19. TAHUN TAHUN SULIT AYAH

1742 Words
setelah bercerai dengan istri keduanya Dimas pun pergi kembali ke kota dirinya sementara waktu tinggal bersama dengan kakak iparnya dan juga kakaknya Danu dan juga istrinya ermalia. sebenarnya Dimas tidak ingin tinggal bersama sang kakak ipar namun dirinya tak punya pilihan lain mengingat isi dompetnya yang tinggal beberapa lembar. Sementara sudah berhari-hari ini dirinya mencari pekerjaan belum juga mendapatkan pekerjaan. Dimas sudah kesana kemari mencari teman-temannya mungkin teman-teman yang punya pekerjaan untuknya. namun hingga hari ini pekerjaan itu belum juga tiba untuknya. "daripada kamu repot-repot cari pekerjaan kesana kemari kenapa kamu nggak ikut bapak kamu kok saya jadi Mas? Lagian Kakak kamu juga perlu asisten di pekerjaannya. kamu tahu sendiri kan di kampungnya itu ada banyak orang yang meminta tolong sama dia. selesai dari pekerjaan satu ada lagi minta pekerjaan sama dia cantik tapi ya itu Kakak mau pulang pergi dari sana kemari jadinya kalian subuh-subuh sukain berangkat ke sana terus malam-malam suka ke sini lagi. Tapi ya kalau kakakmu ya begitu pulang pergi dari sana ke mari l. tapi kalau kamu mau tinggal di desa sana ya Nggak apa-apa lagian banyak kenalan dan Jiran tetangga kita dulu di sana kalau kamu mau, "ucap irmalia menyuruh Dimas untuk ikut suaminya bekerja saja daripada belum dapat pekerjaan. "Ya kak.. Ntar lah Kak Lia aku pikir-pikir dulu Kakak tahu sendiri lah aku kadang soal pekerjaan suka nggak akur sama Kak Danu. takutnya malah hubungan kita malah tambah nggak akur gara-gara pekerjaan ini. kakak tahu sendiri lah aku pekerjaan Seperti apa dan abang kerjanya Seperti apa. Ya nanti sajalah aku pikirkan lagi kak, "tolak Dimas dengan halus. "Ya terserah kau sajalah Dimas Yang penting Kakak sudah memberikan Kau saran. daripada kau ungkang ungkang kaki seperti ini di rumah dan gak ada kerjaan yang Kau kerjakan bukan? ya mending ikut Kakak mu itu udah pada nggak ada kerjaan enggak nyangka kamu punya penghasilan dan bisa beli rokok sendiri kan? hari juga butuh biaya Dimas jadi pikirkan juga itu," ujar armalia mengingatkan kembali. "karena dia benar juga daripada aku hanya tidur-tiduran di rumah sambil menunggu teman-teman menghubungi aku bisa ikut kak da anu dulu. kak dulu pasti juga sebenarnya nggak suka melihat aku numpang hidup seperti ini di rumahnya. Heri juga harus butuh biaya untuk sekolah dan juga hari-harinya aku harus memikirkan itu juga. Ya baiklah sementara ini keadaannya dulu lah aku pikir lebih baik seperti itu. sementara ini semoga saja ada kabarnya teman-teman yang bisa mengajakmu bekerja juga. lagi yang tidak terlalu nyaman ikut karena bekerja dia sukanya pagi-pagi berangkat dan malam-malam suka terulang lagi. kalau aku menginap di desa Bagaimana? aku memang karena dengan beberapa orang di desa kayaknya Pak dan Tetapi bagaimana ya?"batin batin Dimas bicara sendiri. "bagaimana sudah kau pikirkan tentang Heri? kau tahu sendiri kan uang lesnya juga harus dibayar beberapa hari ini? kau tahu sendiri selama beberapa bulan kemarin kakak sendiri mencarikan untuk Heri. itu pun tanpa sepengetahuan Abangmu. kau tahu sendiri lah anak-anakku sendiri sedang butuh biaya besar Apalagi ditambah dengan anakmu. Kakak sama sekali Enggak ngeluh Dimas bukan itu maksud kakak hanya saja kalau kau bisa memberikan untuk anakmu sendiri ya Apa salahnya kalau kamu usahakan untuk anakmu. kalau untuk anak Kakak tidak perlu kau pikirkan aku masih bisa. kalau untuk makan juga apa yang anakku makan aku juga mau makannya. tak perlu kau pikirkan itu hanya kau pikirkan saja bagaimana sekolah dan juga bayarannya yang lain. bayaran sekolahnya juga tidak terlalu besar tapi kalau lama-lama ditumpuk ya jadi banyak juga nih Mas, "omel kak irmalia kepada Dimas. "jadi Kak Danu nggak kan enggak tahu kalau aku kemarin-kemarin lama enggak ngirim Heri uang kak?" Tanya Dimas kepada sang kakak sambil menghisap rokoknya yang tinggal sebatang itu. "buah Dimas Dimas mana mungkin aku menceritakan hal itu kepada Kakak iparmu itu. kau gila? Dia bisa marah? kau tahu sendiri lah dia itu tempramental. meskipun dia tahu kalau itu adikku dan heri itu keponakanku mana mungkin dia dengan mau begitu saja menampung Heri dengan rela hati di sini. akunya saja yang sadar diri. kau pun harus sadar diri Dimas. Bagaimana Kakak iparmu itu. Jangan apa-apa semuanya kau bebankan kepadanya. Aku bukannya tak suka heri di sini ataupun kau pula di sini, tapi kita juga harus menjaga perasaan Kakak iparmu itu dimas. Jadi kau harus mengerti hal itu," ucap hermalia lagi. "Ya kak aku paham itu. Ya kalau kak Danu pulang katakan saja aku mau ikut kerja dengannya. Ya nanti aku juga akan bicara padanya minta dia mengajakku. Kakak doakan sajalah semoga kami bisa akur. ya kakak tahu sendirilah, ini bukan pertama kalinya kami bekerja berdua kan?"tanya Dimas. "Ya kau banyak banyak mengalah sajalah sama abangmu itu. Mau gimana lagi,"kata Ermalia lagi. "Ya kak iya, aku mau keluar dulu lah. cari angin. sekalian mungkin ada lowongan kerja lain selain dengan ikut kak Danu,"kata Dimas lalu menghidupkan motornya dan pergi. "Dimas Dimas, kenapa anak itu dan mas Danu suka tidak akur ya? huh. entahlah aku tak tau, masalah lelaki,"kata Ermalia lalu melanjutkan memasak untuk makan siang. Sementara anak anaknya sedang pergi sekolah. begitu juga dengan Heri. Heri sekarang sudah beranjak remaja. sudah kelas dua SMA. "Assalamualaikum aku pulang Bude," ujar Herry mengucapkan salam ketika dirinya Baru saja sampai. "Waalaikumsalam Heri Ayo masuk duduk dan makan siang karena. bagaimana sekolahmu?" tanya Budenya kepada Heri. "baik-baik saja Bude cuma ya itu aku kan sudah mau tamat SMA tahun depan kelas 3 kata ibu guru semester depan semester 2 nanti aku harus ikut praktek kerja di kantor atau lu di mana pun. jadi aku juga butuh biaya untuk itu Ayah mana Bude? Ayah udah dapat kerja? aku mau dicariin sama ayah tentang biaya-biaya nya? kira-kira bagaimana Bude? Apakah Ayah sudah punya uang atau sebaiknya punya tabungan untuk aku belum Ti praktek kerja? soalnya praktek kerja biasanya pergi pagi-pagi dan letaknya jauh Bude tahu sendiri jurusan yang kupilih ini cukup sulit," keluh Heri sambil makan siang. "nanti saja kau bicarakan lagi dengan ayahmu yang gede tahu Ayah mah belum dapat pekerjaan. tadi Bude Sudah saranin Ayah kamu ikut Pakde mau saja bekerja. ya tahu sendiri lah ayah dan pakdemu Kalau sama-sama bekerja Bagaimana tukang banyak nggak cocoknya. jadi kamu doain aja lah supaya mereka berdua nanti cocok kerja bareng-bareng bisa juga Uangnya buat bayaran sekolah kamu juga. ajalah ya kamu supaya kesulitannya ini segera berlalu ntar kamu tahu sendiri lah sekarang musim susah apa-apa susah Semuanya serba susah," ujar Budi irmalia sandal merapikan pakaiannya anda tadi tak selesai selesai. hari pun menuruti Apa kata sandi kemudian setelah makan dan ibu mencuci piring setelah mencuci piring Heri pun ikut membantu merapikan pakaian pada titik Setelah merapikan pakaian Heri pun menyapu dan merapikan rumah. meskipun hari adalah lelaki tetapi selama berada di rumah Bude nya Dia pun tahu diri dan selalu jaga sikapnya. dirinya tidak pernah makan lebih banyak daripada Saudara saudara sepupunya yang lain tanah. cari tahu diri segala mencuci piring setelah makan dan merapikan rumah. hari pun tahu diri ketika sore hari ketika akan mandi Hari mencuci pakaian nya langsung mbak kan mencucikan pakaian Saudara sepupunya bahkan juga mencucikan pakaian Bude dan pakdenya. meskipun normal Ia memiliki anak lelaki dan anak perempuan tetapi hanya hari sajalah yang suka membantu ernalia mengurus rumah tangga. bahkan membantu irmalia memasak ketika Heri ada di rumah. Heri sama sekali tidak mengeluh atau apapun anak itu benar-benar seseorang yang tahu diri Bagaimana harus bersikap ketika sedang berada di rumah orang lain. berbeda dengan anak perempuan sang bude, ia ia ketika ada heri malah suka manja dan tidak mau membantu apapun. Padahal dia perempuan tanah putih tetapi tidak membantu menyapu apalagi mencuci piring dan juga mencuci pakaian. bahkan pakaian dalamnya sendiri saja suka ermalia bahkan Heri yang menjadikannya. padahal usianya tidak jauh berbeda dengan Heri. kadang-kadang irmalia Malu sendiri melihat Heri yang harus mencucikan pakaian hermalia dan juga pakaian dalamnya juga pakaian dalam anak gadisnya. ermalia suka memarahi Heri tapi mau bagaimana lagi Heri suka melakukannya. "nggak usah Heri, nggak usah cuci pakaian Bude biar pakaianmu sendiri saja yang dicuci," ucap sang bude memperingatkan Heri ya mau mencuci. "alah nggak papa Bude sekalian ini cuciannya juga sedikit. biar Bude bisa Ngerjain pekerjaan yang lain. bude juga seharian ini sudah bekerja pasti capek biar Heri bantu sedikit pekerjaan Bude, "ujar Heri langsung mencuci dan tidak mengindahkan kata-kata budenya dan terus saja mencuci seluruh Pakaian kotor yang ada di rumah. cari benar-benar sadar diri karena saat ini sedang berada di rumah Sang Buddha dan menumpang hidup di sana. Heri juga tahu jika ayahnya sudah berbulan-bulan ini tidak memberikan budenya uang. Heri sangat berterima kasih kepada sang Bude karena sudah mau menampung dirinya dan mengurusi dirinya. dari kemarin saat kelas 1 SMA hari sudah Bersama sang Bude dan sekarang sudah mau menginjak kelas tiga itu artinya Sudah hampir 1 tahun lebih dirinya bersama budenya. hanya enam bulan pertama sang Ayah memberinya uang dan ambulans yang kemarin ayahnya sama sekali tidak bisa menerima uang karena hasil panen yang gagal dan sekarang ketika ayahnya sudah berada bersama dengan dirinya pun ayahnya belum memiliki pekerjaan dan belum bisa memberinya uang. jadi Heri harus bisa menjaga dirinya dan juga harus tahu diri karena sekarang sedang berada di rumah sang Pakde dan bude nya. "mungkin ini adalah masa-masa sulit ayah ayah tidak pernah sebelum ini mengalami kesulitan keuangan Ayah selalu mendapatkan pekerjaan setelah pekerjaan yang lama yang telah selesai. mungkin ini adalah tahun-tahun tersulit Ayah jadi aku harus mengerti dan bisa tahu diri saat berada di rumah Bude. aku tahu Pakde tidak akan suka jika tahu kalau selama ini aku hanya menumpang di sini. Pakde pasti akan marah jika tahu Ayah sama sekali tidaj.mengirimi uang,"ujar Heri dalam hatinya. Dimas sendiri sadar betul jika ini adalah tahun-tahun tersulit nya sejak memutuskan pindah ke desa sang istri dan juga gagal panen dua kali dia benar-benar sadar bahwa ini adalah tahun sulit untuk dirinya. bahkan Sebelum pulang ke desa Dimas bahkan sudah mencari ke sana ke mari pekerjaan dan belum juga dapat. sekarang sudah berada di kota kembali dan tidak lagi Bersama sang istri Dimas pun masih kesulitan mencari pekerjaan. sangat beruntung sekali kakaknya, kak Ermaliay hanya mau berbesar hati menampung dirinya dan juga Dimas. bahkan dengan senang hati kak ermalia mengurusi anaknya, Heri, selama dirinya berada di desa Mantan istrinya. bahkan tidak menuntut apapun ketika tahu Dimas Saputra tidak bisa mengirimnya uang. di Mas bukannya tidak tahu kakak iparnya dan Kakaknya sendiri dia sangat berterima kasih kepada kedua orang itu karena telah menampung anaknya selama dirinya mengalami masa sulit seperti ini kan berjanji esok lusa dirinya pasti akan melakukan hal yang sama jika saudara itu mengalami kesulitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD