11

2835 Words
Aku yang selalu membanggakan diri karena bisa mengetahui aura makhluk lain kali ini benar-benar merasa tidak berguna. Aku meraba tombol lampu di sebelah pintu, dan begitu cahaya menerangi ruangan tamu apartemenku, aku mendapati kalau Aleandro sedang duduk santai di sofa milikku. Bisa-bisanya aku tidak menyadari kehadiran vampir itu! “Apa yang kau lakukan disini?”tanyaku dingin sambil melintasi ruang tamu menuju kamar yang kugunakan sebagai ruang kerja. Belum sempat aku membuka pintu kamar, Aleandro sudah melingkarkan lengannya di pinggangku. “Aku merindukanmu.”bisiknya lembut di leherku. “Rindu? Padahal seharian ini kau bahkan tidak bicara denganku ataupun memandangku.”tukasku kesal, walaupun begitu aku tetap tidak melepaskan diri dari pelukan Aleandro. Aleandro menyingkirkan rambut di leherku dan kemudian mengecup pelan bagian sensitif di bawah telingaku, membuat tubuhku mengkhianati pikiranku. “Sulit rasanya untuk menahan diri tidak menyentuhmu. Bahkan untuk tidak bicara denganmu saja sudah sulit.”bisik Aleandro disela-sela kecupannya. “Aku harus menahan diri untuk mendekatimu kalau tidak ingin Wren mencurigai sesuatu. Dia bisa menyadari hal yang bahkan tidak disadari siapapun, dan aku tidak ingin dia berpikir yang aneh. Percayalah, dengan segala pemikirannya, dia bisa membuat kita frustasi kalau melihat kita bersikap ramah satu sama lain.” “Itukah alasanmu menjauhiku hari ini bagaikan hama?”tanyaku masih kesal dengan sikapnya seharian ini yang bukan hanya mendiamkanku tapi juga mengumpankanku_walaupun idenya itu tidak bisa dibilang buruk. “Jangan seperti itu. Wren bisa jadi orang yang sangat menyebalkan untuk beberapa hal.”bisiknya sambil membalik tubuhku dan mengambil kardus di tanganku, dalam satu gerakan cepat dia meletakkan kardus itu di meja dan kembali ke sisiku. “Apa kau marah kaarena sikapku hari ini dan ingin aku pergi?”tanya Aleandro kemudian masih dengan tangan di pinggangku. Aku terdiam sejenak sebelum menggeleng enggan. Sama sekali tidak mengerti kenapa aku bisa memaafkan semua sikap dinginnya begitu saja. Seolah tanpa dirinya aku tidak berarti apa-apa. “Aku hanya berpikir kalau kau sudah bosan denganku.”bisikku sambil meletakkan kedua tanganku di bahu Aleandro, merasakan kekuatan di balik pakaian yang dikenakannya. “Kalau aku bosan, aku akan mengatakannya padamu. Bukan menjauhimu dengan diam-diam. Aku bukan pria pengecut, Amelia.”bisiknya. Aleandro tersenyum, membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. “Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?”tanya Aleandro dengan binar nakal di matanya. “Haruskah kau bertanya?”tanyaku balik lalu berjinjit dan mengecup lembut bibir Aleandro.   *Aleandro POV* Tidak ada alasan kenapa aku bisa melakukan ini semua. Begitu memutuskan untuk kembali ke London bersama Lily malam itu, aku juga sudah yakin tidak akan berhubungan lagi dengan Amelia. Tapi menahan diri berjauhan dengannya, tidak bicara bahkan tidak menyentuhnya membuatku frustasi. Apalagi setelah sempat bertengkar dengan Wren, semuanya semakin membuatku merasa harus bicara dan menyentuhnya. Itulah kenapa aku bahkan mendahului Amelia dan menunggunya di apartemen mungil ini. “Apa kau benar-benar menyetujui masalah tadi?”tanyaku saat kami berbaring bersama di ranjang Amelia, saling menyentuh walaupun telah bercinta dengan liar. Amelia mendongak dan menatapku heran. “Kau yang memberikan ide itu, dan sekarang kau menanyakan keputusanku?” “Entahlah. Aku sendiri tidak yakin. Aku tahu kalau Wren memang akan melakukan apapun untuk memastikan kau tetap selamat_walaupun itu demi Lily. Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu?” Wanita dalam pelukanku itu menundukkan wajahnya dan menggeleng pelan. “Tidak akan terjadi apa-apa. Aku yakin untuk yang satu ini. Dia tidak akan melukaiku ataupun menyakitiku. Kalau dia ingin melakukan itu, dia bisa melakukannya sejak bertahun-tahun yang lalu.”sahutnya pelan. Aku yang mengajukan ide itu, dan kini aku juga yang menyesalinya. Entah kenapa membayangkan kalau Amelia masuk ke sarang musuh seorang diri membuatku ingin melindunginya. Aku tidak tahu apa yang kurasakan padanya, yang paling mungkin bisa kuterima adalah Amelia sudah menjadi propertiku sejak dia tidur denganku. Itu alasanya kenapa aku harus melindunginya.bisikku dalam hati. “Apa yang terjadi saat itu sebenarnya, Amelia?”tanyaku tiba-tiba, sudah terlambat untuk menariknya kembali. “Kenapa kau menanyakan itu?” “Tidak ada. Aku hanya penasaran kenapa kau begitu percaya dia tidak akan menyakitimu. Apa itu yang selalu kau mimpikan?” Amelia diam. Entah kenapa aku yakin kalau pikirannya sedang kembali ke masa itu, masa yang melibatkanya dan Conrad. Dan aku jelas tidak senang dengan keadaan ini. Aku tidak suka menjadi orang yang hanya bisa melihat tanpa mengetahui apapun. “Amelia...”panggilku pelan. “Dia... Dia bisa saja membunuhku saat itu. Tapi dia tidak melakukannya.”bisik Amelia. “Bisakah kita tidak membicarakannya saat ini?”tanya Amelia yang semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. “As your wish.”bisikku pelan. Aku mengecup bibir Amelia lembut saat dia menjauhkan kepalanya dan menatapku penasaran. “Ada yang ingin kutanyakan selama ini, Aleandro.” “Silakan saja. Aku tidak pernah mimpi buruk saat menceritakan sesuatu tentang diriku.”sahutku pelan. Amelia memukul dadaku sebagai teguran. “Jangan mengejekku. Aku hanya tidak siap.”bisiknya. “Kenapa kau tidak punya klan, Aleandro?”tanya wanita itu kemudian. Aku menjauhkan tubuhnya hanya agar bisa menatap matanya yang berwarna unik itu. “Kau serius menanyakan hal itu?”tanyaku pelan. Amelia mengangguk cepat. “Baiklah. Dulu, aku juga merupakan bagian dari klan seseorang, sayang, dan tentu aku memiliki vampir bawahanku sendiri. Tapi segalanya berubah saat Lilian sakit.” “Lilian? Sakit?”ujar Amelia membeo. Aku mengangguk cepat. “Lilian adalah masterku, kekasihku saat itu. Kami mungkin makhluk yang memiliki usia panjang, Amelia, tapi suatu saat kami tetap akan mati. Dan Lilian mati karena kesalahannya sendiri. Dia tanpa mengetahui apapun menghisap darah seorang penyihir kuat dan membunuh penyihir itu. Kau tahu sendiri kalau darah penyihir terkutuk bagi kami. Kutukan itu ada di dalam darah mereka sendiri. Kutukan itu membuat Lilian menghabisi seluruh klannya, termasuk anggota klanku sendiri. Darah itu membuatnya seolah memiliki kepribadian lain, hanya saja kepribadian yang lain ini adalah monster yang jauh lebih haus akan darah daripada kaum vampir. Dari semua teror yang Lilian lakukan, hanya aku yang dibiarkannya hidup. Saat itu aku ingin sekali terus bersamanya. Tapi itu tidak mungkin. Kegilaan Lilian akibat darah penyihir itu semakin menjadi saat Lilian membunuh penduduk sebuah kota dalam satu malam. Saat itulah aku memutuskan kalau aku harus membunuh Lilian agar teror itu berhenti.” “Kau membunuhnya?”bisik Amelia nyaris tanpa suara. Aku mengangguk enggan. “Dia sepertinya memang menungguku melakukan itu. Menungguku untuk membunuhnya.” “Aku mengerti. Lalu sejak kapan kau berteman dengan Zac?” Pertanyaan Amelia itu langsung membuatku terkekeh pelan dan menariknya erat dalam pelukanku. “Aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak memiliki hubungan seperti itu dengan Zac, sayang.” “Oke, anggap saja aku lupa.” Aku mengecup puncak kepala Amelia lembut. “Zac-lah yang membantuku keluar dari rasa bersalah setelah membunuh Lilian. Saat itu dia belum menjadi Anasso. Dia vampir kepercayaan Anasso sebelumnya yang sudah memiliki klan-nya sendiri yang sangat kuat. Dia menemuiku suatu malam, mencoba bicara denganku. Tapi saat itu adalah hari kedua aku membunuh Lilian, aku masih terpukul dengan apa yang baru aku lakukan. Aku membunuh masterku sendiri, kekasihku saat itu. Bayangkan bagaimana perasaanku saat Zac datang. Aku menolaknya, menyerangnya. Tapi dia tetap tidak menyerah. Selama sebulan dia terus mendatangiku setiap malam, mengantarkan selimut dan pakaian_yang sebetulnya tidak kubutuhkan. Pada hari ke 40 aku memutuskan untuk bertanya apa yang dia inginkan dan dia bilang kalau dia membutuhkanku bekerja untuknya sebagai hunter. Aku bilang aku tidak ingin bergabung dengan klan siapapun dan dia tersenyum lalu mengatakan kalau aku tidak harus menjadi anggota klannya untuk menjalankan tugas itu. Aku tidak percaya dengan ucapannya, aku menyerangnya dan dia mengalahkanku dengan mudah. Kekalahan itulah awal dari segalanya. Sekarang setelah kupikir-pikir, aku berhutang terima kasih padanya karena membantuku keluar dari masa-masa sulit itu.”ujarku berusaha menyembunyikan beberapa fakta, misalnya kenyataan kalau saat itu aku bukan hanya terpukul atas kematian Lilian. Tapi sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang membuatku menjadi kuat dan sanggup mengalahkan Lilian dan harus kubayar mahal. “Dan kau bilang kalau hubungan kalian bukan teman?”tegur Amelia, “Aku tidak bisa membayangkan bagaimana pertemuanmu dengan Wren kalau begitu.”gumamnya kemudian. Aku kembali tertawa mendengar ucapannya. “Itu jauh lebih sederhana. Aku pertama kali bertemu dengan Wren saat dia masih menjadi manusia. Saat itu saja aku sudah merasa nyaman bicara dengannya walaupun dia tahu kalau aku adalah vampir. Karena aku harus menjalankan misi, aku pergi selama beberapa minggu. Dan begitu aku kembali, dia sudah menjadi vampir.”jelasku cepat. “Kau bertemu dengan Wren saat dia manusia? Dan saat itu dia tahu kalau kau vampir?” Aku mengangguk cepat. “Ya, dia tahu aku vampir karena saat itu aku membunuh ibunya tepat di hadapannya.” Amelia langsung mengangkat tangan untuk menutup mulutnya, menahan teriakan tidak percaya yang nyaris keluar. “Kau membunuh ibunya?”tanya Amelia tidak percaya. “Sebenarnya hanya ingin mengisi ulang tenaga, tapi aku sedikit lepas kendali dan berakhir dengan membunuh ibunya.” “Dan Wren membiarkanmu melakukan itu pada ibunya?” Sekali lagi aku mengangguk. “Dia sudah lama ingin melepaskan diri dari cengkraman ibunya, sayang. Aku tidak berhak menceritakan ini, tapi aku rasa aku benar dengan membunuh ibunya malam itu.” “Oh Tuhan... Kau pasti tersiksa dengan semua kenangan ini.”bisik Amelia yang entah sejak kapan sudah berbalik dalam pelukanku dan kini mengecup dadaku lembut. “Aku tidak tersiksa dengan semua kenangan itu, sayang. Aku lebih tersiksa dengan apa yang kau mulai ini.”sahutku jujur, tidak tahu kenapa aku menceritakan semua itu padanya. Padahal sampai detik ini hanya Zac yang mengetahui semua masa laluku itu. ***   *Author POV* Aleandro berjalan menyusuri koridor panjang di lantai 37 Picasa Center sambil menggerutu kesal. Sore yang seharusnya dihabiskannya bersama Amelia di apartemen wanita itu terpaksa harus ditunda karena Wren menelpon tepat saat mereka akan naik ke ranjang. Dan tidak seorangpun yang bisa membayangkan apa saja umpatan yang keluar dari bibir vampir tampan itu. “Dia harus memberikan alasan yang sangat kuat_sangat-sangat kuat_kalau tidak ingin aku melakukan hal yang sama padanya.”gumam Aleandro sambil terus berjalan, melewati pintu-pintu yang tertutup, dengan pasti menuju ruang laboratorium yang dimiliki Wren. “Hallo, Aleandro. Aku kira kau akan terlambat.”sapa Wren riang tepat saat Aleandro melangkah masuk ke dalam ruangan penuh peralatan aneh itu, seolah dia tahu apa yang sedang Aleandro lakukan dan sengaja memanggilnya di waktu itu. Aleandro mengamati sekitarnya, ada banyak orang yang tidak dikenalnya di dalam ruangan itu. Tapi matanya langsung tertuju pada sesosok tubuh di atas sebuah ranjang single. “Apa yang kau lakukan padanya?”tanya Aleandro saat melihat L terbaring di ranjang itu. “Penelitian, tentu saja. Dan kami baru saja selesai. Aku sudah mendapatkan solusi untuk masalah Lorenz.”ujar Wren ringan sambil bangkit dari tempat duduknya. “Lalu untuk apa kau memanggilku kesini, b******k?” Wren tersenyum singkat. “Aku tahu aku sudah mengganggu kesenanganmu walaupun aku tidak tahu pasti apa itu. Tapi percayalah, sobat, ini masalah penting. Lazaro menghilang, Wagner sendiri yang memberitahukannya padaku.”ujar Wren tiba-tiba menjadi serius. “Lalu apa hubungannya denganku?” “Akan kita bicarakan sebentar lagi, sobat. Setelah aku selesai dengan teman baru kita ini.”ujar Wren sambil melirik Lorenz yang mulai bergerak-gerak di ranjang. “Apa dia sudah bisa langsung jalan, Venom?”tanya Wren pada kepala pimpinan tim labornya. “Masih lemah mungkin, master. Tapi dia bisa melakukan aktivitas ringan.”sahut pria bernama Venom yang sedang membantu Lorenz turun dari ranjang. “Apa kita akan memberinya RBC7, master?” Wren menggeleng pelan. “Tidak. Dia akan makan makanan manusia.”sahut Wren cepat. “Ah, hampir saja aku lupa. Siapkan RBC9 untuk Amelia, jumlah yang cukup untuk beberapa minggu. Dan kau, Lorenz, ikut aku.”sambung Wren sambil bangkit dan berjalan keluar dari laboratorium canggihnya itu. “Apa yang kau lakukan padanya tadi?”tanya Aleandro yang sama sekali tidak bisa menahan rasa penasarannya. “Mengambil sampel darahnya, memaksanya berubah dalam wujud binatang dan menunggu reaksinya habis, melihat berapa lama dia dalam wujud manusia, dan lainnya. Kau datang tepat saat dia baru kembali ke wujud manusianya.”jelas Wren sambil terus menelusuri koridor hingga mereka tiba di depan pintu lift. “Dan aku menemukan sesuatu yang menarik.”sambung Wren dingin. Aku harap itu tidak ada hubungannya dengan rasa tertarik anjing ini pada Lily.ucap Aleandro hanya dalam pikirannya, merasa lega karena Wren tidak bisa membaca pikiran. Tiba-tiba Wren berbalik dan mengangguk pelan pada sesuatu. Membuat Aleandro dan Lorenz langsung ikut berbalik untuk melihat siapa yang datang. Archard berjalan cepat dari arah berlawanan. “Jadi kapan kau akan memutuskannya?”tanya Archard datar setelah sampai di sisi Wren. Lorenz mungkin tidak terlalu terkejut mendapati Archard ada disana, tapi bagi siapapun yang sudah hidup selama Wren dan Aleandro, ini sebuah kejutan besar melihat Archard tanpa Zac. Dan Aleandro nyaris menganga melihat kehadiran Archard bersama mereka. “Kita akan membicarakannya di kantorku. Walau tempat ini paling aman menurutku, tapi tidak ada yang lebih rahasia selain membicarakan masalah di ruanganku.”ujar Wren dan langsung melangkah masuk ke dalam lift begitu pintu lift terbuka. Hanya butuh waktu beberapa menit hingga lift tiba di lantai 67. Setelah pintu lift terbuka kembali, keempat pria itu segera keluar dan langsung menuju kantor Wren. “Aku akan langsung ke pokok masalah. Besok kita akan memulainya. Mengingat ada masalah tambahan, maka akan ada dua kelompok. Pertama yang memburu Lazaro dan yang kedua, yang memburu Conrad. Yang ikut dalam perburuan Lazaro adalah kau, Aleandro, Lorenz dan Lily. Sedangkan yang berburu Conrad aku, Archard dan Amelia.” “Kau bercanda! Aku yang seharusnya memburu Conrad, Wren!”tukas Aleandro cepat. “Aku tidak bercanda, Aleandro. Begini, aku tahu kalau memang kau-lah yang mendapatkan tugas itu dari Zac. Tapi segalanya berubah seiring waktu, Aleandro. Conrad mengincar Amelia, dan aku harus tahu apa yang dia inginkan dari Amelia. Aku tidak akan membiarkannya mendapatkan Amelia. Kalau kau yang melaksanakan misi ini, aku yakin akan ada yang berakhir dengan kematian. Karena entah kenapa aku yakin kalau ada hal lain yang membuatmu ingin menghabisi Conrad. Lagipula sebagai penggantimu, aku akan membawa Archard bersamaku. Zac sudah menyetujuinya, mengingat yang akan kami hadapi adalah Conrad. Sementara itu kau juga bukannya tidak melakukan apapun. Lazaro harus segera ditemukan. Kalau apa yang kudengar dari Lorenz benar, maka Lazaro memiliki persediaan darah Conrad yang lebih dari cukup untuk membuat sepasukan were gila, Aleandro.”jelas Wren datar. “Apa yang akan Wagner lakukan kalau kita yang harus melakukan pencarian anjing hilang ini?”tanyaku cepat. “Salah satu kehebatanku, aku berhasil membuatnya kembali ke Washington walaupun sebenarnya dia berkeras tetap disini. Bersyukurlah keberuntungan berada di pihakku karena sepertinya kawanan Wagner mengalami masalah di Washington hingga dia sendiri yang harus mengatasi masalah itu.”ujar Wren tanpa bisa menyembunyikan nada sombong dalam ucapannya. “Lalu kenapa aku harus pergi bersama dia dan istrimu?”tanya Aleandro lagi sambil menunjuk Archard dengan jarinya. “Kau mungkin ahli dalam melacak sesuatu Aleandro, tapi Lorenz akan mempermudah segalanya kalau Lazaro memilih berkeliaran dalam wujud binatang. Dan masalah Lily... Aku ingin sekali menahannya lagi di rumah seperti sebelumnya, tapi dia bisa saja kabur dan semakin membuatku gila. Sulit diterima memang, tapi Lorenz bisa bertahan dalam wujud manusia lebih lama karena kekuatan Lily. Kalau bisa, aku tidak ingin membiarkannya hilang dari pengawasanku sedetik saja.” “Kau pasti hanya mencari alasan untuk membunuhku, bukan?” “Apa yang kau katakan?”tanya Wren bingung. “Kau akan membunuhku kalau istrimu terluka.” Wren terkekeh pelan, hanya sebentar sebelum wajahnya kembali serius. “Aku selalu menutup mata terhadap perkembangan Lily selama ini, Aleandro. Dia lebih dari mampu melindungi dirinya sendiri walaupun itu artinya dia akan semakin sering membuatku gila.”sahut Wren. “Dan aku akan tahu kalau Lily terluka. Tato ini bukan cuma hiasan, Aleandro. Setidaknya tato ini berfungsi bahkan saat Lily tanpa sengaja melukai tangannya saat mengiris sayuran.”sambung Wren sambil menunjukkan tato kuno di lengan kirinya. “Kau bisa melakukannya sendiri, melindungi istrimu, dan biarkan aku yang memburu Kang Conrad.”putus Aleandro lalu menambahkan, “Lagipula sejak kapan hubunganmu dengan Archard membaik?”tanya Aleandro cepat. Wren menatap Archard sekilas sebelum kembali menatap Aleandro. “Aku tidak pernah membenci seseorang secara khusus, Aleandro.”jawab Wren ringan. “Dan asal kau tahu, aku lebih dari ingin pergi bersama Lily dan menghindari masalah ini. Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, kau hanya akan membuat segalanya berakhir dengan kematian. Aku butuh lebih dari sekedar kematian, Aleandro.” “Dan kau begitu percaya diri memutuskan ini semua setelah apa yang kukatakan?”tanya Lorenz, yang akhirnya memutuskan untuk bicara. Aleandro langsung menatap Lorenz tertarik. Tertarik dengan rasa keberanian werewolf yang jelas tidak pada tempatnya itu. “Ah, maksudmu pembicaraan kita tadi di laboratorium?”tanya Wren balik. “Aku mungkin tidak mempercayaimu, tapi aku sangat mempercayai istriku.” “Berarti kau percaya kalau takdir kalian hanya untuk satu pasangan?”tanya Lorenz lagi dengan ketenangan yang menakjubkan. “Mungkin tidak. Aku hidup  jauh lebih lama darimu. Aku sudah melihat apa yang kau maksud. Tapi aku tidak berharap kalau itu akan terjadi padaku. Aku tidak pernah bermimpi membagi istriku dengan siapapun.” Lorenz tersenyum. “Aku hargai kepercayaan dirimu.”ujarnya pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD