Ibunya sudah lama pulang namun mata Kinan Tak bisa juga terpejam. pikirannya berkecamuk kemana-mana. Kinan memikirkan Dimas dan juga Putra sulungnya Heri. Kinan Tak habis pikir kenapa bisa Dimas membawa serta Heri.
Kinan tahu, dia habis memarahi Heri. menyakiti Heri. Tapi Kinan tak menyangka jika Heri benar-benar dibawa pergi oleh Dimas. Tak Ada Yang Bisa diandalkan selain Heri. setidaknya jika ada Heri, Heri bisa diandalkan untuk menjaga sang adik ketika dirinya harus berjualan.
"Kenapa Mas Dimas membawa Heri segala sih? aku habis marah dengan Heri. Herii pasti kecewa dan berpikir aku benar-benar membenci nya. nanti dia pasti sangat marah kepadaku dan kecewa kepadaku.Ya, dia pasti berpikir bahwa aku sama sekali tidak menyayanginya. ah.. Heri maafkan Ibu nak. Entah kenapa ibu tidak bisa mengontrol emosi ketika berada di hadapanmu. seolah Kau adalah tempat Ibu melampiaskan amarah ibu adalah kamu,"sesal Kinan kemudian.
pikiran kemana-mana tetapi tubuhnya bawah juga akhirnya kita pun tertidur ketika waktunya bangun Kinan Pun bangun dan menyiapkan dagangannya. tidak banyak yang bisa ia siapkan pagi ini. selain bahan yang tersedia tak banyak, juga Memang dirinya tidak ingin terlalu lama meninggalkan putri dan juga Nisa.
Rencananya pagi-pagi dirinya akan segera keluar rumah. Kinan tidak Mengunci pintu dan berpesan kepada Nisa dan Putri agar tetap diam di dalam rumah sampai dirinya kembali. Kiinan tidak lupa menyiapkan sarapan anak-anaknya dan melarang anak-anaknya untuk menyalakan kompor dan bermain api di dalam rumah.
Kinan juga tidak lupa memperingatkan tetangganya bahwa anak-anaknya berada di rumah dan dirinya sedang pergi. itulah yang selalu dilakukan setiap pagi Biasanya ada Dimas dan Heri jadi dia tidak perlu membangunkan tetangganya. namun kali ini dia benar-benar harus melakukan itu itu. Untunglah tetangganya pun sama-sama saling mengerti dan saling menjaga ketika mereka akan pergi berdagang. jadi sama sekali tidak ada ada halangan untuk membangunkan dan meminta tolong kepada tetangganya.
selesai azan subuh berkumandang Kinan pun segera membawa dagangannya untuk berkeliling dan menjajakan dagangannya di tepi tepi jalan sekitar rumah. sangat beruntung sekali pagi ini dagangannya cepat habis jadi sebelum pukul 6 pagi dirinya pun sudah kembali ke rumah.
"WAaah Mbak Kinan udah pulang aja. Emabg udah abis dagangannya Mbak?" sapa sang tetangga melihat kinan sudah pulang.
"Alhamdulillah udah habis teh. tadi emang nggak bikin banyak kok. Jadinya cepat habis juga. Makasih ya udah ngeliatin anak-anak saya. Saya masuk dulu Teh," ujar Kinan pamit kepada tetangga yang sudah ingin berjualan sayur mayur itu.
ketika masuk ke dalam rumah dilihatnya Nisa masih tertidur lelap di dalam kamarnya sementara Putri tidak ada tidak berada di samping Nisa lagi.
"itu Putri ke mana? Apa sudah bangun?" tanya Kinan seorang diri lalu melangkahkan kaki ke belakang Melihat Putri Ternyata sedang duduk di meja makan.
" Putri udah bangun Sayang? Kenapa diem aja? mau makan? "tanya Kinan lembut.
"Ibu udah pulang jualannya? Ayah mana Bu? Bang Heri ke mana? kok nggak ada Bu? Ibu bilang abang sama ayah ada di rumah. Ini sudah pagi kok mereka enggak ada juga Bu? biasanya Putri kan makan sama abang Heri disini. Bang Heri ke mana Bu?" Tanya Putri melihat ibunya dengan bingung.
"Ayah sama abang Heri sedang pergi sayang. Mungkin nanti mereka akan kembali. Putri doaun aja ya. semoga abang sama ayah cepet pulangnya,"bujuk Kinan lembut.
"Pergi kemana bu? kok nggak pamit?"tanya Putri polos.
"em.. em.. ayah pergi kerja di luar kota sayang. Abang Heri ikut,"terang Kinan lagi.
"abang nggak sekolah?"tanya Putri polos.
Kinan bingung harus menjawab apa pertanyaan dari Putri itu. Putri memang lebih banyak bertanya. Ia akan bertanya sampai keinginannya untuk tahu terpenuhi. Jika tak di dapat yang Ia ingin, Putri akan terus menerus menanyakannya. Jika ada yang melarang atau tak menjawab pertanyaan darinya, maka Putri akan diam, tapi sorot matanya akan memperhatikan sekelilingnya, hingga Ia tahu apa yang sepbenarnya terjadi.
"Abang Sekolah kok sayang. Putri tenang aja, Abang Heri nanti bakalan pulang kok sama Ayah. kita cuman harus nunggu mereka pulang saja. Abang Perginya sama Ayah jadi akan baik-baik saja. Ayah kerjanya sendirian dan merasa kesepian makanya ngajakin Abang Heri. Putri Enggak apa-apa kan ditinggal Abang Heri sebentar? Jangan terlalu dipikirkan tentang Abang sama ayah ya Nak. mereka akan baik-baik saja kok. kita pasti akan segera bertemu lagi dengan mereka berdua. Oke?"Ucap Kinan coba menjellaskan dengan memilih kata-kata yang kira-kira tidak membuat Putri bertanya lagi.
putrinya rasanya ingin bertanya lagi lebih dalam tetapi melihat wajah lelah sang Ibu, Putri pun memilih diam. biasanya setelah pulang berjualan ini sang ibu akan memandikan adiknya dan menyiapkan hal lainnya untuk kebutuhan mereka.
biasanya ibunya bahkan akan kembali menyiapkan bahan-bahan untuk jualan nanti. Biasanya setelah menjajakan kue pagi-pagi ibunya juga akan menjajakan kue di depan sekolah yang tak jauh dari rumah mereka.
kalau menjajakan kue ke sekolah biasanya Putri dan Nisa akan diajak ikut serta karena tidak ada orang yang menjaga mereka di rumah. dagangan itu juga biasanya sampai siang hari. Menunggu anak anak pulang sekolah.
sambil menyiapkan bahan kue untuk dibawa ke sekolah, Kinan juga menyiapkan anak-anaknya. Kinan memandikan Nisa dan Putri juga menyiapkan makan pagi mereka. setelahnya baru lah, Kinan juga membersihkan dirinya dan sarapan juga memasak jajanan yang akan di jajakannya ke sekolah. jajanan ini lebih mudah daripada kue harus dijualnya kwtika pagi-pagi. karena selain lebih murah rasanya juga harus manis. anak-anak lebih suka yang manis-manis.
Setelah semuanya siap barulah Kinanpergi. tidak lupa Menguncikan pintu, Kinam pun menggandeng kedua anaknya untuk ikut serta dirinya pergi mengais rejeki. hari baru pukul 8.20 pagi. masih cukup waktu sebelum anak-anak Istirahat jam pertama.
Belumlah jauh dari rumah, Tiba tiba Kak Erma datang dengan berlari lari.
"Kinan! Hosh.hosh hosh!" Kak Erna nampak ngos-ngosan berlari.
"Kenapa kak apa twaj terjadi sesuatu? ha? kenapa kak?" tanya Kinan tampak sangat khawatir.
"Iya Kinan iya. Apa kau mau pergi? baru saja Dimas menelponku. dia bilang dia sudah di perjalanan mau ke Jawa Tengah. dia bilang handphonenya mau dia jual jadi tidak bisa lagi menghubungi setelah ini. benar saja setelah ia mematikan handphonenya, aku terus menghubunginya dan tidak bisa lagi menyambung. aku dari tadi sudah ingin memintanya untuk bicara dulu denganmu baru menjual handphonenya. Aku bahkan sudah memintanya untuk tidak pergi. tapi dia sudah bener bener ngotot. ini kau liat sendiri ya. Log ini ada panggilan terakhir dari Dimas beberapa menit yang lalu. Aku sudah kucoba menelponnya berkali-kali tetapi tidak bisa menyambung lagi. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran anak itu,"Kak Erma nampak kesal.
Kinan meraih hape kak Erma dan mengecek seperti yang Ia katakan. Benar saja, nomer Dimas tak lagi bisa dihubungi. Kinan terduduk lemas, sementara Putri hanya diam memperhatikan. Telinganya mendengar apa yang budenya katakan barusan.
"Bude Bude! Apakah Abang Heri juga ikut pergi sama Ayah? kapan ayah sama abang Heri kapan akan pulang? Putri udah kangen sama abang Heri sama ayah juga," ucap Putri dengan polos menarik-narik ujung baju Bude Erma.
"Putri sayang. Aduh naj, maafin Bude Ya. Bude nggak tahu Abang Heri sama Ayah kapan pulangnya. Putri Yang sabar ya. besok kita coba lagi nelpon ayah. Nanti kalau sudah menyambung, Bude Segera cari Putri ya, biar Putri bisa ngomong sama Abang Heri. sama ayah juga. Sabar ya Sayang, "ujar Bude Erma sambil menggendong Putri.
"begitu ya Bude. beneran emangnya? terus Jawa Tengah itu jauh ya Bude?" tanya Putri penasaran melihat mata Budenya. Mencari jawaban atas rasa ingin tahunya. Sementara Kinan hanya menarik ujung bajunya menghapus tirik air yang sudah mulai jatuh.
"Iya Putri, Jawa Tengah itu lumayan jauh dari sini. Kesananya mesti naik bis. Putri yang sabar saja ya nak. Entah besok atau lusa, pokoknya Sebentar lagi kita pasti akan ketemu lagi kok sama ayah sama Bang Heri. Putri Yang sabar aja ya. Jangan sering sering nanyain Abang Heri sama ayah ke ibu kamu ya. ibunya nanti jadi sedih. Tuh.. liat tuh, lihat Ibu jadi nangis kan? Putri nggak mau Kan ibu nangis terus? jadi putri Enggak boleh nakal ya sayang?" Erna mengingatkan Putri.
Putri diam dan memperhatikan ibunya. Lalu meminta Budenya menurunkannya dari gendongannya. Seolah tahu rasa sesih sang ibi, Putri, anak berusia lima tahun itu memeluk sang ibu. Membuat air mata Kinan merasa malu untuk keluar.
"Kak, aku akan pulang kerumah ibuku. Katakan itu pada mas Dimas, jika besok lusa menghubungi kakak lagi,"kata Kinan.
Erma menganggukkan kepalanya. Meski ada masalah, Kinan ngotot jualan. Sayang jajanan yang sudah ia buat. Tubuhnya di depan dagangan, tapi pikirannya mengembara kemana mana. Berkali Putri mengingatkan dan.menyenggol lengan ibunya yang nampak melamun itu. Wajah polos putri, anak keduanya itu menghapus gelisah Kinan.
"Aku harus bangkit. Ada Putri dan Nisa yang harus aku besarkan. Dengan atau tanpa mas Dimas, aku akan bertahan, membesarkan mereka dan membuat mereka sama sepeti anak anak yang lainnya,"Ujar Kinan bersemangat lagi.