bc

Pernikahan Kontrak dengan Mantanku, seorang Old Money

book_age16+
4
FOLLOW
1K
READ
billionaire
friends to lovers
confident
heir/heiress
sweet
bxg
city
like
intro-logo
Blurb

Setelah lulus kuliah, untuk mengembangkan diri dan meraih impiannya, Ceicillia mengakhiri hubungan dengan Alex Goldman. Dia pun pulang ke Indonesia untuk menjalankan perusahaan Ciputra milik keluarga ibunya.

Delapan tahun kemudian ayah Ceicillia di Amerika meninggal dunia. Ceicillia harus ke Amerika untuk menyelamatkan perusahaan milik ayahnya.

Ceicillia bertemu kembali dengan Alex dan terpaksa harus membuat kesepakatan dengan mantan kekasihnya itu untuk menikah. Dengan imbalan sejumlah saham milik Alex di perusahaan ayahnya.

Hubungan yang didasari oleh kontrak semakin pelik karena percikan cinta lama di hati mereka ternyata masih ada. Dan rasa itu semakin tumbuh seiring dengan waktu dan kebersamaan mereka.

Ceicillia pun dihadapkan pada dilema untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya dan kembali ke Indonesia, atau melanjutkan hubungan asamaranya dengan Alex.

chap-preview
Free preview
Farewell Night
Cahaya lampu kota New York yang tak pernah tidur berpendar di balik jendela apartemen studio di Upper West Side. Di dalam, udara terasa berat, bukan oleh amarah, melainkan oleh jenis kesedihan yang paling tenang: perpisahan antara dua orang yang masih sangat saling mencintai. Lantai kayu apartemen itu sudah bersih dari kardus-kardus kemasan. Semuanya telah dikirim ke kargo, menyisakan ruang kosong yang menggema. Ceicillia berdiri di dekat jendela, memandangi siluet gedung Empire State di kejauhan. Malam ini, New York tampak begitu cantik, seolah sedang merayu agar ia tidak jadi pergi. "Kamu mau minum kopi atau anggur sebagai minuman perpisahan kita?" suara Alex memecah keheningan. Ceicillia menoleh ke arah datangnya suara. Seorang pria tampan berkebangsaan Amerika dengan perawakan tinggi tegap berdiri di sana, Alex. Dia mengenakan kemeja dengan warna hitam, yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu tampak lelah, namun matanya masih memancarkan kehangatan. Kehangatan yang sama sejak pertama kali mereka bertemu di perpustakaan Columbia University empat tahun lalu. Kehangatan yang selalu bisa memberikan ketenangan bagi Ceicillia. "Anggur," jawab Ceicillia dengan senyuman lembut. "Mari kita rayakan sesuatu yang sudah selesai di antara kita dengan layak." "Sudah selesai, ya?" Alex menerawang jauh, seolah meresapi kata-kata itu. Ceicillia tidak memberikan jawaban, ia menghampiri Alex dan ikut duduk di atas karpet—satu-satunya barang yang belum sempat digulung. Tidak ada meja dan sofa di sana, hanya sebotol Merlot dan dua gelas kristal hadiah kelulusan. "Aku bangga padamu, Cesi," gumam Alex setelah menyesap minumannya. "Ibumu pasti senang kau akhirnya pulang untuk meneruskan memimpin perusahaannya. Kau memang dilahirkan untuk itu." Ceicillia tersenyum getir mendengar ucapan Alex. Tentang beban yang harus dia pikul sebagai pewaris tunggal keluarga Ciputra. Nun jauh di seberang benua, di negara tropis Indonesia. "Dan kau, Alex? Perusahaan multi dimesi, Goldman Corps sudah menantimu. Kau akan menjadi CEO paling hebat yang pernah dimiliki keluarga Goldman." Alex hanya tertawa garing sebagai tanggapan, kedua matanya masih memancarman ketidakrelaan. Tidak rela untuk berpisah dengan wanita yang sudah dua tahun mewarnai hari-harinya. "Kita sama-sama tahu, kita tidak bisa bersama. Jika aku memintamu ikut ke Jakarta, atau kau memintaku tetap di New York, salah satu dari kita akan merasa 'terpenjara' oleh pengorbanan itu sendiri." "I know. Kita masih terlalu muda, baru dua puluh dua tahun," balas Alex pelan. "Dunia terlalu besar untuk kita lewatkan hanya karena kita takut kesepian." Itulah kenyataan pahitnya. Mereka berdua belum siap untuk berkompromi sebesar itu. Mereka masih ingin mengejar ego, karier, dan pembuktian diri. Mencintai satu sama lain adalah hal termudah di dunia bagi mereka, namun menyatukan dua masa depan yang berseberangan adalah hal yang berbeda. Ceicillia bangkit dan mengulurkan kedua tangannya kepada Alex. "Berdansalah denganku. Sekali saja. Tanpa musik, hanya dengan latar belakang suara kota." Alex menyambut uluran tangan itu. Ia menarik Ceicillia ke dalam pelukannya, merapatkan tubuh mereka. Ia seolah ingin merekam setiap inchi tekstur kulit, dan aroma parfum vanila Ceicillia yang memabukkan ke dalam ingatannya. Mereka pun bergerak perlahan dalam kegelapan yang temaram. Tidak ada kata-kata, hanya ada gerakan pelan dengan singkronisasi yang alami. Ceicillia menyandarkan kepalanya di d**a Alex, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang. Mereka bahkan tidak berjanji untuk saling menunggu, karena mereka tahu hidup tidak sesederhana itu. Mereka hanya berjanji bahwa malam ini akan menjadi memori yang paling indah. Ceicillia dan Alex berdiri berhadapan saat gerakan dansa berakhir. Saling bertukar senyuman simpul dan pandangan penuh arti. Tanpa aba-aba mereka kembali menghapus jarak dan saling berpelukan erat. Saat bibir mereka bertemu, rasanya pahit sekaligus manis. Itu adalah ciuman yang penuh dengan ucapan terima kasih dan selamat tinggal. "Terima kasih telah menjadi bagian dari New York-ku, Alex," bisik Ceicillia pelan di telinganya. "Terima kasih telah menjadi rumahku selama dual tahun ini, Cesi," sahut Alex, suaranya sedikit serak menahan segala gejolak jiwa. Malam itu, waktu seakan melambat, memberi mereka ruang untuk saling memiliki satu sama lain sebelum jarak membentang ribuan mil. Keintiman yang terjadi di atas karpet tua itu bukan sekadar nafsu, melainkan sebuah percakapan tanpa kata, sebuah upaya putus asa untuk mengukir memori ke dalam sel-sel tubuh mereka. Setiap sentuhan Alex adalah sebuah pertanyaan, dan setiap respon Ceicillia adalah sebuah jawaban. Menghasilkan keputusan yang mengonfirmasi bahwa meski masa depan mereka terpisah, jiwa mereka pernah menyatu dengan sempurna. Di bawah temaram lampu jalanan New York yang masuk melalui jendela tanpa tirai, mereka saling mengeksplorasi untuk terakhir kalinya. Isak tangis yang tertahan sesekali pecah menjadi bisikan cinta yang lirih. Mereka tidak tidur; mereka hanya berbaring bersisian setelah badai emosi itu mereda, memandangi langit-langit apartemen yang kosong, saling menggenggam tangan seolah-olah jika dilepaskan, esok akan datang lebih cepat. Semburat jingga mulai mengintip di balik gedung-gedung pencakar langit Manhatan. Bunyi alarm dari ponsel Ceicillia terasa seperti vonis yang dingin. Tanpa banyak bicara, mereka bersiap. Kesunyian pagi itu terasa berbeda, lebih tajam dan menyakitkan dibandingkan malam sebelumnya. Alex membantu Ceicillia mengenakan mantel wolnya. Ia merapikan kerah baju wanita itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tidak ada kopi pagi ini, hanya sisa rasa Merlot dan aroma parfum yang mulai memudar. Sopir taksi kuning yang menjemput mereka hanya diam, seolah memahami beratnya atmosfer di kursi belakang. Di sepanjang jalan menuju bandara Jhon F. Kennedy, Ceicillia menatap keluar jendela. Ia merekam setiap sudut jalanan New York yang telah menjadi saksi bisu pertumbuhan kedewasaannya. Pandangan Alex tidak lepas dari memandang wajah Ceicillia. Tangannya tak lepas dari menggenggam jemari gadis itu. Beharap bahwa gadis yang dicintainya itu mau merubah keputusan. Berharap agar mereka tidak perlu harus terpisah dua benua. Sesampainya di terminal keberangkatan, keramaian bandara terasa begitu kontras dengan kekosongan di hati mereka. Alex menurunkan koper terakhir milik Ceicillia. "Sampai di sini?" suara Alex terdengar lebih stabil, meski matanya memerah. Ceicillia mengangguk kecil. Ia memaksakan sebuah senyuman, senyuman seorang wanita yang siap memimpin imperium di Jakarta, meski hatinya tertinggal di trotoar New York. "Jangan menoleh ke belakang saat kau berjalan masuk ke dalam, Cesi," bisik Alex sambil mengecup keningnya lama. "Jika kau menoleh, aku takut aku akan menarikmu kembali dan menghancurkan masa depan yang akan kau bangun." "Aku tahu," sahut Ceicillia parau. "Hiduplah dengan hebat, Alex Goldman. Jadilah CEO yang paling ditakuti dan dikagumi." "Dan kau, jadilah ratu di bumimu sendiri, Ceicillia Tang Ciputra." Ceicillia membalikkan badan, menarik koper kabinnya dengan langkah yang dipaksakan teguh. Ia menepati janji untuk tidak menoleh. Setiap langkah menjauh dari Alex terasa seperti menarik seutas benang yang dijahit langsung ke jantungnya. Di belakangnya, Alex berdiri mematung di tengah arus manusia yang berlalu-lalang. Ia tetap di sana, mengawasi punggung gadis itu hingga sosoknya hilang di balik gerbang pemeriksaan keamanan. Saat Ceicillia benar-benar hilang dari pandangan, Alex menarik napas panjang, menghirup udara dingin New York yang kini terasa hampa. Ia berbalik menuju pintu keluar, melangkah menuju dunianya sendiri yang megah namun kini terasa sunyi. Perpisahan itu tuntas. Bukan karena cinta mereka hilang, tapi karena mereka memilih untuk membiarkan satu sama lain tumbuh, meski harus di bawah langit yang berbeda. Di antara beton Manhattan yang menjulang, dan doa-doa tropis yang memanggil pulang. Kita berdua adalah dua angka dalam persamaan yang buntu, mencintai dengan benar, di waktu yang keliru. Satu gelas Merlot, satu dansa tanpa nada, menghapus sisa-sisa ragu yang pernah ada. Sebab kita tahu, cinta bukan hanya soal menetap, tapi tentang melepas, agar sayapmu bisa tegap. Kau adalah New York-ku yang paling sunyi, aku adalah rumahmu yang kini kau jauhi. Tak perlu menunggu, tak perlu berjanji, cukup simpan aku di sela-sela ambisi yang kau kejar pagi ini.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
3.7K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.5K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.8K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.6K
bc

After We Met

read
188.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook