"Apa maksud Bapak mengatakan seperti itu tadi di depan semuanya? Kewarasan siapa? Bapak mengataiku tidak waras?" tanya Maira kesal, saat keduanya sudah berada di dalam kamar. "Siapa yang mengatai kamu? Kamu saja yang terlalu perasa. Dengan suami itu bicaranya harus lemah lembut, biar nanti dapat tiket masuk surga. Ayo bicara yang lembut!" ujar Arman, menampilkan wajah imutnya. Tangan Maira bergerak begitu saja mencubit lengan Arman. "Jangan sok imut! Bapak itu sudah tua, tidak cocok wajahnya seperti itu! Jawab saja Pak!" "Apa yang mau dijawab? Aku memang tidak mengatai kamu seperti itu. Kan, tadi aku bilang menjaga kewarasan. Memangnya, lama-lama bertemu dengan Dania, kamu tidak stres? Aku yang baru bertemu satu minggu saja sudah mau stres, apalagi kamu yang setiap hari," jelas Arman.

