Beberapa minggu setelah Adisa pergi bersama Fattah, mereka berdua menjadi semakin dekat walaupun Fattah mengaku harus menahan cemburu yang luar biasa saat Adisa bersama dengan Haga. Namun lelaki itu akan terus berjuang untuk mendapatkan hati milik Adisa, sesulit apapun itu.
Mereka berdua juga sering terlihat bersama saat di sekolah, membuat iri perempuan-perempuan lain yang melihatnya.
Seperti saat ini, Adisa sedang menonton pertandingan basket antara tim Haga dan tim Fattah. Adisa dengan ditemani oleh Reina berusaha menyemangati kedua laki-laki tersebut.
"Lo kalo gue suruh pilih, lo pilih Haga atau Fattah?" tanya Reina sambil terus memperhatikan pertandingan didepannya.
"Haga," jawab Adisa dengan sangat yakin.
"Kenapa? Kan lo lagi deket sama Fattah,"
"Ya karena yang nemenin gue dari kecil Haga, Haga yang selalu nemenin gue kalo gue sedih inget orang tua gue. Kalo gue milih Fattah kebangetan sih," jelas Adisa dan Reina mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Gue juga kalo jadi lo pilih Haga sih," gumam Reina.
Adisa langsung menatap mata perempuan itu.
"Karena kalo pacaran bisa putus, kalo sahabat bisa bertahun-tahun. Bahkan bisa sampai kita nenek-nenek," sambung Reina dan Adisa tersenyum.
"Nah!"
Kemudian dari kejauhan Fattah dan Haga datang mendekati kedua perempuan tersebut. Dan Adisa dengan sigap langsung memberikan handuk kepada dua laki-laki tersebut.
"Duh Disa, lo tuh mimpi apa sih bisa dikerumunin cowok cakep kayak gitu," seru seorang perempuan yang duduk tak jauh dari mereka.
Sedangkan Adisa hanya terdiam tak menggubris perkataan dari perempuan tersebut.
"Ini buat kalian berdua," ucap Adisa sambil memberikan sebotol air mineral dingin kepada Haga dan Fattah.
Kemudian Fattah dan Haga duduk tepat disamping Adisa sambil mengelap keringat mereka yang membasahi tubuh.
"Oh iya Ca, lo nggak mau daftar jadi anggota OSIS kah?" celetuk Fattah.
"Sekali lagi lo manggil Ca gue sembelih, beneran!" seru Haga sambil menatap dalam ke mata Fattah.
"Sensi banget,"
"Nggak berminat sih, mendingan di rumah," balas Adisa.
"Gue kan daftar jadi OSIS, nanti gue calonin ketua OSIS lo wakilnya," jelas Fattah.
"Kalo ngefans sama gue bilang. Mau calonin ketua basket, sekarang ketua OSIS juga," ketus Haga dan Reina terkekeh.
"Lagian lo udah tua, udah waktunya untuk lengser,"
"Tapi ketampanan gue nggak akan lengser," balas Haga sedangkan Fattah memutarkan matanya malas.
Tak berapa lama kemudian Xia Lian atau yang biasa dipanggil Cici itu datang mendekati Haga, Fattah, Reina dan Adisa. "Ga, nanti kerjain tugas kelompok buat jualan besok ya. Di rumah gue."
Haga hanya mengangguk tanpa menjawab apapun.
"Lo bareng gue aja," sambung Xia dan Haga mengangguk lagi sebagai jawabannya.
Kemudian perempuan itu pergi meninggalkan Haga dan yang lainnya.
"Ca, nanti lo pulang sama Fattah ya. Nanti helmnya gue kasih ke kelas lo," ucap Haga lalu laki-laki hengkang meninggalkan Fattah, Adisa dan Reina disana.
***
Sepulang sekolah Adisa sudah berada di parkiran bersama dengan Fattah, Haga dan Xia. Mereka berempat sudah rapih dengan helm yang berada dikepalanya.
"Yaudah, mau ngapain lagi?" tanya Fattah saat memperhatikan Adisa dan Haga yang terus bertatap-tatapan.
"Gue nggak yakin kalo yang anterin lo, ayo Ca," ucap Haga kemudian menarik tangan Adisa untuk menaiki motor Ducatinya.
"Woi Ga! Nggak bisa gitu, lo menghancurkan ekspetasi orang dosa lo Ga!" seru Fattah sambil mengikuti Adisa dan Haga dari belakang.
Sedangkan Xia hanya memperhatikan Haga dan Adisa dari jauh. "Kapan sih Ga gue bisa jadi Adisa lo?"
***
"Ga, lo nggak bisa gitu buka hati lo selain buat Adisa?" celetuk Xia saat mereka berdua sedang membuka kulit pisang.
"Out of topic Ci," balas Haga dan teman-teman mereka yang ada disana langsung menatap kedalam mata Xia.
"Gini loh Ga, lo tuh nggak boleh kayak gitu. Lo suka sama Adisa?" tanya seorang laki-laki yang bernama Arzan Ravindra Malik.
Haga kemudian langsung menatap mata Arzan dengan sangat tajam. "Okay, I know."
"Yaudah gue ambil blender dulu, lo bertiga kupasin dulu itu pisang dari kulitnya," jelas Xia lalu ia pergi meninggalkan ketiga temannya.
"Ga," bisik Arzan.
"Hm?" jawab Haga.
"Kasih lah kesempatan buat Cici," bisik Arzan lagi.
"Belum bisa, kita udah berteman deket kayak gini aja masa nggak cukup?" tanya Haga.
"Adisa aja berhasil buka hatinya ke Fattah, masa lo nggak?"
Haga kemudian terdiam setelah mendengar jawaban dari Arzan.
"Cici juga nggak kalah pintar kok sama Adisa," sindir Arzan.
"Gue bukan nggak bisa buka hati, gue selalu kepikiran sama Adisa yang nggak mandiri," gumam Haga.
"Nah! Kenapa nggak lo pacarin?" bisik Arzan.
"Bro, kalo gue pacarin Adisa, kalo putus hubungan gue sama dia jadi kacau. Gue nggak mau,"
"Nah! Pacarin Cici Xia sekarang,"
"Hmm, nggak tau deh Zan. Gue masih bimbang. Disatu sisi gue nggak mau lepasin Adisa, disisi lain gue tetep nggak mau lepasin Adisa," jelas Haga dan Arzan langsung menarik rambut jambul temannya tersebut.
"Itu sama aja Bambang! Yaudah pacaran sana. Jangan bikin baper perempuan lain, kalo lo nggak mau dikejar," jelas Arzan dan tak lama kemudian Xia datang dari dapur dengan membawa beberapa peralatan.
"Tugasnya kalian kerjain masing-masing ya, gue mau urusin dapur dulu," ucap Xia dan perempuan itu melenggang pergi lagi menuju dapurnya.
"Siapa yang bikin baper," gumam Haga sedangkan Arzan memutarkan matanya sebagai jawaban.
Beberapa jam kemudian akhirnya mereka berempat sudah selesai membuat Banana Nugget untuk mereka jual keesokan harinya di sekolah.
"Ci gue balik duluan ya, udah dicariin sama Bunda gue," ucap Arzan yang sudah rapih dengan tas dan helmnya.
"Yaudah, yuk gue anter," jawab Xia kemudian ia mengantar Arzan bersama dengan Angel sampai ke depan rumahnya.
Sedangkan Haga masih duduk didalam rumah Xia Lian dengan tatapan kosong.
"Ga, lo ngga balik? Udah jam setengah sebelas, nanti dicariin lagi sama Mama lo atau Adisa?" tanya Xia.
Haga menggeleng.
"Ci, besok gue jemput jam setengah tujuh. Gue balik dulu ya," ucap Haga lalu ia bergegas menggunakan jaket dan helmnya.
"Nggak usah, besok gue dianter sama supir gue aja. Lagian lo kan harus bareng sama Adisa," sergah Xia.
"Gampang itu mah, besok gue chat lagi. Gue balik dulu Ci," balas Haga dan ia berjalan menuju ke parkiran untuk mengambil motornya.
"Oke, hati-hati Ga!" seru Xia dan perlahan-lahan bayangan Haga lenyap bersama gelapnya malam kota Jogja itu.
***
"Jemput Adisa sekarang," ujar Haga melalui ponselnya.
"Iya, gue berangkat sekarang," jawab Fattah dan ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Haga kemudian berjalan menuju ke balkon rumahnya, berniat untuk mencari Adisa yang dari kemarin sore tak ia lihat batang hidungnya itu.
"Ga!" seru Adisa.
"Dibawah!" sambungnya lagi.
Haga lalu mengambil tasnya dan berjalan menuruni tangga menuju ke teras rumah Adisa.
"Tadi malem pulang jam berapa?" tanya Adisa saat Haga baru saja sampai dihadapannya.
"Setengah sebelas dari sana,"
"Kamu jual apa sih emang?" tanya Adisa.
"Sebentar," ucap Adisa kemudian ia merapihkan dasi milik Haga yang sedikit berantakan tersebut.
"Udah," ucap Adisa lagi dan Haga membuang napasnya yang sempat ia tahan itu.
"Aku jual Banana Nugget, nanti kamu beli ya?"
"Oke, Fattah?" gumam Adisa terheran-heran saat melihat Fattah yang datang dengan motornya.
"Yuk Dis," ajak Fattah dan perempuan yang dipanggil namanya tersebut melirik kearah Haga kemudian laki-laki itu mengangguk.
"Oke, aku duluan ya?" tanya Adisa dengan wajah penuh tanya.
Haga lalu mengangguk dengan senyum manis yang membuat matanya menghilang. "Iya, kalo udah sampai chat aku."