Berita Duka

1239 Words
Sachiko berjalan menghampiri pria misterius yang duduk sejauh dua puluh meter dari tempatnya tadi. Hentakan kakinya terlihat sangat mantap hingga membuat paha mulus yang terekspos karena menggunakan celana pendek itu terlihat gerakannya. Jarang berolahraga membuat tubuhnya tidak kencang dan sedikit berlemak. Walaupun ketika dilihat dari kejauhan, tubuhnya tergolong ideal. "He, kamu," panggil Sachiko pada pria yang kini sedang berpura-pura tak menatapnya. Ia tak tahu nama orang itu, sehingga memanggil secara asal. Pria yang dipanggil menengok. Wajahnya datar sekali. Tapi anehnya, terlihat sangat tampan. Tanpa berniat menjawab panggilan Sachiko menggunakan suara, ia menaikkan sebelah alisnya sebagai respon. "Apa yang kamu mau? Kenapa sedari tadi kamu mengawasi aku dan teman-temanku?" tanya Sachiko. Pria itu mengedikkan bahu. Sungguh membuat Sachiko kesal. Sudah mengomel hingga urat leher terlihat pun pria itu tak menanggapi dirinya. "Kamu sedang sariawan, ya? Sedari tadi aku ajak bicara, kamu diam saja!" Sachiko terus saja mengomel walaupun tak ditanggapi pun dia melanjutkan ocehannya. "Haish...." Sachiko mengepalkan tangannya. Ia sungguh kesal, seperti berbicara dengan patung. Tangan Sachiko hendak maju, ia ingin meninju pria misterius yang mengesalkan itu. Namun terhenti ketika ada suara seorang wanita yang datang ke arahnya. "Sayang," panggil wanita itu. Ia langsung duduk di samping pria yang diomeli Sachiko. Bergelayut manja di lengan pria tersebut. Sachiko mematung dengan matanya yang melongo. Lagi-lagi dia sudah berpikiran terlalu jauh. Ia pikir pria itu memperhatikan dirinya dan ketiga temannya karena menaksir. "Ternyata sudah ada penjaganya," gumamnya lirih. "Dia siapa?" Wanita itu bertanya kepada pria yang sampai sekarang belum Sachiko tahu namanya. "Tak tahu." Memang dasar pria itu pelit bicara. Ia memilih mengabaikan Sachiko dan mengalihkan pandangan untuk menatap hamparan air asin di hadapannya. Sachiko mengepalkan tangannya di bawah sana. Ia memutar tubuh sebesar seratus delapan puluh derajat. Melangkahkan kakinya untuk kembali ke teman-temannya yang sedari tadi menonton aksinya yang memalukan. Baru lima langkah Sachiko berjalan, ia kembali menatap pria misterius itu. "By the way, terima kasih traktiran tujuh ratus lima puluh ribu yang kamu bayarkan di restoran tadi," ucapnya. "Aku tak akan mengembalikannya, karena aku tak pernah memintamu untuk membayarkan tagihanku. Jangan pernah menagihku jika suatu saat nanti kita bertemu," imbuhnya memperingatkan. Sachiko melanjutkan lagi berjalan ke arah teman-temannya. Namun ia tak berhenti, melainkan mengajak ketiga temannya untuk kembali ke resort. Sedangkan pria itu terus menatap kepergian Sachiko. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum simpul. Hanya dirinya yang mengetahui arti dari ulasan itu. *** Sachiko merebahkan tubuhnya di kasur. Kamar yang dia pesan cukup luas, bisa untuk empat orang ditambah dengan layanan extra bed. Setelah meninggalkan pantai, ia menghabiskan waktu dengan berenang di kolam yang ada di resort hingga malam. Ketiga teman Sachiko juga sama. Mereka istirahat di atas kasur, namun tidak tidur. "Bagaimana, sudah tahu motifnya?" celetuk Noel tiba-tiba bertanya tentang pria yang tadi. Sachiko berdecak malas. "Bisa tidak, jangan membicarakan orang itu lagi? Aku bosan," sahutnya. Nada bicaranya terlihat jelas jika dirinya tak suka. "Bosan atau karena dia sudah memiliki seorang wanita yang berada di sampingnya?" timpal Amira. Glory tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian di pantai tadi. "Sepertinya karena alasan kedua," kelakarnya. "Sudahlah, aku mau tidur." Sachiko malas berinteraksi dengan teman-temannya yang memojokkannya dengan pria itu. Ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Noel, Amira, dan Glory saling berpandangan satu sama lain. Mereka memberikan kode dengan mata. Dan ketiganya langsung memeluk Sachiko. "Bercanda, Chi," ucap Glory. "Jangan marah," tambah Noel. "Baperan banget, sih," imbuh Amira sembari menarik selimut Sachiko. Sachiko mendengus, tubuhnya terasa berat karena ketiga temannya memeluk dirinya. Bahkan rasanya sangat engap. "Kalian ini kenapa? Minggir." Ia menggoyang-goyangkan tubuh agar tiga wanita yang menempel padanya itu mulai menjaga jarak. "No," tolak Glory. "Maafkan kami dulu," pinta Noel. "Jangan marah pada kami," tambah Amira. "Iya, iya. Sekarang lepas, aku tak bisa bernapas," usir Sachiko. Setelah melepaskan pelukan, Sachiko dan teman-temannya mulai memasuki alam mimpi. Tubuh yang lelah pun memudahkan mereka untuk terlelap. Tidur Sachiko tak nyenyak, ponselnya terus berbunyi. Sudah dua kali ada telepon masuk. Ia memilih untuk mematikan gawai itu tanpa melihat nama sang penelepon. Sachiko tak ingin tidurnya terganggu. *** Sinar mentari sedari tadi sudah menerangi daerah Uluwatu. Namun tak sampai ke dalam kamar di mana Sachiko berada. Waktu bahkan menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, tapi keempat wanita itu belum bangun. Bunyi ponsel diikuti getaran yang terdengar begitu keras membuat Amira berteriak, "matikan, berisik sekali!" Noel, Glory, dan Sachiko meraih ponsel masing-masing. Mereka melihat layar dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. "Bukan milikku," ucap mereka bersamaan, lalu kembali tidur. Dering telepon masih terus menggema di kamar itu. Kini gantian Noel yang geram. "Amira, itu ponselmu!" serunya. Tidurnya sudah tak nyenyak lagi, ia memilih untuk bangun dan mengangkat telepon di gawai milik Amira. "Ya, tante?" sapa Noel. Ternyata yang menelepon adalah Mama Sachiko. "Di mana Sachiko?" tanya Mama Laily, orang tua Sachiko satu-satunya. "Masih tidur," jawab Noel. "Bangunkan!" titah Mama Laily. Terdengar suara yang sedikit bergetar seperti orang yang baru saja menangis. Noel segera membangunkan Sachiko hingga temannya itu membuka mata. "Mamamu." Ia menyodorkan ponsel Amira. Sachiko menerima benda pipih yang canggih itu dan menempelkan ke telinganya. "Ya, Ma?" "Chi." Mama Laily terisak. Membuat Sachiko terbangun sepenuhnya. "Kenapa menangis, Ma?" Mama Laily menjawab pertanyaan Sachiko dengan suara yang tak jelas akibat sesegukan. Membuat Sachiko khawatir. Walaupun Mamanya jarang memberikan kasih sayang, tapi ia juga takut terjadi sesuatu hal yang buruk dengan wanita yang melahirkannya itu. "Ma, tolong ulangi. Aku tak mendengarmu, tenangkan dirimu terlebih dahulu," pinta Sachiko. "Kakekmu, Chi." Mama Laily memberitahukan informasi sepotong demi sepotong. Ia sedang terpukul dan merasakan kesedihan hingga membuat tenggorokannya terasa tercekat untuk berbicara. Mendengar kakeknya disebut, Sachiko merasakan debaran yang hebat di dadanya. "Kakek kenapa? Langsung pada intinya!" sentaknya. Ia tak bermaksud untuk kurang ajar, namun dirinya panik hingga tak sengaja menggunakan intonasi suara yang kurang enak didengar. "Kakekmu meninggal." Tangis Mama Laily pecah. Bahkan ia tak kuat untuk melanjutkan bicara dengan anaknya. Deg! Sachiko mematung. Otaknya sedang bekerja untuk mencerna informasi sang mama. "Kakek? Meninggal? Tidak mungkin, kemarin dia masih sehat," gumamnya tak terima. Tanpa permisi, air matanya menetes deras. Bibirnya yang terkatup itu bergetar. Berkali-kali Sachiko memukul dadanya yang terasa sesak. "Ini pasti bercanda!" raungnya. Ia berteriak histeris. Membuat teman-temannya semua terbangun. "Sachi kenapa?" tanya Amira pada Noel yang sedang duduk di samping Sachiko dengan tangan mengelus pundak wanita yang tengah menangis tersedu-sedu. "Kakeknya meninggal," jawab Noel. Amira dan Glory menghampiri Sachiko. Mereka saling memeluk untuk menguatkan. "Sabar, Chi." Amira mencoba menenangkan temannya. "Yang tabah." Begitu pula Glory yang tak mau kalah. "Aku harus kembali ke Malang," ucap Sachiko. Ia menyingkirkan ketiga temannya yang memeluk tubuhnya. Langsung berdiri dan mengemasi semua barang bawaannya. "Liburan kita bagaimana? Masih ada enam hari lagi," tanya Noel yang risau jika waktunya di Bali akan gagal karena kakek Sachiko meninggal. "Terserah," balas Sachiko tak bertenaga. Tanpa membersihkan tubuhnya, ia meraih handle pintu untuk keluar. Namun, sebelum meninggalkan kamar, dirinya berbalik menatap ketiga temannya. "Kalian tak ada yang mau ikut atau mengantarku?" Amira, Noel, dan Glory saling berpandangan. Lalu menatap Sachiko bersamaan. Tiga kepala itu menjawab dengan gelengan kepala. "Kami masih ingin berlibur," ujar Amira dengan wajahnya yang terlihat sedih. "Kamu tahu sendiri kalau aku belum pernah ke Bali," imbuhnya. Mata Sachiko yang terlihat sembab itu beralih menatap Noel. "Sayang, Chi, kalau semua yang sudah kita pesan terbuang sia-sia." Noel menjawab pertanyaan Sachiko. Padahal, yang membayar liburan mereka di Bali juga Sachiko. Hembusan napas kasar keluar dari bibir Sachiko. Wajahnya bahkan sudah tak beraturan lagi akibat air mata yang terus mengalir. Ia beralih menatap Glory. Yang ditatap pun hanya bisa menundukkan kepala seraya berucap, "maaf."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD