"Maaf." Wendy mengangguk setelah mendengar bisikan itu. Ia dapat merasakan penyesalan dan kesungguhannya. Gadis itu tak pernah menyangka bahwa pria yang ia anggap mempunyai gangguan psikis ini tiba-tiba saja menitikkan air mata. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Wendy diam-diam mengelus pelan punggung August Gold. Seolah-olah ia sedang menenangkan anak kecil yang menangis sedih karena kehilangan mainannya. Diam dan hening. Hanya suara gerakan jarum dari jam weker merah muda di atas night stand yang mengisi kesunyian. Hanya bunyi degup organ pemompa darah dan pLawsons respirasi oleh organ pernapasan yang memenuhi gendang telinga masing-masing. Tak ada sepatah kata pun yang diucapkan August setelah ia menghancurkan egonya untuk gadis itu. Debar jantungnya sudah jauh di at

