"Terima kasih, Aldrich, sudah menemani saya." Mendengar kalimat yang dihaturkan oleh Wendy, senyum tulus mengembang di wajah rupawan Aldrich. Pria itu menepikan mobil Jaguar hitamnya tepat di depan apartment yang menjadi tempat tinggal gadis itu. Dia menetralkan mobilnya agar benar-benar tak bergerak. Aldrich pun melepas sabuk pengaman dan berkata, "Yuk, turun." Wendy ikut tersenyum. Ia mengerti. Pasti Aldrich sudah sangat lelah sekarang. Bayangkan saja, pria itu baru tiba dari Paris dan segera menemuinya ketika menginjakkan kakinya di New York. Menghabiskan waktu di dalam pesawat selama enam belas hingga delapan belas jam tidaklah mudah. Dan Wendy sungguh merasa sangat berterima kasih atas kebaikan Aldrich. "Oh, iya, barang-barangku," kata Wendy. Aldrich yang baru saja mem

