Berbalik 180 Derajat

1426 Words
Semalam tidur Sachiko sungguh tak nyenyak. Sulit untuk masuk ke alam mimpi, sekalinya berhasil pun sedikit-sedikit terbangun. Entah karena ada nyamuk yang menghisap darahnya, udara yang dihirup rasanya seperti banyak debu, dipan berbahan kayu yang sering berbunyi setiap kali dirinya berpindah posisi, kasur dari kapuk yang keras, bantal yang tak ada empuk-empuknya, dan tak ada guling yang bisa dipeluk seperti biasanya. Ingin mengeluh tapi mamanya saja kuat menghadapi cobaan ini. Rasanya malu jika dirinya yang masih muda itu kalah dengan jiwa wanita berusia empat puluh delapan tahun. Sudahlah, Sachiko memang butuh terbiasa saja dengan keadaan yang serba sederhana ini. Dirasa sudah tak bisa tidur lagi dan waktu juga sepertinya menunjukkan pagi hari, dia memilih untuk keluar kamar saat mendengar suara dentingan dari barang-barang di dapur. Sachiko mengucek matanya seraya menguap. Berjalan ke arah dapur dengan wajahnya yang sangat sayu seperti kurang tidur. "Ma, pagi sekali sudah masak, kapan beli sayurannya?" tanya Sachiko. Dia berinisiatif untuk membantu orang tuanya mencuci bahan-bahan tersebut. "Iya, pasarnya 'kan deket dari sini. Tadi jam empat mama jalan kaki ke sana, cuma sepuluh menit. Sekalian olahraga," jelas Mama Laily. Dia tetap bisa tersenyum dan seperti tak keberatan dengan hidupnya yang sekarang. Lebih tepatnya sudah pasrah. Semua juga salahnya karena tak hati-hati dan mudah percaya dengan teman sendiri. "Oh... enak kalau begitu," sahut Sachiko. Mama Laily menatap ke arah putrinya. "Tumben kamu udah bangun jam segini. Gimana tidurnya, nyenyak?" Sachiko menggelengkan kepalanya seraya meniriskan sayur yang baru saja dicuci dari air kran. "Aku cuma tidur dua jam kayanya. Kepalaku sekarang masih pusing, matanya berat tapi ga' bisa ke alam mimpi," jawabnya. Dia meletakkan sayuran ke hadapan mamanya. Mama Laily mengelus punggung putrinya dengan lembut. "Maafin mama, ya? Gara-gara aku, kamu harus hidup susah seperti ini." Ucapannya mengandung penyesalan serta perasaan bersalah. Dan hal itu bisa ditangkap jelas oleh Sachiko. "Sudahlah, Ma. Aku percaya jika semua yang kita alami ini termasuk ujian hidup dari Tuhan, tidak ada yang salah. Mama tak perlu seperti itu." Balasan Sachiko itu menenangkan orang tuanya. "Ini semuanya mau dimasak, Ma?" tanya Sachiko saat melihat bahan-bahan yang sangat banyak dan beragam itu tersebar di meja yang tak seberapa besar. "Iya," jawab Mama Laily seraya mengeluarkan ayam potong. "Banyak banget, mau buat apa?" "Mama mau coba jualan, bikin warteg kecil-kecilan dulu di depan. Siapa tau laku. Kita sudah tak ada pemasukan, kalau ga' buru-buru buka usaha, nanti uangnya habis buat biaya hidup aja," jelas Mama Laily. Keahliannya hanya dibidang kuliner, jadi dia ingin memanfaatkan itu dan merintis dari bawah lagi. Sachiko hanya menganggukkan kepala. Dia membantu orang tuanya memasak, lebih tepatnya hanya menyiapkan bahan-bahan saja. Takut rasanya tak sesuai dan tak seenak buatan mamanya. Lumayan lama memasak sebanyak enam jenis yang berbeda. Mulai dari sayuran hingga lauk, membutuhkan tiga jam baru selesai semua. "Bantu mama keluarin meja ke teras, yuk?" ajak Mama Laily. "Siap." Sachiko dan Mama Laily pun bergotong royong untuk menyiapkan tempat jualan yang sangat sederhana, bahkan bisa dibilang ala kadarnya. Masakan yang tadi sudah dibuat pun dikeluarkan. Hanya menggunakan mangkuk plastik biasa sebagai tempatnya. Yang penting dicoba dulu, itulah prinsip Mama Laily, dari pada tidak tahu hasilnya jika belum mencoba. Maka dari itu, dia nekat untuk langsung berjualan karena memang uangnya hanya cukup untuk memulai dari warteg sederhana ini. Sachiko membantu untuk menjaga setelah membersihkan diri. Cukup lama dia duduk di sana, tapi tak ada satu pun warga yang beli. Hanya orang berlalu lalang saja. "Ma, sepertinya lokasi kita terlalu masuk ke dalam gang, jadinya tak banyak orang yang bisa melihat warung mama," ucap Sachiko menilai tempat mereka tak strategis untuk usaha. "Ya mau gimana lagi, Chi. Mama tak ada uang untuk menyewa tempat, ada dua puluh lima juta di tabungan tapi untuk membayar kuliahmu. Nanti kalau berjualan di pinggir jalan bisa kena marah warga yang berlalu lalang." Sachiko menghembuskan napasnya. "Bayar kuliah 'kan tak harus langsung lunas, Ma. Pakai aja dulu buat usaha." "Nanti kamu tak bisa kuliah. Bagi mama, pendidikan itu nomer satu. Kalau aku tak bisa memberi warisan harta, setidaknya ilmu yang bermanfaat buat kamu kedepannya masih bisa mama beri." "Bayar uang SKS dulu aja, Ma. Sachi kurangi ambil SKS nya biar mama ga' berat bayarnya." "Chi...," tegur Mama Laily yang tak setuju. "Sudah, Ma. Jangan ngeyel, aku ga' mau bikin mama susah dan pusing." "Baiklah." Akhirnya, kesepakatan pun jatuh pada Sachiko mengalah untuk lebih lama kuliah karena dia menempuh pendidikan di universitas swasta. Jadi, pembayaran berdasarkan SKS yang diambil, bukan secara keseluruhan persemester seperti negeri. *** Waktu libur pun telah berakhir. Semester ini Sachiko hanya mengambil SKS sebanyak dua belas atau terdiri dari empat mata kuliah saja. Pagi-pagi sekali Sachiko sudah membantu mamanya untuk menyiapkan jualan di salah satu lokasi parkir sebuah ruko yang terletak di pinggir jalan. Karena uang mereka tidak cukup untuk membayar sewa tempat yang harga pasaran di sana lumayan menguras kantong, akhirnya kedua wanita itu memutuskan untuk berjualan menggunakan gerobak. Yang terpenting tempat usahanya terlihat oleh orang lain dan tidak tersembunyi seperti di depan kontrakannya, sampai jualan pertama mereka sisa banyak dan berakhir dibagikan ke tetangga sekitar. "Ma, aku berangkat ke kampus dulu, ya?" pamit Sachiko seraya meraih tangan orang tuanya dan mengecup punggung tangan wanita itu. "Mama ga' bisa kasih uang buat jajan, bawa bekal nasi bungkus aja, ya? Buat sarapan di kampus." Mama Laily menyiapkan makanan untuk putrinya, dan menyodorkan kresek berisi kertas nasi berkaret merah. "Ga' apa, Ma." Sachiko menerima bekal dari orang tuanya. "Aku pergi dulu." "Iya. Sabar, ya, Chi. Hidup kita lagi diputar seratus delapan puluh derajat." "Tenang, Ma." Sachiko pun berangkat ke kampus dengan mengendarai sepeda motornya yang dibeli tiga tahun silam. Dia langsung menuju kelas, tapi terlihat sepi, hanya ada beberapa mahasiswa saja. Padahal, dia sudah terlambat jika dilihat dari waktu kedatangannya. "Kuliahnya udah selesai?" tanya Sachiko pada salah satu mahasiswa. "Udah, dosennya bolos, makan gaji buta, males ngajar kayanya," jawab asal salah satu mahasiswa yang Sachiko sendiri belum kenal karena tak pernah satu kelas. "Oh, yaudah, makasih." Sachiko pun keluar lagi dari ruangan itu. Dia masih ada kelas, kalau pulang pun justru boros bensin. Sehingga Sachiko memilih untuk menuju kantin saja. Sembari menunggu jadwal selanjutnya, dia bisa makan bekal yang dibawakan mamanya. Kedatangan Sachiko di kantin itu mendadak menjadi pusat perhatian. Dia bisa merasakan karena hampir seluruh pasang mata menatap ke arahnya. "Emangnya aku aneh? Kok pada liatin semua?" gumam Sachiko yang tak paham. Dia mencoba untuk tak peduli seperti biasanya, tak mau diusik orang lain. Mata Sachiko menangkap teman-temannya sedang duduk di salah satu meja. Dia pun menghampiri Noel, Glory, dan Amira. Duduk di samping mereka. "Kalian di sini ternyata, pantesan aku ke kelas udah ga' ada," ucapnya. Dia sudah melupakan kejadian saat di mall kemarin. Kedatangan Sachiko yang tiba-tiba itu membuat Noel, Glory, dan Amira menatapnya dengan sorot jijik. Tak ada kalimat yang keluar dari bibir ketiga wanita itu, mereka langsung pergi begitu saja, meninggalkan bakso dan mie ayam yang belum habis. "Aku salah apa sama mereka?" Sachiko jadi bertanya-tanya sendiri. Padahal dia tak pernah berbuat jahat dengan teman-temannya itu. Kenapa dijauhi seperti sekarang? Hembusan napas kasar pun keluar dari bibir Sachiko. Dia mengeluarkan nasi bungkus dari dalam tasnya. Tak mau ambil pusing dengan teman-temannya. Masih bisa hidup walaupun tak memiliki teman. Yang terpenting sekarang tak menyusahkan orang tuanya saja. "Chi, keluargamu bangkrut, ya? Kok makannya nasi bungkus? Biasanya jajan." "Iya." Jawab Sachiko dengan jujur. "Yah... gembel dong sekarang?" "Waduh... pantesan tadi ditinggalin sama genk dia. Ternyata udah miskin sekarang." "Makanya, Chi. Cari temen yang bener. Modelan kaya' mereka mah udah keliatan cuma mau pas seneng doang." "Salah cari circle, sih." "Sekarang sendirian tuh, ga' punya temen lagi." "Kasian...." Sahut-sahutan suara mahasiswa yang mayoritas tahu Sachiko walaupun wanita itu tak banyak mengenal mereka pun menertawakan dirinya yang jatuh miskin dan ditinggalkan oleh temannya. "Yaudah, sini temenan sama aku. Mau ga'? Katanya kasian," tantang Sachiko. Dia tak ada rasa malu sedikit pun dengan kondisinya saat ini. "Tapi aku sekarang miskin." "Males. Salah siapa dulu sombong." Sachiko mengedikkan bahunya. Terserah orang ingin menilainya seperti apa. "Yaudah, karena sekarang aku miskin dan menurut kalian sombong. Yang merasa dulu pernah ngutang sama aku, bayar!" ucapnya menagih dari puluhan wajah di sana yang memiliki hutang dengannya saat dahulu masih kaya. Semuanya langsung diam. Pura-pura fokus dengan makanan masing-masing adalah kunci untuk menghindari Sachiko. "Dih, giliran ditagih hutangnya aja pada diem, pura-pura amnesia. Ngejekin orang semangat banget. Ga' malu tuh sama orang miskin kaya' aku tapi masih pada tega ga bayar utang?" ucap Sachiko balas mengejek dan menyindir semuanya. Entah sifat dari mana yang dimiliki Sachiko. Dia anti ditindas. Enak saja orang menginjak-injak harga dirinya. Mau dia miskin atau kaya, tetap harus berani melawan jika dirundung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD