Perjalanan Menuju Malang

1129 Words
Kendaraan roda empat berwarna hitam dengan tulisan Innova di body belakang itu masih memutarkan roda di atas aspal Bali. Perjalanan rasanya sangat lama melalui darat. Bahkan sudah dua jam pun belum sampai juga ke pelabuhan untuk menyeberang menuju Banyuwangi. Sachiko juga sudah bingung ingin berbicara apa lagi dengan Alvito. Setiap ucapan yang keluar dari bibir pria itu membuatnya kesal karena terlalu percaya diri. Tapi tak mungkin juga dirinya turun dari mobil tersebut. Mau ke Malang naik apa? Jalan kaki? Bisa-bisa lebaran monyet baru sampai. Itu pun syukur-syukur masih ada wujudnya. Lah kalau jalan kaki terus sampai di Malang hanya tinggal nama? Kan tidak lucu. Saking bosannya berdiam tak ada obrolan, Sachiko sampai mengkhayal yang tidak-tidak. Dia menghela napas kasar dan melirik ke arah Alvito. "Kamu sedang sariawan?" tanyanya asal. "Tidak," jawab Alvito sebutuhnya. Dia tak mengalihkan pandangan sedikit pun karena sedang banyak kendaraan yang ada di depannya. "Terus, kenapa diem aja dari tadi?" "Emang aku harus ngomong apa?" "Ya apa gitu, terserah. Yang penting ada obrolan." Alvito menaikkan sebelah alis seraya menatap Sachiko saat berhenti di lampu merah. "Kamu yang ingin mengobrol, kenapa harus aku yang memikirkan topiknya?" sindirnya. Bibir Sachiko mencebik, benar-benar Alvito ini tipikal manusia yang menyebalkan dan tidak pengertian pada kaum wanita. Dia sudah kehabisan ide untuk membuka pembicaraan antar keduanya. "Kok bisa ada wanita yang memanggilmu sayang saat di pantai? Apa kekasihmu itu tak kesal menghadapi sifatmu yang seperti ini?" celetuknya diiringi ejekan sangat jelas. "Kekasih? Memangnya tahu dari mana kalau aku punya pasangan?" tanya Alvito seraya melajukan kembali kendaraan pribadinya. "Wanita yang kemarin memanggilmu sayang saat di pantai itu?" Alvito justru merespon dengan kekehan dan gelengan kepala pelan. "Dia itu adik sepupuku." Mendengar jawaban pria itu, Sachiko membulatkan matanya. Melongo dan tak percaya. "Kamu pacaran sama sepupumu?" Si banyak ingin tahu lagi-lagi mengorek informasi lebih detail. "Tidak, seperti tak ada wanita lain saja di dunia ini." "Lalu, kenapa dia memanggilmu sayang dan bergelayut manja denganmu?" "Memangnya kenapa? Itu hanya sebuah panggilan saja dan wajar jika sepupu yang termasuk anggota keluargaku itu mencari perhatian dengan aku." Sachiko menganggukkan kepala seolah paham dengan maksud jawaban Alvito. "Persaudaraan yang aneh," cibirnya dengan suara lirih. "Aku masih bisa mendengarmu," tegur Alvito. Sachiko melengos dan mengkomat-kamitkan bibirnya. Untuk sesaat dia diam tak bersuara, menikmati perjalanan yang begitu lama. "Apa kamu tak bisa lebih cepat sedikit mengendarainya? Bisa-bisa aku tua di jalan jika kecepatanmu seperti semut," protesnya. Alvito rasanya ingin menjitak kepala Sachiko. Sudah diberi tumpangan, masih saja banyak protes. "Ini namanya mengedepankan keselamatan daripada kecepatan," jelasnya. Sachiko berdecak tak sabaran. Tangannya meraih ponsel untuk melihat jam yang ada di layar. Ternyata sudah jam sembilan pagi, artinya tiga jam sudah berada di dalam mobil bersama Alvito. Sachiko terlihat membaca sebuah pesan, ternyata dari mamanya yang menanyakan lokasi keberadaan saat ini. Dia membalas dengan mengirimkan live location agar orang tuanya itu bisa memantau perjalanannya. Sachiko juga memberitahukan jika pulang ke Malang dengan mobil agar mamanya mau menunggu kepulangannya dan tak buru-buru membawa kakeknya ke pemakaman sebelum dirinya sampai di rumah. Sachiko pun mendapatkan kiriman foto kakeknya yang terbujur kaku. Dia hanya memasang wajah sedih karena air matanya sudah mengering dan belum memproduksi lagi. Alvito yang sekilas melihat Sachiko berubah suasana hati pun akhirnya bertanya. "Kamu kenapa?" "Tidur! Ya sedang sedihlah, bisa-bisanya bertanya seperti itu saat aku terlihat ingin menangis," jawab Sachiko dengan galak. Alvito terkekeh geli. "Orang sedih bisa galak juga ternyata," kelakarnya. Sachiko menempelkan telunjuknya di bibir dan berdesis agar Alvito berhenti mengejeknya. "Apa masih lama sampai ke Pelabuhan Gilimanuk?" "Tidak, sebentar lagi juga sampai," jawab Alvito. Dan benar saja, dua puluh menit kendaraan pribadi tersebut mulai memasuki kawasan pelabuhan. Tapi untuk menyeberang ke Banyuwangi pun harus mengantri dengan kendaraan lain yang ternyata sangat banyak. "Apa kita tak bisa menyalip agar mendapatkan urutan di depan?" tanya Sachiko seraya menunjuk sebuah jalan kosong antara truk dan bis yang bisa dilalui oleh mobil Alvito. "Budayakan mengantri, kamu itu tak sabaran sekali jadi wanita!" tegur Alvito seraya kepalanya bergeleng. Sachiko menghela napas dan menggaruk kepalanya. Ini adalah perjalanan darat pertamanya yang ditempuh dalam jarak jauh. Ternyata memang enak naik pesawat, sudah tak macet, cepat pula. Tapi apalah daya jika tak ada tiket yang tersedia. Cukup lama mereka mengantri untuk mendapatkan giliran masuk ke dalam kapal. Sepuluh menit, akhirnya mobil Alvito masuk ke transportasi yang bisa mengapung di atas air. Entah bagaimana para ilmuan merancang itu, tapi otak keduanya tetap tak sampai untuk memikirkan pembuatan kapal tersebut. "Ayo," ajak Alvito agar Sachiko turun. Sachiko pun mengikuti langkah kaki Alvito dari belakang. Tapi saat di tangga yang menghubungkan ke bagian tengah kapal, pria itu berhenti. "Ladies first," tutur Alvito memberikan ruang agar Sachiko menaiki anak tangga terlebih dahulu. "Ternyata kamu pengertian juga," cicit Sachiko. Antara mencibir atau memuji, tak bisa dibedakan. Sachiko menengok ke kanan dan kiri, melihat suasana di sana. "Ramai sekali," gumamnya. "Kita duduk di sana," bisik Alvito di telinga Sachiko seraya menunjuk sebuah tempat duduk kosong. Sachiko menganggukkan kepala dan menuju ke arah yang ditunjuk oleh Alvito. Keduanya pun duduk di kursi dekat jendela bolong yang bisa langsung melihat ke arah hamparan air laut. Sachiko yang baru pertama kali naik kapal pun mengeluarkan tangannya. Merasakan bagaimana angin laut yang begitu kencang itu menerpa kulitnya sangat kuat. "Sepertinya seru juga jika kepalaku keluar," gumamnya seraya mengeluarkan bagian tubuh paling atas. "Kamu mau mati muda?" tegur Alvito seraya menarik badan Sachiko yang seperti terbawa angin. "Jika tak bisa menyeimbangkan tubuh dengan kecepatan angin, kamu bisa terlempar ke bawah. Jatuh ke air yang sangat dalam, dan entah ada ikan apa di sana. Mau seperti itu?" omelnya. Bisa-bisa dia yang disalahkan jika Sachiko tenggelam. Sachiko bergidik ngeri. "Aku hanya penasaran dengan angin laut," alasannya. "Ayo ke bagian paling atas kapal kalau kamu penasaran," ajak Alvito seraya menarik tangan Sachiko. Alvito sungguh membawa wanita itu ke bagian paling atas yang tak ada orang satu pun di sana. Sachiko membulatkan mata saat tubuhnya terasa hendak terhuyung ke belakang. "Gila, aku bisa terbang jika sekencang ini," ucapnya. Tangannya berpegangan erat pada pergelangan Alvito. "Ya memang seperti ini, kamu itu norak sekali, seperti baru pertama kali naik kapal saja," cibir Alvito. "Ya memang ini pertama kali," balas Sachiko seraya menjulurkan lidah. "Pantas saja norak," ejek Alvito, dan sentilan pun mendarat di jidatnya. "Sudah, ayo turun lagi. Ngeri juga lama-lama di sini." Sachiko menarik tangan Alvito. Kakinya sudah gemetaran, karena jujur saja jika di atas kapal itu membuatnya pusing dan mual. Padahal pemandangan bagus sekali, laut yang terhampar luas dan banyak kapal lain yang sedang melintas. Tapi sayang, nyalinya ciut. "Aku dulu, kamu di belakangku," titah Alvito. Dia menuruni anak tangga dari besi yang melingkar dan curam, tergelincir sedikit saja sepertinya sudah membuat tubuh jatuh ke bawah. Alvito tak melepaskan pegangan tangan dengan Sachiko, dia membantu wanita itu untuk sampai dengan selamat di tempat duduk yang semula menjadi singgah sana keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD