LG 14

944 Words
Albert mengajak Steve berbicara di taman belakang rumahnya. Taman yang berada di bawah kreativitas tangan Cella, Albert berharap sosok tenang istrinya saat merawat tanaman pada taman ini bisa membantunya menahan emosi saat Steve menceritakan sebab masalahnya yang mengakibatkan adiknya pergi. "Sekarang ceritakanlah, Steve! agar aku tidak menghakimimu," pinta Albert saat matanya menelusuri keremangan taman. Mereka berdiri di depan meja bundar yang ada di taman itu. Meja yang selalu digunakan Cella saat merangkai bunga untuk hiasan ruangan. "Viola kembali menemuiku," ujar Steve jujur. "Vio ... Viola ... wanita yang ....?" Albert terbata, dan membelalakkan matanya saat mendengar nama itu. "Ya! Sepertinya Christy sekarang tidak mengenali sosok Viola, karena Viola telah melakukan operasi pada beberapa bagian wajahnya," beritahu Steve. "Jujur Al, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan dia," tambah Steve saat mendapati Albert menatapnya dengan tajam. "Jika Christy tidak mengenalinya, lalu mengapa kamu sampai mengusir adikku?" Albert berusaha mengontrol nada bicaranya. "Christy datang ke kantor tanpa pemberitahuan terlebih dulu, tepat saat dia membuka pintu ruanganku, dia melihatku dan Viola sedang berpelukan. Christy la ...." Bugh.... "b******k kamu, Steve!" Albert kembali melayangkan pukulan pada rahang Steve sebelum Steve melengkapi kalimatnya. Steve menyusut darah pada sudut bibirnya. Dia tidak marah dengan perlakuan Albert, karena dia sadar tidak ada di dunia ini yang tidak marah jika melihat saudaranya disakiti, apalagi disakiti secara langsung. "Terima kasih pukulannya, dude," ujar Steve yang sesekali meringis. "Aku memeluk Viola hanya ingin menenangkannya karena dia sedang mengalami masalah. Ketika aku hendak menjelaskan kepada Christy, dengan tiba-tiba Christy menjambak rambut Viola membabi buta sehingga membuat Viola terhuyung, dan dahinya membentur daun pintu. Karena kaget aku spontan membentak Christy. Dan saat aku hendak membantu Viola berdiri, Christy melarangku dengan nada cemburu. Aku panik saat itu karena Viola sudah tidak sadarkan diri, dan tepat saat itu juga Christy mengajukan pilihan yang mengharuskanku untuk memilih. Untuk mencegah masalah itu agar tidak menjalar ke mana-mana, akupun dengan terpaksa mengatakan jika dirinya bebas pergi ke mana pun dia mau. Kemudian tanpa menghiraukan tatapan terluka istriku, aku membawa Viola ke rumah sakit." Steve bercerita tanpa memberi kesempatan Albert untuk menyela. "Setelah memastikan keadaan Viola baik-baik saja, aku segera kembali ke rumah untuk meminta maaf, dan menjelaskannya kepada Christy. Namun, aku terlambat. Sampai di rumah aku mendapat kabar dari asisten rumah tanggaku, jika Christy telah pergi membawa serta kedua anak kami. Dan Christy juga dikatakan tengah menangis," lanjut Steve bisa merasakan sakit hati yang dirasakan istrinya, meski hanya sekadar membayangkan saja. Steve menatap Albert dengan tatapan menyelidik, "Apakah kamu mengetahui di mana kira-kira keberadaan mereka? karena tidak mungkin istriku kembali ke rumah orangtua kalian." Albert mendelik mendengar pertanyaan Steve yang mengindikasikan jika dirinya telah menyembunyikan Christy, "Kamu sendiri yang menyebabkan istrimu pergi dengan mengusirnya, jadi buat apa kamu menanyakannya padaku? Dari tatapanmu itu mengisyaratkan jika kamu menuduhku telah menyembunyikan istrimu," ucap Albert sambil mendengus. "Instingku yang mengatakan demikian, mengingat kalian kembar. Meskipun kalian sering bertengkar, tapi kalian saling melindungi satu sama lain, dan aku tidak pernah meragukan itu," ujar Steve santai. "Jika dia tidak bersamamu, maka bantulah aku untuk menemukannya. Mamaku sudah mengetahui hal ini, dan dia juga memberikanku waktu yang sangat singkat agar segera membawa pulang menantu, serta kedua cucunya. Anggap saja kamu membalas jasaku dulu," tambah Steve yang langsung membuat Albert melemparkan keranjang bunga yang terbuat dari anyaman bambu yang ada di atas meja taman pada sahabatnya itu. "Al, jika Cella mengetahui barang-barangnya kamu rusak, aku yakin dia akan menyuruhmu tidur di taman ini." Steve bukannya marah malah menggoda Albert. "Ditinggal oleh adikku ternyata sudah membuat pikiranmu bergeser, Steve. Bukannya cemas istri, dan anak-anakmu belum juga ditemukan keberadaannya, sekarang malah bisa menggoda orang lain," cibir Albert. "Keyakinanku berkata jika mereka sedang berada di tempat yang sangat aman, dan sulit dilacak keberadaannya. Meski sekarang aku belum menemukan fisik mereka, tapi hati ini yang akan menuntunku menemukan mereka," kata Steve yang semakin membuat Albert mendengus. "Oh ya ... terima kasih atas tanda ini, jadi saat aku menemukan semua permataku, aku bisa mengatakan jika aku sudah mengakui kesalahanku padamu," tambahnya. "Sebaiknya kamu pulang, Steve, daripada menulariku dengan ketidakwarasanmu!" Albert mengusir Steve karena malas meladeninya. "Sekali lagi, terima kasih, Al. Sampaikan salamku pada Double Ell, dan Cella," pintanya. "Mengingat Double Ell membuatku semakin merindukan kemanjaan Fanny, dan kelucuan Evan," ungkap Steve dengan pandangan menerawang, dan tertawa miris. "Sayang, di mana kamu bersembunyi? Aku sangat merindukanmu, dan anak-anak," teriak Steve frustasi sebelum meninggalkan Albert yang menggelengkan kepala melihat sikapnya. "Steve, pulang! Jangan berteriak di rumahku tengah malam seperti ini. Teriakanmu bisa membangunkan istri, dan anak-anakku!" protes Albert yang diabaikan oleh Steve. *** "Steve, sudah pulang, Sayang?" Suara Cella membuat Albert tersentak kaget ketika hendak menaiki anak tangga. "Kamu terbangun?" Albert mendekati istrinya yang berjalan dari arah dapur. "Seperti yang kamu lihat. Mengapa Steve tidak disuruh menginap saja di sini? Ini sudah sangat larut malam, Sayang." Cella bertanya saat Albert memeluknya. "Aku tidak ingin jika dia menginterogasi Double Ell besok, dan terbongkarlah semuanya. Lagipula aku sudah berjanji pada Christy tidak akan memberitahu keberadaannya kepada yang lain, termasuk orangtuaku." Albert menyelipkan anak rambut Cella ke belakang telinganya, dan mencium wangi rambut istrinya yang tergerai itu. "Apa yang kamu cari larut malam begini ke dapur, Honey?" Albert memberi jarak pada istrinya agar bisa melihat wajah istrinya saat bertanya. "Aku haus," jawab Cella manja. “Air di kamar habis,” tambahnya. "Kamu sudah minum?" Pertanyaan Albert langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Cella. "Kalau begitu ... ayo kita kembali ke kamar, dan melanjutkan kegiatan kita." Cella mencubit perutnya saat mendengar ajakannya. "Berpelukan sampai pagi maksudku," tambah Albert kemudian mengedipkan sebelah matanya. Albert membawa Cella ke dalam gendongannya, sehingga Cella memekik. Sambil sesekali mengecup, dan menggigit gemas hidung Cella, Albert menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD