Alvito, dengan memakai kaus hitam dan celana jeans selutut, dia berjalan memasuki gang di mana Sachiko menunjuk tadi. Kepalanya mengedar ke seluruh rumah yang saling berdempetan satu sama lain, mencari tempat tinggal Sachiko yang baru saja pindahan. Mulutnya enggan untuk bertanya kepada warga sekitar, hanya anggukan kepala ramah dia berikan pada ibu-ibu yang sedang bergosip di salah satu rumah warga.
"Sepertinya itu rumahnya," gumam Alvito saat melihat seorang wanita duduk di kursi bambu dalam rumah yang ada di paling ujung sendiri.
Alvito pun menghampiri rumah bercat hijau neon tersebut dan mengetuk pintu yang terbuka lebar. Dia tak menyangka kalau wanita seperti Sachiko yang diantarnya pulang ke sebuah perumahan dengan harga per rumahnya sekitar tiga miliar rupiah itu mau tinggal di lingkungan sempit dan rumah yang sangat sederhana. Bahkan cat temboknya pun banyak yang lumutan, lantai di bawahnya juga tak semua berlapis keramik, pintu beserta jendela pun kayunya sudah berlubang dimakan teter.
Sachiko yang sedang memejamkan mata sebentar sebelum mulai beres-beres kontrakan pun membuka kelopaknya. Dia terkejut saat melihat Alvito sudah berdiri di ambang pintu. "Loh, ngapain ke sini?" tanyanya.
Alvito mengedikkan bahu. "Siapa tau kamu butuh bantuan?"
"Siapa yang dateng, Chi?" Mama Laily yang baru saja dari kamar mandi itu keluar untuk melihat tamu saat mendengar ada suara orang mengetuk pintu lumayan keras.
Sachiko menjawab dengan menunjuk Alvito menggunakan dagu.
"Oh... ini temen kamu yang ngelayat waktu kakek meninggal?" ujar Mama Laily setelah sampai di ruang tamu dan melihat pria yang masih dia ingat saat berpamitan pulang serta memperkenalkan diri sebagai teman Sachiko.
Kening Sachiko mengkerut. Dia tak tahu kalau hari itu Alvito ikut masuk ke rumahnya. "Iya mungkin," jawabnya asal.
"Aku beres-beres rumah dulu, Ma. Biar nanti malem enak buat ditiduri," ucap Sachiko.
"Temenmu ga' disuruh masuk?" Mama Laily menegur putrinya yang membiarkan Alvito tetap berada di luar.
"Ga' enak sama tetangga, Ma. Baru pindah udah nerima tamu cowo' aja," kilah Sachiko memberikan alasan.
"Sini, Nak. Masuk. Maaf rumahnya Sachiko sekarang jelek." Mama Laily pun melambaikan tangan agar pria dengan lengan yang terlihat berotot itu masuk ke dalam kontrakannya.
Alvito pun tersenyum dan masuk ke dalam rumah sederhana itu. Dia mengulas senyum saat melihat Sachiko mencebikkan bibir ke arahnya.
"Tante buatin minum dulu, ya?"
"Ga' usah, Tante," tolak Alvito.
"Ga’ apa, santai aja sama Tante." Mama Laily pun meninggalkan ruang tamu dan menuju dapur.
"Aku bantu beres-beres." Alvito tak duduk terlebih dahulu, justru mendekati Sachiko.
"Jangan, ga' mau hutang budi aku. Lagian bisa sendiri, beres-beres begini juga kecil," tolak Sachiko.
Walaupun sudah ditolak, tapi Alvito tetap membantu. Dia sedikit iba melihat Sachiko yang membersihkan rumah sembari memegangi pinggang.
"Jangan, Alvito. Kamu duduk aja," tegur Sachiko saat melihat pria itu mengambil satu buah kardus dan menata buku yang ada di dalamnya.
"Udah, ga' usah nolak." Alvito tetap keras kepala dan melanjutkan menata barang-barang di sana.
Sudahlah, percuma juga mengusir. Sachiko pun membiarkan Alvito melakukan sesuka hati pria itu.
"Kamu kenapa pindah ke sini?" tanya Alvito ingin menuntaskan rasa penasarannya.
Sachiko mengedikkan bahu. "Tebak aja sendiri."
"Orang tuamu terlilit hutang?"
"Bisa jadi." Sachiko enggan untuk menceritakan masalah hidup keluarganya pada orang lain. Apa lagi belum terlalu kenal dekat.
Sachiko melanjutkan mengepel lantai dengan kain seadanya dan air saja, untuk sementara agar bersih terlebih dahulu, masalah wangi bisa menyusul. Sedangkan Alvito, dia menata barang pada rak yang memang sudah tersedia di sana, sepertinya peninggalan dari penyewa lama.
"Kamu ga' kerja apa gimana, sih? Kayanya punya waktu luang banyak banget sampai bisa bantuin beberes rumah?" Sachiko bertanya dengan sedikit menyindir. "Apa jangan-jangan kamu beneran tentara gadungan, ya?" tuduhnya kemudian.
Mama Laily yang mendengar nada bicara anaknya kurang ramah pada Alvito pun menegur. "Chi, sama temen kok gitu. Udah baik dibantuin, loh," tuturnya seraya meletakkan air putih panas yang dia rebus dadakan menggunakan panci. "Adanya ini, Nak. Tante belum beli apa-apa."
Alvito memasang senyumnya. "Tidak apa, Tante."
"Yaudah, Tante tinggal beresin belakang dulu, ya?" pamit Mama Laily.
"Iya, Tante." Alvito mengangguk ramah.
"Jangan judes-judes sama temennya, Chi." Mama Laily berbisik di telinga putrinya sebelum meninggalkan ruang tamu.
"Siapa yang judes, Ma. Aku ini ramah, loh," sahut Sachiko seraya memasang senyum yang terlihat dipaksakan.
Alvito pun terkekeh, menertawakan Sachiko yang tak pernah berubah dari pertama kali bertemu. Tetap percaya diri.
"Jangan ketawa, kamu tentara gadungan, 'kan?" Sachiko masih ingat saja dengan tuduhannya tadi.
Alvito bergeleng kepala seraya mengeluarkan decakan. "Ini hari minggu, tentara juga ada hari libur kali," beritahunya.
Sachiko berohria. "Kirain harus berjaga setiap hari."
"Gaklah."
"Terus, kamu ngapain di warung tadi?"
"Nemenin nenekku, kalau libur aku pasti di sana."
"Oh...." Sachiko sudah tak mau bertanya lagi. Nanti bisa-bisa disangka banyak ingin tahu dan naksir Alvito kalau mengorek informasi pria itu.
"Ini ditaruh mana? Semua sudah aku bantu tata, tinggal empat koper aja," tanya Alvito seraya menunjuk koper di hadapannya.
"Kamar, biar aku aja. Udah, kamu duduk di kursi, makasih udah bantuin," titah Sachiko.
Alvito pun duduk di kursi bambu. "Makasih aja, nih? Ga' dapet yang lain?"
Sachiko menaikkan sebelah alisnya. "Emang mau apa lagi?"
"Sun."
"Dih, kurang ajar, baru kenal udah minta cium!" Sachiko menggulung lengan kausnya dan menunjuk wajah Alvito dengan marah-marah. "Tuh tetangga pada liatin, apa gapunya malu kamu tuh diliatin ibu-ibu rumpi? Aku teriak juga bisa-bisa digebukin kamu sama warga sini," ocehnya. "Kamu dateng ke sini aja udah pasti digosipin sama tuh ibu-ibu, apa lagi aku cium di sini yang langsung keliatan sama mata mereka," masih saja Sachiko mengomeli Alvito.
Tapi hal itu justru membuat Alvito terkekeh lucu. "Pikiranmu kenapa jorok terus? Memangnya aku bilang minta dicium? Sun, bukan berarti cium."
Sachiko semakin tak paham dengan keinginan pria itu. Kosa kata yang dia tahu kalau sun artinya minta cium. Itu bahasa yang biasa dirinya dan teman-temannya gunakan. "Terus apa?"
"S, u, n." Alvito mengeja setiap hurufnya. "Sun itu bahasa Inggris, kalau kita ubah ke Indonesia jadi matahari. Ada salah satu bunga yang namanya bunga matahari, di mana bijinya bisa dimanfaatkan untuk dijadikan camilan yang namanya kuwaci. Jadi kesimpulannya—" Alvito terdiam saat ucapannya sudah disela oleh Sachiko.
"Kamu mau kuwaci?"
"Nah, itu." Alvito pun berdiri, badannya lebih tinggi dua puluh centimeter dari Sachiko. Tangannya menoyor kepala wanita itu. "Makanya, jangan berburuk sangka dulu sama orang." Dia balas mengomeli.
Sachiko menyengir, apa sekarang dia seperti seseorang yang sering memikirkan hal-hal m***m? Ah sudahlah, dia tak mau terlalu memikirkan itu.
"Tunggu sini, aku belikan kuwaci di warung nenekmu." Sachiko pun langsung keluar kontrakan. Saat berjalan di depan ibu-ibu, dia diberhentikan oleh mereka.
"Kamu yang baru kontrak di sana?"
Pertanyaan itu membuat Sachiko berdiam di tempat dan menatap ibu-ibu rumpi. Dia tersenyum ramah. "Iya, Bu. Nama saya Sachiko."
"Itu cucunya yang punya warung seberang kok bisa kenal sama kamu?" Salah satu ibu-ibu yang kadar kerumpiannya tinggi pun mengajukan pertanyaan seperti menginterogasi Sachiko.
"Temen saya, Bu. Saya permisi dulu, mau ke warung." Sachiko memilih untuk menghindari warga sekitar yang belum jelas tabiatnya seperti apa. Dia ingin tinggal di sana dengan aman, nyaman, tenteram, dan damai tanpa gangguan jin atau setan berwujud manusia.
Mungkin ibu-ibu itu sedang saling berbisik membicarakan Sachiko, tapi yasudahlah tak perlu dipikirkan asalkan telinganya tak mendengar langsung.
"Bu... beli." Sachiko berteriak di warung milik nenek Alvito. Dia sampai menggunakan tenaga ekstra untuk memanggil penjualnya. Napas kasar pun keluar dari bibirnya. "Sabar, harap maklum, yang jual udah tua." Dia mengelus dadanya sendiri. Mengulangi teriakannya lebih kencang.
Dan akhirnya seorang wanita yang sudah keriput pun keluar. "Aku tidak tuli, jangan teriak," omelnya.
Sachiko mengalihkan pandangan agar tak terlihat saat bibirnya komat-kamit. "Tidak tuli tapi dari tadi dipanggil tak keluar," gerutunya.
Sachiko pun kembali menatap nenek tersebut dan memberikan ulasan senyum. "Maaf, Nek," ucapnya.
"Tuh ada bel, lain kali pencet itu, jangan teriak." Nenek tersebut berbicara dengan sinis seraya menunjuk menggunakan besi yang digunakan untuk menopang berat badannya agar kuat berdiri, dia mengarahkan ke sebuah pencetan yang menempel di dinding dan tak terlihat jelas.
Sachiko menatap ke arah yang ditunjuk. Bibirnya mencebik saat melihat kondisi pencetan bel. "Pantas saja aku tak tahu, lah pencetannya dengan warna tembok sama. Bisa-bisanya tembok dicat sampai ke pencetan belnya," gumamnya sangat lirih agar tak terdengar sampai ke nenek itu.
"Mau beli apa?"
"Kuwaci."
Disaat nenek itu mengambilkan jajanan yang diminta, Sachiko membuka lemari pendingin untuk mengambil dua botol minuman.
"Sama ini jadinya berapa?" tanya Sachiko.
"Lima belas ribu."
Sachiko membayar dengan uang pas tanpa kembalian. Dia kembali lagi ke rumah dan kali ini tak ditanyai lagi oleh ibu-ibu yang betah sekali ngerumpi seharian.
Sachiko menyodorkan kuwaci pada Alvito. "Nih sebagai bayaran udah bantuin beres-beres. Ga' ada hutang budi berarti, aku udah bayar soalnya."
"Santai, jangan judes gitu, dong," cicit Alvito seraya menerima camilan kesukaannya.
"Nih sekalian aku beliin mijon, biar otakmu enggak miring." Sachiko menyodorkan botol berwarna biru namun sedikit transparan. "Minta kuwaci aja bilangnya sun, ada istilah simpel justru pilih yang rumit," sindirnya.
"Yang rumit lebih banyak tantangannya," balas Alvito seraya menghiasi wajahnya dengan senyuman menyebalkan.