Seolah ada yang menuntunnya, Steve mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi. Bukan karena ngga mau, tapi karena tidak ada siapapun yang tinggal di sana. Namun, tidak untuk tengah malam sekarang ini, sesuatu dalam dirinya benar-benar kuat untuk segera mendatangi ke tempat itu.
Saat sudah berada di basement, raut wajah Steve berubah-ubah. Kadang tersenyum jika yang terbayang wajah manja, dan lucu kedua buah hatinya, tapi saat terlintas tatapan terluka dari mata istrinya yang berurai air mata membuat hatinya sangat-sangat sakit. "Sayang, maafkan aku. Jangan siksa, dan hukum aku dengan cara menghilang seperti ini. Jangan pisahkan aku, dengan kedua malaikat kita." Steve menaruh kepalanya pada kemudi mobilnya, sambil terus bergumam.
Entah karena lelah, atau terlalu memikirkan keberadaan istri serta kedua anaknya, Steve pun tertidur dengan posisi tubuh membungkuk, dan kepala di atas kemudi mobilnya.
***
Steve terbangun saat ada yang mengetuk dengan tak sabar kaca jendela mobilnya. Dengan malas Steve membukanya, dan ternyata petugas keamanan yang mengganggu tidurnya. Steve melihat jam pada pergelangan tangannya yang menunjukkan jam setengah enam pagi.
"Sorry, i'm overslept," ujar Steve lalu ingin melenggang meninggalkan petugas keamanan yang masih menatapnya waspada, dan menyelidik.
Menyadari kewaspadaan, dan kecurigaan petugas keamanan tersebut, Steve menyebutkan letak unit sebuah apartemen, dan memberikan kartu namanya untuk menyelidiki asal usulnya. Setelah petugas keamanan tersebut yakin, mereka menawarkan untuk mengantar dirinya menuju unit yang dimaksud, tapi ditolak sopan oleh Steve.
Penampilan Steve lusuh, dan kusut, tapi tidak mengurangi kharisma yang dimilikinya. Sambil bergumam tidak jelas Steve memasuki lift yang langsung membawanya pada tempat tujuan. "Maafkan aku, dude, karena aku dengan lancang mendatangi unitmu, dan tanpa izinmu. Semoga kamu tidak mengubah password-nya." Steve menertawai kelancangannya.
Lift terbuka, dan sampailah Steve pada lantai tempat tujuannya. Karena matanya masih mengantuk, dengan tergesa dia menyambangi pintu apartemen, dan mulai memasukkan password yang dia ketahui. Namun, setelah beberapa kali memasukkan kombinasi password, pintu tak kunjung terbuka. "s**t! ternyata kamu telah menggantinya," umpat Steve, dan bersandar pada pintu tersebut.
Steve duduk di depan pintu apartemen tersebut sambil meluruskan kedua kakinya. Pikirannya benar-benar kacau oleh rasa rindu, dan bersalah kepada istri serta kedua anaknya, terlebih kepada istrinya. Baru saja Steve hendak memejamkan mata, dirinya tersentak karena pintu di belakangnya terbuka, dan terdengar suara pekikan seorang wanita.
Detak jantung Steve bergemuruh saat mengenali siapa pemilik suara itu. Dengan cepat dia berdiri, dan memutar tubuhnya sehingga kini dia berhadapan dengan seseorang yang membuatnya seperti ini.
"Papa ...." Suara gadis kecil yang sarat kerinduan menyebut namanya.
"Fanny ... kembali ke dalam!" suruh Christy tegas setelah tersadar dari keterkejutannya, dan siapa yang membuatnya terkejut.
"Tidak mau, Ma. Fanny kangen Papa," bantah Fanny yang kini sudah memegang lengan Steve.
"Fanny!!! Mama bilang kembali masuk!!!" hardik Christy yang langsung membuat Fanny takut, dan semakin erat memeluk lengan Steve. "Stephany!!!" bentak Christy lagi, dan akhirnya membuat Fanny terisak.
Steve menyadari kemarahan yang besar dari nada bicara istrinya, karena tidak biasanya istrinya bersikap keras, apalagi membentak anak-anaknya. Steve merasa sakit melihat istrinya yang tidak mau menatapnya, seolah dirinya bangkai busuk yang jijik di tatap. Tidak mau membuat Fanny semakin ketakutan, dan kemarahan istrinya semakin menjadi-jadi, dia mengangkat tubuh Fanny, dan berbisik, "Turuti kata Mama, Sayang, jika Fanny ingin Papa membawa kalian kembali pulang. Papa datang memang untuk menjemput kalian, jadi bantu Papa membujuk Mama dengan menuruti apa yang Mama suruh." Bisikannya langsung dituruti oleh Fanny.
Setelah Fanny turun, dan sudah masuk, Christy dengan cepat ingin menutup kembali pintunya, tapi langsung ditahan oleh Steve dengan sebelah kakinya. "Kita perlu bicara, izinkan aku masuk, dan menemui anak-anak, Sayang," ujar Steve lembut, tidak terpengaruh oleh sikap tak bersahabat istrinya.
Christy mendecih, "Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Pergi dari hadapanku sekarang! Urus saja mantan pacarmu, dan wanita-wanitamu yang lain!" ujar Christy dengan nada sinis.
Steve menahan senyum geli mendengar nada cemburu dari ucapan sinis istrinya, wanita yang membuatnya bertekuk lulut, wanita yang telah memberikannya dua orang malaikat. Entah apa yang ada di pikirannya, dia ingin menggoda istrinya, "Tenang saja, aku akan mengurusnya karena salah satu dari mereka ada di lantai apartemen ini," ujarnya santai. "Jadi biarkan sekarang aku masuk." Steve melewati begitu saja Christy yang terkejut mendengar jawabannya.
Setelah berhasil masuk, Steve berbalik menatap istrinya yang ternyata masih berdiri bagaikan patung di ambang pintu. Pandangan mata istrinya sangat jauh, dan ketika dia kembali menghampirinya, dia melihat setetes air mata jatuh dari pelupuk mata istrinya saat mengedip.
"Hey ... mengapa menangis? Bukankah itu yang kamu ingin dengar, dan kamu mau?" tanya Steve lembut ketika sudah berhadapan dengan Christy. "Kamu tidak senang mendengarnya?" selidiknya dengan mempertahankan nadanya agar terdengar normal.
Christy menghindari tatapan mata suaminya yang kini membingkai wajahnya yang telah basah. Ingin rasanya Christy merutuki dirinya sendiri karena air matanya menetes begitu saja setelah mendengar jawaban dari suaminya. Christy berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk membalas tatapan mata suaminya, agar suaminya tidak merasa menang telah memberikan jawaban seperti itu, "Terserah apa yang ingin kamu lakukan, aku sudah tidak peduli. Bukankah tadi kamu bilang ingin menemui salah satu wanitamu? Lalu untuk apa masih berada di sini? Pintu keluar ada di sebelah sini, Tuan Smith." Sangat jelas nada kesal bercampur amarah terdengar dari perkataannya, dan sikapnya saat menunjuk pada pintu.
Jika saja Steve tidak ingin membuat istrinya bertambah kesal, saat ini ingin sekali dia membungkam bibir istrinya itu, dan mengajaknya berperang lidah. Namun, keinginannya harus dia singkirkan jauh-jauh dulu, "Aku sudah mengatakan jika aku akan menemui salah satu wanitaku yang ...."
"Mama ... Papa ... huaaaa ...." Jeritan Fanny dari dalam kamar memotong ucapan Steve, dan mengalihkan perdebatan mereka.
Christy, dan Steve saling tatap. Saat mendengar jeritan histeris Fanny kembali, keduanya kompak bergegas menghampiri sumber suara.
"Mama ... tolong Fanny," mohon Fanny yang berusaha menarik jari telunjuknya yang di gigit oleh adiknya.
Dengan sigap Christy menghampiri ranjang, tempat anaknya yang baru berumur satu setengah tahun berbaring, begitu juga dengan Steve. Christy menjepit pelan hidung Evan agar gigitan pada jari telunjuk Fanny terlepas. Setelah terlepas, Steve dengan cepat melihat jari Fanny yang berbekas gigi, dan menciumnya, berharap rasa sakit itu hilang. Sedangkan Christy langsung membawa Evan pada pangkuannya.
"Anak Mama sudah mulai berani nakal sekarang, hmmm …?" Christy menggigit gemas dagu putranya sehingga membuat Evan tertawa renyah.
"Kenapa bisa sampai di gigit begitu jarinya, Sayang?" tanya Steve kepada Fanny yang bersandar manja padanya.
"Fanny pasti mengusili Evan, kan?" selidik Christy setelah membenarkan posisi duduk Evan.
"Saat Evan bangun tadi, Fanny hanya ingin mengajaknya bercanda seperti kemarin saat Double Ell ada di sini, tapi ketika Fanny meniru tindakan Ella kemarin yang memasukkan jarinya ke mulut Evan, Evan sangat cepat menangkapnya kemudian menggigitnya, Ma. Padahal kemarin jari Ella tidak di gigit," jawab Fanny takut-takut.