6. IBU BERJUANG SENDIRI

1330 Words
tiba-tiba saja Putri terbangun dari tidur siangnya. Putri memanggil sang ibu, tetapi sang Ibu tidak juga menyahut. "Ibu! abang Heri! Ayah! bu ke mana? "Panggil Putri lagi menuju dapur lalu membuka pintu belakang, namun tak di dapati juga sang ibu. "Ibu ke mana sih? apa Ibu ke tempat nenek ya? Apa Ke tempat Bude Erma lagi?" tanya Putri seorang diri lalu membuka pintu depan celingak celinguk mencari sang ibu. "aku masuk lagi sajalah nemenin Adik Nisa. nanti Dek Nisa bangun nyariin Ibu juga," pikir Putri lalu kembali ke kamarnya. tidak berselang lama kemudian Kinan pun kembali tanda Kitty Putri pun segera bergegas menyambut sang Ibu. benar saja yang membuka pintu adalah sang Ibu. "ibu! ibu dari mana?" tanya Putri memeluk sang ibu Kinannti. "Putri udah bangun ya? maaf ya tadi pergi sebentar. Ibu tadi ke rumah nenek. Putri udah lama bangunnya?" tanya Kinan lembut kemudian mengajak Putri duduk di ruang tamu. "Enggak kok Bu Putri baru aja bangun terus nyariin Ibu ke belakang nggak ada terus juga Buka pintu depan dan nggak ada baru balik lagi ke kamar nemenin dik Nisa,"kata Putri menjelaskan. "Oh begitu ya sayang. Putri mungkin Putri memahami kalau sekarang Ayah sama Bang Heri nggak ada. kemarin Putri juga tahu kan kalau ayah sama ibu sempat bertengkar dan kita pulang ke rumah nenek. mungkin nggak seharusnya mengatakan ini kepada putri tetapi mungkin akan lama kita bisa bertemu ayah dan juga abang Heri lagi. Nah, sepertinya ibu pikir untuk sementara waktu ini lebih baik kita ke rumah nenek saja. iya Sementara sih mungkin juga akan selamanya. kita sama-sama berdoa saja ya, semoga ayah dan abang Heri cepat pulang. Jadi kita bisa berkumpul lagi. maaf ya Putri Ibu bicara seperti sama Putri padahal Putri masih kecil,"Kinan mengelus kepala Putri tengahnya itu. "apa Ibu mau pisah sama ayah ya Bu?" tanya Putri polos. "nggak sayang Ibu berharap sama sekali nggak berpisah sama Ayah kamu. Ibu memang kesel sama Ayah kamu tetapi Ibu berharap ini bukanlah perpisahan. Ibu masih berharap Ayah kamu bakalan pulang lagi. toh ini pula pertama kalinya kami bertengkar hebat seperti ini,"Kinan mebghela nafas berat. "sebenarnya Putri, Ibu kecewa sama Ayah kamu. kenapa Ayah harus pergi ke luar kota seperti ini dan menghindari Ibu. seharusnya ayah bisa menyelesaikan masalah dengan Ibu baru pergi. Jujur saja Ibu sangat kecewa dengan ayah. tapi ya sudahlah. mungkin Ayah lagi pusing juga. kita sama-sama berdoa saja ya sayang, Semoga masalah ini cepat berlalu. jadi sementara waktu ini Putri dan adek, ikut ibu ke rumah nenek saja ya. Oh ya, nenek sama sekali nggak tahu kalau ibu sama ayah lagi bertengkar. Nah, jadi putri, ibu minta sama kamu, kamunya diam aja ya Nak, "pesan Kinan kemudian. "Iya Putri bakalan nurut kok Bu. Bu, Putri minta maaf Putri ya Bu, Kalau Putri banyak ngerepotin ibu," Putri memeluk sang Ibu. Pengakuan maaf Putri benar benarmembuat Kinan benar-benar terharu. Bagaimana mungkin anak sekecil Putri sudah meminta maaf dan merasa sudah merepotkan sang Ibu. Putri masih kecil baru berumur 5 tahun tetapi sudah mengatakan maaf kepada sang Ibu. pengajuan Putri benar benar membuat kinan terharu dan meneteskan air mata. setelah mengucapkan itu Putri dan Kinan kemudian membereskan pakaian yang nanti akan mereka bawa ke rumah nenek. meskipun di dalam hatinya, Putri masih ingin bertanya kepada sang Ibu, pergi ke mana Ayah dan juga abang Heri nya. putri Ingin menyusul mereka. tetapi bukan berarti meninggalkan sang Ibu. Putri ini membujuk sang ayah, agar sang ayah bisa pulang dan kembali ke rumah mereka. setelah membereskan pakaian dan setelah Nisa bangun, ketiganya pun melangkahkan kaki menuju ke rumah ibunya Kinan, nenek Putri. mereka sama sekali tidak membawa pakaian banyak, hanya satu tas aja berisi pakaian Kinan dan juga dua putrinya. sebelum melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya, Kinan kembali berdoa semoga besok ataupun bisa suaminya dan juga anak sulungnya akan pulang kembali ke rumah mereka. Putri, setelah hari itu saat Ibunya memutuskan untuk tinggal bersama sang nenek sementara waktu sambil ayah mereka kembali, benar-benar bisa melihat bahwa ibunya benar-benar bersusah payah mencari nafkah untuk mereka bertiga. selama ini Putri pikir Ibunya hanya mencari uang jajan mereka saja. ibu mereka yang paling suka mengajak anak-anaknya jajan. bukan hanya bakso, Tetapi semua abang jualan yang lewat pasti akan dipanggil ibunya. mereka pasti akan menyantap jajanan yang lewat di depan rumah mereka. tidak hanya itu mereka juga suka sekali jajan ke warung dan memborong banyak jajanan. Kinan sama sekali tidak pelit kepada anak-anaknya jika ingin jajan atau apa. "Kinan Kamu sudah siap?" tanya sang ibu ketika pagi Kedua mereka tinggal bersama sang nenek. Putri yang sudah bangun sayup-sayup mendengar sang nenek bertanya di depan pintu kamar mereka. "Iya Bu. Kinan udah siap dari tadi kok. ini tinggal berangkat aja. Kinan ini baru aja nengokin anak-anak, mereka belum ada yang bangun kok," ucap Kinan menjelaskan. "kalau udah siap kan berangkat aja lebih pagi lebih baik. makin pagi makin banyak rejeki yang datang pada anak-anak jadi tinggal aja sama ibu, Lagian juga ibu nggak ke pasar hari ini, nanti aja rada siangan aja,"kata sang ibu. "Baiklah Bu kalau begitu kinan mau berangkat dulu. titip anak-anak ya. biasanya Putri lebih cepat bangun daripada Nissan. Mungkin sebentar lagi Putri bakalan bangun Bu, "ujar Kinan menjelaskan... "Iya Iya iya, kamu pergi aja. nanti Ibu bakalan jagain Nisa dan juga Putri. Kamu nggak perlu khawatir. jualan aja yang bener, hati hati, suka banyak motor yang ngebut walau masih subuh begini,"kata sang ibu mengingat kan. Kinan pun mengangguk patuh kepada sang Ibu lalu mencium punggung tangannya dan segera berangkat. Kinan tidak lupa Mengucapkan bismillah semoga Allah meridhoi langkah kakinya mengais rezeki untuk dirinya dan anak-anak pagi ini. Kinan, orangnya tidak pernah mengeluh. dari kecil dia sudah terbiasa mengais rezeki nya sendiri. meskipun ayah dan ibunya dulu adalah orang yang cukup mampu, tetapi Kinan selalu ingin Mandiri. meskipun sekarang juga sudah menikah dan berumah tangga, Kinan pun tidak suka berpangku tangan. dia orang yang boros karena itu dirinya tidak bisa diam saja ketika tidak memiliki uang. karena itu Kinan paling suka mencari uang dengan caranya sendiri. Meskipun begitu dia juga ingin diberi uang oleh sang suami ataupun sang ibu saat masih single dulu. setelah mengetahui sang Ibu sudah keluar dari rumah sang nenek, Putri pun segera mengintip sang Ibu dari kaca di jendela kamarnya. nampak sang ibu sudah berjalan ke tepi jalan menjajakan kue-kuenya. dari mulutnya terucap "kue-kue! Kuenya Kinanti Bu,"panggil Kinan. rasa dan aroma kue Kinanti sudah tersebar luas di komplek perumahan mereka. meskipun Kinan tidak sampai harus berputar di area RT Rt tetangga, tetapi jajanan Kinan selalu laris. apalagi Kinan selalu pedagang pagi-pagi. ter lebih lagi, banyak orang-orang lanjut usia yang paling suka makan jajanan kue Kinanti. Menurut mereka, rasanya sangat pas di lidah mereka. jadi Kinanti sudah memiliki langganannya sendiri. jam berapa Kinanti akan berada di Jalan, mereka sudah menanti-nanti dari tadi. bahkan dari jauh Kinanti bisa melihat para pelanggan yang sudah berdiri di pinggir jalan menantikan dirinya datang membawa kue-kue yang sudah menggugah selera itu. "Ayo buk, kuenya Bu, diborong,"ujar Kinanti pada pelanggan pertama yang Ia temui pagi ini. sang pelanggan hanya tersenyum kemudian memilih beberapa kue. cukup banyak yang memiliki selalu membayar kepada Kinanti membuat Kinanti cukup senang karena sudah cukup banyak kue yang laris. setelah pelanggan pertama ia dapatkan, kinati Makin bersemangat menjajakan kue-kuenya. "kue kue kue! kuenya Kinanti Pak! kuenya si Kinanti Bu! enak sedap manis Bu. gurih Mantap Pokoknya. Ayo ayo Pak Buk, mari.mari Bu di beli," ujar Kinanti meneriakan dagangannya pagi ini. Tanpa lelah Kinanti terus meneriakkan dagangannya. Hingga dagangannya habis barulah senyum lebar menggembang di wajahnya. "Alhamdulillah, daganganku laris. Semuanya habis,"kata Kinan tersenyum menatap bakul dagangannya yang sudah kosong. Kakinya terasa ringan berjalan pulang ke rumah. Lagi lagi Kinan menepi dirumah kontrakkannya. Mengecek apakah Dimas atau Heri sudah pulang. Dimas, sang suami juga memiliki kunci serep rumah mereka. Kinan masih berharap, sang suami akan reda marahnya, berubah pikiran dan kembali pulang. Demi dirinya, dan anak anak. Tapi sepertinya lagi lagi, Kinan kecewa. Dimas belum juga kembali. Kinan berharap, nanti bisa menemui kak Erma, kakak iparnya. Tujuannya sana, berharap Dimas memberi kabar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD