bc

Life in Your Lie

book_age18+
353
FOLLOW
1.5K
READ
love-triangle
escape while being pregnant
brave
dare to love and hate
CEO
drama
lies
secrets
lonely
addiction
like
intro-logo
Blurb

Sedih, Satu hal yang kini Sachiko tengah rasakan. Berbagai cobaan hidup menimpanya, seakan tak memberikan kesempatan Sachiko untuk merasakan kebahagiaan. Mulai dari meningalnya sang kakek yang selalu memberikan kasih sayang padanya, bisnis keluarganya bangkrut, dan dijauhi oleh teman-temannya.

Untuk menyambung hidup, Sachiko berusaha bekerja sembari kuliah. Akan tetapi, ia yang terbiasa mendapatkan kasih sayang dari sang kakek pun mulai merasa hampa.

Hingga Alvito datang ke dalam hidup Sachiko sebagai pria yang menggantikan posisi kakeknya. Memberikan kasih sayang yang Sachiko dambakan. Namun sayang, semua itu kandas seketika saat keluarga Alvito menentang hubungan mereka.

Sachiko yang ingin mencoba melupakan sosok Alvito pun memutuskan untuk bekerja di Singapura. Di sana, ia bertemu dengan Abiral yang menurutnya pria sempurna. Perhatian dan selalu ada saat ia butuh.

Akankah hubungan Sachiko dengan Abiral berjalan lancar?

Apakah Abiral akan menjadi pelabuhan terakhir Sachiko?

Dan apakah Sachiko akan merasakan kebahagiaan setelah cobaan yang datang bertubi-tubi?

chap-preview
Free preview
Diamati Seorang Pria
Sachiko masih nyaman berada di dalam hangatnya selimut tebal bermotif bunga. Dinginnya AC di kamarnya membuat matanya malas untuk terbuka dan membuat dirinya tertunda menjalankan aktivitas. Namun, seorang pria tua berusia delapan puluh tahun menggoyang-goyangkan tubuhnya dan memanggil namanya dengan suara lirih. "Sachi, bangun." Gama Gorga, kakek dari wanita itu setiap hari membangunkan cucunya. Ia selalu memberikan kasih sayang pada Sachiko sedari kecil hingga kini sudah berusia dua puluh satu tahun. "Engh...." Sachiko menarik kedua tangannya ke atas. Ia mengerjapkan mata sejenak sebelum menyapa kakeknya. "Pagi," sapanya seraya merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Ulasan senyum tipis menghiasi wajah dengan keriput yang sangat jelas itu. "Pagi. Kamu jadi ke Bali?" Sachiko mengangguk dengan tangannya mengucek mata. "Jadi." "Segera bersiap, teman-temanmu sudah menunggu di bawah. Kasian jika mereka menunggumu terlalu lama," titah kakek Gama. Ia mengelus puncak kepala cucunya dengan lembut, terlihat jelas betapa dirinya menyayangi Sachiko. Setelah kakek Gama keluar kamar, Sachiko segera bangun. Ia mulai membersihkan tubuhnya dengan guyuran air hangat yang dikeluarkan dari shower kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Sachiko terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Keluarganya memiliki bisnis kuliner di Kota Malang. Sedari kecil hingga besar, ia tinggal di kota itu. Dengan menarik kopernya, Sachiko yang sudah rapi pun menuruni anak tangga. Ia disambut oleh kehebohan teman-temannya yang sudah menunggu di ruang tamu sejak pukul tujuh pagi. "Lama banget," gerutu Amira. "Tau, ih. Pesawat kita 'kan jam sepuluh dan sekarang sudah jam delapan," timpal Noel. "Sudahlah, kalian ini mengomel terus. Lebih baik kita berangkat ke Surabaya sekarang. Perjalanan ke bandara juga memakan waktu," ajak Glory. Amira, Noel, dan Glory adalah teman dekat Sachiko sedari awal masuk kuliah di Universitas Ma Chung. Mereka merupakan geng terkenal karena gaya yang selalu modis dan kekinian. Selain itu juga sering memperlihatkan kehidupan mewahnya di sosial media. Walaupun semuanya juga tahu kalau Sachiko yang lebih sering keluar uang untuk teman-temannya. Termasuk liburan ke Bali ini. "Iya, aku pamit dulu sama kakekku," balas Sachiko. Ia mencari kakek Gama ke dapur, biasanya sang kakek sedang minum kopi di sana. "Kek, aku berangkat dulu," pamit Sachiko seraya bersalaman dengan sang kakek, mencium tangan keriput itu, lalu berpindah ke pipi kanan dan kiri. "Iya, hati-hati. Bersenang-senanglah di sana, gunakan waktu liburanmu untuk menghilangkan penat," balas kakek Gama. Ia mengelus rambut cucunya yang terurai indah. Sachiko menengok ke kanan dan kiri mencari seseorang yang juga tinggal bersama dengannya. "Mama mana?" "Biasa, sudah berangkat ke restoran untuk mengecek semua persiapan sebelum buka," jawab kakek Gama. Sachiko menghembuskan napasnya. Mamanya selalu saja sibuk. Bahkan hampir tak ada waktu untuk dirinya. Tanpa berpamitan dengan sang Mama, Sachiko dan teman-temannya berangkat menuju bandara internasional Juanda yang berada di Surabaya. Beruntung sudah ada jalan tol yang mempercepat perjalanan mereka, sehingga tidak terlambat. Mereka sampai di Bali dengan selamat, setelah melewati perjalanan udara selama kurang lebih satu jam. Keempat wanita cantik itu langsung menuju ke resort yang berada di dekat pantai daerah Uluwatu. Tanpa mengistirahatkan badan, Sachiko beserta ketiga temannya langsung berganti pakaian yang lebih terbuka untuk bersenang-senang di pinggir pantai. Mereka tidak ingin membuang waktu hanya untuk rebahan di kamar penginapan. "Ini biasa 'kan?" celetuk Noel. "Iya, pesan aja yang kalian mau," balas Sachiko yang sudah tahu maksud temannya itu. "Siapa yang terbaik?" tanya Amira dengan heboh. "Sachiko," jawab Noel dan Glory bersamaan. Ketiganya memeluk Sachiko karena sudah ditraktir makan dan liburan gratis. Sachiko bukan tipe orang yang pelit. Dia rela mengeluarkan uang untuk teman-temannya. Ada kesenangan tersendiri saat ia membayar tagihan makan ketika pergi berempat. Saat ini keempat wanita cantik itu tengah duduk santai di sebuah restoran yang berada di pinggir pantai. Menunggu pesanan makanan datang sembari berbincang. Tentu saja topiknya tak jauh dari seorang pria. Sachiko lebih sering memperhatikan layar ponsel dibandingkan ketiga temannya. Tapi telinganya tetap mendengarkan ocehan Amira, Noel, dan Glory. "Ayo kita berfoto dulu," ajak Sachiko. Ia sudah mengaktifkan kamera depan. Layar ponsel canggihnya yang berlogo buah apel itu terisi empat wajah wanita cantik. Berbagai pose diambil hingga mereka puas. Namun tetap saja hanya satu yang diunggah pada media sosial. Entah apa yang membuat para wanita itu senang sekali memenuhi galeri dengan foto yang posenya hampir sama semua. "Main ponsel terus," tegur Glory yang sedari tadi merasa kurang nyaman dengan Sachiko. Temannya itu asyik sendiri dengan gadget. Sachiko mengunci ponselnya. Ia mengalihkan pandangannya untuk menatap Glory. "Sorry, aku bertukar pesan dengan kakekku. Tahu sendiri bagaimana dia sangat khawatir dengan kondisiku," jelasnya. Ia baru saja mengirim foto selfie pada kakek Gama. "Kakekmu terus, memangnya dia tak punya pekerjaan sampai harus menghubungimu setiap saat?" ucap Amira dengan nada bicara sinis. "Namanya juga sayang cucu," balas Sachiko. Ia memutuskan untuk memasukkan ponselnya ke dalam tas. Malas berdebat dengan teman-temannya. Hidangan yang dipesan pun datang. Mereka melahap makanan dengan rakus, tidak ada yang tersisa sedikit pun. Kecuali tulang ikan dan piringnya. "Chi, chi." Noel menyenggol tangan Sachiko sebanyak dua kali. "Apa?" "Sepertinya pria itu memperhatikanmu sedari tadi," ungkap Noel dengan suara berbisik. "Yang mana?" tanya Amira penasaran. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan orang yang dimaksud. Tuk! Glory yang duduk paling dekat dengan Amira pun menimpuk kepala temannya. "Jangan perlihatkan jika kau sedang mencari orangnya, bodoh. Nanti dia tahu jika kita membicarakannya," omelnya. Sachiko terkekeh lucu dengan tingkah temannya itu. "Orangnya ada di sebelah mana?" tanyanya penasaran. Ia ingin memastikan apakah dirinya yang diperhatikan atau Noel salah menilai. "Lihat ke balik punggungmu," perintah Noel dengan menunjuk sebuah meja yang dimaksud dengan dagunya. Sachiko mengeluarkan cermin yang selalu dibawa di dalam tasnya. Ia berpura-pura melihat pantulan dirinya di sana, tapi sebenarnya ia sedang melihat orang yang dimaksud oleh Noel. Memang benar ada seorang pria bertubuh tegap dengan kulit kuning langsat, namun wajahnya terlihat manis, sedang memperhatikan mejanya. "Bukan aku yang dia lihat, tapi kamu. Arah matanya saja langsung tertuju denganmu." Sachiko meletakkan lagi cerminnya. Ia tak peduli dengan pria yang dimaksud oleh Noel. Noel berdecak. "Kamu tak tahu, dia sudah ku amati sedari tadi. Saat kamu mencuci tangan di wastafel, dia juga memperhatikanmu," jelasnya yang sudah mengamati gerak gerik orang tersebut. "Biarlah, tak perlu pedulikan dia," balas Sachiko malas. Tapi berbeda dengan Amira dan Glory yang justru tertarik untuk menanggapi. Mereka dengan terang-terangan melirik pria tersebut menggunakan ekor matanya. "Wow, tampan dan manis," puji Amira yang langsung terkesima oleh penampilan pria tersebut. "Kita satu pemikiran. Kalau Sachiko tak mau, lebih baik untukku saja," kelakar Glory yang juga memuja pria tersebut. Sachiko berdecak malas. "Kalian ini langsung menyukai pria yang baru dilihat. Kita harus menguji dulu perjuangannya, baru boleh luluh," timpalnya. Ia berdiri dari duduknya, sudah tak enak rasanya belum mencuci tangan setelah makan. "Aku ke toilet dulu," pamitnya. Tanpa menunggu persetujuan, dia langsung pergi begitu saja. "Lihat, dugaanku benar 'kan?" Noel menunjuk pria yang tadi dia bicarakan. Amira dan Glory ikut menatap ke arah yang ditunjuk Noel. Mereka melihat pria tersebut juga ke toilet, namun dengan selisih waktu tiga puluh detik dari Sachiko pergi. "Bagaimana jika dia memiliki niat buruk pada Sachiko?" tanya Glory. Ia tidak berpikiran sama dengan Noel.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
63.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook