Adisa 17

1032 Words
Dimalam minggu ini Haga dan Fattah sudah berada di suatu jalan yang sangat sepi dengan pepohonan disamping kanan dan kiri mereka. "Siapa yang duluan sampe disini, dia pemenangnya. Pertandingan akan dimulai dalam--" "Satu--" Haga dan Fattah sudah berada diatas motornya lengkap dengan helm, sarung tangan, dan alat keamanan lainnya. "Dua--" Haga dan Fattah bersiap untuk menjalankan motor balap nya masing-masing. Sedikit memainkan gas pada motornya. "Tiga, go!" seru laki-laki yang menjadi pengarah balapan mereka malam ini. Haga dan Fattah langsung menjalankan motornya dengan laju yang sangat kencang. Memutari jalan yang sangat sepi tersebut dengan ditemani angin malam yang sangay dingin itu dan suara knalpot dari motor mereka masing-masing. 'Gue nggak mau Dica jadi milik cowok itu,' batin Haga dan menaikkan laju motornya dengan kecepatan 120 km/jam. Sedangkan Fattah yang menyadari itu  ikut menambah laju kecepatan motornya menjadi 120 km/jam. "Gue nggak akan biarin Adisa pacaran sama lo!" teriak Haga kepada Fattah yang berada tepat disampingnya. "Dan gue akan melakukan apapun biar Adisa jadi punya gue!" balas Fattah. "Oke, let's see!" teriak Haga dan ia menambah laju kecepatan motornya menjadi 160 km/jam. 'Gue akan kalahin lo gimanapun caranya, Haga,' Setelah beberapa saat mereka saling adu kecepatan, akhirnya Haga dan Fattah melihat sebuah bendera corak catur dua kilometer dari mereka. Haga dan Fattah sama-sama menambah laju kecepatan motornya masing-masing sampai mereka berdua hampir sampai digaris finish tersebut, tiba-tiba-- BRAK! *** "Haga lo masih hidup kan woi?!" ujar Adisa sambil terus menggoyang-goyangkan tubuhnya milik Haga. "Lagian sih lo aneh-aneh aja, untung cuma luka ringan aja. Tapi kaki lo patah karena ketindihan motor yang super besar itu," ucap Adisa lagi. Haga kemudian terkekeh dengan suaranya yang mulai tak terdengar itu. "Gue nggak akan mati cuman karena ketindihan motor, Ca," ucap Haga lirih. "Ih tapi kaki lo patah Haga! Lo nggak bisa sekolah dong?!" "Bisa, nanti gue pake kursi roda. Lo bantu dorong ya?" "Dikasih apa gue bantuin lo?" tanya Adisa kemudian mengambil salad buah yang ia bawa tadi dari rumah. "Gue kasih hati gue," "Kan gue udah punya," jawab Adisa dengan senyum lebar yang membuat Haga semakin jatuh cinta kepada Adisa. "Nih makan dulu, gue nggak mau ya lo mati!" ujar Adisa lalu menyuapi Haga salad buah tersebut. "Gue juga nggak mau," balas Haga lalu memakan salad buah dengan Adisa yang menyuapinya. "Ca, kalo lo pacaran sama Fattah. Jangan lupain gue ya," gumam Haga dengan senyum tipis dibibirnya. "Apaan sih lo! Yang penting lo sembuh dulu, baru mikirin gue. Lagian gue nggak akan sama Fattah kalau lo nggak izinin gue," "Tapi gue udah ngizinin lo,"  balas Haga sambil mengunyah salad buah. "Oh," Kemudian mereka berdua sama-sama saling diam dengan suara AC yang setia menemani mereka berdua. Ting! Suara ponsel Adisa berdenting yang menandakan ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Adisa langsung membaca pesan tersebut. "Dari siapa Ca?" tanya Haga. Reina Ca, Fattah kecelakaan. Dia masuk rumah sakit, lo belum tau kan? Adisa terdiam sejenak membaca pesan tersebut. Dirinya heran mengapa bisa Fattah dan Haga kecelakaan secara bersamaan. "Dari Reina, Fattah kecelakaan," jawab Adisa dan tidak berniat membalas pesan tersebut. "Keren ya bisa barengan," gumam Haga dengan kekehan. "Kamu nggak ada niat nengokin dia?" sambung Haga. "Nanti aja kalo kamu udah sembuh," "Oh iya Mommy belum kesini lagi?" tanya Haga sambil melirik kearah jam sekilas. "Belum sih, tadi lagi ambil baju-baju kamu dirumah. Mungkin sebentar lagi,"  "Ca, lo kalo mau nengokin Fattah, gapapa. Nanti gue anterin, dia kayaknya disini juga dirawatnya," ujar Haga. "Kalian nggak berantem kan?" *** "Iya Ca, lagian dia aneh-aneh aja malam-malam jam sebelas minta izin keluar, pakaiannya kayak mafia Ca, hitam-hitam gitu. Pas Mommy lagi asik tidur, ada yang telepon katanya Haga kecelakaan udah di rumah sakit. Macem-macem aja anak lanang, kakinya sampai patah tuh," jelas Stacy yang baru saja datang beberapa menit lalu. "Kok bisa sih Ga? Emang lo naik motornya kenceng banget apa?"  "Nggak sih, mungkin gue ngantuk?" "Dia tuh katanya tabrakan sama seseorang, seumuran juga sama Haga. Katanya anak itu juga dirawat disini, tapi Mommy belum tanya lagi sih. Coba nanti Mommy tanya ya," "Lo beneran nggak berantem sama Fattah kan Ga?" tanya Adisa. "Nggak Adisa Fyneen Sarwapalaka," balas Haga dengan penekanan. "Fattah?" gumam Stacy dan Haga mengangguk. "Iya Mom, calon pacarnya Adisa,"  "Ih apaan, kan Dica mah ikutin Haga. Kalo Haga setuju, ya Dica mau. Tapi kalo Haga nggak izinin, Dica nggak mau," sangkal Adisa. "Tuh Ga, dengerin. Jangan asal mengiyakan, karena keputusan Adisa semuanya ada dikamu,"  "Tapi Ca, kamu nggak bisa terus bergantung sama Haga. Karena kamu, kita nggak akan tau umur Haga sampai kapan, umur kita sampai kapan. Kamu harus belajar mandiri, ya tapi jangan terlalu mandiri sih, nanti Haga nggak ada kerjaan," sambung Stacy. "Tapi Dica udah nyaman bergantung sama Haga," "Yaudah kalian pacaran aja kalau gitu?" gumam Stacy. "NGGAK!" seru Haga dan Adisa secara bersamaan yang membuat Stacy tersentak kaget. ***  Beberapa saat setelah kecelakaan itu terjadi, akhirnya Haga sudah diperbolehkan pulang walau dengan kursi roda karena pergelangan kakinya yang patah akibat tertindih motor balapnya. "Berarti Haga nggak masuk sekolah berapa lama Mom?" tanya Adisa sambil mendorong kursi roda Haga. "Mungkin satu atau dua bulan? Pokoknya sampai kaki Haga sembuh total, dan nanti gurunya yang datang ke rumah untuk menggantikan pelajaran yang di sekolah,"  "Oh bisa toh kayak gitu," gumam Adisa. "Yaudah kalian masuk ke mobil aja duluan, Mommy bayar biayanya dulu ya," ujar Stacy dan Adisa langsung mendorong kursi roda tersebut memasuki mobil milik Haga. "Ca, nanti pokoknya lo kalau udah deket sama Fattah, lo selalu lapor ke gue. Misal lo diajak pulang bareng, lo bilang ke gue ya biar gue nggak khawatir," jelas Haga saat ia memasuki mobil. "Nggak tau ah, gue mau fokus ikut olimpiade se-Jogja," "Lo beneran mau ikut?" "Beneran, kemarin gue udah minta Reina daftarin," "Okey, gue  yakin lo pasti menang. Nanti kalo lo menang, gue ajak lo Jakarta," balas Haga. "Dari dulu lo bilang mau ajak gue ke Jakarta, sampai sekarang nggak jadi-jadi," sindir Adisa dan Haga terkekeh. "Dulu kan kita terlalu kecil untuk keluar kota tanpa keluarga. Tapi sekarang kan gue udah bisa jagain lo," "Tapi dari dulu yang jagain gue kan lo, Ga," balas Adisa kemudian Haga mengusap puncak rambut Adisa dengan perlahan. "Ya karena gue udah sayang sama lo dari dulu Ca," gumam Haga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD