10

2810 Words
*Amelia POV* Sekali lagi aku terpaksa menuruti Lily. Aku sama sekali tidak tahu kenapa dia berkeras agar aku ikut dengannya ke Acasa Manor saat ini. Tapi aku sedang tidak berminat untuk mendebatnya. Rasanya kalau aku melakukan itu, akulah yang akan kalah nantinya. Kami semua sedang dalam perjalanan menuju Acasa Manor saat ini. Lily dan Wren mengendarai mobil sendiri, sedangkan aku dan Aleandro diantar oleh salah seorang supir Wren_yang pastinya seorang manusia. “Kau tidak harus ikut ke Acasa Manor, Aleandro. Aku tahu kalau kau tidak terlalu nyaman bersama mereka.”ujarku akhirnya, berusaha memecahkan keheningan di dalam mobil. Aleandro tidak mengatakan apapun untuk menanggapi ucapanku. Aneh memang, mengingat apa yang sudah terjadi pada kami selama di Carlisle, apa yang terjadi sekarang seakan semua yang terjadi di Carlisle hanyalah mimpi. “Apa setelah kembali ke London kita saling mendiamkan lagi?”tanyaku tiba-tiba, entah kenapa ide kalau kami kembali bersikap dingin membuatku sedih. Aleandro masih tidak merespon ucapanku. Dia hanya duduk diam sambil menatap ke depan. Sudahlah. Kalau dia memang ingin seperti ini, ayo kita lakukan! Aku juga bisa bersikap acuh sepertinya! Aku tidak berusaha untuk memecahkan kesunyian lagi selama sisa perjalanan. Bahkan setelah kami sampai di Acasa Manor dia tetap tidak bicara sedikitpun. Begitu mobil berhenti, aku bergegas turun dari mobil dan berjalan mendahului Aleandro memasuki rumah tepat di belakang Lily dan Wren. Lily memberi isyarat dengan tangannya agar aku pergi ke ruang baca. Aku mengangguk singkat dan berbelok menuju ruang baca. Tidak sedikitpun aku berpikir kalau disana ada orang lain selain aku. Di sudut ruang baca, Eliza duduk manis dengan buku di pangkuannya sementara sang malaikat, Navaro, berdiri di belakang tempat duduknya dengan kedua tangan menyentuh bahu istrinya itu. Begitu menyadari kehadiranku, Eliza segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku, memelukku. “Aku senang kau kembali dengan selamat. Ternyata Lily datang tepat waktu.”bisiknya lembut lalu menggandeng tanganku dan mengajakku duduk di sofa panjang, membiarkan Navaro sendirian. “Aku dan Wren sedang dalam pertemuan saat itu. Susah sekali berpura-pura Lily diam di rumah sementara Navaro sudah memberitahuku semua kilasan masa depan Lily. Kalau saja aku tidak yakin kalian akan kembali dengan selamat, aku sudah meminta Navaro sendiri yang pergi untuk menyelamatkan kalian.”ujarnya cepat. “Bagaimana pertemuannya?”tanyaku cepat, berusaha agar Eliza tidak menanyakan apapun tentang aku dan Aleandro selama kami disana. Eliza menggelengkan kepalanya pelan, membuat rambut hitam bergelombangnya bergoyang mengikuti gerakannya. Semua makhluk abadi memang tercipta sempurna. Apalagi dengan keturunan campuran yang unik seperti Eliza. “Sungguh sangat menegangkan. Kalau saja pertemuan itu diadakan bukan atas permintaanku, aku hampir yakin kalau Wagner dan Wren akan saling membunuh. Berat rasanya bersikap netral saat salah satu dari mereka adalah pasangan saudaramu.”jawab Eliza pelan. Saudara... Eliza selalu menganggap Lily sebagai saudaranya, begitu juga dengan Lily. Alangkah bahagia kalau aku masih memiliki keluargaku sendiri alih-alih menjadi sebatang kara seperti ini. “Dan hasilnya?”tanyaku lagi sambil mengusir pikiran tentang mimpiku yang mulai memaksa masuk dalam ingatanku. “Setelah ajang pamer kekuatan itu, mau tidak mau mereka harus mencapai kesepakatan kalau tidak ingin OraCenobiae turun tangan. Wagner bersedia bekerja sama dengan Wren untuk menyelesaikan Zacis ini, tapi sebagai gantinya Wren harus bersedia membebaskan Wagner dan kawanannya bergerak di seluruh Inggris. Awalnya Wren menentang kesimpulan ini. Aku mengerti karena selama ini dia yang mengurus Inggris seorang diri. Tapi krisis kali ini melibatkan para werewolf. Bantuan merekalah yang paling kita butuhkan.”jelas Eliza datar. “Kalau ada manusia biasa di dalam ruangan itu, aku yakin manusia itu pasti sudah mati karena kekuatan mereka.”sambung Eliza kemudian. “Aku cukup terkejut Wren menerima perjanjian itu.”gumamku pelan. “Aku hanya ingin menyelamatkan para werewolf itu dari ancaman teror Zac. Aku belum sempat membicarakan apapun sebelumnya dengan Zac. Zac memiliki masalah sendiri dengan para werewolf, dan rasanya kalau mereka berkeliaran sesuka hati di Inggris saat aku mengundang Zac datang itu hanya akan membuat Zac memburu mereka.”ujar sebuah suara dari arah pintu ruang baca. Wren berdiri di sana bersama Aleandro, tidak ada Lily. Dengan langkah pasti Wren masuk bersama Aleandro dan memilih tempat duduk mereka masing-masing. “Aku mengerti kalau kau ingin istirahat lebih dulu, Amelia. Aku juga sudah sempat berdebat sebentar dengan Aleandro, tapi akhirnya memang inilah yang terbaik.”ujar Wren serius, dan sialnya aku sama sekali tidak tahu kemana arah pembicaraan ini. “Sambil menunggu Lily, aku ingin bertanya padamu. Mungkin akan ada banyak pertanyaan, tapi aku akan sangat menghargai kalau kau menjawab semuanya.”sambung Wren kemudian yang semakin membuatku curiga kemana pembicaraan ini akan berakhir. “Kalau aku bisa menjawabnya, tentu saja akan kujawab, Sire.”ujarku datar, berusaha tidak memperlihatkan apapun. “Apa kau masih ingat wajah vampir yang memberikanmu darah, Amelia?” JLEGER!!!! Kenapa Wren tiba-tiba mengungkit masalah ini? Apa yang Wren inginkan sebenarnya? Kemana arah pembicaraan ini? Aku paling tertekan kalau aku tidak tahu kemana arah pembicaraan ini! Aku menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. “Kenapa kau menanyakan masalah ini, Wren? Apakah kau menarik kembali ucapanmu yang mengatakan kalau aku bisa melakukan apapun untuk menemukannya? Apa kau tidak ingin membantuku lagi?”tanyaku cepat. “Aku tidak menarik ucapanku, Amelia. Aku menanyakannya karena aku pikir mungkin aku bisa membantumu menemukannya.”jawab Wren terlalu cepat menurutku. Aku menatap Wren cukup lama hingga membuatku nyaris lupa dimana aku sekarang. Aku memang memiliki ketahanan sendiri terhadap efek mata vampir, tapi aku tetap manusia yang bisa terpesona pada mata hijau mereka. “Aku tidak butuh mengingatnya. Aku selalu bisa mengenalinya kapanpun aku bertemu dengannya. Bahkan belakangan ini semuanya semakin sering kupikirkan.”bisikku pelan. “Kau memimpikan kejadian itu lagi?”tanya Wren cepat. Aku mengangguk pelan. “Sudah bertahun-tahun aku tidak memimpikannya. Tapi belakangan, mimpi itu menghampiri hampir di setiap tidurku.”ujarku memilih jujur karena rasanya percuma berbohong di hadapan para pembaca pikiran seperti mereka. “Aku menemukan beberapa kemungkinan, Amelia. Ada kesamaan antara dirimu dan para werewolf yang diinfeksi itu. Pertama, darah vampir yang ada dalam tubuh mereka sangat sedikit, hingga aku kesulitan untuk menebaknya bahkan setelah aku mencobanya sendiri. Sama seperti dirimu. Darah vampir di dalam tubuhmu bahkan jauh lebih sedikit hingga para ilmuwanku seperti tidak berguna setiap kali meneliti dirimu. Kedua, efek yang ditimbulkan darah itu. Seharusnya seseorang atau sesuatu baru berhasrat pada darah saat kami menggigit mereka dan memberikan darah kami untuk menggantikan darah yang kami ambil. Tapi kau dan para were itu bahkan sudah berhasrat pada darah hanya dengan memiliki sejumlah kecil darah vampir dalam tubuh kalian.” “Jadi apa kau ingin mengatakan kalau vampir yang ada dibalik ini semua adalah vampir yang sama dengan yang membuatku seperti ini?”tanyaku cepat. “Aku hanya menduganya. Karena itu aku ingin memastikannya.” Aku mengangguk paham. “Bagaimana kalau dia memang vampir yang sama?” “Maka kita akan sangat mungkin berperang dengannya.”sahut sebuah suara dari arah pintu. Kali ini Lily-lah yang berdiri di sana dengan tangan membawa sebuah kardus berisi barang-barang. Lily berjalan menghampiriku dan meletakkan kardus kecil itu dihadapanku. Rasa pedih langsung menjalari hatiku saat menyadari apa yang ada di hadapanku saat ini. Yang Lily bawa bukanlah barang baru. Semua benda-benda di dalam kardus itu adalah benda bekas. Belati dan sarungnya, pistol kaliber kecil, beberapa set pakaian, dan benda-benda kecil lainnya. Bagi orang lain barang-barang ini mungkin hanya rongsokan yang bisa dibuang begitu saja. Tapi Lily dan yang lainnya sangat mengerti kalau apa yang ada dihadapanku ini lebih berharga daripada apapun. Benda-benda ini adalah semua yang dipaAleandro anggota timku yang tewas dan Lily menyimpannya untukku. “Terima kasih, Lily.”bisikku, dan tanpa sadar airmata mengalir di wajahku. Sejak aku menjadi vampire hunter, timku adalah keluargaku. Dan sekali lagi aku tidak bisa melakukan apapun untuk keluargaku. Lily membungkuk untuk menghapus airmataku sebelum memelukku. “Sejak aku mengenalmu, aku tahu kalau kita akan menjadi sahabat walau sejujurnya aku ingin sekali kalau kita menjadi saudara.”bisiknya lembut. “Ini bukan apa-apa, aku hanya tahu kalau inilah yang bisa kulakukan untukmu.” “Kau mungkin sudah tahu kalau beberapa hari yang lalu kita mendapatkan masalah disini, Amelia. Ada sekelompok vampir pendatang baru yang menyerang London karena mereka menginginkan sesuatu. Dan betapa bodohnya aku saat itu karena tidak menyadari keanehan yang terjadi karena Lily tidak menghubungiku sekalipun sejak aku meninggalkan London. Aku membiarkan mereka menghadapi teror itu sementara aku berlama-lama di Amerika. Mereka vampir-vampir terlatih, dan memiliki keyakinan kuat akan misi yang harus mereka jalani sehingga sulit mengalahkan mereka. Aku menyesal anggota timmu harus jadi korban dalam serangan saat itu. Aku tahu kalau mereka berarti bagimu. Yang ingin kukatakan sebenarnya adalah, serangan saat itu terjadi karena kau, Amelia. Mereka menginginkanmu. Mereka menyerang London karena mereka tahu kalau kau sering menghabiskan waktu di London. Bahkan mereka tetap melancarkan serangan saat tahu kalau kau ada dibawah perlindunganku. Mereka tidak memperdulikan itu dan tetap menyerang. Kenapa? Karena master mereka menginginkanmu. Pertanyaannya adalah apakah mungkin master mereka adalah vampir yang sama dengan yang menjadikanmu seperti ini?”tanya Wren kemudian. “Kau pikir dia orang yang sama dengan dua kejadian ini?” “Aku hampir tidak berpikir, Amelia. Aku nyaris yakin.” “Perlihatkan gambarnya padaku.”ujarku datar. Wren meraih remote di meja kerja yang ada di ruangan itu dan menekan tombolnya. Sebuah Wrenar putih turun dari langit-langit ruang baca dan langsung menampilkan sebuah gambar yang ditembakkan langsung dari proyektor yang tergantung di langit-langit. “Gambar ini diambil beberapa minggu yang lalu melalui sebuah kamera CCTV di jalanan.”jelas Wren semakin memperjelas gambar yang ada di Wrenar. Aku tidak kaget mendengar ucapan Wren darimana dia mendapatkan gambar itu. Wren mungkin vampir, tapi dia lebih Nefenip seorang anggota FBI dengan segala akses yang dia miliki. Aku mengamati gambar itu baik-baik. Mungkin wajahnya sudah berubah. Tidak ada lagi kesan ramah disana alih-alih kesan dingin. Tidak ada lagi kerutan bekas senyuman di sudut bibirnya. Tapi aku masih mengenali wajah tampan itu. “Itu dia.”bisikku pelan yang langsung mengakibatkan ketegangan di ruang baca Wren. “Siapa dia?”tanyaku kemudian. “Conrad. Vampir yang sangat kuno.”sahut Wren pelan. “Ternyata pemburumu adalah bom waktu yang siap meledak, Wren.”ujar Navaro yang akhirnya bicara sejak aku masuk ruangan. Tidak ada yang merespon ucapan Navaro. Semuanya langsung sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Termasuk aku. Dan ada satu hal yang membuatku bingung. Ucapan Lily tentang memicu perang. Apa maksudnya? “Bagaimana bisa semua ini memicu perang vampir, Wren?”tanyaku cepat walau mataku berpindah-pindah antara Lily dan Wren. Wren menatapku tajam sebelum tatapan itu kembali tenang. “Kau ada dalam perlindunganku selama ini. Menginginkanmu berarti menginginkan apa yang menjadi milikku dan mereka berusaha merebutnya dengan paksa. Itu tidak diperbolehkan dalam dunia vampir, Amelia. Harus ada perang untuk itu. Tidak hanya itu, Conrad bisa menuduhku dengan hal yang sama. Darahnya ada dalam tubuhmu, secara umum itu membuatnya bisa mengakuimu sebagai miliknya. Statusmu, Amelia, yang membingungkan kami semua.”jelas Wren cepat. Aku memang menjadi pemburu vampir selama ini, tapi aku tidak pernah tertarik dengan masalah hirarki atau kepemilikan vampir hingga saat ini. Oh, betapa menyusahkannya semua ini. Bahkan dalam dunia makhluk abadi sekalipun. “Kau bisa menjadikannya lebih mudah.”ujar Aleandro datar. “Apa maksudmu?”tanya Wren cepat. “Kita bisa menyebarkan kabar kalau Amelia sudah berada di London. Mereka pasti akan segera kembali dan berusaha membawa Amelia bersama mereka. Kita tidak akan memberikan perlawanan, tapi kita akan mengikuti jejak mereka hingga ke tempat Conrad. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Bukankah ini semua sangat mudah dilakukan? Kita sudah tahu siapa werewolf yang melanggar perjanjian itu, dan kita juga bisa menemukan tempat vampir itu bersembunyi. Semuanya bisa dilakukan bersamaan.”jelas Aleandro cepat. “Kau gila!”sembur Lily kuat. “Aku susah payah melindungi Amelia agar tidak ada yang bisa menyakitinya. Berapa banyak anggota timnya yang tewas untuk melindunginya dan sekarang kau bilang kalau kita bisa membiarkan mereka membawa Amelia?”seru Lily kesal. “Cepat atau lambat mereka akan menemukannya, Lily. Bukankah lebih cepat lebih baik? Lagipula masalah ini tidak baik kalau dibiarkan berkembang terlalu lama.”tukas Aleandro datar. Lily mengalihkan tatapannya padaku sejenak sebelum menatap suaminya tajam. “Aku tidak setuju, Wren.”bisiknya lirih. Wren hanya terdiam mendengar ucapan istrinya. Jelas sekali kalau dia sendiri juga sedang berpikir keras. Aleandro, aku salah kalau mengira dia baik. Bahkan setelah semua yang kami lakukan, dia tetap seorang vampir yang dingin. Ternyata semua sikap lembutnya itu hanya ada saat dia menginginkan seks dari seseorang. Entah kenapa sakit rasanya mendengar dia ingin menjadikanku umpan dengan mudahnya. Bahwa hal itu hanya menegaskan kalau aku tidak berarti apapun baginya. Aku hanya salah satu dari pemuas nafsunya. Tepat seperti yang pernah dia katakan. Tapi aku tahu apa yang dikatakannya itu benar. Itu jalan yang paling mungkin bisa berhasil. “Aku pikir itu ide yang bagus.”ucapku tiba-tiba yang langsung mendapatkan protes keras dari Lily. “Dan kau juga gila?!”semburnya. “Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan vampir itu, tapi dia berbahaya, Amelia! Pikirkan anggota timmu yang tewas demi melindungimu! Pikirkan apa yang sudah mereka lakukan untukmu! Kau tidak bisa bertindak ceroboh seperti ini hanya karena ucapan bodoh Aleandro! Hargai apa yang sudah anggota timmu korbankan demi keselamatanmu.” “Itu bukan ucapan bodoh, Lily. Aku rasa dia benar. Itu jalan yang paling mudah.”tukasku cepat. “Dan jangan pernah menganggap aku tidak menghargai apapun yang timku lakukan. Mereka segalanya untukku. Aku melakukan ini agar tidak ada lagi yang berkorban untukku.” “Sejak kapan kau memilih jalan yang mudah untuk mencapai tujuanmu?”balas Lily cepat. “Sejak aku tahu kalau tujuan hidupku sudah dekat. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi, Lily. Aku menghabiskan hidupku hanya untuk menelusuri jejaknya. Aku tidak ingin semua ini sia-sia.”sahutku jujur sambil melirik Aleandro diam-diam, ingin melihat reaksinya atas ucapanku. Tapi sepertinya hubungan kami memang kembali ke tempat semula. Saling bersikap dingin. “Wren...”bisik Lily sambil kembali memandang suaminya, berharap kalau Wren bisa menghentikanku. “Amelia.”panggil Wren pelan lalu menghampiri Lily dan meremas bahu istrinya pelan. “Lakukan apa yang kau inginkan. Ini perjanjian kita. Kalau ini yang kau inginkan, maka lakukanlah.”ucap Wren datar. “Wren!”tegur Lily. “Kau tidak bisa membiarkannya! Ini berbahaya!” “Percayalah, amour. Amelia tahu apa yang harus dilakukannya.”ucap Wren lembut. Lily menggeleng cepat. “Kau tidak boleh membiarkannya, Wren! Kau tidak boleh membiarkan dia dalam bahaya! Jangan jauhkan orang-orang yang kusayangi lagi! Sudah cukup aku kehilangan Dara, jangan Amelia! Jangan lagi...”ujar Lily lirih. “Aku tidak bisa melakukan apapun pada Dara karena itu pilihannya, amour. Dia memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada terus hidup tanpa Key. Aku tidak mungkin memaksanya tetap hidup dalam penderitaan. Tapi Amelia berbeda. Dia tahu apa yang terbaik untuknya. Aku tidak mengatakan kalau aku akan membiarkannya pergi sendiri. Dia masih tetap dibawah perlindunganku sampai aku atau dia menyatakan sebaliknya. Aku akan melakukan apapun untuk memastikan dia selamat.”bisik Wren lalu mengecup lembut kepala Lily. “Tidak akan terjadi apapun, Lily.”janji Eliza pelan. Lily menatap Eliza sejenak sebelum memandangku. Ada kasih sayang dalam matanya. Bagaimana bisa makhluk satu ini menyayangi semua orang yang bahkan tidak ada hubungan dengannya? Bagaimana bisa putri dari Malaikat yang Terbuang memiliki hati Layaknya malaikat sesungguhnya? Untuk makhluk berdarah setengah malaikat, Lily jelas nyaris memiliki kebaikan hati malaikat itu sendiri. “Amelia...”panggil Lily pelan sambil mengulurkan tangannya di atas meja kerja Wren. Dan entah kenapa rasanya tubuhku bergerak sendiri. Aku berdiri dan menghampiri Lily, menggenggam tangannya. “Berjanjilah, apapun yang terjadi nanti, kembalilah pada kami.”ucapnya lembut. Sekali lagi tanpa sadar aku mengangguk. “Kau akan selalu menjadi orang yang kusayangi.”bisikku lembut yang langsung membuat Lily tersenyum. “Bisakah aku kembali ke rumahku? Aku pikir aku benar-benar butuh istirahat.”lanjutku kemudian. “Kau tidak tinggal disini hari ini?”tanya Lily cepat, aku bisa merasakan kekecewaan dalam nada suaranya. Aku menggeleng pelan. “Aku memilih untuk tidur di kamarku sendiri, Lily. Lagipula aku harus menyimpan barang-barang itu.”ujarku sambil melirik kardus yang masih tergeletak di atas meja. Lily mengangguk pelan. “Aku akan meminta seseorang mengantarmu.”ujar Wren sambil meraih telepon dan menelpon seseorang yang kuperkirakan adalah supir yang tadi mengantar kami ke tempat ini. “Amelia... Kau tidak perlu harus menepati ucapanmu pada Lily. Bagaimanapun, kau bukan klan-ku. Kau bebas, walaupun secara tidak langsung seharusnya kau berada dibawah kekuasaan Conrad. Tapi selama kau masih membutuhkan perlindunganku, aku akan selalu memberikannya.”ujar Wren setelah selesai bicara di telpon. “Aku mengerti. Aku akan memikirkannya.”bisikku pelan. Tidak butuh waktu lama menunggu mobil yang akan mengantarkanku kembali ke apartemenku sendiri. Hanya butuh satu jam sejak aku menunggu jemputan hingga aku tiba di apartemenku. Setelah memasukkan password pada panel di pintu, aku melangkah masuk ke dalam apartemen yang sudah kutinggalkan beberapa minggu yang lalu. “Lebih lama dari yang kuperkirakan.”ujar sebuah suara dari dalam kegelapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD