Sachiko tidak bisa hidup seperti ini terus. Bergantung pada penghasilan orang tuanya yang berjualan warteg. Terkadang juga jualan mamanya tak selalu habis. Walaupun dia pasti membantu disaat tak ada kuliah, tapi tetap saja rasanya kurang enak saat mengingat masih ada tanggungan untuk membayar ujian jika sudah mendekati pertengahan dan akhir semester.
Sachiko ingin membantu meringankan beban mamanya. Dari semua cobaan hidup yang menimpanya, tidak membuat dia putus asa. Justru menjadi bersemangat untuk lebih mandiri lagi.
Wanita itu mencari informasi tentang lowongan pekerjaan di media sosial. Karena dia hanya memiliki ijazah Sekolah Menengah Atas, sebab kuliah pun belum lulus, akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan sebagai pelayan restoran.
Sachiko juga memiliki pengalaman menjadi pelayan saat keluarganya masih memiliki restoran. Dengan bekal tersebut, dia diterima oleh sebuah tempat makan yang terkenal dengan hidangan mie setan, iblis, dan minuman yang diberi nama macam-macam hantu di Indonesia mulai dari es pocong, tuyul, bahkan genderuwo pun ada.
Orang mengenal tempat itu dengan Mie Gacoan. Di sana selalu ramai, hampir tak pernah sepi pengunjung. Terkadang juga antrian sampai ke luar hingga tempat parkir.
Baru kemarin dinyatakan diterima, Sachiko langsung menjalani training hari ini. Pagi hari dia membantu orang tuanya berjualan, kemudian kuliah jika ada jadwal, dan yang pasti luang biasanya setelah pukul tiga sore. Jadi, demi menjaga kredibilitas kerjanya, dia memutuskan untuk mengambil shift sore.
Karena masih anak baru, Sachiko berpakaian kemeja putih dan celana kain hitam. Dia siap untuk memulai hari baru dengan penuh semangat.
"Ma, aku berangkat dulu," pamit Sachiko.
"Mau ke mana?" tanya Mama Laily seraya keluar dari kamarnya.
"Kerja."
Mama Laily mengerutkan kening. "Di mana? Kamu kok ga' bilang sama mama kalau kerja?"
"Mie Gacoan. Nanti kalau izin pasti ga' dibolehin," alasan Sachiko. Dia mencium punggung tangan orang tuanya dan berlalu meninggalkan kontrakan sebelum terlambat.
Mama Laily hanya bisa bergeleng kepala melihat putrinya yang sudah dua minggu ini bisa tak mengeluh saat tinggal di rumah kontrakan dan tidak pernah meminta uang padanya. Padahal biasanya setiap hari jajan terus. Cukup terkesan dengan sifat Sachiko yang pekerja keras. Padahal dari kecil sering dia turuti kalau ingin meminta sesuatu, namun untungnya saat sudah dewasa dan kondisinya sedang dijungkir balikkan, tak membuat putrinya menjadi wanita yang kurang ajar layaknya sinetron televisi yang menyalahkan orang tuanya karena miskin. Mungkin karena didikan almarhum Kakek Gama juga banyak turut andil hingga membuat Sachiko menjadi anak yang mudah menerima keadaan tanpa menyalahkan sembarang orang.
Sementara itu, Sachiko baru saja sampai ke lokasi kerjanya. Tepat lima menit sebelum shift sore dimulai. Dia menelan saliva saat melihat antrian yang begitu panjang. Jam seperti ini memang sedang banyak-banyaknya pengunjung datang.
"Semangat Chi. Hari pertama pasti bisa melewatinya." Sachiko menyemangati diri sendiri.
Tidak ada motivasi yang lebih kuat kecuali dari diri sendiri. Ya, itulah Sachiko. Dia sering menganggap ucapan semangat dari orang lain hanya angin lalu belaka. Jika dirinya lelah, ya lelah. Kalau ingin semangat, ya pasti semangat.
Percuma saja orang lain menyemangati Sachiko. Pasti hanya dianggap omong kosong semata, tak akan merubah keadaannya. Sebab, perubahan bukan dihasilkan dari orang lain, melainkan dari diri sendiri.
"Sachi, langsung antar makanan ini ke pelanggan yang namanya lemu yo rapopo."
Baru juga sampai dan mencuci tangan, manajer yang kemarin mewawancarai dirinya langsung memberikan tugas.
"Siap, Mase...." Sachiko mengambil alih nampan yang sudah berisi dua piring mie dan dua minuman yang di dalamnya terdiri dari irisan buah-buahan. Tapi percayalah, es itu namanya mengerikan semua, pocong, genderuwo, tuyul, kuntilanak. Anehnya, pengunjung tak ada yang takut dengan minuman itu, justru suka.
Kalau Sachiko mengkategorikan minuman yang baru saja diturunkan ke atas meja itu dengan es buah. Dia kembali lagi setelah menyelesaikan tugas perdananya. Dan menunggu hidangan meja lain selesai dibuat.
"Mase...," panggil Sachiko pada manajer yang sedang mengontrol kinerja restoran.
"Hm...?" Seorang pria berumur sekitar tiga puluh tahun itu menaikkan alisnya, namun mata tetap menyapu ke seluruh penjuru tempat kerjanya.
"Itu es buah kenapa dikasih nama setan-setanan? Ga' takut orang kesurupan?" kelakar Sachiko. Sembari menunggu mie selesai dibuat, dia ingin sedikit mengulik tentang setiap menu yang ada di restoran itu. Berjaga-jaga, siapa tahu ada pelanggan iseng yang bertanya hal-hal di luar nalarnya.
"Namanya strategi marketing, Chi. Buat menarik orang aja," jelas manajer itu.
"Anak baru malah ngobrol, tebar pesona banget sama Mas Bim." Sekilas Sachiko masih bisa mendengar ada karyawan lama yang sedang diam-diam membicarakannya.
Sachiko melirik ke arah di mana orang tersebut. Dia tersenyum seraya menaikkan sebelah alisnya untuk menyapa. Kekehan pun keluar dari bibirnya saat orang-orang yang sedang membicarakannya langsung melengos.
Sachiko pun memilih untuk melanjutkan obrolan sedikit-sedikit saat mengintip kalau belum ada pesanan yang siap diantarkan. "Kalau untuk menarik, kenapa namanya tidak diganti dengan nama-nama artis yang keren dan hits? Cha Eun Woo, Bright Vachirawit, Zayn Malik, Justin Bieber, dan yang lainnya. Kenapa harus genderuwo dan semacamnya?"
Manajer yang kebanyakan karyawan di sana memanggil dengan sebutan Mas Bim itu mengedikkan bahu. "Idemu bagus, tapi mereka artis dan takutnya restoran dituntut jika menggunakan nama mereka. Itu bisa dianggap sebagai pelecehan nama karena digunakan untuk menyebut menu kita," jelasnya.
"Oh...." Sachiko pun mengangguk paham.
"Anak baru, anter ini ke lantai dua, jangan lupa teriakin namanya," ucap seorang wanita dengan sinis.
Sachiko melihat ke arah nampan yang isinya lebih banyak dari yang awal. Kali ini ada enam piring yang disusun menjadi dua tingkat. Pasti orang itu sengaja memberinya yang lebih menantang, padahal ada pelayan pria yang jauh masuk akal jika membawa hidangan itu.
"Oke." Sachiko tak mau terlihat lemah dan takut. Dia membawa nampan yang lebih besar tersebut.
"Titisan ibu peri nenek lampir?" Sachiko meneriakkan nama pengunjung tersebut. Di sana memang pelanggan sering memberikan nama sesuka hati mereka. Sebab setiap kali pelayan mengantarkan pesanan, pasti dipanggil dengan lantang. Dan hal itu memacu keseruan karena jika namanya sangat aneh, pasti pengunjung lainnya saling menengok untuk menebak siapa gerangan yang iseng membuat nama semenggemaskan itu.
"Sini, Mbak." Ternyata kumpulan wanita muda yang duduk di meja tengah.
Sachiko mengayunkan kaki menuju ke sana. Suasana sudah remang-remang sehingga tak terlalu melihat wajah secara jelas. Barulah saat menurunkan piring mie ke atas meja, suara yang begitu dikenalnya membuka suara.
"Loh... Sachiko? Kamu kok sekarang jadi pelayan? Beneran udah miskin, ya?" tanya salah satu wanita yang dia kenal sebagai salah satu dari jajaran mahasiswa tajir di kampus.
Sachiko hanya menyengir, ingin membalas dengan ucapan yang tak kalah pedas, tapi dia ingat jika sedang bekerja. "Iya, yang penting enggak jual diri dan memanfaatkan teman aja buat menghidupi sehari-hari," jawabnya seraya melirik ke arah tiga wanita mantan temannya, Noel, Glory, dan Amira.
"Eh... apa maksudnya?" Tiga wanita itu seperti merasa tersindir dengan ucapan Sachiko.
Tapi Sachiko tak ingin membuat masalah di hari pertama bekerja. "Selamat menikmati, permisi." Dia memilih untuk undur diri.
Baru juga sampai ke bawah, Sachiko sudah diberikan nampan baru saja. Kali ini berisi minuman.
"Lantai berapa ini?" tanya Sachiko.
"Kamu 'kan bisa baca di struknya. Ada informasi tempat dia duduk sama namanya," jawab salah satu karyawan dengan sinis. Sepertinya dia tak suka dengan Sachiko yang masih baru tapi sudah berani berbicara santai dengan manajer. Dia mengkategorikan pelayan seperti Sachiko adalah manusia sok cari muka.
"Oh...." Sachiko tetap menanggapi dengan santai. Dia mengambil alih nampan dan menuju lantai dua. "Cio...," panggilnya. Untung kali ini namanya normal.
Sachiko segera menuju meja yang berada di dekat tempat mantan teman-temannya duduk. Saat dia melewati Noel, kaki wanita itu sengaja keluar untuk menjegalnya.
Sachiko yang pandangannya lurus ke depan bukan ke jalan pun terjatuh. Dan naasnya, minuman yang dia bawa tumpah ke salah satu pelanggan di sana.
"Kamu kalau bekerja yang becus, dong!" bentak pelanggan yang tergolong sudah ibu-ibu itu.
Sachiko menatap permusuhan ke arah Noel yang terlihat mengejeknya. Sialan, manusia satu itu benar-benar tak tahu diri. Sudah sering dia traktir tapi sekarang mengerjainya, di tempat kerja pula.
Sachiko menghembuskan napas. Dia segera menghampiri pelanggan yang basah karena ketumpahan minuman. "Maafkan saya." Tubuhnya membungkuk menunjukkan penyesalan.
"Maaf, maaf, enak banget. Baju mahal ini, tas mahalku juga jadi basah," omel wanita itu.
"Saya akan bantu keringkan," balas Sachiko berniat untuk bertanggung jawab sebisa mungkin. Kalau mengganti sudah pasti dia tak memiliki uang.
"Dih, enak aja. Gantilah pakai yang baru."
'Kan betul, spesies manusia seperti ibu-ibu ini pasti melebih-lebihkan dan suka mengambil untung.
"Ma, sudah. Dia tak sengaja," tegur seorang pria kepada orang tuanya yang marah-marah. Dia baru saja datang dari arah yang dipunggungi oleh Sachiko.
Dan suara itu membuat Sachiko menengok ke orang tersebut. "Alvito?" panggilnya. Kenapa hidupnya di mana-mana selalu bertemu pria ini?