Didatangi Rentenir

1341 Words
Sudah satu bulan ini Sachiko tak keluar rumah. Hanya berdiam diri di dalam kamar kakeknya saja. Kesedihannya belum hilang seratus persen. Ditambah saat ini dirinya merasa hampa, teman-temannya tak ada yang datang ke rumahnya atau sekedar mengirim pesan padanya setelah pulang dari Bali. Entahlah, dia masih mencoba berpikir positif jika ketiga temannya sedang memiliki kesibukan masing-masing. Semakin lama bosan juga hidup seperti itu. Sachiko memutuskan untuk melakukan aktivitas. Ini masih masa libur kuliah, sehingga dia memilih untuk datang ke restoran milik keluarganya saja. Mungkin bisa membantu mamanya atau meringankan pekerjaan pegawai lain. Sachiko memakai celana jeans dan kemeja denim. Kakinya terbalut sepatu casual itu mengayun menuju garasi. Dia terdiam sejenak saat melihat situasi di hadapannya. "Mobilku ke mana?" gumamnya bingung. Perasaan dia tak memakai kendaraan pribadinya selama satu bulan ini. Dan orang tuanya juga memiliki kendaraan pribadi sendiri. Sachiko pun menelepon mamanya untuk bertanya karena yang sering keluar masuk rumah adalah orang tuanya. Panggilannya tak diangkat, membuatnya resah. "Apa jangan-jangan diambil orang?" Dia menjadi berpikiran buruk. Dan akhirnya lebih baik mengecek CCTV saja daripada bertanya-tanya tak menemukan jawaban. Sachiko masuk ke dalam kamar mamanya di mana monitor yang terhubung dengan CCTV berada. Dia melihat rekaman di daerah garasi. Dan alisnya terangkat sebelah saat melihat orang tuanya menyerahkan kunci dan entah buku kecil apa kepada seorang pria berpakaian rapi. Wanita berumur dua puluh satu tahun itu melihat waktu kejadian tersebut. "Tiga hari lalu? Jika orang itu meminjam mobilku pasti dikembalikan, ini kenapa dua kendaraan dibawa orang semua?" Sachiko jadi berpikiran buruk dengan kondisi keluarganya. Dari pada penasaran, lebih baik dia pergi ke restoran di mana mamanya berada dengan menaiki ojek online saja. "Satu-satunya motor juga tak ada," lirihnya sebelum mengunci gerbang dan naik ke atas ojek online yang dia pesan. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke restoran yang menjadi tujuannya. Sachiko berdiri melihat suasana di sana, terlihat sangat sepi. "Apakah libur? Kenapa tak ada pengunjung?" gumamnya. Mata Sachiko bisa melihat ada sekitar lima motor terparkir di sana, dan salah satunya adalah miliknya. "Berarti ada mama di dalam." Sachiko pun masuk ke dalam restoran. Telinganya menangkap suara seseorang yang sedang menangis di area dapur. Insting ingin tahunya otomatis menuntun kaki menuju sumber suara yang membuatnya penasaran. "Mama?" panggil Sachiko. Ternyata wanita yang sudah melahirkan dirinya yang sedang menangis tersedu-sedu dan tengah ditenangkan oleh karyawan lain. Sachiko langsung menghampiri Mama Laily dan memeluk wanita berumur empat puluh delapan tahun itu. "Kenapa menangis? Apa yang terjadi?" Mama Laily tak mau berkomentar apa pun. Bibirnya terbungkam. Dan hal itu membuat Sachiko menatap karyawan di restoran tersebut untuk meminta penjelasan. "Ada yang bisa menceritakan kronologinya padaku?" tanya Sachiko dengan nadanya yang terdengar jelas mengandung keingintahuan. Lima karyawan tersebut terlibat saling pandang satu sama lain dan bersenggolan tangan seolah menunjuk untuk menjelaskan kejadian yang terjadi tadi pagi. "Kenapa diam saja?! Jawab kalau ada orang bertanya!" Sachiko pun membentak karena tak sabar. Salah satu karyawan pun akhirnya mau membuka suara. "Itu, Mbak—" Suaranya gagu dan tak jelas masuk ke gendang telinga Sachiko. "Apa?!" Sachiko membentak lagi karena terlalu gemas. "Bu Laily baru saja ditipu oleh temannya, uang hasil penjualan dan untuk modal operasional juga dibawa kabur," jelas salah satu karyawan yang tahu persis kejadiannya di mana pemilik restoran tempatnya bekerja langsung histeris di pagi hari saat datang ke sana. Sachiko menenangkan mamanya, mengusap puncak kepala yang bersandar di dadanya. "Apa benar cerita itu, Ma?" tanyanya memastikan. Dan dijawab anggukan kepala oleh Mama Laily. Sachiko menghembuskan napasnya lemah. "Kenapa ada saja cobaan hidupku? Sudah kakek meninggal, sekarang mamaku ditipu. Entah apa lagi yang harus aku lalui?" lirihnya seperti merutuki nasib buruk yang menimpa dirinya. Disaat semua orang yang berada di dalam restoran itu menenangkan Mama Laily, tiba-tiba suara pintu dibuka dengan kasar pun menggema. Ada tiga pria berbadan besar yang berjalan angkuh dengan kepala yang menengok ke kanan dan kiri. "Laily!" panggil salah satu pria berwarjah paling sangar. "Bu, ada yang panggil," ucap salah satu karyawan memberi tahu seraya menepuk pundak atasannya. Mama Laily pun mengusap pipi dan mengurai pelukan anaknya. Dia berdiri untuk menemui orang yang memanggilnya. "Ma, aku temani." Sachiko menawarkan diri karena menilai dari nada bicara pria tadi saat memanggil mamanya yang sangat tak bersahabat, pasti ada sesuatu hal yang tak beres. Mama Laily menggeleng. "Tidak perlu, kamu di sini saja," tolaknya. Dia pun keluar menemui pria yang sudah lima kali datang ke restorannya dalam waktu satu bulan ini. Sachiko pun mengintip obrolan mamanya dan tiga orang asing itu dari balik meja. Memasang telinganya sangat tajam agar bisa mendengar. "Bayar hutangmu! Ini sudah menunggak enam bulan!" Ternyata yang datang adalah seorang rentenir bersama dua orang antek-anteknya. Mama Laily terlihat tak memasang wajah sedih dan takut sedikit pun. "Sudah ku katakan berapa kali! Bukan aku yang berhutang denganmu, tapi Reni! Kamu cari saja dia, sekaligus seret ke hadapanku jika sudah ketemu orangnya! Aku saja ditipu oleh dia!" balasnya dengan membentak juga. "Tapi yang berhutang denganku atas nama kau, bukan Reni!" "Sialan! Reni benar-benar melemparku ke neraka, sudah ku bantu bersedia bekerja sama dengan dia. Tapi akhirnya hanya menipuku!" umpat Mama Laily yang sudah sangat geram. "Halah! Sekarang mana uang tiga ratus jutanya?! Aku sudah tak bisa memberimu tenggang waktu lagi, atau ku ambil restoranmu ini sebagai gantinya!" ancam rentenir tersebut. Sachiko yang tak tega mendengar dan melihat orang tuanya dibentak-bentak pun maju menemui tiga pria berperut buncit itu. "Kalau mamaku sudah bilang bukan dia yang berhutang, berarti bukan dia! Kalian itu salah tempat jika menagih pada mamaku!" ucapnya memberikan pembelaan. Dia berdiri angkuh dan seperti menantang rentenir itu. "Heh! Anak kecil tahu apa? Kau itu diam saja sana," usir salah satu antek-antek rentenir. Dia mendorong tubuh Sachiko hingga terhuyung. Sachiko mengibaskan tangan membersihkan lengannya. "Najis," cibirnya mengejek. "Berikan kunci dan sertifikat bangunan restoran ini!" pinta rentenir itu dengan garang. "Tidak ada, semua asetku sebagai jaminan hutang di bank dan uangku untuk membayar cicilan sudah dibawa kabur Reni! Makanya aku bilang cari dia jika mau uangmu kembali, aku juga ditipu oleh dia satu tahun ini," jelas Mama Laily dengan lantang. Sachiko melongo mendengar penuturan dari mamanya. "Benarkah itu semua, Ma?" tanyanya untuk memastikan sekali lagi. Dan pertanyaan tersebut dijawab dengan anggukan kepala. "Bagaimana bisa?" Sachiko sungguh tak habis pikir, mamanya sampai tertipu dan pastinya rugi sangat besar. Mama Laily bergeleng kepala seolah tak bisa lagi menjelaskan musibah yang menimpanya itu. "Kau yang harus mencari Reni, bukan aku! Urusanku dengan kau, bukan dia. Hutang ditempatku tertulis atas namamu." Rentenir itu tetap teguh dengan pendirian. Mereka tak mau dibuat ribet, apa lagi harus mencari orang yang kabur membawa aset milik restoran orang tua Sachiko. "Besok uangnya harus ada!" Setelah menagih hutang, mereka pun pergi lagi karena masih banyak orang yang harus ditagih. Mama Laily rasanya sangat lemas. Tubuhnya ambruk dan Sachiko segera memeluk orang tuanya. "Ma, mau kita bayar pakai apa mereka?" Dia jadi ikutan pusing memikirkan kondisi keluarganya. Mama Laily menggeleng lemas. "Kita pulang saja, Chi," ajaknya. "Kuncinya mana?" Sachiko menengadahkan tangan dan menerima kunci motor yang dikendarai mamanya. Sachiko menggandeng orang tuanya dan membiarkan Mama Laily duduk di jok belakang. Keduanya sama-sama lunglai memasuki rumah dengan tak bertenaga. Baik Sachiko maupun Mama Laily, keduanya duduk lemas di ruang tamu. "Bagaimana jika mereka datang ke sini, Ma? Mereka rentenir, 'kan? Pasti tak akan berhenti meneror sebelum mendapatkan uang," tanya Sachiko. Rasanya tak bisa berhenti memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Mama Laily menghembuskan napas seraya memijat pelipisnya yang pusing. "Mau tak mau mama harus membayar hutang itu." "Memangnya mama punya uang? Katanya sudah dibawa kabur oleh rekan kerja mama." Mama Laily mengangguk. "Ada, kemarin aku menjual dua mobil kita. Rencana dana itu mau aku gunakan untuk memulai usaha baru, tapi malah ada saja musibah yang menimpa kita," jelasnya. "Ma, lagi pula jangan mudah percaya kerja sama dengan orang lain. Sekarang kita sendiri yang susah," gerutu Sachiko. Wajahnya terlihat muram dengan bibir yang ditekuk ke bawah. "Kamu tahu sendiri tante Reni teman dekat mama, bagaimana aku tak membantu dia saat kesulitan? Dia menawarkan kerja sama, dan memang menarik menurutku. Jadinya aku percaya dan menerima tawarannya," jelas Mama Laily. Sachiko berdecak. "Teman baik pun sekarang tak bisa dipercaya," umpatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD