Mencari Transportasi Ke Malang

1130 Words
Ada perasaan sedikit kecewa saat Sachiko melihat teman-temannya lebih mementingkan liburan di Bali. Bahkan tak ada yang memiliki inisiatif untuk mengantarnya ke bandara. Lebih parah lagi, hanya sebatas memastikannya sampai lobby hotel pun tak ada. Sudahlah, Sachiko tak ingin mempermasalahkan teman-temannya yang sedikit kurang menunjukkan empati padanya yang sedang berduka. Kakinya terus mengayun dan menyeret koper dengan tak bertenaga. Tangan Sachiko meraih ponsel dari dalam tas selempang kecil yang bertengger di tubuhnya. Memesan taksi online untuk menjemput di hotel dan mengantarkannya ke Bandara Ngurah Rai. Kesedihan Sachiko terlihat sangat jelas. Matanya terus saja mengalirkan cairan bening hingga menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung hotel. Dia tak peduli, bahkan tak memiliki rasa malu saat banyak pasang mata seperti bertanya-tanya apa yang membuat dirinya sesedih itu. Dalam pikirannya hanya ingin segera sampai ke Malang untuk melihat jasad kakeknya untuk terakhir kali, sebelum dimakamkan. Sebuah kendaraan roda empat berhenti tepat di depan pintu masuk hotel. Kaca gelap mulai diturunkan oleh supir, dan seorang pria berkulit sawo matang dengan hiasan udeng khas Bali bertengger di atas kepala orang itu pun mulai mengajukan sebuah pertanyaan pada Sachiko yang sedari tadi sudah menunggu tepat di anak tangga serambi hotel. "Gin Sachiko?" tanya supir tersebut pada sosok wanita yang berwajah tak keruan. Bahkan dia bisa melihat ada sebuah jejak putih di daerah dekat bibir seperti liur yang sudah mengering. "Ya, aku." Sachiko langsung berdiri dan meraih kopernya. Dia segera membuka pintu mobil tersebut di bagian belakang. Kopernya sengaja diletakkan di sampingnya agar cepat. Supir tersebut memastikan melalui spion depan jika penumpangnya sudah siap. "Ke Bandara Ngurah Rai, Geg?" Dia memastikan sekali lagi tempat yang akan dituju agar tidak salah. Suaranya benar-benar menunjukkan ciri khas orang Bali, bahkan panggilan yang dia berikan pada Sachiko pun khas warga sana yaitu Jegeg atau cantik. "Ya," balas Sachiko dengan kepalanya mengangguk lemah. Kendaraan itu pun mulai melaju menyusuri jalanan beraspal. Perjalanan dari Uluwatu menuju Bandara Ngurai Rai pun ditempuh dalam waktu tiga puluh lima menit. "Geg, sudah sampai." Supir taksi online itu memberi tahu penumpangnya yang terlihat sedang melamun. "Ah, iya." Sachiko dipaksa kembali ke dunia nyata saat pikirannya melayang membayangkan kenangannya bersama sang kakek. "Sudah aku bayar pakai gopay, ya, Pak," tuturnya seraya membuka pintu mobil dan menarik kopernya untuk keluar bersamaan dengan tubuhnya. "Sudah." Supir taksi online itu pun seperti mencari sesuatu di dalam mobil, tapi Sachiko tak peduli. Sachiko justru melihat ke arah bangunan di depannya sampai ada suara seseorang yang memanggilnya dengan kata Geg, barulah dia memutar tubuh ke arah mobil yang membawanya sampai ke sini. "Ya?" "Maaf, ini untuk membersihkan wajah, Geg." Supir itu memberikan selembar tisu basah seraya menunjuk bibirnya sendiri sebagai sebuah isyarat bahwa bagian wajah Sachiko itu ada nodanya. Tangan Sachiko otomatis mengusap mulut dan dia bisa merasakan ada liur yang mengering. Malu, tentu saja. Buru-buru membuatnya lupa tak mencuci muka terlebih dahulu. "Terima kasih." Dia menerima tisu basah tersebut dan membersihkan wajahnya. Setelah membuang tisu tersebut, Sachiko memberikan tip dan bintang lima pada supir yang mengantarnya karena sudah baik memberitahukan jika wajahnya sangat kacau. Dia berniat ingin melakukan perubahan jadwal penerbangan karena sebelumnya sudah membeli tiket untuk pulang pergi. Sachiko berniat menuju salah satu bagian kantor maskapai Garuda. Dia tak sempat melakukan perubahan jadwal melalui aplikasi online tempatnya membeli tiket, sehingga memutuskan untuk langsung ke maskapai yang terkait saja. Siapa tahu bisa lebih dipermudah. Ini juga pertama kalinya dia melakukan reschedule. Mata Sachiko menengok ke kanan dan kiri mencari di mana lokasi kantor maskapai Garuda. Tapi dia tak melihat, sehingga memutuskan untuk bertanya pada petugas security. "Pak, kalau mau reschedule pesawat Garuda di mana, ya?" "Langsung hubungi call center saja," jelas security tersebut. Sachiko menghela napas. Ternyata ribet juga hanya ingin merubah jadwal penerbangan. Karena dia malas menghubungi pihak maskapai, Sachiko pun memutuskan untuk membeli tiket lagi saja. Biarkan yang ini terbuang sia-sia. Berbekal ponsel pintar yang Sachiko miliki. Dia mencari penerbangan pada hari itu juga. Namun lagi-lagi bibirnya mengeluarkan desahan kecewa. "Kenapa kosong semua untuk keberangkatan hari ini?" keluhnya. Rasanya Sachiko ingin berteriak. Dia memikirkan cara lain untuk kembali ke Malang. Dan pilihannya berhenti pada bus. Karena aplikasi khusus memesan tiket itu juga menyediakan untuk kendaraan umum lainnya, dia mencari sekalian di sana. "Haish! Aku sedang butuh transportasi untuk pulang! Kenapa semuanya penuh!" berang Sachiko. Rasanya pagi ini sangat campur aduk, sedih beserta kesal membuat kepalanya nyut-nyutan. Ditambah sedari tadi juga menangis terus. Sachiko pun mencoba untuk menghubungi travel yang bisa berangkat sekarang juga. Puluhan kontak dia hubungi, tapi semuanya menjawab hal sama. Sudah penuh. Kaki Sachiko kini terasa lunglai. Dia tak tahu lagi harus pulang ke Malang menggunakan kendaraan apa. Langkahnya tak bertujuan setelah keluar dari bandara. Dan hanya bisa menangis di pinggir jalan karena kebingungannya. "Kenapa kakek harus tiada saat aku jauh?" lirih Sachiko seraya menatap layar ponsel yang menunjukkan foto seorang pria yang selalu memberinya limpahan kasih sayang. "Sekarang aku harus bagaimana? Aku ingin ikut mengantarkanmu ke peristirahatan terakhir, tapi kenapa sesulit ini pulang ke Malang?" gumam Sachiko. Uang yang Sachiko milik berasa tidak ada artinya jika memang tak ada transportasi yang tersedia. Kecuali dia mampu membeli jet pribadi. Namun hartanya tak sebanyak itu juga. Disaat pikiran Sachiko dipenuhi dengan kesedihan dan kebingungan secara bersamaan. Ada sebuah kendaraan roda empat yang baru saja keluar dari bandara itu berhenti tepat di depannya. Sachiko tak penasaran dengan pemilik mobil itu. Sampai ada suara seorang pria menegurnya, barulah dia mendongakkan kepala. Wajah datar tapi manis, dan memiliki kulit kuning langsat tengah berdiri tegak di hadapan Sachiko yang bersimpuh di pinggir jalan. "Kamu membutuhkan tumpangan?" tanya pria tersebut. Sachiko ingat betul siapa orang itu. Pria yang mengamatinya saat di restoran dan membayarkan tagihan makannya. "Tidak," tolaknya. Pria yang belum memperkenalkan diri itu kembali menuju pintu di sisi kemudi. Dia hendak meninggalkan Sachiko karena wanita tersebut tak membutuhkan pertolongan. Namun saat tubuh tegap terbalut jaket kulit yang tak dibenarkan ritsletingnya itu hendak masuk ke dalam mobil, Sachiko mengeluarkan sebuah suara yang membuatnya berhenti di ambang pintu. "Tunggu," ucap Sachiko. Pria itu menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?" "Apa kamu bisa mengantarku sampai ke Malang? Aku akan membayarmu berapa pun yang kamu mau," pinta Sachiko dengan wajah penuh harap. Setelah dipikir-pikir, tak ada salahnya juga mencari tumpangan dengan pria asing itu. Toh saat ini sedang sangat membutuhkan bantuan. "Bisa." Enteng sekali mulut pria itu menyanggupi permintaan Sachiko. Dia kembali mendekati wanita yang di matanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, jika dinilai dari kesan pertamanya saat bertemu Sachiko. Sachiko membiarkan pria yang belum dia ketahui namanya itu memasukkan koper ke dalam bagasi. Matanya cukup mengamati pergerakan sosok tegap berwibawa hingga pintu di hadapannya terbuka. "Masuklah!" titah pria tersebut. Sachiko mengangguk dan mengikuti arahan pria itu. Perasaannya sedikit lega karena sudah mendapatkan transportasi untuk pulang ke Malang. Dia tak malu sedikit pun meminta dan mendapatkan bantuan dari pria yang kemarin sudah diomeli oleh dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD