sudah 7 tahun sejak perpisahan Dimas dan Kinanti. kehidupan pun berjalan seperti biasanya Tidak ada yang berubah dari Kinanti tapi dia selalu bersemangat setiap paginya mencari rezeki dari sang Ilahi. dan mulutnya tak pernah mengeluh tentang apapun yang telah digariskan Ilahi bentuknya. Kinan selalu tersenyum untuk apapun yang telah Ia peroleh hari ini pun melihat anak-anaknya tumbuh dengan sangat baik dan. Putri pertamanya tumbuh dengan sangat lincah dan juga ceria pun Nisa Nisa juga menjadi anak yang baik apalagi Beni sekarang yang sudah duduk di kelas 2 SD. membuat kita bahagia meskipun tanpa seorang suami.
Namun siapa yang menyangka jika 7 tahun sudah menjadi seorang janda tidak pernah sekalipun terpikir dalam benak Kinanti untuk menikah lagi. selama 7 tahun seorang diri menafkahi anak-anaknya tidak pernah dia berpikir untuk mencari pengganti Dimas.bukan bukan tidak ingin menikah lagi, tetapi Kinan berpikir untuk apa memikirkan tentang cinta jika pada akhirnya cinta kembali menyakitinya.
yakin nanti pernah gagal mencintai dimata S cintanya begitu besar untuk Dimas sejak masa SMA. mereka berpacaran selama sekolah di Sekolah Menengah Atas lalu kemudian melanjutkan kisah cinta mereka setelah Tamat sekolah. sama-sama mencari jalan untuk memperoleh pekerjaan mereka saling menyemangati saling menguatkan satu sama lain hingga akhirnya saling mendukung untuk memperoleh restu dari kedua orangtua masing-masing. namun pada akhirnya cinta itu juga menyakiti Kinan menyakiti tubuh dan juga perasaannya hingga kini benar-benar kecewa atas cinta yang telah dipilihnya.
Kinan tidak menyalahkan siapapun atas perpisahan yang sudah ia alami 7 tahun ini. tetapi kita hanya merasa takdir terkadang begitu kejam untuk dirinya tanah titik Bagaimana mungkin cinta yang begitu kuat saat remaja dulu kini terbang entah kemana. terkadang berpikir bagaimana emosi seseorang benar-benar tidak terkendali hingga akhirnya perpisahan maka terjadi. andai saja diMas bisa menahan dirinya. andai saja Kinan tidak pergi malam itu.
Namun nyatanya, berandai-andai tidak akan pernah mengubah apapun. Kinan berusaha melupakan semuanya. toh saat ini ia dengar Dimas sudah bahagia dengan kehidupannya saat ini. lantas untuk apa dirinya Masih memikirkan masa lalu?
"sudah 7 tahun berlalu Apakah Sekarang sudah saatnya Cinta itu datang?" tanya Kinanti saat bercermin. diatas Tuliskan sebuah Lipstik merah menyala ke atas bibirnya taniti memakai bedak dan kemudian tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.
yakin nanti saat ini tengah bercermin dan memperbaiki wajahnya. sudah bertahun-tahun ini dirinya mau pakai lipstik dan juga bedak untuk wajah nya. beruntung memang wajahnya ya memang Ayu dari lahir jadi tidak perlu selalu dipoles lipstik dan juga bedak. namun akhir-akhir ini Kinanti nampaknya tengah berbunga-bunga dia selalu memoleskan lipstik dan juga bedak tipis ke wajahnya agar terlihat lebih manis katanya.
Bagaimana tidak, ada seorang duda beranak 2 yang selalu datang dan menunggu Kinanti saat siang hari. namanya riga. sejujur-jujurnya itu adalah tetangga Kinanti saat masih bersama Dimas dahulu. sudah setahun ini dia menjadi duda karena istri pertama yang sudah meninggal dunia.
Kinan Bukannya tidak tahu tentang perasaan nyeri gak punya untuknya. dari cara bicaranya dari gaya nya ketika datang dan tutur katanya untuk Kinan Kinan bisa membaca bahwa pria itu Tengah menanti dirinya. namun Kinanti bukannya remaja 17 tahun namun dirinya adalah seorang ibu dengan 3 anak di sisi-nya. yang selalu memikirkan anak-anaknya Bagaimana jika dirinya menikah lagi karena itulah Kinan takut untuk jatuh cinta lagi.
kegagalan rumah tangga saat 7 tahun yang lalu selalu terbayang bayang di wajah Kinanti. bukan hanya amarah dari sang ibu dan kakak tertuanya saja yang selalu terbayang di wajah Cina tetapi juga rasa kecewa didalam dadanya.
"Aku adalah seorang ibu yang harus selalu mengutamakan anak-anakku tanah terutama anakku ada tiga Bagaimana mungkin seorang pria mau menanggung 3 anak dan seorang perempuan lagi di rumahnya? sedangkan diri sendiri sudah memiliki 2 orang anak masih kecil sudah remaja dan 1 sudah menikah tapi bagaimana mungkin buntut ku ada tiga dan Maukah dia menerimaku? lantas baikkah dia nanti kepada anak-anakku? anakku pun bahkan sekarang sudah beranjak remaja putri sekarang sudah SMP dan sedang dalam masa puber nyatane. Aku malah takut Bagaimana suami baru kunanti memperlakukan Putri dan Nisa yang tengah Puber itu ternyata Aku malah takut jangan-jangan bukan aku ya Iya Insya tetapi Putri Dan Nisa," itulah yang selalu menari di dalam benak Kinanti.
ya bagaimana tidak Kinanti menghawatirkan Putri dan Nisa nanti dua anak gadisnya itu sudah remaja nampak cantik dan ayu seperti Kinan saat remaja dulu. Putri berbadan tinggi besar seperti ayahnya. wajahnya Ayu seperti ibunya. sedangkan Nisa tubuhnya gempal seperti budenya seperti sang Ibu namun memiliki paras yang tak kalah ayu dari sang kakak.
"Dek Kinan pesan nasinya satu ya, Jangan lupa Senyum manisnya sekalian dibungkus ya biar Akang selalu ingat saat nanti di rumah biar tambah sedap itu ngasih," goda Riga saat memesan nasi bungkus di siang hari.
Kinan hanya diam dan tersenyum tak menanggapi ucapan Riga. untuk Kinanti kata-kata seperti itu sudah tiap hari ia dengar bahkan dari p****************g lainnya yang suka nongkrong di warung nasi nya dan Titi nama ucapan dari hingga penuh makna untuk Kinanti meskipun hanya bercanda ditelinga orang-orang tetapi dirinya tahu dia serius untuk ucapan itu. terkadang diam dan senyum-senyum sendiri setelah Riza pergi dan titik dan ada seorang yang selalu memperhatikannya putri. putri memperhatikan sang Ibu bahwa ibunya bahagia digoda oleh Riga.
ini adalah malam minggu Kinanti nampak Tengah bersiap untuk pergi. dari tadi dia tak henti-hentinya menatap cermin. berganti pakaian dari yang satu ke yang lainnya. dari yang merah hingga yang ungu, yang pink dan yang biru. entah yang mana yang cocok untuk dia pakai. dia nampak gusar memilih pakaian yang pantas untuk Iya gunakan malam ini.
"Duh pakai yang mana ya?" Tanya Ki nanti seorang diri. Putri yang membaca novel remaja yang ia beli tadi nampak bertanya-tanya sedang apa sama ibu yang nampak gusar dengan pakaian yang telah Ia obrak-abrik satu lemari itu.
Putri bukain tidak tahu ibunya sedang Kasmaran tetapi dirinya tidak ingin mengganggu saat ibu ataupun penjelasan Ibu. Putri pura-pura tidak melihat apa yang telah dikerjakan sang Ibu dan melanjutkan membaca majalah. sang Ibu pun sama sekali tidak menunggu Putri atau pun meminta pendapatnya pakaian mana yang terbaik untuk dia pakai.
hingga akhirnya Kinanti memilih pakaian berwarna hijau yang nampak manis ia kenakan dan setelah nampak pas dengan apa yang ia Pilih Dia pun bertanya kepada putri yang nampak asik dengan majalahnya.
"gimana Putri menurut kamu? Ibu cantik nggak? ini Udah pantas belum? "tanya Ki nanti pada akhirnya meminta pendapat pada Putri.
Putri pun kemudian menoleh kepada sang Ibu pura-pura mengamati dari atas ke bawah Memutar tubuh ibunya lalu mengangkat tangan kemudian juga menyuruh Berputar Kembali lalu berkomentar.
"Ibuku udah cantik banget. sangat pas dengan pakaian yang Ibu pilih bikin Ibu nampak manis gaya remaja 17 tahun. make up nya juga udah pas banget kok nggak terlalu tebal dan nggak menor Tanti Ibu pintar kalau dandan. putri malu juga diajarin ke ibu. parfum Ibu juga wangi nggak terlalu menyengat Ibu bener-bener pintar. ibu mau kemana sih? udah cantik aja?" tanya Putri pada akhirnya.
"Nggak kemana-mana kok Bu cuman mau pergi sebentar sama teman," jari Kinanti kemudian berpamitan kepada ketiga anaknya dan juga sama ibunya.
"Kamu mau ke mana Kinan malam-malam gini? mau kondangan?" tanya ibu.
" Enggak kok Bu cuma mau ke rumah teman aja sebentar tadi ada acara katanya di rumahnya.teman teman mau ke sana udah lama nggak ketemu, "ujar Kinanti kemudian.
Suri yang nampak mengangguk kemudian nampak cuek dan kembali menonton acara sinetron di televisi bersama dengan Beni.
Kinanti pun kemudian pergi menemui seorang yang telah menunggunya karena. mereka pun pergi berdua. mengendarai sepeda motor yang sudah nampak tua itu. keduanya nampak bahagia dengan waktu yang bisa mereka nikmati berdua itu.
pukul 10 malam Kinanti pun pulang ke rumahnya. ketika buka membuka pintu didapatinya ibunya surya dan Beni Tengah tertidur di depan televisi masih menyala karena. sementara di kamar Nisa dan Putri itu Sudah tertidur juga. Kalau Beni, Ia memang suka tidur bersama dengan sang nenek di depan televisi. sementara Nisa dan Putri akan tidur di kamar bertiga dengan sang ibu.
"Putri Nisa apakah ia akan menerima kalian berdua? Apakah kamu berdua akan baik-baik saja jika ibu memilih langkah ini? Ibu nggak tahu apakah ini benar atau nggak tapi ya ya sudah nikmatin saja dulu. Huft, Putri, Nisa, maafkan Ibu ya nak," Kinanti mengelus pelan kepala Putri dan Nisa.