om Bram berdiri, membuka celana dan boxer-nya. Kejantanan yang sudah keras dan besar menegang di depan wajah Tasya. “Sekarang giliran kamu yang puasin Om.”
Tasya meraihnya dengan tangan, lalu memasukkan ke mulutnya. Dia berusaha menelan sebanyak mungkin, lidahnya bermain di kepala yang sensitif. Om Bram mengerang rendah, tangannya memegang kepala Tasya, mengatur ritme pelan tapi dalam.
Setelah beberapa menit, Om Bram menarik Tasya berdiri. Dia duduk di sofa, menarik Tasya naik ke pangkuannya. “Naik, Sayang. Tunjukkan sama Om seberapa lapar kamu malam ini.”
Tasya menurunkan tubuhnya perlahan, merasakan kejantanan Om Bram memasukinya inch by inch. Sensasinya penuh, membuatnya mendesah panjang. Begitu sudah masuk sepenuhnya, Tasya mulai bergerak naik-turun. Om Bram memegang pinggangnya kuat, membantu gerakan, sesekali mendorong dari bawah dengan kuat.
“Enak… Om… lebih dalam…” erang Tasya.
Om Bram tersenyum, mata gelapnya penuh nafsu. “Kamu milik Om sekarang. Badan ini milik Om.” Dia membalik posisi tiba-tiba, membaringkan Tasya di sofa dan menindihnya. Gerakannya jadi lebih kasar, cepat, menghantam titik paling dalam setiap kali. p******a Tasya bergoyang mengikuti ritme. Om Bram menunduk, menghisap p****g Tasya bergantian sambil terus bergerak.
Tasya o*****e kedua, tubuhnya mengejang hebat. Om Bram menyusul tak lama kemudian, melepaskan panasnya di dalam Tasya dengan erangan rendah yang dalam.
Mereka terengah-engah di sofa. Om Bram mencium kening Tasya lembut, kontras dengan percintaan tadi yang penuh nafsu.
“Om suka kamu,” katanya pelan. “Besok Om transfer lagi. Dan apartemen ini… kamu bisa datang kapan saja. Anggap ini rumah keduamu.”
Tasya hanya mengangguk lemah, tubuhnya masih bergetar. Kenikmatan yang diberikan Om Bram jauh berbeda dengan Roby. Lebih dewasa, lebih menguasai, lebih… candu.
Malam semakin larut. Tasya mandi di kamar mandi mewah Oasis, lalu berganti baju. Om Bram mengantarnya turun dengan mobil. Di taksi pulang (Tasya minta diturunkan dua blok dari kos agar tidak ketahuan), dia membuka BoomChat.
Roby sudah kirim beberapa pesan.
Roby: Sayang, aku menang 1,2 juta tadi! Makasih duit modalnya Besok aku traktir makan enak ya.
Roby: Eh, tugas kelompoknya udah selesai? Aku kangen, pengen peluk kamu sekarang.
Tasya tersenyum tipis, tapi d**a terasa sesak. Dia balas singkat.
Tasya: Udah selesai. Capek banget. Besok ketemu ya.
Saat tiba di kos, Tasya langsung rebah di kasur. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya berputar. Uang dari Om Bram, kenikmatan yang baru dirasakannya, kebohongan ke Roby, dan… keinginan untuk kembali ke Oasis lagi besok.
Dia menatap langit-langit kos yang retak.
“Apa yang sedang aku lakukan?” gumamnya pelan.
Tapi saat ponsel bergetar lagi — chat baru dari Om Bram yang mengirim foto pemandangan malam dari jendela Oasis dengan caption “Masih kosong tanpa kamu” — Tasya tahu jawabannya.
Permainan ini baru saja dimulai, dan dia sudah terlalu dalam untuk mundur.