Adisa 7

1150 Words
"Iya," jawab Adisa singkat. "Yaudah Ca aku masuk dulu. See you next time," balas Haga kemudian pergi menghilang dibalik pintu rumahnya yang besar itu. "Kenapa sih cowok itu, udah dibaikin juga malah kayak gitu. Bikin emosi aja," gumam Adisa lalu kembali berjalan kedalam rumahnya. Sedangkan Haga diam-diam masih berdiri dibelakang pintu rumahnya mendengarkan ucapan Adisa beberapa detik lalu. "Emangnya enak gue kerjain balik!" Saat sampai didalam kamarnya, Adisa langsung melompat keatas kasurnya dan menutupi wajahnya dengan bantal. "Siapa sih cewek kemarin itu, bikin kepo aja ish!" ketus Adisa yang masih terbayangkan perempuan yang bersama Haga malam itu. Adisa lalu menelpon Reina, teman semasa ia di Sekolah Menengah Pertama. "Rein, apa kabar?" tanya Adisa saat teman perempuannya tersebut mengangkat teleponnya. "Oh Dis, baik kok. Kenapa?" "Cuman mau tanya aja, emang ada ya pertemanan cewek dan cowok tapi main di jam dua malam? Aneh nggak sih Rein?" tanya Adisa. "Hah? Temen apaan itu main di jam segitu, kalau di Indo apalagi di Jogja tempat kita mah aneh banget Dis. Nggak ada pertemanan kayak gitu," jawab Reina dan membuat Adisa semakin overthingking memikirkannya. "Iya sih, emang aneh. Atau dia bohong ya Rein?" "Siapa sih emang? Haga?" "Eh?" "Oh nggak tau deh Dis kalau itu, kan Indo sama diluar negeri beda. Yaudah telponnya aku matiin ya Dis, good night," ucap Reina kepada Adisa kemudian ia mematikan panggilan teleponnya. "Haga bohong kali ya, lagian nggak mungkin juga dia punya teman di Canada sana, sedangkan dia tinggal di Indonesia udah dua belas tahun lebih dan baru ke Canada beberapa minggu yang lalu," ujar Adisa kepada dirinya sambil memperhatikan layar ponselnya. Ting! Tiba-tiba saja laki-laki yang sedang berada dipikiran Adisa mengiriminya pesan. 'Pusing banget kayaknya, dari tadi aku perhatiin kamu dari jendela tau,' "WHAT?!" seru Adisa dan ia langsung melihat lurus ke depan yang langsung menghadap ke kamar Haga. "Oh My God dia beneran lagi perhatiin ya kayaknya," gumam Adisa. Adisa kemudian berjalan menuju balkon kamarnya lalu menelpon Haga. "Ke balkon dulu coba Ga." "Apa?" tanya Haga saat ia sudah berhadapan dengan Adisa. "Yang kemarin—" "Bukan Ca, bukan. Dia sepupu aku, aku bingung mau bilang apa jadi ku bilang aja temen," sergah Haga dan Adisa langsung membuang napasnya lega. "Oh kirain beneran temen kamu. Lagian nggak enak juga didengernya, masa lawan jenis berduaan dikamar tengah malem," jawab Adisa dan Haga tersenyum tipis. Adisa yang menyadari Haga tersenyum tipis itu langsung memalingkan wajahnya dan berusaha menyembunyikan senyumnya juga. 'Oh My God, it's been a long time gue nggak ngerasain kupu-kupu berterbangan diperut gue kayak gini,' batin Adisa didalam hatinya sambil memegangi dadanya yang mulai berdebar. "Ca!" panggil Haga melalui balkon kamarnya. "Apa?" Adisa lalu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Haga lagi. "Udah lama ya kita nggak ngobrol di balkon kayak gini. Oh iya, tiga hari lagi kita masuk SMA, kamu jangan kaget ya kalau lihat aku jadi ketua OSIS haha," "Ngapain kaget? Dari SMP kan kamu udah suka masuk organisasi gitu-gitu," balas Adisa dan Haga terkekeh. "Oh iya Ca, besok berangkat bareng aku ya. Nanti pas di sekolah kamu aku kenalin sama seseorang," ucap Haga dan Adisa terdiam sejenak. 'Itu bukan pacarnya kan?' tanya Adisa didalam hatinya sambil menatap Haga. "Bukan, lihat besok aja ya," "Oh iya, kalau ada yang macem-macem sama kamu bilang aku aja ya. Pokoknya kamu aman masuk SMA disana," "Masa?" tanya Adisa. "Serius Ca, emang pernah aku ingkar janji sama kamu?" tanya Haga dan Adisa menggeleng. "Nggak kan. Percaya apapun sama aku, karena aku udah janji sama diriku sendiri bakal bahagiain Mommy sama kamu Ca," jelas Haga dan Adisa tersenyum malu. "Ca, udah buka oleh-oleh dari aku?" tanya Haga lagi dan Adisa menggeleng sebagai jawabannya. "Cepet buka, aku temenin," ujar Haga. Kemudian Adisa masuk ke dalam kamarnya dan mengambil semua totebag yang diberikan oleh Haga. "Pertama buka dari yang warna Pink dulu, warna kesukaan Buna Adhis," ucap Haga. "Coklat? Di supermarket juga banyak Ga," "Beda Ca rasanya. Itu aku pilihin langsung yang menurut aku kamu sukain, oke next buka yang ada tulisannya There is no place like home," Adisa kemudian mencari totebag yang bertuliskan kata tersebut membukanya. "Cangkir?" tanya Adisa lagi dan Haga mengangguk. "Sesuai sama tulisan yang ada di totebag Ca, no place like home. Aku beliin itu biar kamu inget terus sama rumah," "Selanjutnya buka yang warna lilac, warna kesukaan kamu tuh Ca," "Minyak wangi?" tanya Adisa saat melihat isi yang ada didalam totebag tersebut. "Iya, itu aku beli banyak varian nanti kamu pilih aja kesukaan kamu yang mana. Sisanya mau kamu pakai sendiri boleh, mau kamu kasih ke Om Chandra boleh, mau kamu kasih ke Oma dan Opa kamu juga boleh," jelas Haga. "Selanjutnya kamu buka sendiri aja, nanti aku kasih tau jawabannya," ucap Haga. "Miniatur? Lo mah ngabisin duit aja sih Ga!" celetuk Adisa dan Haga membulatkan matanya. "Gila ya lo! Udah dikasih bukannya makasih, gue beliin itu semua karena nggak ada yang jual di Indo ca. Miniatur itu juga asli dari Toronto, kalau yang disini kan yang KW," jawab Haga dan Adisa menganggukan kepalanya sambil membuka totebag yang lainnya. "Apanih? Kayak punya Buna," gumam Adisa sambil memperlihatkan benda berwarna pink pucat dengan tulisan With You All The Way. "Wah iyakah? Itu Snowball Globe, aku cari itu sampai keliling banyak toko Ca. Aku juga beli, punyaku warna biru muda, mau lihat?" tanya Haga dan Adisa mengangguk. Haga kemudian mengambil Snowball Globe miliknya dan keluar lagi dengan membawa miliknya. "Wow keren, pasti harganya mahal," celetuk Adisa lalu ia menutup mulutnya. "Haha nggak, santai aja apa Ca. Kamu juga biasa traktir aku ke tempat-tempat mahal, sekarang gentian," "Sisa tiga ya Ca?" "Iya nih, buka semua aja deh," ucap Adisa lalu mengambil totebag berwarna putih dengan tulisan I Fell For You and I'm Still Falling. "CA!" pangggil Haga dengan nada tinggi yang membuat Adisa tersentak kaget. "Itu bukanya besok aja atau nanti pas aku udah masuk. Buka yang lain dulu aja," lanjut Haga dan Adisa mengangguk. "Haga's Seaport?" tanya Adisa saat membuka lebar jaket hitam pemberian sahabatnya itu. "Iya, aku juga punya. Tulisannya Adisa's Seaport hehe," jawab Haga dan perasaan itu datang lagi. "OMG Ga please jangan mulai, lo mau kita dituduh pacaran lagi?" seru Adisa yang sekuat tenaga menyembunyikan rasa senangnya itu. "Kan kita bisa pake diluar sekolah, udah cepet buka satunya gue mau tidur!" "Buku diary?" "Iya, gue tau lo suka nulis diary kalau malem-malem gitu. Makannya gue beliin itu biar lo nggak nulis dibelakang buku terus. Yaudah Ca gue tidur dulu ya, ngantuk nih," "Haha dasar stalker! Oh iya Ga, thanks ya. Gue suka semua pemberian lo, motifnya bagus dan aesthetic. Thank you a lot Ga!" ucap Adisa dan Haga hanya mengacungkan ibu jarinya saja lalu ia masuk ke dalam kamarnya. Adisa kemudain membawa semua oleh-oleh tersebut kedalam kamarnya, dan akan merapihkannya besok siang. Sekarang ia ingin membuka totebag yang dilarang dibuka oleh Haga beberapa menit lalu. "Kira-kira apa ya isinya," gumam Adisa sambil membuka totebag tersebut. "Cuman cangkir tapi nggak boleh dibuka diluar, nggak waras," gumam Adisa lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD