Di atas tempat tidur berukuran cukup dua orang Maira duduk. Arman yang baru saja masuk, dibuat melongo melihat penampilan Maira.
"Kamu yakin mau tidur menggunakan pakaian itu?" tanya Arman, mengerutkan keningnya.
Ditanya seperti itu, Maira membenarkan posisi duduknya. "Tentu saja, pakaian ini akan melindungiku dari sesuatu tak kasat mata yang bisa saja tengah malam nanti menggerayangi ku," jawab Maira, ekspresi wajahnya terlihat menjengkelkan.
Arman menghembuskan nafas kasar. Jawaban Maira benar-benar membuat suasana hatinya jelek. "Maksud kamu apa? Kamu menyebutku makhluk astral?" tebak Arman.
Sebuah senyum sinis terpatri di wajah cantik Maira. "Aku tidak bilang loh, Pak! Tapi kalau Bapak mengartikannya seperti itu, apa boleh buat? Aku iya kan saja sekalian," sahut Maira.
Dengan perlahan Arman mendekat ke arah Maira. Melihat itu, tentu saja Maira merasa takut sekaligus gugup. Pria berumur matang yang baru menikahinya tadi pagi, sudah semakin mendekat. Dengan cepat Maira memundurkan posisi duduknya, sampai punggungnya bersentuhan langsung dengan sandaran tempat tidur.
"Mau apa Pak? Jangan macam-macam!" ancam Maira, ekspresinya terlihat sangat lucu di mata Arman.
'Hem, menghina orang nomor satu. Baru saja aku mendekat, dia sudah ketakutan seperti itu. Kita lihat saja nanti!' batin Arman, kini sudah berdiri tepat di depan Maira.
"Siapa yang mau macam-macam? Satu macam saja sudah cukup melelahkan," jawab Arman, kini tersenyum sinis.
Saking takutnya Arman berbuat macam-macam. Maira meneguk air liurnya kasar. Keningnya sudah dipenuhi keringat dingin. Walaupun gosip yang beredar luas di luar sana, mengenai keperawanannya. Maira tidak pernah berada dalam satu kamar dengan pria lain, selain Ilham dan sang ayah.
"A-aku mau ti-tidur. Lebih baik Bapak menjauh dari hadapanku, dan tidur di sofa itu saja!" titah Maira, suaranya sampai terbata-bata menahan takut.
Melihat situasi seperti sedang berpihak padanya. Senyum lebar mengambang di wajah tampan Arman Paripurna. Bukannya menuruti perintah Maira, Arman justru semakin mendekat, dan kini sudah duduk di samping Maira dengan jarak dua sentimeter.
"Kalau mau tidur, ya, tidur saja! Siapa yang melarangnya?" ucap Arman berbisik, bahkan jarak wajah Arman begitu dekat dengan daun telinga Maira yang ditutupi dengan jilbab instan berukuran sepinggang.
Deru nafas Arman yang begitu menyejukkan, membuat Maira tanpa sadar memejamkan kedua matanya. Perasaan menggelitik sekaligus sensasi aneh tak membuat Maira kunjung membuka kedua katanya. Melihat itu, Arman tersenyum sinis. Makin gencar lah Arman menggoda Maira, walaupun ia sendiri tidak ada niat sebelumnya.
'Hem, kena kamu!' Sorak Arman, dalam hati.
"Kalau tidur dengan suami itu, kata para guru, lebih baik berpakaian yang tipis. Bukan berpakaian gamis dan hijab syar'i seperti ini. Mau pengajian atau tidur?" bisik Arman lagi. "Yuk, dilepas dulu! Aku bantu, ya!" Sambung Arman.
Sudah kadung terbuai dengan bisikan dan hembusan nafas Arman. Tanpa sadar Maira mengangguk. Tangannya terangkat pelan namun pasti. Hijab panjang sudah terlepas, menampakkan gelungan rambut Maira yang rapi dan leher mulus jenjangnya.
'Alamak, mulus sekali. Sebening kaca ini namanya,' batin Arman, menelan kasar air liurnya.
Beberapa menit keduanya terdiam, Arman bahkan tidak melakukan apapun. Sedang Maira yang sedari tadi seperti terhipnotis, akhirnya sadar. Ia melotot menatap Arman, dengan kedua tangannya bertolak di pinggang.
"Apa yang Bapak lakukan? Bapak pasti menghipnotis aku kan?" tuduh Maira, mendengus kesal.
"Ehh, enak saja menuduh orang sembarangan! Memangnya wajah tampanku ini seperti orang suka menghipnotis? Aku tidak melakukan apapun. Kalau tidak percaya, periksa saja pakaian dan tubuh kamu. Apa di bawah sana sudah basah atau belum?" sanggah Arman, asal bicara.
Mendengar kata-kata Arman yang sedikit tidak nyambung. Maira mengerutkan keningnya. "Basah apa? di bawah mana?" tanya Maira.
"Eh, bukan apa-apa. Basah di kamar mandi, karena kena air," sahut Arman salah tingkah. "Bagaimana? Apa aku terbukti melakukan itu?" tanya Arman lagi.
Maira menggeleng pelan. Tapi tatapan matanya masih tajam.
"Dengar ya, Pak! Jangan pernah berpikiran yang aneh-aneh mengenai malam pertama atau apapun itu! Kita menikah juga karena terpaksa, serba dadakan," Tegas Maira, berharap Arman mengerti dan tidak akan menuntut haknya.
Arman tersenyum sinis mendengarnya. "Siapa yang terpaksa? Aku tidak terpaksa sama sekali. Dadakan itu, karena memang jodohnya sudah sampai. Dan begitu jalan takdir," sahut Arman.
"Jodoh apa? Bapak saja tidak tau diri melamar aku dadakan. Kenal tidak, apa tidak, tiba-tiba saja datang melamar dan menikahi," Cerocos Maira kesal.
"Hei, gadis muda! Yang namanya jodoh, itu sudah ada tulisan takdirnya. Kalau memang sudah sampai, biar bagaimanapun menolaknya, pasti akan terjadi. Masalah aku datang melamar tiba-tiba dan menikahi dadakan walau tidak kenal sama sekali. Itu namanya bagus dan keren. Lebih bagus tiba-tiba tapi langsung ijab qobul dan sah. Daripada lama kenal, lama pacaran, sudah lamaran tapi ujung-ujungnya tidak jadi nikah. Yang rugi siapa? Yang menderita siapa? Sudah rugi waktu, rugi hati lagi. Ujung-ujungnya cuma menjaga jodoh orang lain," ucap Arman, tanpa sadar jika yang ia katakan itu, adalah perjalanan masa lalu Maira.
Tak ada kata lagi yang bisa keluar dari mulut Maira. Gadis itu terdiam seribu bahasa. Kata-kata Arman, telak menghantam hatinya. Kedua matanya berkaca-kaca, saat teringat kisah masa lalu yang pahit. Ditinggalkan saat acara ijab qobul akan dimulai.
Melihat Maira terdiam, Arman juga ikut terdiam. Ia menatap dalam ke arah Maira yang kini sudah mendongak mencoba menahan air matanya yang siap untuk jatuh.
"Kamu kenapa diam?" tanya Arman, bingung.
"Tidak kenapa-napa. Aku mau tidur dulu!" sahut Maira, langsung berbaring membelakangi Arman.
Suasana kamar jadi tidak nyaman. Melihat Maira yang berubah drastis, Arman kembali mengingat kata-kata yang barusan ia ucapkan. Sadar ucapannya sudah menyakiti hati sang istri. Arman memukul pelan kepalanya.
'Bodohnya aku! Kenapa aku mengatakan itu? Gadis ini kan gagal menikah. Semua yang aku katakan tadi, pasti sudah membuat hatinya sakit. Astaga! Kalau sudah begini, bagaimana mau mengambil hatinya? Aduh!' batin Arman menyalahkan dirinya sendiri.
Perlahan, Arman beringsut mundur. Tanpa mau mengganggu Maira lagi, Arman beranjak dari tempat tidur pelan-pelan. Tak ada tujuan kali ini, ia juga masih merasa asing dengan rumah Maira.
Maira yang belum tidur, menyadari pergerakan Arman. Kedua matanya sudah basah, isak tangis sebisa mungkin ia tahan, sampai akhirnya Arman keluar dari kamar.
"Semua yang dia katakan memang benar. Hidupku ini memang sangat menyedihkan. Harusnya aku bersyukur, masih ada pria yang mau melamar dan menikahi ku, terlepas dari gosip yang beredar di luaran sana. Apa aku sebodoh itu? Hampir lima tahun menjalin hubungan, ujung-ujungnya hanya menjaga jodoh orang lain. Sudah gagal menikah, difitnah pula. Bodoh, bodoh, bodoh!" gumam Maira, sesenggukan menahan tangis.