Siang ini Adisa sedang bersama dengan Haga didalam kamarnya, menemani Adisa yang sedang belajar untuk persiapan olimpiadenya yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi.
Haga yang sedang duduk di kursi rodanya itu hanya memperhatikan Adisa yang tidak henti-hentinya mondar-mandir dihadapannya. Haga lalu menjalankan kursi rodanya untuk mendekati Adisa.
"Ca," panggil Haga sambil memegang tangan Adisa.
"Diem. Gue capek lihatin lo terus bolak-balik kayak setrikaan," sambung Haga.
"Gimana bisa diem Ga, gue belum hapal materinya. Gue lagi berusaha hapalin, tapi nggak masuk-masuk ke otak arghhhh!" balas Adisa lalu mengacak-acak rambutnya.
"Apanya yang nggak bisa masuk ke otak? Sini gue bantu," ucap Haga kemudian mengambil buku catatan yang berada di genggaman Adisa.
Haga lalu membuka lembar demi lembar buku catatan milik Adisa tersebut, membacanya perlahan-lahan dan memahaminya.
I spend my weekends tryna get you off
My mind again, but I can't make it stop
I'm tryna pretend I'm good, but you can tell
dering ponsel milik Adisa berbunyi yang membuat fokus haga buyar. "Siapa Ca?"
Adisa lalu melihat nama dari pemilik nomor tersebut. "Fattah?" gumam Adisa.
"Fattah? Tumben, angkat aja Ca," perintah Haga dan Adisa menurutinya.
"Kenapa Tah?" tanya Adisa lalu berjalan menuju ke balkon kamarnya diikuti dengan Haga dibelakangnya.
"Lo free? Jalan yuk?"
"Eeum, sebentar," ucap Adisa lalu ia berbisik kepada Haga. "Mau ngajak jalan, katanya,"
Haga lalu mengguk.
"Kapan?"
"Nanti malem jam tujuh gue otw kerumah lo ya,"
"Oke, nanti kalo udah didepan chat gue aja," balas Adisa kemudian ia langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Fattah.
"Jam tujuh dia otw kerumah," ucap Adisa lalu duduk di kursi yang langsung mengarah ke arah kamar Haga.
"Oke, nanti kamu nyalain terus ya GPS nya. Jangan dimatiin, bawa powerbank, handphone kamu jangan sampai mati," jelas Haga.
"Iya-iya Haga bawel, tapi hapalan gue gimana?" tanya Adisa.
"Ehm, yaudah lo jangan lama-lama. Jam sembilan harus udah sampai di kamar. Awas aja nanti gue cek lo belum ada di kamar,"
"Apa nggak usah ya?"
"Udah sana pergi aja, lagian kan masih tiga bulan olimpiadenya. Nanti nyesel lagi lo,"
"Yaudah deh, tapi lo jangan cemburu ya?" tanya Adisa dan Haga terkekeh.
"Ngapain cemburu sama Fattah? Jelas-jelas lo akan lebih milih gue. Iya kan?" jawab Haga dengan percaya dirinya dan Adisa mengangguk.
"Kemanapun lo pergi, kalo semesta takdirin gue sama lo, lo pasti akan balik lagi sama gue. Paham?" jelas Haga dan Adisa mengangguk lagi.
"Good girl, yaudah tidur dulu sana. Nanti gue bangunin jam empat,"
"Oke, lo tunggu sini aja sampai nanti malem. Lagian Oma sama Eyang lagi pergi dan kayaknya nggak akan pulang malam ini," ucap Adisa.
"Iya lihat nanti ya Dica sayang," balas Haga lalu mengusap rambut Adisa dengan perlahan.
***
Malam ini pukul tujuh kurang sepuluh Adisa sudah rapih dengan balutan kaos oversize dan celana levis warna hitam. Dirinya sedang menunggu Fattah dengan ditemani oleh Haga.
"Pokoknya kamu lapor aku terus ya, aku takut Fattah jahatin kamu,"
"Iya Haga,"
"Oh iya Ga," panggil Adisa dan Haga langsung menatap perempuan itu.
"Kok tumben lo nggak marah-marah sama Fattah? Semenjak kecelakaan itu lo sifatnya jadi berubah ke Fattah," jelas Adisa.
"Gue mau berbuat baik aja sih, kan umur nggak ada yang tau" jawab Haga dan Adisa langsung mencubit lengan laki-laki itu.
"Lo mah kalo ngomong kayak gitu,"
Kemudian mereka berdua sama-sama terdiam selama beberapa saat.
"Tuh calon pacar lo udah dateng," ucap Haga saat mendengar suara knalpot motor yang berhenti tepat didepan rumah Adisa.
"Dis, yuk?" ajak Fattah yang baru saja melepas helm.
Adisa kemudian langsung berjalan menuju Fattah dan meninggalkan Haga yang terduduk di kursi roda sendirian.
"Ga, gantian ya!" seru Fattah dan laki-laki itu langsung menjalankan motornya meninggalkan pekarangan rumah Adisa.
Sedangkan Haga terdiam dengan emosi yang ia tahan, memperhatikan kursi roda yang kuat menahan berat badannya itu.
"Kenapa gue bisa kalah sih, sit!" seru Haga lalu memukul kursi roda tersebut.
***
"Ca, denger-denger kamu mau ikut olimpiade MIPA ya?" tanya Fattah yang sedang memakan spaghettinya.
"Iya, pasti lo tau dari Reina ya?"
"Iya, siapa lagi Ca?"
"Haha,"
"Oh iya Ca, lo tinggal sendirian aja disitu? Setiap gue lihat kayaknya sepi terus rumah lo,"
"Nggak sih, ada Alex, Oma, Eyang dan Om Chandra. Cuma sesekali Haga nginep kalo dirumah nggak ada orang,"jelas Adisa dan Fattah langsung membulatkan matanya.
"Hah?!" seru Fattah sambil terbatuk.
"Hah? Kenapa?"
"Lo nginep sama Haga? Emang nggak dimarahin sama Oma dan Eyang lo?"
"Kenapa dimarahin? Mereka udah percaya sama Haga. Lagian kalo nggak sama Haga gue nggak berani di rumah sendirian,"
"Kan ada Alex?"
"Dia selalu ikut sama Oma dan Eyang, Om Chandra selalu keluar kota karena pekerjaannya," jelas Adisa dan Fattah hanya terdiam mendengar semua penjelasan dari Adisa.
"Sulit nih," gumam Fattah.
"Kenapa?" tanya Adisa sambil menatap wajah fattah.
"Iya sulit, aku harus nahan cemburu yang luar biasa waktu kalian berdua nginep tanpa siapa-siapa dirumah," gumam Fattah lagi dan Adisa terdiam mencerna semua perkataan yang keluar dari mulut laki-laki yang duduk dihadapannya ini.
***
"Ga, masa Fattah bilang gini. Sulit buat dia karena harus nahan cemburu yang luar biasa waktu kita berduaan dirumah kayak gini," gumam Adisa saat ia baru saja duduk di kasurnya.
"Bagus dong,"
"Bagus?"
"Iya bagus, berarti dia cemburu sama aku. Padahal kan kita udah kayak adik kakak, nggak mungkin aku rusak kamu," jelas Haga dan Adisa tersenyum.
"Karena aku sama kamu bukan untuk main-main, aku lebih pilih pacaran sama perempuan lain daripada sama kamu," sambung Haga lagi.
"Kenapa? Padahal kamu sering gombalin aku,"
"Ya karena aku nggak mau main-main sama kamu," jawab Haga.
"Aku nggak ngerti maksud kamu,"
"Oh iya Ga, kamu beneran mau ajak aku ke Jakarta kalo aku berhasil olimpiadenya?" tanya Adisa.
"Beneran Ca, makannya belajar yang bener ya. Sekalian abis dari Jakarta kita langsung ke Singapura untuk nonton konser yang waktu itu ya,"
"Okey,"
Adisa bangkit dari tidurnya, berjalan menuju ke meja belajar dan mengambil sesuatu dari sana.
"Aku mau kasih lihat foto seseorang, eh dua orang deh, eh tiga orang deh. Ini dikasih sama Om Chandra, dia meninggal di tahun 2017 kayaknya karena kanker paru-paru. Orang ini satu-satunya cowok yang bisa bikin Buna stress atau hampir depresi, ini kata Om Chandra sih," jelas Adisa sambil membawa album foto yang lumayan tebal tersebut.
"Kamu udah pernah lihat fotonya?"
"Belum, aku nggak berani. Kata Om Chandra bukanya nanti aja sama Haga, jangan sama Oma atau Eyang,"
"Yaudah sini buka,"
Kemudian mereka berdua duduk diatas kasur empuk milik Adisa, membuka album foto tersebut sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang ada di foto itu.
"Arjuna ya?" gumam Haga menunjuk satu foto laki-laki yang tertidur diranjang rumah sakit.
"Hah? Nggak tau, nggak kenal aku,"
"Halaman selanjutnya Ca," ucap Haga dan Adisa menurutinya.
Dihalaman tersebut mereka melihat foto Adhista bersama dengan Arjuna.
"Kayak aku ya Ca?" tanya Haga dan Adisa langsung memperhatikan foto tersebut dan Haga secara bergantian.
"Ih iya! Cuman beda warna matanya aja," jawab Adisa.
Adisa kemudian membalikkan lembar demi lembar lagi, sampai ia menemukan foto batu nissan milik Arjuna dengan Adhista disampingnya.
"Meninggal 8 Desember 2018," ucap Adisa.
"Aku ulang tahun tanggal 8 Desember,"
"Jangan-jangan kamu reinkarnasinya Arjuna lagi Ga? Karena kata Om Chandra kisah cinta mereka belum selesai," gumam Adisa dan mereka berdua bertatap-tatapan dalam waktu yang lumayan lama.