Alvito masih memakai baju dinasnya saat datang ke Mie Gacoan. Dia baru saja pulang bekerja dan langsung menuju tempat yang dikirimkan oleh mamanya karena mengajak makan malam bersama di tempat hits untuk kalangan pemuda Malang itu.
Alvito yang melihat mamanya marah-marah pun segera menghampiri untuk menegur orang tuanya. Dia kasian dengan pelayan yang sampai membungkuk mengucapkan kalimat maaf tapi wanita yang melahirkannya terus saja mengomel.
Memang Mama Klarika itu sedikit angkuh, sombong, dan pemarah. Tapi mau bagaimanapun sifat orang tua, Alvito tetap menyayanginya.
Alvito tak tahu jika pelayan itu adalah wanita yang dia kenal. Untung saja Sachiko menengok ke arahnya dan memanggil namanya. Alisnya mengernyit tat kala pandangannya terjatuh pada sosok berpakaian hitam dan putih, sudah seperti dia dahulu saat mendaftar pekerjaan.
"Sachiko?" panggil Alvito seraya menyentuh pundak wanita itu untuk ditegakkan kembali. "Kamu ngapain di sini?" tanyanya.
"Mau ngamen, ya kerjalah, Mase...." jawab Sachiko dengan sedikit berkelakar. Adanya Alvito membuatnya gemas karena setiap bertemu pria itu, dia merasa kurang bisa ramah dengan sosok pria yang baru dikenal saat di Bali. Entahlah karena apa, mungkin beberapa kali Alvito membuatnya sebal dengan setiap ucapan yang terlontar dari bibir sedikit berwarna cokelat itu.
"Oh...." Alvito memasukkan tangannya ke saku, dan mengeluarkan recehan. Dia menarik tangan Sachiko dan menaruh uang koin seribuan ke atas telapak yang terlihat kasar. "Ini bayaran ngamennya," ucapnya seraya mengedipkan sebelah mata. Dia tahu wanita itu hanya menjawab asal pertanyaannya. Tapi dirinya sangat suka melihat ekspresi Sachiko yang kesal saat berkomunikasi dengannya.
Sachiko menaikkan kedua alis dan diikuti oleh matanya yang membulat. Benar 'kan, pria ini memang menyebalkan. Tapi kenapa bisa selalu bertemu orang seperti Alvito terus. Padahal mereka tak saling bertukar nomor, tak berkomunikasi juga. "Aku pelayan di sini, bukan pengamen." Dia mengembalikan uang koin tersebut.
"Kamu kenal sama dia, To?" tanya Mama Klarika pada putranya.
Alvito yang masih berdiri di dekat Sachiko itu mengangguk. "Temanku, Ma," jawabnya.
"Dih, siapa yang memperbolehkan kamu berteman sama orang rendahan seperti ini?" marah Mama Klarika seraya menunjuk penampilan Sachiko dari atas sampai bawah.
Sachiko yang dipandang sebelah mata itu mendelik ke arah wanita tua yang sangat arogan. Sudah bau tanah saja belagu, begitu kiranya isi dalam hatinya saat ini. "Maaf, Bu. Saya sudah mengakui kesalahan dengan Anda. Saya sudah minta maaf, tolong jangan menginjak-injak profesi saya. Yang penting ini pekerjaan bersih, bukan jual diri atau mencuri," ucapnya balas mengomel.
"Lihat, kelakuan kamu itu. Mana ada pelayan berani membantah pelanggannya?" Mama Klarika ini benar-benar spesies ibu-ibu ngeselin, sombong, angkuh, dan halal untuk diumpati. Walaupun Sachiko hanya berani mengumpat dalam hati.
"Yang tadi itu namanya mengejek, Bu. Jelas saja saya tidak terima," protes Sachiko.
"Ma, sudah. Tidak perlu diperbesar masalahnya," tegur Alvito. Dia tak mau melihat orang tuanya dan Sachiko bertengkar di tempat umum.
"Tidak bisa, To. Dia ini kurang ajar, sudah salah menumpahkan minuman sampai pakaian dan tas mama basah. Sekarang berani membantah pula." Mama Klarika menatap sinis Sachiko. Wanita berusia lima puluh tiga tahun yang bergaya glamour itu mendelik kesal. "Panggilkan manajermu sekarang!" titahnya dengan nada bicara yang tinggi.
Sachiko menggembuskan napasnya kasar. Memejamkan mata sebentar dan dia berbalik badan untuk menuju lantai satu mencari Mas Bim, manajer tempatnya bekerja.
Saat berjalan melewati meja mantan teman-temannya, Sachiko bisa mendengarkan jika enam orang wanita yang duduk di sana sedang berbisik dan menertawakannya. Memang sial, semua ini ulah ketiga orang yang tak tahu diri itu. Awas saja, pasti akan dia balas dengan cara lebih halus.
"Mas Bim," panggil Sachiko pada pria yang sedari tadi masih berdiri di tempat mereka mengobrol. Sepertinya itu adalah lokasi strategis untuk mengontrol kinerja semua karyawan, padahal ada lantai dua juga yang harus diawasi.
"Apa?"
"Dicari pelanggan."
Mas Bim yang tadinya tidak menengok itu akhirnya menatap ke arah Sachiko. "Kenapa pelanggan mencariku?"
Sachiko menunjukkan rentetan gigi putihnya. "Lihat aja sendiri, Mas. Orangnya di atas."
Mas Bim pun berjalan menuju lantai dua. Diikuti oleh Sachiko di belakang pria itu.
Kaki Mas Bim berhenti di tangga terakhir, Sachiko juga demikian. "Yang mana orangnya?"
"Itu, ibu-ibu di sana," jawab Sachiko dengan menunjuk menggunakan dagunya.
Keduanya melanjutkan mendekati orang yang sepertinya sedang terlibat perdebatan antara ibu dan anak itu. Tapi Sachiko tak tahu apa yang membuat mereka seperti bertikai tak sependapat.
"Selamat malam," sapa Mas Bim dengan ramah. "Apakah benar Anda mencari saya?"
Kedatangan Mas Bim itu membuat ibu-ibu bermulut pedas cabai seratus tersebut berhenti berdebat dengan Alvito. Beralih menatap sosok manajer yang berkulit hitam manis.
"Pecat pegawaimu itu!" titah Mama Klarika seraya menunjuk ke arah Sachiko.
Sachiko melongo saat mendengar permintaan pelanggan songong itu. Baru juga bekerja satu hari, belum merasakan gajian. Sudah mau dipecat saja. Memangnya wanita itu tak tahu apa ya kalau mencari pekerjaan saat ini sangat susah.
"Maaf, Bu. Kenapa tiba-tiba Anda meminta saya untuk memecat salah satu pegawai?" Mas Bim masih terlihat ramah dan santai saat menghadapi komplain pelanggan.
"Nih, lihat." Mama Klarika menunjukkan pakaiannya yang basah dan juga tasnya. "Dia menumpahkan minuman ke arahku! Pegawai tak becus seperti itu untuk apa dipekerjakan?"
Mas Bim menatap ke arah Sachiko. "Benar apa yang dikatakan Ibu ini?"
Sachiko mengangguk sekilas. Dia mengakui kesalahannya. "Ga' sengaja, Mas. Kesandung kaki orang. Tapi aku udah minta maaf."
Mas Bim terdengar menghembuskan napas. Melihat ke arah pelanggannya lagi. "Saya sebagai manajer mohon maaf karena membuat Anda kurang nyaman. Sebagai gantinya, saya akan memberikan gratis untuk pesanan Ibu," tuturnya seraya menawarkan sebuah kompensasi.
"Dih, memangnya aku tak sanggup bayar? Makanan murah seperti ini juga kecil buatku," balas Mama Klarika dengan sombong.
Mas Bim yang mendengar jawaban dari pelanggannya itu sampai mengepalkan tangan. Asli, dia kesal saat tempat usahanya dihina seperti ini. Tapi karena untuk menjaga citra restoran, dia harus sabar.
"Ma...," tegur Alvito yang melihat kelakuan orang tuanya semakin membuatnya malu. "Sudah, jangan diperbesar," nasihatnya.
Mama Klarika berdecak. "Aku sudah tak berselera makan di sini, kita ganti tempat saja," ucapnya seraya bangkit dari duduk. Dia menatap Mas Bim dan Sachiko bergantian. "Pokoknya aku mau wanita ini dipecat!" titahnya dengan telunjuk mengarah ke wajah Sachiko.
Mas Bim tidak menolak ataupun menerima. Dia hanya tersenyum ramah. "Kami minta maaf sekali lagi kepada Anda."
"Saya juga mohon maaf jika memiliki salah," ucap Sachiko seraya menundukkan kepalanya.
Mama Klarika sepertinya belum puas hanya dengan mendengar kalimat maaf. Dia meraih gelas minum miliknya. Dan menumpahkan ke atas kepala Sachiko. "Kamu sudah membuatku basah, maka harus merasakannya juga."
Sachiko mendelik ke arah wanita tua bak penyihir jahat itu. Menghembuskan napasnya karena sedang menahan emosi. Ingin rasanya mengajak baku hantam saja, tapi dia ingat mamanya sendiri. Bagaimana kalau orang tuanya diperlakukan tak baik oleh wanita muda seperti dirinya. Sehingga Sachiko sekuat tenaga tak mau kurang ajar.
"Ma!" sentak Alvito. "Kita pulang sekarang," ajaknya seraya menarik tangan orang tuanya dengan paksa. Dia bersitatap dengan Sachiko terlebih dahulu sebelum benar-benar meninggalkan restoran tersebut. Namun pria berkulit kuning langsat itu tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kita bicara di bawah, Chi," ajak Mas Bim. "Tapi bersihkan meja ini dulu," titahnya kemudian.
"Iya, Mas." Sachiko pun mengemasi piring dan juga gelas di meja bekas ibu-ibu titisan nenek lampir itu. Sementara manajernya turun ke lantai satu.
Kejadian tersebut tentu saja menyita perhatian seluruh pengunjung di sana. Terlebih meja yang berisi mantan teman-teman Sachiko.
Sachiko menatap ke arah Noel, Glory, dan Amira yang saat ini jelas sedang menertawakannya seperti puas sudah membuatnya seperti ini. "Memangnya mereka tak takut jika kedoknya ku bongkar?" gumamnya seraya menarik sebelah sudut bibir sinis.
Selesai membersihkan meja, Sachiko pun berjalan menuju lantai satu. Dia melengos tak mau menanggapi mantan temannya yang mengeluarkan ejekan. Pembalasannya akan dilakukan dengan cara halus. Tidak perlu bar-bar menghadapi mantan teman seperti mereka. Sebab, Sachiko memiliki banyak rahasia kebobrokan Noel, Amira, dan Glory.