Setelah menyeberang laut selama kurang lebih satu jam, Sachiko dan Alvito pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Malang. Dari titik berangkat di Bali pukul enam pagi, hingga detik ini sudah menunjukkan pukul dua belas siang, keduanya belum berhenti istirahat untuk sekedar makan. Dan cacing di perut Alvito mulai menunjukkan aksi demo masal.
Tanpa menanyakan persetujuan Sachiko terlebih dahulu, Alvito memberhentikan mobilnya di salah satu tempat makan yang ada di pinggir jalan sekitar jalur pantura. Dia tak kuat menahan lapar, ditambah harus fokus menyetir juga.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Sachiko dengan wajahnya nampak bingung.
"Makan, aku lapar," jawab Alvito seraya melepaskan seatbelt dan bersiap untuk turun.
"Apa tak bisa ditunda dulu acara makannya? Aku sangat buru-buru ingin segera sampai ke Malang," pinta Sachiko. Ini sudah siang, dan perjalanan sampai ke rumahnya masih harus ditempuh selama kurang lebih lima jam lagi.
"Ha? Kamu pikir aku ini robot yang tak butuh makan? Sudah setengah hari belum mendapatkan asupan nutrisi, bisa-bisa aku tak fokus saat menyetir," omel Alvito seraya melemparkan tatapan menusuknya. "Memangnya kamu buru-buru kenapa?"
"Kakekku meninggal dan tinggal menunggu aku saja sebelum dikubur." Akhirnya Sachiko pun mengungkapkan kondisi mendesaknya. Padahal dia sedari tadi tak menyampaikan hal itu karena dirasa tak perlu juga Alvito tahu tentang kondisi salah satu keluarga tersayangnya.
"Makan sebentar, aku janji tak akan lama," tutur Alvito memberikan jalur tengah. Dia tahu pasti kepentingan Sachiko itu sangat mendesak, tapi perutnya juga tak kalah penting.
"Bagaimana kalau dibungkus saja?" celetuk Sachiko memberikan ide.
"Maksudmu? Aku harus menyetir sambil makan, begitu?"
Sachiko mengangguk membenarkan. "Agar kita segera sampai di Malang, ya? Please." Kedua tangannya mengatup seolah memohon dengan sungguh-sungguh.
"Makin lama gila juga idemu itu," cibir Alvito. Dia mengangkat kedua tangannya dan ditunjukkan pada wanita yang duduk di sebelahnya. "Tanganku hanya dua, mana bisa ku gunakan satu untuk makan dan satunya untuk menyetir. Kamu itu ada-ada saja, nanti kalau terjadi apa-apa dengan mobil yang kita tumpangi bagaimana? Memangnya kamu mau?" omelnya sudah melebihi ibu-ibu komplek saja. Tapi memang dia memikirkan keselamatan sampai tujuan.
"Aku suapi, kamu tinggal mengunyah," cetus Sachiko. Ada saja idenya agar tak berhenti lama di perjalanan.
Alvito menghela napas. "Oke, aku bungkus," finalnya. Akhirnya dia pun mengalah. "Kamu mau lauk apa? Biar aku pesankan," tanyanya kemudian.
"Terserah, apa saja aku makan."
"Oke." Alvito pun turun dari mobil dan membeli nasi warteg di pinggir jalan. Tak berselang lama, dia kembali lagi ke dalam dan menyodorkan satu kresek hitam berisi dua bungkus kertas nasi dengan karet yang berbeda. Satu berwarna merah, sedangkan satunya lagi berwarna putih.
Sachiko menerima kresek tersebut dan melihat isi di dalamnya. "Sendoknya mana?" tanyanya seraya menatap ke arah Alvito yang bersiap hendak melajukan mobil lagi.
"Tak ada." Alvito mulai membawa kendaraan pribadinya membelah jalur pantura.
"Terus, bagaimana makannya? Masa' pakai tangan?"
"Kenapa? Risi?" Alvito memandang Sachiko dengan wajah meremehkan.
"Tidak, bagaimana aku membersihkan tanganku ini? Di sini tak ada air." Sachiko memberikan alasan kenapa dia ragu makan memakai tangan.
"Buka laci depanmu!" titah Alvito seraya menunjuk bagian mobil yang ada di hadapan Sachiko.
Sachiko menuruti perintah tersebut. Dan matanya bisa melihat jika di dalam situ ada hand sanitizer, tisu basah, tisu kering, minyak, dan perlengkapan pertama untuk kecelakaan.
"Nah, ambil tisu basah dan hand sanitizer. Kamu bisa membersihkan tanganmu pakai itu."
Tangan Sachiko meraih semua yang disebutkan oleh Alvito. Dan benar-benar membersihkan tangan menggunakan tisu basah terlebih dahulu sebelum menyomot makanan.
"Ini punyamu yang karet apa?" tanya Sachiko seraya melihat isi di dalam kresek lagi.
"Merah."
Sachiko mengeluarkan kertas nasi dengan karet merah. Nasi yang kira-kira tiga centong sendiri, sambal terong, oseng daun pepaya, tahu, tempe, dan ayam balado. Kepalanya sampai bergeleng. "Prosi kuli," gumamnya.
"Ayo suapi aku, perutku sangat lapar," pinta Alvito tak sabaran.
Sachiko pun mulai mengambil makanan menggunakan tangan. Dan mengarahkan ke mulut Alvito.
"Aw," pekik Sachiko. "Jangan digigit jariku, sakit!" protesnya saat suapan ke lima mendapatkan serangan dadakan.
"Sorry, aku tak sengaja. Mataku fokus ke jalan, jadinya tak tahu jika tanganmu belum menyingkir," elak Alvito seraya memperlihatkan rentetan gigi putihnya yang rapi.
Sachiko pun berdecak sebal, tapi tetap saja menyuapi pria itu hingga nasi bungkus pun habis. "Makanmu banyak juga," ucapnya seraya memasukkan kertas minyak yang sudah lecek tersebut ke dalam kresek untuk sampah.
"Namanya juga pria, wajar jika makannya banyak. Bahkan perutku saja masih terasa lapar," balas Alvito.
"Buset. Perutmu sudah seperti tong sampah," ejek Sachiko seraya menggelengkan kepalanya. Dan ini gilirannya untuk makan. Tanpa membersihkan tangannya lagi, dia melahap hidangan berkaret putih. Untung saja porsi untuk dirinya lebih sedikit dibandingkan milik Alvito. Ternyata pria itu tahu juga jika makannya tak terlalu banyak.
Setelah keduanya selesai makan, Sachiko membersihkan tangannya dengan menggunakan tisu basah beberapa kali hingga terasa bersih. Lalu menyemprotkan hand sanitizer agar kuman-kumannya hilang.
Sachiko menguap, kantuk mulai menyerangnya. Dan kebetulan saat Alvito melirik ke arah spion kiri, melihat bagaimana wajah Sachiko saat menguap. Tak ada anggun-anggunnya sedikit pun.
"Jika mengantuk, tidurlah. Aku akan bangunkan jika sampai Malang," tutur Alvito.
"Kamu tak butuh teman untuk mengobrol agar tidak mengantuk?" tanya Sachiko. Biasanya, supir kendaraan entah bus, truk, dan lain sebagainya, pasti membutuhkan teman untuk menghilangkan kantuk dengan berbicara. Tapi Alvito justru memintanya untuk tidur.
"Tidak, lagi pula perjalanannya juga tinggal empat jam lagi," jelas Alvito.
"Baiklah, bangunkan saja jika kamu butuh ditemani."
"Hm...."
Sachiko pun mulai memejamkan mata. Sudah kenyang langsung membuatnya ngantuk. Tapi tidurnya tak nyenyak karena merasakan mobil sedikit terguncang.
Sachiko kembali membuka mata, terlihat bola matanya berwarna merah. Baru juga sebentar terbang ke alam mimpi. "Tadi itu kenapa?" tanyanya seraya mengucek kelopak matanya.
"Oh, ada jalan berlubang, kecepatanku terlalu tinggi dan tak sempat menurunkannya. Jadi maaf jika mengganggumu," jelas Alvito sedikit tak enak.
Sachiko sudah tak berselera lagi untuk melanjutkan mimpinya yang teringat kejadian kemarin saat di pantai. Daripada dia penasaran, lebih baik menanyakan pada orangnya langsung saja.
"Em... Alvito," panggil Sachiko.
"Apa?"
"Kenapa kemarin kamu memperhatikan aku terus?"
Alvito menaikkan sebelah alis dan menatap bingung ke arah Sachiko. "Kapan?"
"Kemarin saat aku dan teman-temanku duduk di restoran pinggir pantai."
Alvito terdiam sejenak, mengingat-ngingat kejadian kemarin. Tapi perasaan dia tak menatap Sachiko sedikit pun. "Aku tidak ingat, bahkan tak mengenalmu. Untuk apa juga memperhatikanmu dan teman-temanmu."
Sachiko berdecak sebal. "Jangan pura-pura, aku duduk di meja tengah dekat kamu duduk."
Alvito kembali berpikir dan mengingat. Dia seketika tertawa terbahak-bahak saat ingatannya menangkap bahwa memang pernah ada sekumpulan empat wanita yang saling berbisik dan mencuri pandang ke arahnya saat di restoran sebelum kejadian di depan toilet. "Astaga... jadi kamu pikir aku memeperhatikanmu dan teman-temanmu saat pandanganku ke arah pantai?"
Sachiko mengangguk aneh, kenapa pria itu justru menertawakannya? Apakah salah pertanyaannya itu?
"Aku waktu itu tak memperhatikanmu, tapi melihat ke arah luar di mana sepupuku sedang bermain di pasir pantai," jelas Alvito masih tertawa lucu.
Ternyata memang Sachiko hanya dikerjai oleh salah satu temannya yang bernama Noel dengan mengatakan jika sedang diamati oleh Alvito. Dan kebetulan sorot mata pria itu juga pas sekali ke arah meja Sachiko.
Sachiko seketika terdiam, ingin malu tapi dia Gin Sachiko. Tapi jika tak merona, dia sudah salah sangka dengan Alvito. Dia pun berdeham agar terlihat biasa saja. "Terus, apa alasanmu membayarkan tagihan makananku?"
"Karena kamu memperkenalkan diri padaku dengan sangat percaya diri. Jadi, itu untuk membayar harga informasi yang kamu berikan padaku," jelas Alvito masih terasa geli sendiri.
Sachiko pun terdiam. Ternyata dirinya hanya kegeeran saja kemarin. Alvito tak memperhatikannya, dan ternyata saat mentraktir pun tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Rasanya dia ingin menghilang saat ini juga karena terlalu malu dengan pemikirannya sendiri yang sangat percaya diri.