Pagi ketiga setelah malam pertama di Oasis Residences, Tasya Aruna terbangun dengan tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya. Kosannya yang sempit terasa semakin pengap. Cahaya matahari pagi menyusup lewat celah gorden, menerangi poster-poster kampus yang sudah kusam di dinding. Tasya duduk di tepi kasur, rambut panjangnya acak-acakan, dan langsung meraih ponsel di meja kecil.
Notifikasi pertama yang muncul adalah transfer masuk lagi dari Om Bram Wijaya. Kali ini nominalnya lebih besar. Tasya menggigit bibir, antara senang dan was-was. Di bawahnya ada chat pagi dari Om Bram.
Om Bram: Pagi Gadis kecilku. Om sudah transfer tambahan untuk hari ini. Malam ini datang ke Oasis ya? Om kangen badanmu yang manis.
Tasya tersenyum kecil, jarinya menyentuh layar. Tapi senyum itu langsung hilang saat BoomChat bergetar bertubi-tubi. Roby.
Roby: Sayanggg bangun dong! Kemarin aku menang lumayan, tapi malam ini aku mau all-in lagi. Modalnya kurang, transfer 3 juta ya? Pleaseee Nanti aku traktir kamu makan steak di Omega Luxe Pavilion.
Tasya menghela napas panjang. Dia membuka aplikasi bank, melihat saldo yang terus bertambah berkat Om Bram. Tanpa banyak berpikir, dia transfer 3 juta ke rekening Roby. Notifikasi “Transfer berhasil” muncul. Roby langsung balas dengan stiker hati bertebaran.
Roby: Makasih Sayang! Kamu emang pacar terbaik. Freelance-mu lagi laris ya? Aku bangga banget.
Tasya tidak balas langsung. Dia bangun, mandi cepat, dan memakai baju baru yang dibelinya pagi tadi pakai duit Om Bram — crop top putih dan rok pendek yang membuat tubuh moleknya semakin terlihat. Sebelum keluar kos, dia selfie di depan cermin, upload ke Toelgram dengan caption “Morning glow #KotaKembangLife”.
Siang harinya, Tasya ketemu Roby di Omega Luxe Pavilion seperti janji. Mall mewah itu penuh orang-orang yang suka flexing. Roby sudah menunggu di depan fountain utama, mengenakan kaos gym ketat yang menonjolkan badannya yang fit. Begitu melihat Tasya, matanya langsung berbinar.
“Sayang! Wah, kamu glow up banget hari ini,” kata Roby sambil langsung memeluk pinggang Tasya dan mencium pipinya di depan umum. “Baju baru? Keren. Freelance foto kamu bener-bener cuan ya akhir-akhir ini.”
Tasya tersenyum, tapi hatinya agak tidak nyaman. “Iya, lumayan. Tadi aku dapat proyek bagus.”
Mereka jalan-jalan di mall. Roby menarik Tasya masuk ke toko sepatu branded. “Sayang, ini sepatu yang aku mau banget. Cuma 1,5 juta. Kamu beliin dong, nanti aku balikin pas menang judi besar.” Tasya mengangguk pelan dan membayar pakai kartu yang saldo-nya penuh duit Om Bram. Roby senang sekali, langsung foto sepatu baru itu untuk Toelstory-nya dengan caption “New kicks from my girl”.
Sambil makan siang di food court mewah, Roby semakin terbuka. “Tasya, duit kamu banyak sekarang. Kita tim kan? Aku lagi butuh modal lebih besar buat turnamen judi online malam ini. Kalau menang, kita bisa liburan ke Silver Bay Resort bareng. Kamu mau kan?”
Tasya mengangguk lagi, tapi dalam hati dia mulai merasa lelah. Roby memang selalu begini — manja, mesra, tapi rakus. Dia transfer tambahan 2 juta lagi di meja makan. Roby langsung cium tangannya. “Kamu terbaik deh. Aku sayang banget sama kamu.”
Sore menjelang, saat mereka berjalan keluar mall, Roby memeluk Tasya dari belakang dan berbisik m***m di telinganya. “Malam ini ke kosan aku yuk. Aku kangen banget sama badanmu. Sudah lama nggak kita main.”
Tasya ragu. “Malam ini ada presentasi kelompok lagi, Rob. Sampai larut.”
Roby mengerutkan kening. “Lagi? Akhir-akhir ini kamu sering banget tugas kelompok. Nggak ada cowok lain kan di kelompok itu?”
Tasya tertawa kecil, berusaha terlihat natural. “Nggak ada. Cuma cewek-cewek kok. Besok aja ya date-nya.”
Roby mengangguk meski kelihatan kurang puas. Mereka berpisah di parkiran. Tasya naik taksi, tapi bukan ke kosan. Dia langsung chat Om Bram.
Tasya: Om, aku datang sekarang ya.
Balasan Om Bram cepat dan posesif.
Om Bram: Bagus. Om sudah di Oasis. Jangan lama-lama di luar ya. Om nggak suka kamu terlalu dekat sama teman kampus cowok.
Tasya merasa ada dingin di punggungnya. Om Bram mulai menunjukkan sifatnya yang controlling.
Malam itu, sebelum ke Oasis, Tasya mampir dulu ke kos Roby seperti janji mesra tadi siang. Roby sudah menunggu dengan pintu terbuka. Begitu Tasya masuk, Roby langsung menariknya ke dalam dan menciumnya kasar. Bibir Roby panas, lidahnya menyerbu tanpa basa-basi.
“Sayang, aku udah nggak tahan,” erang Roby sambil menarik baju Tasya lepas. Mereka langsung ke kasur single Roby yang berantakan. Roby mendorong Tasya telentang, membuka kakinya lebar, dan langsung menunduk. Lidahnya menjilat inti Tasya dengan rakus, kasar, dan cepat. Tasya mengerang, tangannya mencengkeram sprei.
“Enak Sayang… lebih cepat…” desah Tasya.
Roby naik, melepas celananya sendiri. Kejantanan yang keras langsung masuk ke dalam Tasya tanpa banyak foreplay. Gerakannya kasar, cepat, penuh tenaga muda. Setiap dorongan kuat, membuat tubuh Tasya bergoyang. Roby menarik rambut Tasya pelan sambil berbisik kotor.
“Badanmu enak banget… milik aku kan? Aku yang pertama dan yang utama ya Sayang.”
Tasya hanya bisa mendesah. Kenikmatan ada, tapi berbeda. Roby passionate dan liar, tapi kurang ahli dibanding Om Bram. Tidak ada sentuhan lembut yang menggoda, tidak ada kontrol yang membuat Tasya gemetar lama-lama. Roby mempercepat, tangannya meremas p******a Tasya kasar, sampai akhirnya dia mengerang keras dan melepaskan di dalam Tasya.
Mereka terengah-engah. Roby mencium kening Tasya sambil tersenyum puas. “Makasih Sayang. Eh, transfer lagi dong 1 juta buat spin malam ini. Aku lagi hot.”
Tasya mengangguk lemah. Dia transfer lagi dari duit Om Bram. Roby senang sekali, langsung buka aplikasi judi di ponselnya.
Tasya mandi cepat di kamar mandi kecil Roby, lalu kabur dengan alasan “tugas kelompok”. Di taksi menuju Oasis Residences, BoomChat bergetar lagi.
Roby: Sayang, tadi aku lihat kamu di Omega Luxe pakai baju baru yang mahal banget. Dari mana duitnya sebanyak itu? Freelance biasa nggak segitu kan?
Tasya membaca chat itu dengan jantung berdegup. Dia belum balas saat taksi sudah sampai di Oasis Residences. Lift private membawanya naik. Pintu apartemen terbuka.
Om Bram berdiri di tengah ruangan, memakai kemeja hitam, wajahnya lebih serius dari biasanya. Matanya menatap Tasya tajam.
“Datang juga,” katanya pelan. “Om lihat kamu siang tadi di Omega Luxe Pavilion. Berpelukan mesra sama cowok muda. Siapa dia, Tasya?”
Tasya membeku di tempat. Rahasianya mulai retak. Om Bram melangkah mendekat, tangannya menyentuh dagu Tasya, memaksa Tasya menatap matanya.
“Jawab Om, Gadis kecilku. Siapa cowok itu?”
Tasya menelan ludah. Malam ini, permainan yang baru dimulai sudah terasa semakin berbahaya.