sepulang dari berjualan, hari sudah siang. adzan dhuhur pun sudah berkumandang dari masjid dekat rumah kinan. Kinan segera membasuh wajahnya dan mengambil air wudhu.
selesai melakukan kewajibannya Kinan pun segera menuntun anak-anaknya untuk membersihkan diri dan makan siang. setelahnya dirinya pun menyuruh kedua putrinya itu untuk tidur siang dan beristirahat.
"sekarang apa yang harus aku lakukan? anak-anak sekarang Sudah tidur. Haruskah aku ke rumah ibu dan menceritakan semua masalah ini kepadanya? aku rasa itu bukan pilihan yang tepat. tapi bagaimana ya? hari akan semakin berganti. dari hari ke hari pasti aku juga kan butuh biaya hidup. Aku bisa membiayai hidupku sendiri dan juga anak-anak. tapi bagaimana dengan uang kontrakan? dan juga uang kredit motor Mas Dimas? dia pasti akan datang lagi beberapa hari ini. aku yakin itu. uangnya juga tidak sedikit. Mana mungkin aku bisa mengusahakannya. ya Allah apa yang harus ku lakukan,"tanya Kinan seorang diri.
Kinan kemudian memutuskan kerumah sang ibu. Bukan untuk menceritakan masalahnya. Hanya meminta izin tinggal dirumah sang ibu sementara waktu. Ya rasanya akan lebih baik itu yang dilakukan. Daripada langsung datang dan membawa seluruh barangnya kerumah sang ibu. Ibunya pasti akan langsung tahu jika Kinan dan Dimas sedang ada masalah. Kinan tak ingin ibunya makin membenci Dimas. Kinan masih akan menunggu. Setidaknya seminggu ini. Mungkin saja akan ada kabar dari Dimas.
"Aku rasa akan lebih baik aku kerumah ibuku sementara waktu ini, mengajak anak-anakku. setidaknya bisa menghemat pengeluaran ku untuk beberapa waktu. Uangnya bisa aku gunakan untuk membayar kontrak an bulan ini. Setidaknya itu adalah hal paling baik yang bisa dilakukan, mengingat aku juga masih menunggu mas Dimas ada kabar. Semoga saja dalam minggu ini akan ada kabar dari mas Dimas. Hah aku masih tak mengerti kenao dia harus sematah itu, apalagi kabur sejauh itu. Benar bener keterlaluan sekali rasanya. Tega sekali dia,"sungut Kinan kesal.
Kinan segera melangkahkan kakinya menuju rumah sang ibu yang nampak sepi itu. setelah mengucapkan salam, dirinya pun segera membuka pintu yang memang tidak terkunci itu, Lalu masuk ke dalam rumah. rupanya sang Ibu sedang berada di dapur dan sedang mencuci pakaian.
"ibu lagi sibuk?" sapa Kinan yang langsung berdiri di samping sang Ibu.
"nggak Ibu lagi sempet buat nyuci aja. kemarin-kemarin rasanya males banget rasanya mau nyuci. Jadinya malah numpuk cuciannya," jawab sang ibu tanpa menoleh ke arah Kinan, kemudian beralih menjemur pakaian. Kinan pun turut serta membantu Sang ibu menjemur pakaian.
" Kok banyak banget pakaian nya bu? bajunya siapa aja emangnya? Ini kan bukan punya ibu. Baju mas Dewok dan anaknya ya?"tanya Kinan langsung.
Mas Dewok kakak pertama Kinan yang sudah bercerai. Biasanya sang anak juga suka di titipkan dirumah. Usianya juga tak berjauhan dengan Heri. Tapi biasanya Dewok akan mengantarkan pakaian kotornya ke laundry.
"Iya pakaiannya si dewok sama anaknya. mending duitnya buat ditabung aja Kinan daripada buat Bayar laundry terus. atau mending buat hal yang lainnya aja. buat beli beras kek atau apa. satangkan dari pada tiap hari mesti bayar laundry-an pakaian kayak begini. mending ibu aja nyucinya. Ibu bisa kok nyuci pakaian ini. dan Lagian nggak banyak juga kan. udah kamu nggak usah protes apalagi banyak comment" ujar sang ibu kemudian masuk ke dalamnya.
"bukannya begitu Bu. anaknya Mas Dewo kan perempuan. udah besar juga kan se usia Heri. Harusnya juga bisa membantu ibu untuk sekedar mencuci pakaian seperti ini. Ibu surih membilas atau menjemur kan bisa bu. Ibu harusnya bisa mengajari untuk Mandiri. dia kan perempuan harus bisa urusan dapur dan juga sumur juga. jangan terlalu dimanjakan bu anaknya si Dewok. mentang-mentang Mas Dewaok suka memberi Ibu uang,"kata Kinan menasehati.
"kamu ini kok malah nasehatin Ibu? bukannya begitu Kinan, tapi kan bunga lagi banyak kegiatannya. dia lagi banyak les dan private sana sini nggak sempet buat nyuci dan bantuin ibu di dapur. lagian udah bener kok si dewok ngasih Ibu uang. daripada si dewok mesti gaji orang buat bersihin rumahnya, masakin dia apalagi buat laundry pakaiannya. kan banyak itu Kinan? mendingan uangnya buat ibu kan? jadi uang itu bisa gunain hal-hal yang lainnya?," Ibu Kinan menjelaskan.
"Oh begitu rupanya. Ya sudah terserah Ibu saja. Kinan Hanya mengingatkan saja kok bu. takutnya ibu malah kelelahan dan sakit karena terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah. Kinan Hanya tidak ingin ibu jadi jatuh sakit saja bu,"kata Kinan sambil memijat sang ibu.
"iya iya. anak-anakmu mana? Heri Bagaimana? ikut suamimu malah harus pindah sekolah kan? Begitu malah bikin tambah repot saja. si Dimas itu bagaimana sih jadi orang tua. tak pernah punya otak. makin kesel kalau ingat suami mu itu kinan,"keluh sang Ibu.
"Nisa sama Putri tidur bu dirumah. Kinan rencananya mau tidur disini saja ya bu sementara waktu. Rumah rasanya sepi. Apalagi malem. Kinan jadi nggak bisa tidur nyenyak,"Kinan mencari alasan.
"Ya terserah kamu saja. Baguslah kalau kamu mau disini. Ibu juga ada temennya. Rumah jadi rame. Kalau cuma kamu sama anak anak ya bagus. Jangan saja sama Dimasnya. Ibu risih. Bawa saja barang barang kamu ke sini, nghak terlalu banyak kan? Daripada harus bayar kontrakkan juga lan?"tanya Ibu Kinan.
saran dari sang Ibu u benar-benar menjadi angin sejuk dihati kinan. Kinan ingin rasanya dirinya langsung mengiyakan dan langsung pindah hari itu juga. tapi dirinya sadar diri. Kinan masih harus menunggu dimas dulu selama beberapa hari ini.
Tapi kinan masih memiliki pengharapan bahwa dimas akan pulang ke rumah. Dan rumah tangganya akan kembali baik-baik saja. jadi Kiman pun beralasan akan menunggu beberapa hari lagi. baru dirinya pindah dan membawa seluruh barangnya ke rumah sang Ibu.
"Wah kalau itu nanti-nanti saja Bu bawa barang-barangnya. Menurut Kinan kalau untuk sementara ini, mending bawa badan sama pakaian aja sedikit. Kinan juga nggak enak juga sama yang punya kontrakan," ujar Kinan beralasan.
"Kamu aneh. Kenapa mesti nggak enak sama yang punya rumah? Lah kamu tinggal bayar dikit aja kan? misal baru setengah bulan kamu dari bayar, ya bayar setengah nya aja uang kontrak an kamu itu. gamang to? apa jangan jangan kontrak an kamu juga udah nunggak begitu? makanya kamu nggak enak langsung pindah, mau pindah nggak bayar kuga nggak begitu?"tebak sang Ibu dengan benar dan mengena sekali.
"Wah ibu emnag hebat. Tanpa aku katakan langsung tau. Iya bu, aku kuga nggak tau uang kontrakan udah dilunasi mas Dimas semua apa belum. aku nggak sempet nanya kemarin. Mas Dinas udah matah marah aja dan sekarang malah pergi, aku nggak tau bu,"ujar Kinan dalam hati dan benaknya sendiri.
"Kamu kok malah melamun Kinan? Kinan Kinan, mbok ya jangan kayak orang yang banyak pikiran, banyak hutang dan banyak masalah begitu. Cepet tua dan keriput nanti kamu. Ya sudah nanti ibu bantu bayar kontrakan kamu. Jangan terlalu berpikir keras. Selama suami kamu nghak ada, makan aja dan tinggal sama ibu. Ibu ini masih bisa kok nafkahi kamu sama anak kamu. Tapi kalau Dimas udah pulang, jangan harap suamimu itu ibu izinin tinggal disini juga. Ogah ibu,"kata Sang ibu.
Kinan hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan sang ibu.