"Ca, udah buka yang semalem?"
"Udah, cuman cangkir kan?" tanya Adisa dengan nada ketus.
'Serius? Dica nggak lihat tulisan didalam gelasnya? Oh My God Ca, gue udah deg-degan setengah mati lo malah nggak paham!' batin Haga lalu membuang napasnya kasar.
"Iya, cuman cangkir biasa kok Ca. Sekarang mau kemana emang?" tanya Haga yang sedikit kecewa kepada Adisa sambil menyalakan motor Ducati Scrambler Urban Enduro miliknya.
"Jalan-jalan aja yuk, bosen banget aku Ga dirumah. Nggak ada orang, sepi pula,"
"Emang kalau ada orang kamu mau ngobrol?" tanya Haga sambil memakai sarung tangannya.
"Nggak sih hehe," jawab Adisa sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Dasar! Yaudah pake dulu tuh helm kamu, baru kita berangkat,"
"Okey Mr. Griffin!"
"Mau kemana Ca? Yang jelas dong, kalau nggak jelas aku males nih,"
"Ke itu aja Ga, yang lagi tenar, HeHa Sky View,"
"Oh oke, yuk!" ajak Haga kemudian mereka berdua menaiki motor dan Haga langsung menjalankan motornya menjauhi pekarangan rumahnya.
"Haga, nanti mampir café dulu ya. Mau beli minum, haus aku," ujar Adisa ditengah-tengah perjalanan mereka.
"Yaudah, itu didepan café orang tua kamu. Mau disitu aja?" tanya Haga sambil menunjuk kedepan yang memperlihatkan plang yang bertuliskan Zest Coffe 121.
"Nggak mau ah! Yang lain aja Ga," ujar Adisa dan Haga mengangguk.
"Kenapa sih nggak mau disitu? Padahal enak loh menunya, toh bukan punya Oma dan Opa kamu. Itu punya Buna dan Ayah kamu kan," jelas Haga.
"Ya tapikan setelah mereka pergi yang urusin Opa sama Oma aku, kamu gimana sih. Aku tuh nggak suka kalau ketemu mereka diluar,"
"Ya ampun Ca, orang tua kamu sedih lihat anaknya kayak gitu ke nenek dan kakeknya,"
"Haga, stop it. Aku lagi nggak mau bahas itu sekarang, so please stop it."
Beberapa saat kemudian, Haga memberhentikan motornya di Sweetcake by Adhista.
"Ih sumpah lo tuh kenapa sih Ga! Gue tunggu diluar pokoknya," seru Adisa namun Haga menarik tangan Adisa dengan paksa.
"Loh tumben Ca, mau makan apa? Pilih aja sepuasnya yang kamu mau, sini masuk," ucap Zaki saat melihat Adisa dan Haga berada didepan toko.
"Iya, Dica ngajakin terus dari kemarin-kemarin dan baru sempet datang sekarang. Yaudah kita pilih-pilih dulu ya Om menunya," jawab Haga lalu mereka bertiga memasuki toko milik Adhista dan Diratama tersebut.
"Kalian pilih-pilih aja dulu menunya, Om siapin tempat duduk kalian dulu. Di rooftop aja gimana, mau?" tanya Zaki dan Haga mengangguk sebagai jawabannya.
"Oke, wait ya,"
"Udah lama saya nggak lihat Mbak Adisa, sekarang baru lihat lagi ternyata udah punya pacar ya," celetuk seorang keryawan yang sedang menghitung barang-barang persediaan toko tersebut.
"Bukan pacar," jawab Adisa ketus.
"Yaudah saya pesen minuman sama dessert box nya yang kayak biasanya," ucap Adisa.
"Yaudah samain aja kayak punya Mbak Disa ya Mas," sambar Haga lalu mereka berdua berjalan menaiki tangga menuju ke rooftop.
Adisa dan Haga kemudian duduk ditempat yang sudah ditata rapih oleh Zaki beberapa saat lalu. Haga duduk sambil melihat-lihat album foto yang memang disediakan disana untuk mengenang Adhista dan Diratama.
Haga membuka lembar demi lembar dari album foto tersebut, melihat foto-foto Adhista dan Diratama dari pertama mereka membangun usaha tersebut sampai mereka sukses mendapatkan penghargaan ternama di Indonesia, dan dicap sebagai pengusaha termuda pada masanya.
"Ca, ini ada kamu nih waktu bayi. Ini kamu kan?" tanya Haga sambil menunjuk sebuah foto dimana Adhista sedang menggunakan gaun berwarna biru dongker, Diratama menggunakan jas yang berwarna selaras dengan Adhista begitu juga bayi kecil yang digendong oleh Diratama.
Adisa hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Haga, namun jauh dilubuk hatinya ia marah dan juga senang karena akhirnya ia bisa kembali masuk kedalam toko milik orang tuanya ini.
Adisa kemudian mengambil satu album dari meja yang berada tepat dibelakangnya.
'Remembering our owner, Diratama and Adhista' Adisa membaca judul tersebut didalam hatinya sambil tersenyum tipis.
'Tempat ini berdiri pada saat pandemic Covid-19 melanda Indonesia, dan ini adalah café kedua milik Diratama dan Adhista. Mereka berdua merintis usaha ini saat umur mereka masih sangat muda, 21 tahun'
'Setelah sukses dengan usahanya yang pertama, Diratama menikahi Adhista beberapa minggu setelah Adhista lulus dari sarjananya, laki-laki yang gentle man kan?' Adisa tersenyum lagi. Jauh didalam lubuk hatinya itu, ia sangat bangga kepada kedua orang tuanya. Walaupun ia sendiri sudah lupa bagaimana rasanya memiliki orang tua.
'Hey, ini anak pertama kita yang bernama Adisa Fyneen Sarwapalaka. Semoga kelak nanti kamu bisa mengurus usaha ini ya sayang,' Adisa meneteskan air matanya, dirinya tak kuat menahan kerinduan atas orang tuanya itu.
"Loh nangis?" celetuk Haga saat melihat Adisa meneteskan air matanya.
Haga kemudian mendekatkan kursinya kepada Adisa dan memeluk sahabatnya yang lemah itu.
"Nggak usah pura-pura kuat Ca, gue tau lo itu nggak kuat," bisik Haga sambil terus memeluk Adisa.
"Gue kangen Buna gue Ga. Makannya gue tuh males kalau ke café punya Buna dan Ayah tuh gini, gue males lihat album photonya," jawab Adisa dengan suara yang terbata-bata.
"Ya nggak usah dilihat,"
"Ish! Nggak bisa!"
"Mbak Disa, ini pesanannya semoga suka dan selamat menikmati,"
"Thank you ya," ucap Haga kepada pelayan tersebut.
"Udah nggak usah nangis, malu ada CCTV. Nanti kalau dikasih lihat ke Oma sama Opa kamu gimana?"
"Nggak tau ah, males gue sama lo!" seru Adisa lalu ia mengambil tissue dan menghapus semua air mata yang tersisa diwajahnya.
"Ca, berarti lo nggak mau ke café orang tua lo karena ada album photo ini?" tanya Haga sambil memakan dessert box yang ia pesan.
"Salah satunya itu, tapi kadang ada Oma sama Opa jadinya males aja,"
"Tapi kan mereka di kantor Ca, bukan di tokonya kayak gini," jawab Haga lagi dan Adisa terdiam.
"Emang iya apa? Sok tau lo! Mereka tuh kadang kesini tau, mereka check check gitu Ga," jelas Adisa dan Haga tersenyum.
"Itu tau, berarti sebenarnya lo tuh perduli sama mereka cuman lo gengsi aja Ca. Besok-besok nggak boleh kayak gitu ya, kan udah sering gue bilangin," jawab Haga.
"Dih apaan! Orang gue dengar setiap sarapan atau makan malam sama mereka,"
"Gimana Ca? Makanannya enak kan? Sama kayak yang terakhir kali kamu makan nggak?" tanya Zaki yang tiba-tiba saja datang entah darimana.
"Terakhir kali aku makan itu umur sepuluh tahun, dan sekarang umurku lima belas tahun Om Zaki," jawab Adisa dan Zaki tertawa.
"Oh iya haha lupa, jarang sih kesini. Oh iya Ca, sebentar ya," ucap Zaki kemudian ia pergi menghampiri dua orang yang sejak tadi memperhatikan Adisa dan Haga didalam sana.
"Dia pacarnya?" tanya seorang perempuan dengan pakaian serba hitam, yang menggunakan kacamata dan duduk di kursi roda.
"Bukan, itu Haga sahabatnya dari kecil. Orang Canada dan mereka selalu satu sekolah dari TK sampai SMA," jelas Zaki kepada mereka berdua.
"Kita udah ninggalin mereka berapa tahun ya, sampai udah pada besar kayak sekarang. Kangen, terakhir aku lihat dia masih gangguin aku tidur, Dhis," jawab seorang laki-laki yang menggunakan baju serba hitam, kacamata, dan juga masker yang menutupi sebagian wajahnya.