Haga kemudian berjalan kembali ke rumahnya untuk mengambil motor kesayangannya itu.
"Sekarang nggak sama Dica dulu ya," ucap Haga sambil mengelus jok belakang motornya yang kosong itu dan laki-laki itu kemudian menjalankan motornya menuju ke rumah Xia Lian.
Beberapa saat kemudian Haga sudah sampai didepan rumah mewah milik perempuan keturunan Chinesse tersebut.
"Eh? Gue kira lo bercanda tadi malem," celetuk Xia saat ia baru saja membuka pagar rumahnya.
"Yaudah yuk," ajak Haga kemudian ia membantu Xia untuk menaiki motornya yang lumayan tinggi itu.
Setelah Xia berhasil naik keatas motor Haga, laki-laki tersebut langsung menjalankan motornya menuju ke sekolahnya.
"Ga," panggil Xia.
"Hm?"
"Makasih ya,"
"Buat?" tanya Haga sedikit berteriak karena suara lalu lintas jalanan yang begitu keras.
"Makasih karena udah izinin gue buat suka sama lo," ucap Xia dan Haga hanya terdiam mendengar jawaban dari perempuan itu.
***
Saat sudah sampai di sekolah, Haga langsung buru-buru berjalan menuju ke kelas Adisa dan meninggalkan Xia sendirian disana.
"Ca?!" seru Haga saat sampai di kelas Adisa.
Perempuan yang dipanggil namanya itu tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah orang yang memanggil namanya.
"Haga, bikin kaget aja lo!" balas Adisa kemudian berjalan mendekati Haga.
"Duh Ca," ucap Haga yang langsung memeluk Adisa dengan napas terengah-engah.
Sedangkan murid-murid yang ada di dalam kelas tersebut langsung terdiam menatap Adisa yang dipeluk oleh most wanted di sekolah mereka.
"Tadi ada yang kecelakaan, aku kira itu kamu," bisik Haga dan mempererat pelukannya.
Adisa balas memeluk Haga dan berusaha menenangkan sahabatnya yang tubuhnya bergetar tersebut.
"It's okay, I'm here Ga," jawab Adisa sambil mengelus punggus Haga yang penuh dengan keringat.
Sedangkan Xia berada tak jauh dari mereka, memperhatikan perlukan Haga yang sangat erat kepada Adisa membuat hatinya sesak.
"Gue kira gue udah berhasil dapetin hati lo Ga, ternyata masih Adisa yang memegang kendali di hati lo," gumam Xia dan air mata mulai menetes di pipinya.
***
"Kenapa sih emang Ga? Muka lo sampe pucet tau nggak!" tanya Adisa saat mereka berdua sedang berada di kantin.
"Ada yang kecelakaan Ca, sumpah dari postur badan, rambut, tasnya juga samaan sama lo. Terus dia juga boncengan sama cowok, motornya juga sama kayak Fattah,"
"Hah? Semirip itu?" tanya Fattah yang tiba-tiba datang duduk disamping Adisa.
"Semirip itu Tah, kalo nggak mirip ngapain gue keringet dingin nyariin Dica,"
"Lo sayang banget ya sama Adisa?" celetuk Reina yang baru saja dengan membawa semangkuk mie rebus.
"Ya lo pikir aja, dari umur empat tahun sampai sekarang gue selalu bareng-bareng sama Adisa," jawab Haga.
"Berat juga ya jadi Fattah. Yaudah Tah sama gue aja, Adisa udah ada pawangnya," ucap Reina dan mereka berdua tertawa.
"Tapi gue udah izinin kok kalo Adisa sama Fattah pacaran, inget pacaran doang. Nikahnya sama gue," jelas Haga dan Reina terkekeh.
"Emangnya lo Tuhan apa ngatur-ngatur jodoh Adisa," sindir Fattah.
"Ga, kaki lo udah sembuh emang?" tanya Reina sambil memperhatikan kaki Haga yang masih sedikit bengkak tersebut.
"Kalo kaki gue masih sakit nggak mungkin gue bawa motor terus lari ke kelas Adisa," balas Haga dengan tatapan maut yang ka berikan kepada Reina.
"Oh iya Ca, nanti Mommy mau ajak jalan jam tujuh malem ini ya,"
"Wah bagus deh, yaudah nanti samper aja kayak biasa,"
"Ga," panggil Xia kepada Haga yang sedang mengobrol dengan Adisa.
"Eh Ci, kenapa?" tanya Haga lalu ia sedikit bergeser supaya Xia bisa duduk disampingnya.
"Bisa ikut gue sebentar nggak? sepuluh menit aja kok,"
"Oh oke, mau kemana emang?" tanya Haga lalu mereka berdua pergi meninggalkan Adisa, Reina dan Fattah disana.
"Haga bisa buka hati juga ya ternyata," gumam Adisa yang terus memperhatikan Haga sampai ia menghilang dibalik toilet sekolah.
***
Xia dan Haga sudah berada di taman belakang sekolah mereka, dengan keadaan dan suara angin yang berlalu lalang di telinga mereka.
Mereka berdua duduk di salah satu bangku panjang disana, saling berhadapan yang membuat perempuan itu sedikit senam jantung akibat tatapan mata dari Haga.
"Ga,"
Laki-laki itu tak menjawabnya, melainkan menatap mata perempuan yang memanggil namanya tersebut.
"Ga, I love you since we're on juniior high school. Gue suka sama lo sejak pertama kali natap mata lo, lo baris di belakang gue dan ajak ngobrol gue. Dan gue pendem itu semua sampai kita kelas sebelas, hampir lima tahun gue tahan perasaan itu. Dan selama itu pula yang lo omongin tetep Adisa, padahal didepan lo ada cewek yang setia nungguin lo bertahun-tahun lamanya," jelas Xia dengan menundukkan kepalanya.
Haga kemudian mengangkat wajah gadis dihadapannya tersebut, mengangkat wajah Xia sampai mata mereka sama-sama bertemu.
"Gue tau Ci, gue tau lo selalu kasih gue kode, lo selalu kasih gue perhatian, ngajak jalan, berusaha ngajak ngobrol gue. Gue tau semuanya, tapi gue nggak bisa. Gue nggak bisa karena yang ada dihati gue cuman Adisa, gue bertanggung jawab penuh atas Adisa dan gue nggak bisa ninggalin dia begitu aja. Gue sayang banget sama Adisa, bahkan gue lebih sayang sama Adisa daripada sama diri gue sendiri," jelas Haga dan Xia tersenyum tipis kemudian memalingkan wajahnya untuk menghapus air mata yang mengalir dimatanya.
"Ci, gue lagi berusaha buat buka hati ke perempuan lain—"
"Gue siap jadi pacar lo, walaupun gue tau gue bakal sesakit apa," sergah Xia memotong perkataan dari Haga.
"Tapi itu terlalu menyakitkan Ci, lo nggak pantes ngerasain itu," ucap Haga.
"Seenggaknya gue udah pernah ngerasain gimana rasanya jadi pacar lo Ga,"
"Walaupun gue tau,"
"Tujuan akhir lo pasti Adisa," lirih Xia dengan air mata yang mulai berlinang dimatanya.
"Lo nggak harus ngerasain itu semua. Masih banyak laki-laki diluar sana yang pantas jadi pacar lo Ci," jelas Haga.
"Tapi yang gue mau itu lo Ga, bukan laki-laki lain yang ada diluar sana."