Hati Maira begitu tersentuh mendengar pembelaan Arman. Ia tak menyangka, jika pria asing yang tiba-tiba melamar dan menikahinya akan membela dirinya sampai harus berbohong seperti tadi. Padahal mereka berdua tak saling kenal sebelumnya. Berbeda jauh dengan Bima yang jelas-jelas sudah beberapa tahun menjalin hubungan dengannya, malah tidak membela dirinya, justru memfitnahnya. "Sekarang, jangan terlalu dipikirkan kata-kata saudarimu tadi! Kalau dia bicara macam-macam, tinggalkan saja! Orang seperti itu, semakin diladeni, semakin menjadi. Lebih baik kamu bersiap, aku mau mengajak kamu ke suatu tempat!" titah Arman, mendorong punggung Maira pelan. "Mau ke mana? Aku harus berangkat kerja sekarang. Kalau aku tidak kerja, bagaimana mau bayar cicilan motorku?" sahut Maira, menolak. Kening Arma

