Sachiko mencuci tangannya di wastafel, setelah itu dia membuang air kecil ke toilet. Ia menyempatkan diri untuk melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada di sana. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin sore di pinggir pantai.
"Ternyata aku cantik juga," kelakar Sachiko memuji diri sendiri.
Kaki jenjang Sachiko perlahan menuju pintu keluar toilet. Ia hendak kembali ke meja di mana teman-temannya berada. Namun, langkahnya terhenti karena ada seseorang yang menghalangi jalannya.
Mata Sachiko yang semula memperhatikan jalan, beralih mendongak hingga korneanya terisi oleh seseorang di hadapannya. Ternyata pria yang tadi mengamati mejanya. Wajahnya seketika berubah menjadi judes. "Minggir, kamu menutupi jalanku," usirnya.
Pria itu bergeming. Ia tetap berdiri tegap dengan pandangan mata ke arah Sachiko. Ia tidak bergeser dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Sachiko menghembuskan napasnya. Ia melipat tangannya di d**a. "Gin Sachiko, dua puluh satu tahun, asal Malang. Tinggi badan seratus enam puluh empat, berat badan empat puluh enam kilogram, ukuran sepatu tiga puluh sembilan," ucapnya. Dia berpikiran bahwa pria di hadapannya itu tidak mau bergerak karena ingin berkenalan dengannya, sehingga ia memberitahukan secuil identitasnya.
Pria tersebut tetap diam tak menanggapi. Ia justru menaikkan sebelah alisnya. Wajahnya terlihat datar tak berekspresi.
Sachiko meniup angin ke atas hingga membuat rambutnya yang menempel di dahi itu beterbangan. "Aku sudah memperkenalkan diriku, sekarang minggir. Apa lagi yang mau kamu tahu tentangku? Ukuran bra?" Nada bicaranya terdengar sinis. "Sorry, ya. Itu rahasia perusahaan, hanya suamiku yang akan tahu secara langsung," imbuhnya.
Tak ada reaksi yang diberikan pria itu. Masih saja diam. Membuat Sachiko semakin geram. "Mau kamu apa? Kenapa menghalangiku? Carilah wanita lain yang mau didekati olehmu." Ia terus saja mengoceh, padahal pria itu tak melakukan apa pun.
"Lewat tinggal lewat, sebelah kanan dan kiriku masih ada jalan yang kosong." Sekali berucap, lidah pria itu begitu menohok. Suara berat dan seraknya terdengar sangat macho.
Sachiko menengok ke kanan dan kiri pria itu. Benar saja, ia masih bisa jalan di sana. Ada perasaan malu dalam dirinya. Ia terlalu percaya diri dengan pemikiran konyolnya. Wajahnya saat ini memerah, buru-buru ia pergi meninggalkan pria itu.
Setelah Sachiko berjalan melewatinya, pria itu memutar tubuh untuk menatap wanita manis yang baru saja memperkenalkan diri padanya. Wajah datarnya kini terhias sebuah senyum yang membuat ketampanannya bertambah. Ia berbalik lagi untuk melanjutkan langkahnya menuju toilet pria.
Sementara itu, Sachiko yang sudah sampai ke meja di tempat teman-temannya berada pun duduk dengan wajahnya yang cemberut. Ia menatap kesal ke arah toilet.
"Kamu kenapa?" tanya Noel yang melihat gelagat aneh Sachiko.
Hal itu tentu saja membuat Glory dan Amira ikut menatap Sachiko.
"Pria yang tadi duduk di belakangmu tak melakukan hal yang aneh-aneh 'kan?" Glory menimpali dengan pertanyaan juga.
Sachiko mendengus, ia sedang kesal dengan pria yang tidak dia kenal tadi dan mampu membuatnya malu bukan main. "Iya, dia memang pria aneh," jawabnya asal. "Ayo kita bermain saja di pantai," ajaknya. Tubuh semampainya sudah berdiri. Ia tak ingin berlama-lama berada di restoran itu. Sebelum pria tadi kembali duduk, ia harus pergi dari sana.
"Eits...." Noel memegang pergelangan tangan Sachiko yang hendak melangkah. Membuat temannya itu menoleh ke arahnya.
"Apa?" tanya Sachiko dengan nada bicara sedikit kesal.
"Makanannya belum dibayar," celetuk Noel mengingatkan.
Sachiko menepuk jidatnya. "Sorry, aku lupa." Ia duduk kembali seraya tangannya melambai memanggil pelayan.
Seorang wanita dengan pakaian berwarna hitam dan putih menghampiri meja Sachiko. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sangat ramah.
"Aku ingin meminta bill," jawab Sachiko.
"Tunggu sebentar." Pelayan itu memberikan hormat dengan sopan sebelum berlalu pergi menuju kasir untuk meminta tagihan pelanggan restoran tempatnya bekerja.
Tak berselang lama, pelayan itu kembali lagi menemui Sachiko. "Ini nota tagihannya, Nona. Tapi semua sudah dibayar," jelasnya sembari memberikan selembar kertas panjang berisikan nama-nama makanan yang dipesan Sachiko beserta harga dan totalnya.
Sachiko, Noel, Amira, dan Glory membulatkan mata. Mulut mereka membuka seolah tak percaya. "Siapa yang membayarnya?" tanya mereka bersamaan.
"Pria itu, Nona." Pelayan itu menunjuk seorang pria yang berjalan menjauh dari restoran.
Keempat wanita itu mengikuti arah yang ditunjuk oleh pelayan. Lagi-lagi mereka dibuat terkejut. "Itukan pria yang tadi," gumam mereka bersamaan.
"Oke, terima kasih atas informasinya," cicit Sachiko pada pelayan.
Pelayan itu kembali ke tempatnya semula. Tanpa memperdulikan kebingungan pelanggannya.
Sachiko, Amira, Noel, dan Glory saling berpandangan satu sama lain.
"Kira-kira, apa motifnya sampai membayar tagihan makan kita?" tanya Sachiko yang sedang bingung dengan pria misterius itu.
"Sepertinya dia tertarik dengan salah satu diantara kita," jawab Noel. Dia masih yakin sekali jika Sachiko orang yang ditaksir oleh pria tadi.
"Mana mungkin, kita saja tak ada yang mengenalnya," sahut Sachiko tidak percaya dengan pemikiran temannya.
Noel, Amira, dan Glory saling melempar tatapan. Lalu mereka bersama-sama menatap Sachiko dengan senyuman menggoda. "Pasti dia suka padamu," ucap mereka bersamaan.
"Mana mungkin, bahkan aku sudah mempermalukan diriku di depannya," balas Sachiko. Ia keceplosan mengatakan kejadian yang sebenarnya ingin disembunyikan dari ketiga temannya.
"Apa?" tanya Amira.
"Kau tadi bertemu dengannya 'kan di toilet?" imbuh Noel ikut bertanya.
"Apa yang dia lakukan padamu?" Glory pun tak kalah penasaran.
Ketiga teman Sachiko itu benar-benar memiliki kadar keingintahuan yang tinggi. Mereka bahkan memegangi tangan Sachiko agar tak pergi melarikan diri dari cecaran pertanyaan yang mereka lontarkan.
"Tidak ada yang dia lakukan, hanya salah paham." Sachiko menjawab pertanyaan temannya tanpa menjelaskan kronologi detail. Namun yang ia katakan memang benar adanya. Insiden memalukan di toilet terjadi karena ulah dirinya sendiri yang terlalu berpikiran jauh.
"Oh, ya?" Ketiga teman Sachiko tak percaya begitu saja. Mereka tidak puas jika belum mendengar kronologi sebenarnya.
Sachiko meniup udara ke atas. "Oke, aku ceritakan. Tapi kalian harus berjanji tak akan mengejekku," pintanya. Dijawab anggukan oleh teman-temannya.
"Janji." Noel, Amira, dan Glory berucap bersamaan.
Sachiko pun dengan terpaksa menceritakan kejadian memalukan itu. Tidak ada yang terlewat sedikit pun. "Benar-benar pria aneh," tutupnya dengan hembusan napas kasar.
Sachiko pikir, teman-temannya akan menenangkan dirinya yang masih malu. Ternyata ketiga wanita yang duduk dengannya justru tertawa terbahak-bahak. Membuatnya semakin sebal.
"Sudahlah, aku mau ke pantai." Sachiko langsung berdiri. Ia meninggalkan Amira, Noel, dan Glory.
Tapi sesaat kemudian, ketiga wanita yang masih duduk enak sambil tertawa itu ikut pergi menyusul Sachiko.
Hembusan angin laut di sore itu sangat kencang. Sachiko duduk di atas pasir pantai. Pandangannya lurus ke depan menikmati deburan ombak yang menggulung. Benar-benar menenangkan pikirannya.
"Lihatlah, pria itu ada lagi," celetuk Glory. Ia tak sengaja melihat pria misterius tadi.
Helaan napas frustasi keluar dari bibir Sachiko. Ia melepas kacamata hitam yang menutupi indera penglihatannya. "Sebenarnya apa yang dia mau dari kita?" gerutunya sangat kesal.
"Mana aku tahu," timpal Amira, Noel, dan Glory. Mereka mengedikkan bahu bersamaan.
Sachiko berdiri dari tempatnya. Ia ingin menghampiri pria yang sedang duduk ditemani satu buah kepala muda. "Aku akan tanyakan motifnya dan memperingatkannya agar tak mengawasi kita terus," ucapnya.
Tidak ada yang mengahalangi Sachiko menghampiri pria itu. Noel, Amira, dan Glory justru sangat ingin menyaksikan pemandangan yang mungkin akan membuat Sachiko malu lagi.