Regan melangkahkan kakinya menuju kafetaria yang sangat ramai di jam makan siang ini. Dia mengedarkan pandangannya untuk menemukan Zee. Sayangnya, dia sudah mengelilingi kafetaria hingga beberapa karyawan menyadari apa yang dia lakukan. “Hei,” ucap Regan pada wanita yang duduk di tengah-tengah area kafetaria yang dia tahu sebagai teman Zee. Wanita itu menoleh—yang tidak lain adalah Paige. “Iya, Pak Regan?” “Di mana Tjahaya?” Paige terlihat ingin tersenyum karena pertanyaan Regan—well, karena dia sudah tahu status di antara mereka berdua. “Dia...Zee. Hm, maksud saya, Bu Tjahaya berada di rooftop.” Regan mengeryitkan dahinya. Tanpa aba-aba dia melangkahkan kakinya menuju rooftop. “Lihat? Pak Regan sepertinya dimabuk asmara.” “Mereka suami-istri, jangan lupakan itu.” “Tidak, hanya saj

