“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Dania dengan nada yang bergetar, wajahnya memancarkan kecemasan yang dalam, seperti langit mendung yang menandakan hujan akan segera turun. Ia datang bersama Mark, langkah-langkah mereka tergesa, membawa rasa panik yang membayangi. Telepon dari Clara tadi terasa seperti lonceng peringatan yang terus menggema di telinganya, menggiring mereka pada kabar buruk yang tak pernah mereka harapkan. Samuel, entah mengapa, menghilang di saat-saat seperti ini. Dokter Mariah menatap mereka dengan pandangan serius, bibirnya mengeja kata-kata dengan pelan, namun berat seperti batu yang jatuh dari ketinggian. “Kondisi janinnya lemah karena stres yang dialami oleh ibunya. Pasien harus dirawat setidaknya sampai kondisi keduanya membaik.” Dania memejamkan matanya, me

