Adisa 9

1052 Words
"Ga, mereka berdua creepy banget ya, pakaiannya serba hitam, pake kacamata, lihatin kita terus lagi," bisik Adisa kepada Haga sambil melirik laki-laki yang ada didalam cafe. "Pede banget lo Ca! Emang mereka lihatin kita apa? Bisa aja lihat awannya kok cerah banget hari ini, atau lihat ada pesawat terbang. Mereka punya mata, lagian lo tau darimana sih mereka lihatin kita? Kan mereka make kacamata," "Y-ya ya soalnya mereka daritadi lihatin kearah kita terus Ga," "Idih sok tau!" celetuk Haga sambil menonyor kepala Adisa. "Yeu dasar! Oh iya, kan lo habis lihat-lihat album fotonya Buna sama Ayah. Menurut lo gue mirip siapa?" tanya Adisa tersenyum sambil mengedipkan matanya dengan cepat. "Mirip siapa ya? Mirip Buna Adhis nggak. Tapi kalau Alex gue tau mirip siapa, Alex mirip sama Ayah kamu," jawab Haga dan Adisa langsung memalingkan wajahnya dari Haga. "Dih kenapa? Emang bener kok Alex mirip Ayah kamu," "Kan gue tanya gue mirip siapa, bukan Alex mirip siapa!" seru Adisa dan Haga terkekeh. "Kamu mirip sama Buna Adhis, namanya doang sih haha," ejek Haga sambil tertawa terbahak-bahak. "Nyebelin banget ya beneran, males ah!" seru Adisa lagi. "Sebentar, coba kamu lihat kearah aku deh Ca," ucap Haga dan Adisa menurut. "Oke wait, aku cari foto Buna Adhis sama Ayah Tama dulu," sambung Haga sambil membuka kembali album foto dari Sweetcake by Adhista itu. "Eum, kalau dilihat-lihat nih ya kamu mirip Buna sih. Mungkin kalau Buna masih ada, kalian bakal disebut-sebut kayak anak kembar," jelas Haga. "Emang iya ya? Aku udah lama nggak lihat wajah Buna, terakhir waktu umur dua tahunan. Kalau nggak ada album foto sama lukisan keluarga, mungkin aku udah lupa sama muka Ayah dan Buna, Ga," "Masa iya bisa lupa sih Ca? Oh iya, ini nggak jadi jalan-jalan?" tanya Haga yang makanannya sudah habis bersih sejak beberapa menit lalu. "Udah sore, masih mau kesana emang?" "Dih terserah kamu, kan kamu yang ngajakin," "Nggak usah deh. Duduk-duduk disini kayak sekarang seru juga ternyata," jawab Adisa. "Dasar! Tadi marah-marah aku ajak kesini," "Hehe," "Ca, main truth or dare eh jangan truth or truth aja yuk? Sekalian nunggu ini tutup biar nggak bosen," ajak Haga dan Adisa menggerakkan bola matanya ke segala arah, berpikir. "Boleh, gimana caranya?" tanya Adisa. "Kamu ada pulpen? Jadi nanti pulpen kita puter, misal pulpen itu berhenti dan arahnya ke kamu, nanti kamu jawab pertanyaan dari aku dan sebaliknya," jelas Haga dan Adisa mengangguk-angguk mengerti. "Ada pulpen nggak Ca?" "Nggak, minta ke kasir aja sana. Aku tunggu sini," suruh Adisa. "Mentang-mentang ini cafe punya orang tua kamu, aku yang disuruh-suruh. Dasar cewek!" gumam Haga. "Kan yang ngajakin lo!" seru Adisa membela diri dan Haga langsung berjalan menuju ke kasir. "Haga!" panggil Zaki saat Haga melewati mereka bertiga. Haga yang mendengar itu menengok dan berjalan kearah mereka bertiga. "Eh-- mau minjem pulpen kebawah. Kenapa Om?" "Oh nggak, yaudah sana kebawah aja," ucap Zaki dan Haga langsung melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga. Tak berapa lama kemudian Haga sudah datang dengan membawa satu pack pulpen yang membuat Adisa bingung dan terheran-heran kepada sahabatnya tersebut. "Heh lo mau jualan apa minta pulpen sebanyak itu?!" tanya Adisa saat Haga baru saja duduk didepannya. "Nggak lah gila lo! Ini tadi disuruh bawa aja sama mas-mas yang lagi rapihin bahan-bahan tadi. Terus udah aku bilang satu aja, eh dia malah maksa suruh bawa ini. Ya namanya rezeki Ca, nggak boleh ditolak, jadi gue terima," jawab Haga dan Adisa terkekeh. "Gila mantap-mantap! Buna harus bangga punya karyawan kayak dia," ujar Adisa yang masih tertawa. "Tawa mulu lo, gigi lo kering ntar!" seru Haga dan Adisa langsung menutup mulutnya. "Yuk mulai ya?" tanya Haga dan Adisa mengangguk sambil masih menutup mulutnya. Haga kemudian memutar pulpen tersebut dan— "Oke. Lo kasih pertanyaan ke gue," ucap Haga kepada Adisa. "Jujur ya!" "Iya bawel!" "Suka sama orang nggak sekarang? Maksudnya yang lo usahain banget biar she will be yours gitu. Ada nggak?" tanya Adisa. "Jujur ya?" tanya Haga dan Adisa mengangguk. "Ada, dan gue lagi berusaha banget biar suatu saat cewek itu jadi pasangan gue," jawab Haga. "Who's that lucky girl?" "Anak kecil nggak boleh kepo. Sekarang gantian lo yang putar pulpennya," ujar Haga. Adisa lalu memutarkan pulpen tadi dan pulpen tersebut mengarah ke Haga lagi untuk yang kedua kalinya. "Second questions for Mr. Griffin," ucap Adisa dengan kekehan. "Cewek tadi itu ada didekat lo, maksudnya circle pertemanan lo atau nggak? Kalau iya, itu circle rumah atau sekolah?" "Circle sekolah, dan lo nggak usah kepo ya Ca, nanti ngambek lagi sama gue," jawab Haga dengan senyum mengejek sambil mengangkat sebelah alisnya. "Pede banget! Udah cepet gentian lo," ketus Adisa sambil melempar pulpen tadi kepada Haga. "Oke, gue tanya ke lo ya," "Ca, kita kan udah temenan hampir dua belas tahun ya. Nah, apa yang bikin lo betah sama gue? Padahal kan lo cuek sama lawan jenis, sama adek lo aja cuek. Kok bisa-bisanya kita temenan selama ini?" tanya Haga. "Pertanyaan lo berbobot juga ya Ga," gumam Adisa. "Because I think you are a right person. Kayak lo tuh gue, ngerti nggak?" tanya Adisa dan Haga menggelengkan kepalanya. "Susah jelasinnya. Kayak karena kita udah temenan lama, jadi gue tau sifat lo, kebiasaan lo, kesukaan lo, seluk-beluk hidup lo, dan mungkin karena itu juga gue nyaman sama lo? Nyaman dalam artian sahabat ya, nanti lo salah tangkap lagi," jelas Adisa dan Haga mengangguk-anggukan kepala lalu tersenyum manis kepada Adisa. "Ca," "Hmm?" tanya Adisa dan suasana mulai berubah menjadi sangat hening. "Did you know, that I love you so much, more than anything, and I don't want you hurt. And because that I'll keep you," ucap Haga kepada Adisa sambil menatap dalam ke mata wanita yang sangat ia cintai tersebut. "Thank you Ga, I'm so lucky to be your friend. And love you to the moon and not coming back!" seru Adisa kemudian mencubit hidung mancung Haga yang membuat mereka berdua tertawa. "Udah ah! Nanti lo baper lagi sama gue Ca haha," celetuk Haga. "Yaudah gue kasih pertanyaan ke lo lagi ya," ucap Adisa dan Haga mengangguk. "Apa prinsip hidup lo?" tanya Adisa. "Menjadi orang baik, seenggaknya untuk perempuan yang ada didepan gue," jawab Haga dengan singkat yang mampu membuat Adisa tersipu malu. "Because you are my priority," "Dasar tukang gombal!" celetuk Adisa sambil tertawa. 'Andai lo tau Ca, gue nggak main-main sama kata-kata gue,' – Haga Griffin Kendrick Tyaga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD