Pemakaman

1158 Words
Hari sudah sore dan waktu menunjukkan pukul lima kurang dua puluh menit saat mobil Alvito berhenti di dekat rumah yang depannya sedang ada tenda dan bendera putih. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan jauh selama sepuluh jam lebih empat puluh menit, Sachiko sampai juga di rumahnya. Alvito menyentuh lengan Sachiko yang sedang tidur. "Sudah sampai, kamu mau turun atau tidak?" ucapnya dengan suara yang tak terlalu pelan dan tidak kencang. Sachiko mengerjapkan mata, memfokuskan penglihatannya sebentar untuk melihat ke arah sekitar. Dia bisa melihat banyak pelayat datang ke rumahnya dan memenuhi kursi yang disediakan di depan rumah. "Terima kasih sudah memberiku tumpangan," tuturnya dengan tulus. Dia mengeluarkan dompet dan hendak mengambil uang cash yang ada di sana. "Aku ganti makan siangku tadi dan kamu minta berapa untuk ongkos mengantarku pulang ke Malang?" tanyanya. Dia tak mau ada hutang karena sejak awal pun mengatakan akan membayar bukan sekedar menumpang saja. "Tidak perlu, aku memang ingin ke Malang dan kebetulan tujuan kita juga sama," tolak Alvito. Dia enggan menerima uang dari Sachiko. Namun, Sachiko tetap mengeluarkan tujuh lembar berwarna merah karena hanya tersisa itu saja di dalam dompetnya. "Sebagai ucapan terima kasih atas kebaikanmu." Dia meletakkan uang tersebut di dalam laci yang ada di hadapannya. "Tidak perl—" Alvito hendak mengembalikan uang tersebut, tapi Sachiko sudah turun terlebih dahulu. Pria itu hanya menghela napas saat mengambil tujuh lembar seratus ribuan. Dia memasukkan ke dalam sebuah amplop yang kebetulan memang selalu sedia di dalam mobilnya. Akan dikembalikan dengan cara lain. Alvito pun ikut turun dan membantu Sachiko menurunkan koper dari bagasi. "Aku turut berduka cita atas kepergian kakekmu," ucapnya dengan tulus. Sachiko menganggukkan kepalanya seraya mengucapkan terima kasih. "Aku masuk dulu," pamitnya. Alvito pun menyingkir dari hadapan Sachiko dan membiarkan wanita itu berjalan menuju rumah yang paling ramai didatangi orang-orang. Tangannya memencet remot mobil untuk mengunci pintu kendaraan pribadinya. Dan kakinya mengayun menuju hunian yang sedang ada duka. Alvito memasukkan amplop berisi uang yang diberikan oleh Sachiko tadi dan juga sudah ditambah sedikit dari uang pribadinya sebagai ucapan bela sungkawa. Walaupun tak kenal dengan keluarga Sachiko, tapi sebagai manusia tetap harus menunjukkan empati pada orang yang sedang berada dalam masa sulit. Dia ikut duduk dan mendengarkan pelayat lain yang sedang bernyanyi pada prosesi ibadah penghiburan yang tengah berlangsung. Dan mata Alvito bisa melihat jelas bagaimana Sachiko sangat terpukul kehilangan salah satu anggota keluarga. Sementara itu, Sachiko yang tadi sudah kering air matanya pun akhirnya tumpah lagi saat melihat tubuh kaku sang kakek telah dibalut jas kesayangan yang dipilih olehnya saat kakeknya masih hidup. Tak ada kata yang bisa keluar dari bibirnya. Hanya kesedihan yang teramat dalam jelas terlihat dari bagaimana caranya memeluk jasad tak bernyawa tersebut seolah belum siap kehilangan orang tersayang. Bahkan Sachiko sampai tak sempat untuk ke kamarnya, atau sekedar mandi, dan kopernya pun diletakkan secara sembarangan. "Kakek...." Kedua tangannya menyentuh wajah tua yang keriput dan pucat. "Sudah, Chi. Biarkan kakek pergi dengan tenang." Mama Laily mengusap lengan sang anak untuk memberikan kekuatan, walaupun dirinya sendiri juga belum bisa berhenti menangis sedari tadi. Sachiko hanya bisa menggelengkan kepalanya. Memang mudah bibir berucap untuk ikhlas, tapi tidak dengan hati. "Lebih baik kamu mandi dulu, dan kita sama-sama antarkan kakek ke pemakaman," ajak Mama Laily saat Sachiko semakin menangis tak terkendali. "Tunggu aku kek," lirih Sachiko. Rasanya tak ingin beranjak pergi meninggalkan jasad orang yang sangat dia sayangi itu. Tapi dia tak mungkin mengantarkan kakeknya ke tempat peristirahatan terakhir dengan kondisi seperti saat ini. Belum mandi seharian dan masih memakai baju tidur. Sachiko tak mandi lama seperti biasanya. Dia sudah memakai baju rapi dan kembali lagi mendekati peti jenazah. Sedangkan Alvito sudah pulang setelah berpamitan dengan Mama Laily. "Waktunya penutupan peti, Chi," ucap Mama Laily memberi tahu prosesi selanjutnya. Sachiko mengangguk paham. Mau bagaimanapun, namanya orang yang sudah tak bernyawa tetap harus dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Kepalanya merendah dan mencium kening sang kakek cukup lama. "Pergi dengan damai, aku menyayangimu kek," lirihnya berucap. Sachiko dan mamanya pun saling menguatkan. Menyentuh dan mengusap lengan satu sama lain. Kedua wanita itu masih tetap menangis dan semakin tersedu-sedu saat peti mulai ditutup. Sachiko ikut mengantarkan kakeknya ke pemakaman. Diikuti oleh banyaknya pelayat yang juga turut beriringan di belakangnya. Terlihat jelas bagaimana sang kakek saat masih hidup. Memang benar bagaimana orang-orang mengatakan bahwa perilaku semasa hidup akan terlihat ketika telah tiada dengan banyaknya pelayat yang hadir dan mau mengantarkan hingga ke pemakaman. Kakek Gama memang terkenal senang membantu di daerah sekitar perumahan tempat mereka tinggal, pada teman-temannya, tempat ibadahnya, dan dengan siapapun selalu berbuat baik. Sehingga banyak yang sayang dan ikut merasakan kehilangan. Peti mulai dimasukkan ke liang lahat. Dan tanah pun sedikit demi sedikit menutupi kayu bercat putih sebagai tempat tinggal Kakek Gama untuk selamanya. Pemakaman di sore hari itu akhirnya selesai sebelum awan menjadi gelap. Banyak pelayat yang sudah pergi meninggalkan area tersebut, tapi Sachiko enggan untuk pulang. Wanita itu masih bersimpuh di depan nisan dan memeluk dengan tangisan pilunya. "Siapa yang akan memberikan kasih sayang padaku lagi?" gumamnya. Sedari dahulu memang sang kakek yang lebih banyak memberinya perhatian dibandingkan mamanya yang sibuk bekerja mengelola restoran dari pagi sampai malam, hingga tak ada waktu untuk dirinya. Walaupun dia tahu, semua yang dilakukan oleh orang tuanya itu semata-mata untuknya juga. "Pulang, Chi. Sebentar lagi sepertinya akan hujan," ajak Mama Laily. Sedari tadi gemuruh di atas langit sudah terdengar di telinganya. Rintik pun mulai berjatuhan membasahi tanah. Mama Laily menuntun anaknya dengan paksa agar tak kehujanan. Kini, rumah berlantai dua itu hanya dihuni oleh dua orang wanita saja. Setelah semua pelayat pergi, Sachiko berjalan lunglai menuju kamar sang kakek. "Kamu mau ke mana?" tanya Mama Laily yang sudah mulai bisa tegar menerima kepergian satu-satunya orang tua yang dia miliki. "Kamar kakek, aku mau tidur di sana," jawab Sachiko dengan suara lirihnya. Mama Laily pun ikut masuk ke dalam kamar orang tuanya. Dia tahu betul jika Sachiko sangat menyayangi Kakek Gama. Dan sebisa mungkin dirinya sebagai mama harus menenangkan agar tak sedih terlalu lama, sebab waktu akan terus bergerak maju. Wanita berusia empat puluh delapan tahun itu memeluk Sachiko yang tengah merebahkan tubuh di atas kasur. "Bagaimana kejadiannya sampai kakek bisa seperti ini?" tanya Sachiko. Padahal saat kemarin berpamitan pada kakeknya, masih terlihat sehat dan bugar. Dia juga tak merasakan firasat apa pun. "Mama tak terlalu paham bagaimana kronologinya, kejadiannya masih malam dan aku lembur untuk tutup tahun. Si Mbak telepon, katanya kakekmu jatuh di kamar mandi." Mama Laily menjeda sejenak saat menceritakan bagaimana bisa Kakek Gama sampai kehilangan nyawa. "Aku langsung pulang untuk mengecek keadaannya, tapi kakekmu sudah tak sadarkan diri. Mama langsung telepon ambulan, tapi sudah tak tertolong lagi. Kamu tahu sendiri kakekmu punya penyakit darah tinggi, mungkin kumat dan terpeleset, lalu membuatnya pingsan di kamar mandi. Tapi penanganan sudah terlambat," imbuh Mama Laily mengakhiri ceritanya. "Kenapa mama tak meneleponku dari malam?" "Nomormu tak bisa dihubungi, dan kondisi mama juga sedang panik." Sachiko menghela napas, dia juga salah karena saat malam mematikan ponselnya sehingga tak bisa dihubungi. Untuk pertama kalinya, dia menyesal melakukan liburan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD