Sachiko harus mengucapkan selamat tinggal pada rumah yang sudah dia tinggali selama puluhan tahun. Mulai detik ini, keluarganya akan berpindah ke kontrakan sederhana yang belum dibayar lunas oleh Mama Laily.
Sachiko membantu orang tuanya untuk pindahan. Memasukkan barang-barang kecil ke dalam kardus, pakaian ke koper, dan meninggalkan benda yang tidak terlalu penting karena kontrakan mereka kecil dan pastinya akan sesak jika seluruh isi di dalam rumah itu dibawa semua.
"Aku saja, Ma." Sachiko mengambil alih kardus yang sedang digotong oleh orang tuanya. Memindahkan barang itu ke atas mobil pick up yang disewa untuk membantu pindahan.
"Mama duduk aja, biar aku sama pak supir yang angkat." Sachiko menuntun orang tuanya untuk duduk di kursi teras. Tak tega melihat wajah lelah Mama Laily yang mulai mengeluarkan banyak keringat.
"Kamu kuat, Chi?" tanya Mama Laily seraya mengelap keringat yang membasahi dahi putrinya.
"Kuatlah, Mama lihat aja." Sachiko menyembunyikan lelahnya agar orang tuanya tak ikut turun tangan.
Dengan dibantu supir pick up itu, Sachiko memindahkan koper dan kardus bekas aqua yang dibeli di warung seharga seribu rupiah perkardusnya. Lumayan mengirit pengeluaran untuk pindahan.
"Ini sudah semua, Mbak?" tanya supir tersebut.
"Sebentar, Pak. Saya cek dulu." Sachiko pun masuk ke dalam rumah untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, kecuali sofa, tempat tidur, dan almari memang sengaja ditinggal karena akan membuat kontrakannya penuh dan sesak.
Sachiko keluar lagi. "Sudah semuanya, Pak."
"Ini ada yang mau ikut pick up atau tidak, Mbak?" tanya supir itu sebelum berangkat ke tempat yang lokasinya tak terlalu jauh dari perumahaan ini.
Sachiko menatap ke arah mamanya. "Mama ikut bapaknya aja, ya? Biar aku yang naik motor, sambil arahin juga ke kontrakan kita," bujuknya. Dan dijawab anggukan kepala oleh Mama Laily.
Mama Laily pun mengunci rumah yang dahulu dibeli dari jerih payahnya bersama Kakek Gama. "Kamu belum rezekiku," gumamnya mengucapkan selamat tinggal pada tempat tinggal yang nyaman itu.
Mama Laily pun menemui petugas dari bank yang sedari tadi sudah menunggu di depan. "Ini, Pak. Maaf karena aku tidak bisa mencicil hutang," ucapnya seraya memberikan kunci tersebut.
Wanita berusia empat puluh delapan tahun itu pun masuk ke dalam pick up. Sedangkan Sachiko sudah siap di atas motor dengan helm gratisan dari kendaraan roda dua tersebut yang sudah melindungi kepalanya.
Jarak perumahan tempat tinggal Sachiko yang lama ke kontrakan barunya hanya ditempuh dalam waktu lima belas menit. Sachiko memberhentikan sepeda motornya di depan gang dan otomatis akan diikuti oleh pick up itu.
Sachiko turun dan menemui supir pick up yang masih berada di dalam kendaraan. "Pak, rumahnya ada di dalam sana. Tolong bantuin angkat-angkat lagi, ya?" pintanya seraya menunjuk jalan menuju kontrakan.
"Iya, Mbak." Supir itu pun turun dan diikuti Mama Laily juga.
Sachiko memberikan kunci motor agar Mamanya yang mengendarai sampai ke kontrakan, sedangkan dirinya langsung mengangkat barang-barang.
Akhirnya, setelah tiga puluh menit pun semua barang sudah berada di dalam kontrakan. "Ini biaya sewa pick up sama terima kasih sudah bantu angkatin barang-barang, Pak," ucap Sachiko seraya memberikan uang dua ratus lima puluh ribu rupiah ke supir.
Sachiko menghela napas panjang dan kasar. Kedua tangannya berkacak pinggang. "Pekerjaan belum selesai, Chi. Masih harus bersih-bersih kontrakan dan menata semuanya," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Hidup berdua bersama mamanya, membuat Sachiko tak boleh lemah. Mereka hanya wanita dan tak ada sosok pria yang bisa diandalkan untuk membantu.
"Istirahat dulu aja, Chi. Jangan dipaksain, semua ga' harus selesai hari ini juga," tegur Mama Laily yang melihat putrinya sudah bersiap untuk membersihkan kontrakan.
Mama Laily bergeleng kepala melihat putrinya yang terlalu berambisi untuk menyelesaikan semuanya dalam waktu satu hari tanpa memikirkan tenaga yang dimiliki.
"Tidak apa, Ma. Aku kuat," ucap Sachiko dengan percaya diri. Tapi baru akan mengangkat satu kardus lagi pun pinggangnya sudah berbunyi.
Mama Laily terkekeh saat melihat putrinya memegangi pinggang. "Tuh, ngeyel, sih dikasih tau orang tua," tuturnya seraya menuntun Sachiko untuk duduk di kursi yang terbuat dari bambu yang memang sudah ada di sana sejak survei.
Sachiko menyengir kuda. "Maklum, Ma. Umur muda tapi tulang-tulangnya jompo semua," kelakarnya.
"Ada-ada aja kamu, Chi. Itu karena jarang olahraga," balas Mama Laily.
"Di depan sana kayanya ada warung, ya, Ma?" tanya Sachiko seraya menunjuk arah keluar gang.
"Iya, di pinggir jalan."
Sachiko berdiri seraya memegangi pinggangnya. "Aku ke warung dulu deh, beli koyo biar ga jompo-jompo amat," pamitnya.
Sachiko pun keluar kontrakan. Dia tersenyum sembari menganggukkan kepala untuk menyapa warga sekitar yang berpapasan dengannya. "Permisi, Bu," ucapnya sopan seraya membungkukkan badan.
Sachiko cukup sadar diri jika dirinya adalah pendatang di sana, jadi sebisa mungkin harus menjaga tata krama dengan yang lainnya. Hidup di kampung biasa tak seperti tinggal di perumahaan yang jarang terlihat ada orang main ke tetangga dan ngerumpi sepanjang hari.
Sachiko pun sampai di warung. "Bu... beli...," panggilnya pada penjual di toko itu. Sachiko mengetukkan jemarinya di atas etalase. "Ini niat jualan apa enggak, sih? Masa' tak ada yang jaga," gerutunya.
Sachiko pun kembali berteriak memanggil penjualnya.
"Iya, bentar." Akhirnya ada juga yang menyahut.
Sachiko membulatkan matanya saat melihat siapa yang keluar dari balik pintu. "Loh, kok kamu di sini? Ini rumahmu?" tanyanya pada orang tersebut.
"Bukan, ini rumah dan warung nenekku," jawab pria itu yang tak lain adalah Alvito.
Sachiko berohria dengan kepalanya mengangguk paham.
"Mau beli apa?" tanya Alvito.
"Koyo yang handsaplas warna oren, ada?"
"Bentar." Alvito pun terlihat mencari di etalase obat-obatan. "Tinggal satu," ujarnya seraya menyodorkan barang yang diminta oleh Sachiko.
"Yaudah gapapa, itu aja. Berapa?"
"Enam setengah," jawab Alvito seraya melihat label harga yang tertempel di bungkus tersebut.
Sachiko pun mengeluarkan uang satu lembar sepuluh ribuan yang sudah lecek. "Kembalinya jangan recehan, ya. Nanti aku dikira abis ngamen," pintanya seraya berkelakar.
"Beres." Alvito mengambilkan uang untuk kembalian, dia memberikan satu lembar dua ribu rupiah dan selembar satu ribu.
"Loh, katanya harganya enam ribu lima ratus, kok kembalinya tiga ribu?" protes Sachiko seraya memperlihatkan uang yang dia pegang.
"Lima ratusnya permen. Katanya ga' mau kembalian receh," balas Alvito seraya memberikan tiga butir permen mint.
Sachiko mencebikkan bibirnya. Tidak salah juga Alvito memberinya kembalian seperti itu. "Yaudahlah, makasih, Mase...." selorohnya.
Sachiko hendak kembali ke kontrakan, tapi diurungkan karena Alvito mengajaknya berbicara.
"Kamu kok jauh banget beli koyo sampai sini? Memangnya di dekat perumahanmu tak ada warung?" tanya Alvito. Seperti sengaja mencegah agar wanita itu tak cepat-cepat beranjak pergi.
"Enggak jauh, 'kan rumahku udah pindah."
"Lah, pindah ke mana?"
Sachiko menunjuk gang yang ada di seberang jalan. "Tuh masuk ke sana."
"Sejak kapan pindah?"
"Baru hari ini."
"Oh... kamu yang katanya nenekku mungkin, ya? Katanya ada orang pindahan dua wanita semua gotong barang berat masuk ke gang."
"Iya mungkin. Dahlah, aku pulang dulu, Mase... pemuda jompo mau ngobatin pinggang dulu." Sachiko pun melambaikan tangannya ke arah Alvito.
Alvito terus menatap ke arah Sachiko yang memasuki gang. Bibirnya tersenyum melihat bagaimana wanita tersebut berjalan. Entah apa artinya itu hanya dia yang tahu. Dia pun masuk kembali ke dalam rumah. "Nek, aku keluar sebentar, ya?" pamitnya pada seorang wanita berusia tujuh puluh tahun yang sedang menonton sinetron ikan terbang di televisi.