Adisa 21

1050 Words
"Ca, kan gue udah izinin lo deket sama Fattah. Kalo sekarang gue minta izin buat deket sama Cici, boleh?" tanya Haga dan Adisa langsung menatap wajah laki-laki itu. "Hah? Kenapa nggak boleh? Bukannya lo ya yang nggak mau buka hati buat perempuan lain?" tanya Adisa yang membuat Haga memalingkan wajahnya. "Sebenernya gue nggak mau Ca," lirih Haga kemudian ia merebahkan tubuhnya dikasur dengan sprey pink milik Adisa. "Kenapa?" "Nggak tau, di hati kecil gue tuh gue maunya cuman sama lo. Lo boleh deket sama cowok-cowok diluaran sana, tapi gue melarang diri gue sendiri buat deket sama cewek selain diri lo," jelas Haga. "Kenapa lo melarang diri lo?" "Karena gue merasa lo tuh nggak bisa kalo gue nggak ada," gumam Haga. "Tapi itu semua based on true story Ga. Gue terlalu manja, dan cuman lo yang bisa ngertiin gue gimanapun caranya," jelas Adisa. "Tapi gue tau gue nggak bisa bergantung terus sama lo," sambung Adisa lalu menundukkan kepalanya. "Ca, kan gue udah sering bilang. Gue nggak merasa dirugikan kok kalo lo bergantung sama gue, justru gue merasa jadi orang terspesial di hidup lo," "Tapi kalo misal lo sama Xia, apa gue masih bisa bergantung sama lo? Sedangkan lo udah punya Xia," gumam Adisa. "Ca," panggil Haga kemudian mengangkat kepala Adisa secara perlahan sampai mata mereka berdua bertemu. "Pacar tuh segini," ucap Haga dengan tangan kanan yang berada di depan perutnya. "Tapi kalo sahabat segini," sambung Haga dengan tangan kiri yang berada diatas kepalanya dan Adisa terkekeh. "Ini lo gombal atau serius?" "Serius lah Ca, kalo lo tau gue tuh sayaaaaangggg banget sama lo. Bener-bener sayang banget banget banget," ucap Haga gemas sambil men-cubit pipi Adisa hingga memerah. "Ca, gue selalu berdoa," gumam Haga kemudian melepaskan tangannya dari pipi Adisa. "Apa tuh?" "Semoga nanti pas kita udah sama-sama dewasa dan mapan—" "Ih kok berhenti sih?!" seru Adisa. "Nggak jadi deh," "Apaan nggak?!" seru Adisa lagi kemudian beranjak untuk mencubit lengan laki-laki itu. "Nggak jadi Dicaaaa," "Yaudah aku pulang," ucap Adisa kemudian berjalan menuju pintu kamar sahabatnya. "Aku selalu berdoa biar kamu jadi jodoh aku," balas Haga kemudian ia menutupi wajahnya yang memerah dengan bantal. *** Beberapa hari setelah Haga jujur kepada Adisa tentang doa nya, perempuan itu terus menerus tersenyum sambil terbayang-bayang wajah tampan sahabatnya. "Masa iya sih Haga berdoa kayak gitu?" "Sedangkan yang suka sama dia lebih cantik," gumam Adisa kemudian senyum itu datang lagi dan lagi. Adisa kemudian berjalan menuju meja belajarnya, menyalakan laptop berlogo apel terbelah miliknya dan tak berapa lama kemudian foto dirinya dan Haga saat di Jepang muncul. "Kenapa sih Haga jadi terbayang-bayang terus?" kesal Adisa kemudian melirik kearah ponselnya. Adisa memutarkan matanya malas saat melihat Haga lagi yang muncul di layar ponselnya. "Ya kenapa?" tanya Adisa. "Belajar, satu bulan lagi olimpiade kamu. Pokoknya aku mau kamu harus menang ya, biar nanti aku ajak jalan-jalan," jelas Haga dan kemudian Adisa berjalan menuju ke balkon rumahnya. "Iya Mr. Haga bawel!" "Oh iya Ca," "Hmm?" "Jangan mikirin aku terus," ucap Haga dan Adisa langsung membelalakan matanya. 'Kok dia bisa tau?' batin Adisa. "Aku cegukan terus dari dua hari lalu," sambung Haga dan Adisa memutarkan matanya malas. "Kenapa harus gue yang lo tuduh? Kan yang suka sama lo banyak?" tanya Adisa. "Tapi kan yang—" "Oke, aku mau belajar. Jangan telpon aku sampai nanti malem, nanti kalo ku udah selesai aku langsung kesana," ucap Adisa lalu ia langsung mematikan panggilan teleponnya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya menutup semua jendela dan hordeng yang langsung mengarah ke kamar sahabatnya. Ting! Adisa melihat ponselnya dan lagi-lagi nama Haga yang muncul disana. Haga Udahlah nggak usah ngelak, kamu pasti kepikiran kan sama omongan aku kemarin. Adisa yang sudah geram itu langsung mematikan ponselnya dan kembali duduk didepan laptop. Memperhatikan foto mereka berdua saat di Jepang tiga tahun lalu bersama keluarga mereka masing-masing. Adisa lalu membuka galeri di laptopnya, mencari foto dirinya dan Haga yang ia jadikan wallpaper. Setelah Adisa menemukannya ia lalu memperbesar foto tersebut sampai ia menemukan sesuatu yang sangat aneh menurutnya. Adisa memperbesar lagi foto tersebut. "What?!" seru Adisa kemudian ia lari ke lantai satu untuk mengambil album foto keluarganya. Setelah ia berhasil mengambil apa yang ia cari, Adisa kembali menuju kamarnya dengan secepat kilat. Membuka album foto lembar demi lembar hingga dia menemukan foto Adhista dan Diratama disana. "Buna sama Ayah?" gumam Adisa sambil bergantian memandangi foto di album dan laptopnya. Adisa dengan terburu-buru langsung menyalakan ponselnya dan berusaha menghubungi Haga. "Ga," "Aku tau kamu pasti kepikiran kan," ucap Haga yang membuat Adisa sangat kesal dan ingin menjahit mulut sahabatnya tersebut. "Haga, this is urgent! Came to my room, now!" seru Adisa dan ia langsung mematikan sambungan teleponnya. Beberapa saat kemudian Haga sudah sampai di dalam kamar Adisa dan ia ikut memperhatikan foto yang diperlihatkan oleh Adisa. "Tapi yang di laptop burem banget Ca," gumam Haga. "Nah! Burem aja mirip kan?" tanya Adisa dan Haga mengangguk. "Oke, sekarang ini fotonya kita jernihin dulu," ucap Haga kemudian Adisa beranjak dari sana dan digantikan oleh Haga. Haga fokus mengotak atik laptop milik Adisa dan Adisa berjalan keluar kamarnya menuju ke kamar Alex yang berada tepat di sampingnya. "Lex? Lo didalem nggak?" tanya Adisa sambil mengetuk pintu kamar Alex. "Apaan? Gue sibuk." "Urgent nih, Buna sama Ayah," jawab Adisa dan tak lama kemudian anak laki-laki pemilik kamar tersebut keluar dengan hoodie hitam dan celana santai pendek. "Kenapa sama Buna?" "Ayo ikut gue," ajak Adisa lalu ia menarik tangan Alex menuju ke kamarnya. Saat Alex masuk ke kamar Adisa betapa kagetnya ia melihat Haga bersama laptop Adisa yang memperihatkan foto Haga dan Adisa dengan kedua orang tuanya yang ikut terfoto disana. "Ca? Mereka udah pergi waktu kita masih kecil. This is not real," gumam Alex dan ia berjalan mendekati laptop milik Adisa. "Tapi nggak mungkin sih ada orang yang mirip banget sama mereka. Mungkin ada yang mirip Buna Adhista dan Ayah Tama, tapi mereka belum tentu kenal satu sama lain. Iya kan?" jelas Haga. "Iya!" jawab Adisa dan Alex secara bersamaan. Mereka bertiga kemudian terdiam sambil terus memperhatikan foto Adhista dan Diratama yang ikut terfoto saat Adisa dan Haga berada di Jepang. "Coba deh semua kumpul disini," ucap Adisa kemudian mereka bertiga duduk melingkar diatas kasur milik Adisa. "Kalo misal mereka masih hidup, kira-kira siapa yang berhubungan sama mereka?" tanya Haga. Haga, Adisa dan juga Alex kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD