4 jam kemudian mereka sudah berada dalam sebuah van yang menuju ke London. Lorenz juga sudah berpakaian lengkap_walaupun pakaian yang digunakannya adalah pakaian Aleandro. Mereka berempat duduk diam dalam van sampai Aleandro mendesah panjang sambil terus menyetir. “Aku rasa London sudah seperti neraka saat ini.” Ucapnya pelan.
Amelia mengangguk pelan. “Seluruh isi neraka pasti sudah tumpah di London.” Lanjut Amelia sambil memandang ke jalanan.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Lorenz sambil memandang keduanya bergantian, bingung.
Amelia memutar badannya hingga menghadap ke kursi belakang. “Apa kau mengenal wanita yang duduk disebelahmu?” Tanya Amelia sambil melirik Lily yang memang duduk di sebelah Lorenz.
Lily menatap Lorenz sambil tersenyum sebelum kembali menikmati pemandangan dini hari di luar jendela mobil. “Tidak.” Sahut Lorenz cepat.
“Kalau kau menemukan kekacauan di London, maka dia-lah yang menyebabkannya.” Ujar Amelia datar.
Lorenz memilih untuk diam walaupun dia masih tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Wanita yang duduk disebelahnya ini jelas tidak termasuk golongan wanita cantik, jelas Amelia Williams lebih cantik, tapi dia menarik. Itu yang membuat Lorenz merasa nyaman berada di sebelahnya. Dan hebatnya, Lorenz sama sekali tidak merasa kesulitan menahan wujud manusianya selama berada disebelah wanita itu. Lorenz sama sekali tidak merasakan desakan untuk kembali ke wujud serigalanya.
Dia bukan vampir. Aku selalu tahu kalau ada vampir di sekitarku. Tapi siapa wanita ini? Aku bisa merasakan kalau dia memiliki kekuatan yang besar. Pikir Lorenz bahkan tanpa memperhatikan Lily.
“Jangan tertarik padanya. Kau bisa memicu perang dunia ketiga.” Ucap Aleandro ringan yang langsung membuat Lorenz merengut kesal. Aleandro bisa membaca pikiran orang lain.
Kali ini L benar-benar memutuskan untuk diam. Dia tidak bicara ataupun berpikir. Dia memilih untuk tidur sebelum menjalani interogasi yang pasti akan terjadi beberapa jam lagi. Karena itu tidur merupakan pilihan terbaik.
“Ngomong-ngomong, Amelia, sepertinya kau sudah bisa bertarung melawan were... Benar bukan?” Tanya Lily ringan.
Amelia menoleh sebentar ke belakang, senyum bangga tersungging di bibirnya. “Pelatihan keras dari sang eksekutor.” Sahutnya ringan.
“Aleandro?” Tanya Lily tidak percaya. “Aleandro yang melatihmu?”
“He eh.”
Lily menggeleng pelan. “Benarkah itu Aleandro?” Tanya Lily sekali lagi.
“Hanya untuk meringankan tugasku, Lily. Aku tidak mungkin terus melindunginya kalau dia tidak bisa melawan werewolf. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah melatihnya.” Sahut Aleandro datar.
Lily memperhatikan kedua orang yang duduk di kursi depan dengan seksama dan kemudian tersenyum puas. “Aku mengerti.” Bisik Lily cerah.
“...ei.”
Goncangan di tubuh Lorenz-lah yang membuatnya terjaga. Untuk pertama kalinya sejak dia menjadi ‘kelinci’ percobaan Lazaro, baru kali ini dia bisa tertidur lelap. Lorenz membuka matanya perlahan hanya untuk mendapati kalau Lily duduk sangat dekat dengannya, terlalu dekat hingga Lorenz bisa menghirup aroma vanilla dari tubuh wanita itu.
“Kita sudah hampir sampai. Aku pikir kau lebih baik dibangunkan.” Ujar Lily ringan.
Lorenz mengamati Lily sejenak sebelum mengangguk pelan. “Terima kasih.” Gumamnya pelan.
“Kembali.” Balas Lily ringan. “Lihat, tidak ada yang berubah di London. Tidak ada kehancuran. Kalian hanya melebih-lebihkan.” Ujar Lily pada dua orang yang duduk di depan.
Aleandro mengedikkan bahunya cepat. “Aku akan langsung menemui Zac, itu kalau dia ada di Picasa. Kalau tidak ada aku akan pergi kemana saja yang jelas tidak dalam radius 10 mil dari Wren.” Ujar Aleandro datar.
Amelia mengangguk menyetujui. “Aku juga akan kembali ke apartemenku. Atau setidaknya aku bisa kembali ke markasku di Harrow.” Ucapnya.
“Hey!” Tegur Lily kesal. “Tidak akan terjadi apapun. Percaya padaku.” Ujar Lily kemudian.
Lorenz masih mengamati pembicaraan mereka saat mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki jalanan padat kota London, dan tidak lama kemudian mobil mulai membelok ke arah jalan masuk sebuah gedung pencakar langit dan terus masuk menuju basement. Siapapun yang melihat Picasa Center tidak akan pernah percaya kalau pemilik gedung itu adalah seorang vampir. Gedung itu sama normalnya dengan gedung-gedung pencakar langit lain yang ada disekitarnya. Hanya saja segala pemandangan normal yang biasanya didapati di Picasa Center kini sudah tidak ada. Tidak ada penjaga pelataran parkir basement. Alih-alih penjaga, yang mereka temui di pintu masuk menuju akses utama gedung adalah Wren.
Aleandro mendesah panjang sekali lagi saat menyadari kalau lampu-lampu yang menerangi basement kini hanya berkelap-kelip, aliran listrik tegangan tinggi memenuhi basement. Dan tidak disangkal lagi pusatnya adalah sang vampir yang sedang berdiri di pintu akses utama dengan tangan terlipat di d**a. Kemampuan Wren mempengaruhi medan listrik nyaris sama besar dengan kemampuan Zac mengingat mereka pernah berbagi darah.
“Turunlah, Lily.” Gumam Aleandro enggan.
“Dia hanya kesal. Tenang saja.” Ujar Lily terlalu santai bahkan setelah melihat apa yang suaminya lakukan saat ini.
“Kau tidak boleh turun! Kau akan terluka. Vampir itu terlihat murka dan dia akan melukaimu!” Ujar Lorenz spontan.
Amelia memutar bola matanya menatap Lorenz, tidak percaya kalau were itu bisa bersikap impulsif seperti itu. “Lebih baik dia turun atau kita semua yang akan menerima kemurkaan Wren. Percayalah, hanya orang yang tidak punya otak yang berpikir kemarahan vampir bisa diterima.” Tukas Amelia.
Lily menyentuh bahu Lorenz lembut. “Terima kasih kau sudah peduli. Tapi tenang saja. Dia tidak akan pernah menyakitiku.” Ucapnya ringan. “Aku akan turun. Kalian tetap harus turun juga nanti.” Sambungnya kemudian sambil membuka pintu mobil.
Tepat ketika pintu mobil terbuka, lampu-lampu basement menyala seluruhnya, membuat basement yang tadinya terlihat sedikit gelap, kini berubah menjadi terang benderang. Tidak ada lagi aliran listrik yang menyesakkan. Alih-alih semua itu, Wren yang tadinya berdiri di pintu masuk utama kini sudah berdiri di sisi mobil dan memeluk Lily posesif.
“Aku pulang.” Bisik Lily lembut sambil melingkarkan lengannya di tubuh suaminya. “Kau terlalu berlebihan, sayang. Aleandro dan Amelia nyaris melemparku keluar dari mobil begitu melihat apa yang kau lakukan.” Sambung Lily kemudian.
Wren meletakkan dagunya di bahu Lily, “Kau benar-benar membuatku merasa semakin tua, amour. Hanya secarik kertas! Bisa-bisanya kau melakukan itu! Kalau saja aku belum mati, aku sudah mati berkali-kali setiap kali kau pergi mencari bahaya.” Gumam Wren di lekukan leher Lily, menolak untuk melepaskan istrinya itu bahkan dengan penonton di dalam mobil.
Lily tersenyum bahagia dalam pelukan Wren, bahagia karena dia tahu suaminya_dengan segala kesempurnaan yang dimiliki para vampir_mencintai Lily seolah hanya Lily satu-satunya makhluk berjenis kelamin perempuan di dunia, sebelum melepaskan pelukan suaminya itu. “Kami membawa seseorang. Aku rasa Aleandro berpikir kalau dia akan berguna. Dan tolong simpan kekuatanmu, sayang. Kita tidak ingin ada korban sengatan listrik bukan?” Ujar Lily sambil melirik ke dalam van.
Wren memang sudah melepaskan pelukannya pada Lily, tapi dia menolak membiarkan Lily menjauh. Tangannya menggenggam tangan Lily erat saat dia memandang ke dalam van. “Sampai kapan kalian akan berada di dalam sana?” Tanya Wren pelan.
Beberapa detik kemudian satu persatu pintu van terbuka. Aleandro turun lebih dulu diikuti Amelia dan Lily. “Hanya memastikan keadaan aman sebelum terjun ke dalam neraka.” Sahut Aleandro begitu dia menutup pintu van.
“Werewolf. Kau membawanya untuk apa, Aleandro?” Tanya Wren begitu Lorenz turun.
“Dia werewolf pertama yang kutemui yang bisa menahan efek itu lebih lama, Wren.” Ujar Aleandro cepat.
“Dia hanya tidak bisa menahan diri saat mencium darah manusia.” Sambung Amelia.
Wren mengamati Lorenz sejenak sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu masuk. “Ayo kita ke atas. Semuanya sudah menunggu di ruanganku.” Ujar Wren pelan.
*Aleandro POV*
Satu-satunya alasan kenapa aku tidak mau berhubungan terlalu dekat ataupun terlalu lama dengan kaum wanita adalah aku tidak mau terikat. Mungkin satu-satunya ketakutanku adalah menemukan pasangan hidupku. Kaum vampir mungkin tidak bisa dipercaya, kami selalu lebih pandai memutarbalikkan fakta dibandingkan siapapun juga, semuanya didukung oleh kemampuan kami menghipnotis manusia hanya dengan menatapnya. Tapi konsekuensi dari itu semua adalah saat kami menemukan pasangan, jiwa kami_kalau memang bisa disebut seperti itu_hanya bisa terikat dengannya, selamanya. Dan aku tidak manyukai konsep terikat itu sendiri. Kebebasan adalah segalanya bagiku. Karena itu aku selalu membagi jenis wanita dalam hidupku, pertama untuk makananku, kedua untuk memuaskan nafsuku. Tapi bersama Amelia, segalanya tidak jelas, tidak pernah ada yang sesuai keinginanku. Dia jelas bukan makananku, dan dia juga tidak hanya untuk memuaskan nafsuku_kalau aku memang pernah merasa cukup dengannya. Tidak. Dia lebih dari itu. Dan aku membenci kenyataan ini, bahwa aku mulai merasakan ketergantungan dengan kehadirannya di sisiku.
Apa yang kulihat beberapa saat lalu juga tidak membantuku menghilangkan kebencian ini. Wren benar-benar sudah terikat dengan pasangannya. Bahkan vampir itu tidak bisa berada jauh dari Lily. Sulit menemukan kesempatan melihat Wren tanpa melihat Lily disampingnya. Dia selalu mengeluarkan isi neraka kalau tidak bisa menemukan istrinya itu. Rasanya konsep ‘ikatan’ semakin menakutkan bagiku.
“Mereka pasangan.”gumam sebuah suara di depanku.
Aku menatap Lorenz dengan seksama. Pria muda ini jelas tertarik pada Lily. Tapi aku tidak menemukan hasrat dalam dirinya. Dia hanya terpesona atas kebaikan dan keramahan Lily, serta kekuatan aneh yang dimiliki wanita itu, yang membuat siapa saja bisa merasa nyaman bersamanya.
Berdoalah semoga Wren tidak menyadari ketertarikanmu itu, Lorenz. Walaupun kau tidak tertarik secara fisik pada Lily, tapi Wren tidak akan pernah melepaskan siapapun yang memiliki perasaan pada Lily.bisikku dalam hati.
“Itu salah satu alasan kenapa aku memintamu agar tidak tertarik padanya. Bagus karena kau bisa menyadarinya bahkan tanpa bertanya pada mereka.”gumamku pelan, sengaja hanya Lorenz yang bisa mendengarnya.
“Dan siapa pasangannya itu?”
Aku memutar bola mataku. Dia tidak mengenal Wren? Yang benar saja! Apa dia baru keluar dari pedalaman sss? “Vampir penguasa Inggris.”sahutku singkat.
“Dia-kah Wren?”ulangnya lagi.
“Aku rasa itu dia, kecuali tanpa sepengetahuanku, sudah ada vampir lain yang bisa merebut daerah ini.”sahutku tanpa berusaha menyembunyikan kekasaran di dalamnya.
“Bisakah aku bertanya sesuatu?”
“Bukankah sejak tadi kau sudah bertanya?”balasku datar.
Lorenz mengerenyit kesal. Tapi dia tetap menahan kekesalannya, sadar kalau dirinya hanya seorang diri di sarang vampir ini. “Kalau dia adalah Wren, apa wanita itu putri Lucifer?”tanya Lorenz hati-hati.
“Kau sudah tahu kenyataannya, tapi kau sama sekali tidak tahu siapa orangnya? Dia bahkan mengeluarkan sayapnya saat kau masih berwujud serigala.”
“Saudaraku... Selama ini dia terlalu melindungiku. Aku hanya bisa mendengar selentingan kabar. Aku tidak pernah keluar dari rumah kami. Aku tidak pernah percaya dengan berita itu sampai saat ini. Putri Lucifer dan vampir.”sahut Lorenz jujur. “Dan aku tidak mengingat apapun saat aku berwujud serigala. Ingatanku terpecah.”
Aku mengangguk pelan. “Dia putri Lucifer. Mungkin satu-satunya anak yang disayangi Lucifer. Jangan tanyakan kenapa karena aku juga tidak tahu. Seharusnya kau sudah bisa menebaknya sejak dia menyembuhkan kakimu.”
“Aku tidak berpikir kesana. Aku pikir dia penyihir.”
Aku menggeleng tidak percaya. Bagaimana bisa dia sepolos ini? Siapa saudaranya itu? Dia jelas sudah membuat bocah ini tidak mengetahui apapun. “Kalau kau bersikap baik dan mau bekerja sama, mungkin Wren bersedia mengabulkan satu permintaanmu. Bersyukurlah karena Wren adalah vampir aneh. Aku tahu ada satu kawanan yang berada dibawah perlindungan Wren tanpa diketahui siapapun.”
“Dia berteman dengan kaumku?”
“Si bodoh itu bisa berteman dengan siapapun.”ujarku membetulkan ucapannya. Ya, Wren bisa berteman dengan siapapun, hal yang tidak mungkin kulakukan.
Setelah melewati beberapa ruangan dan pintu, akhirnya kami berhenti di depan sebuah pintu. “Kami akan langsung ke kantorku, Amelia. Dan kau, bawa dia makan. Aku pikir dia butuh makan sebelum dia diinterogasi Zac. Setidaknya harus ada yang bisa berpikir jernih, karena Zac tidak akan bisa melakukannya.”ujar Wren tiba-tiba sambil membuka pintu yang ternyata adalah dapur.
Aku baru tahu kalau gedung ini memiliki dapur Layaknya dapur restoran berbintang. Aku hanya melirik sebentar ke dalam dapur Picasa dan langsung menyadari sesuatu. Semua yang ada di dapur itu adalah manusia. Wren memang suka bertaruh dalam bahaya. Akhirnya kami meninggalkan Amelia dan Lorenz di dapur sementara kami terus berjalan menuju lift yang terhubung langsung dengan lantai pribadi Wren.
---
Begitu masuk ke dalam ruangan yang menjadi kantor pribadi Wren itu, aku langsung menyadari kehadiran Archard. Seperti biasanya, kau tidak akan menemukan Zac tanpa adanya Archard disana. Zac mungkin bisa menugaskan klan Ursa-nya yang lain ke belahan dunia manapun, tapi dia tidak pernah menugaskan Archard pergi jauh darinya. Padahal secara kekuatan, megamaster itu bisa melawan tiga klan sekaligus tanpa bantuan siapapun. Aku masih tidak mengerti kenapa dia selalu membawa Archard bersamanya.
“Jadi, apa yang membawa kau hingga kesini, Zac?”tanyaku setelah merebahkan tubuhku pada salah satu sofa tunggal besar yang ada di dalam ruangan super elegan itu.
Zac menatapku sekilas sebelum kembali menatap dinding yang berisi lukisan di kantor Wren. “Dimana anjing yang kau bawa itu, Aleandro?”tanyanya datar.
“Aku menyuruhnya makan, Zac. Aku harap setelah dia kenyang, dia bisa berpikir jernih selama proses interogasi ini, karena aku yakin kau tidak akan bisa berpikir jernih.”tukas Wren setelah mengangguk singkat padaku.
Oke, hanya Wren yang bisa menghina sang raja tanpa mendapatkan hukuman bahkan teguran sekalipun. Tapi ada bagusnya juga. Setidaknya ada orang yang bisa membuat pria ini sedikit membumi.
“Aku hanya ingin bertanya, Wren. Bukan menyiksanya.”gerutu Zac kesal.
Wren mengabaikan Zac dan berpaling pada Lily. “Katakan padaku, siapa sebenarnya yang membuatmu memutuskan pergi ke tempat itu, amour?”tanya Wren sambil menarik istrinya dan mendudukkannya di kursi besar di belakang meja kerjanya.
“Baiklah, rasanya percuma aku berbohong. Begini, saat kau berangkat ke Windsor untuk bertemu dengan Wagner, Reynard berkunjung ke Acasa Manor. Dia hanya singgah sebentar karena sedang dalam perjalanan menuju Irlandia. Kami bercerita tentang masalah yang terjadi dan tiba-tiba saja dia bilang kalau Amelia dalam bahaya. Dia juga yang mengantarkanku ke Brampton dan meneruskan perjalanannya ke Irlandia.”jelas Lily, yang juga menjawab pertanyaanku kenapa dia bisa datang tepat pada waktunya saat itu.
“Sepertinya aku harus menjelaskan beberapa hal pada Reynard. Aku senang kalau semua akhirnya berhubungan baik seperti ini. Tapi aku jelas tidak senang mengetahui kalau istriku suka mencari masalah dan parahnya, dia pergi bersama pria lain. Aku tidak suka, Lily. Aku cemburu. Dan Reynard harus tahu sampai dimana dia boleh berhubungan baik denganmu. Melemparkanmu ke dalam kekacauan jelas bukan salah satu niat baik yang bisa kuterima.”ujar Wren serius.
“Aku harap kau yang terakhir berpasangan, Wren.”gumamku yang diikuti anggukan oleh Zac.
Wren menatap kami dengan tajam, ada tuduhan dalam tatapannya. Rasakan sendiri saat kalian memiliki pasangan. Aku akan mempertaruhkan satu perusahaanku kalau kalian bisa tenang saat pasangan kalian bermain api.tuduh Wren dari tatapannya. “Bagaimana denganmu sendiri, Aleandro? Aku pikir kau dan Amelia akan saling membunuh lebih dulu sebelum berhasil membawa seseorang kesini.”ujar Wren ringan sambil tersenyum menatapku, mengabaikan komentarku barusan.
Ini dia! Wren TIDAK bisa membaca pikiran siapapun. Tapi dia entah kenapa selalu bisa menebak dengan baik apa yang ada dalam pikiran seseorang. Setidaknya seorang vampir tidak memiliki raut wajah yang bisa dibaca dengan mudah, tapi Wren selalu bisa melakukannya. Rasanya kemampuannya lebih mengesalkan daripada bisa membaca pikiran.
“Memang itu yang hampir terjadi. Aku tidak tahu dia mendapat kepercayaan diri darimana, yang jelas dia sempat menodongkan pistol berpeluru perak ke jantungku.”ujarku berusaha tidak memikirkan apa yang terjadi setelahnya.
Wren tertawa puas mendengar penjelasanku. “Dia wanita keras kepala, Aleandro. Jangan pernah menantangnya atau melarangnya kalau kau tidak ingin dia melakukan yang sebaliknya. Setidaknya itu yang kupelajari setelah bertemu dengannya.”
“Terkadang aku berpikir kalau kau sangat mengistimewakan Amelia, Wren, dan aku heran Lily tidak masalah dengan itu semua.”ujarku tanpa sadar.
“Karena aku memang istimewa.”ujar sebuah suara dari belakangku. Bahkan tanpa menolehpun aku tahu kalau suara itu milik Amelia. Dia sudah kembali bersama L, yang syukurnya masih berwujud manusia.
Wren menatap lurus ke belakangku. “Kupikir kau tidak bisa mempertahankan wujud manusiamu selama ini.”ujar Wren datar.
“Bagaimana kau tahu kalau kami yang terinfeksi tidak bisa berwujud manusia?”tanya Lorenz takjub dengan apa yang baru saja diucapkan Wren.
“Ah, jadi itu sebutan kalian? ‘Terinfeksi’? Aneh, mengingat kalian memang sengaja diberi darah vampir, kata ‘terinfeksi’ rasanya tidak sesuai. Tapi tidak masalah.”gumam Wren sambil mengangguk paham, “Kau bertanya kenapa aku tahu? Baiklah, aku akan memberitahukannya padamu. Sebagai gantinya silakan duduk dimanapun yang kau suka dan jawab setiap pertanyaan yang kami ajukan.”sambung Wren ringan dengan senyum di wajahnya.
Kalau saja aku tidak tahu apa profesinya sebelum menjadi vampir, aku pasti sudah mengira kalau dia adalah negosiator CIA ataupun pedagang. Dia terlalu pintar melakukan negosiasi dengan kaum apapun.
“Baiklah.”ujar Lorenz cepat dan memilih tenpat duduk paling jauh dari Zac. Aku rasa dia sudah tahu siapa Zac, karena itu dia memilih menjauh dari makhluk paling berbahaya di ruangan ini.
“Selama beberapa minggu ini, kami mengadakan perburuan besar-besaran terhadap werewolf level E_sebutan kami untuk kalian yang terinfeksi. Zac mungkin memerintahkan untuk membunuh mereka di tempat, tapi aku tidak. Semua anggota klanku membawa mereka ke tempat ini. Dan bagi mereka yang memang sulit untuk dijinakkan, maka kami akan langsung membunuhnya karena mereka berbahaya.
Dari semua werewolf yang dibawa kesini, aku melakukan penelitian pada mereka. Aku mengamati dan meneliti apapun keanehan yang kutemukan pada kalian. Dan aku mendapatkan jawabannya. Darah vampir itu membuat kalian tidak bisa mempertahankan wujud asli kalian lebih lama. Aneh memang, tapi sepertinya itulah yang terjadi. Dari semua yang kuteliti, yang paling lama bisa mempertahankan wujud manusianya hanya beberapa, itupun hanya selama satu jam setiap harinya. Sementara yang lainnya hanya bisa bertahan kurang dari itu.”jelas Wren cepat. “Jadi aku cukup paham kalau kau adalah kasus istimewa mengingat kau bisa bertahan selama ini, dari Brampton hingga saat ini. Kalau aku tidak salah menghitung, sudah hampir 5 jam kau berwujud manusia.”
“Hampir 24 jam lebih tepatnya kalau saja aku tidak berubah menjadi werewolf lagi tadi saat pertarungan.”ralat Lorenz datar.
Wren mengangguk paham. “Berarti tebakanku benar. Apa ini waktumu paling lama berwujud manusia setelah terinfeksi?”
“Ya. Tapi aku melatihnya setiap hari.”
“Aku mengerti. Kalau begitu apa makananmu? Apa kau tetap memerlukan darah?”
“Ya. Tidak.”sahut Lorenz cepat. “Awalnya aku memang memerlukannya, apalagi saat aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Tapi sekarang tidak. Aku baru kehilangan kendaliku saat ada darah segar di sekitarku. Selama itu tidak ada, aku masih bisa mengontrol diriku dalam wujud apapun.”
“Satu lagi yang ingin kutanyakan.”
“Tanyakan saja.”
“Siapa yang memberimu darah vampir itu? Aku bukan bertanya siapa vampirnya, tapi siapa werewolf t***l yang melakukan semua ini?”tanya Wren dingin.
Lorenz mengangguk paham. “Sepertinya kau sudah mengetahui darah vampir mana yang digunakan, bukan? Karena itulah kau menanyakannya.”gumam Lorenz, “Lazaro. Dia yang melakukan ini semua. Kami tidak dipaksa meminum darah vampir. Kami disuntik dengan darah itu.”jelas Lorenz kemudian yang akhirnya menjelaskan kecurigaanku selama ini.
Sejak pertama kali mendapatkan Lorenz ditahan di ruang bawah tanah dan bukannya dibunuh, aku sudah merasakan keanehan. Wagner sekalipun langsung membunuh kawanannya yang terinfeksi, tapi tidak dengan Lazaro. Ternyata inilah penjelasannya. Lazaro sendiri menyadari kalau Lorenz adalah kasus khusus, karena itu dia ditahan untuk diamati.
“Kalau benar apa yang kupikirkan, maka Lazaro mungkin akan melakukan sesuatu uintuk mendapatkanmu lagi.”ujarku cepat.
“Aku juga berpikir seperti itu.”ujar Amelia menyetujui ucapanku.
Wren memperhatikan Lorenz selama beberapa saat sebelum menatap Zac lama. Hanya ada keheningan disana. Aku bahkan kesulitan menembus pikiran Wren karena dia sedang memfokuskan pikirannya pada Zac. Sepertinya kedua laki-laki itu sedang berdebat tentang apa yang sebaiknya dilakukan saat ini. Tidak ada seorangpun yang berusaha memecahkan keheningan ini. Semuanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Dan hebatnya adalah Amelia sibuk merancang apa yang akan dilakukannya kalau serangan itu benar-benar terjadi. Apa wanita ini manyukai kekerasan? Dia malah bahagia dengan situasi ini!
Dan yang membuatku nyaris frustasi adalah isi pikiran L! dia masih memikirkan Lily! Bersyukurlah dia karena Wren tidak bisa membaca pikirannya sejelas aku. Semoga saja Wren salah mengartikan apapun yang ada dalam pikiran Lorenz. Tapi... Tunggu. Apa aku tidak salah membaca pikirannya? Lorenz berpikir kalau Lily ada hubungannya dengan lamanya wujud manusia yang bisa dia pertahankan! Baiklah, bagian ini aku akan mendiskusikannya dengan Wren nanti.
“Kau menang, Wren. Lakukan apa yang kau inginkan selama mereka kembali mematuhi perjanjian.”ujar Zac tiba-tiba dan langsung bangkit, keluar dari ruang kerja Wren.
“Apa yang kalian bicarakan?”tanyaku pada Wren karena aku tidak bisa lagi bertanya pada Zac.
Wren hanya melirik sekilas padaku sebelum menatap Lorenz tajam. Sialan dia!
“Aku dan Zac juga memikirkan hal yang sama. Kami pikir Lazaro akan mencari cara untuk membawamu kembali padanya. Pertanyaanku adalah apa kau ingin kembali padanya?”
“Tidak. Sebenarnya aku bukan anggota kawanan Lazaro. Aku hanya kebetulan mengikutinya untuk menemui saudaraku di sini, dan tiba-tiba saja semuanya menjadi seperti ini.”jawab L cepat.
“Aku bisa menjanjikan perlindungan untukmu sampai kau menemukan saudaramu.”ucap Wren ringan seolah dia baru saja menawarkan sepotong kue pada pengemis dan bukannya perlindungan pada musuh alami kami.
“Lalu apa yang kau inginkan dariku?”
“Kerja sama penuh darimu. Aku ingin meneliti sampai akhir.”ujar Wren terang-terangan.
Lorenz terdiam. Dia mulai memikirkan beberapa kemungkinan. Tapi sekali lagi yang tidak kupercaya adalah dia akan menyetujui perjanjian ini karena ingin memuaskan rasa penasarannya pada Lily! Semoga Tuhan menyelamatkannya kalau Wren sampai tahu isi pikirannya.
“Aku setuju.”ujar Lorenz tenang.
Demi semua nama suci!
“Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya sebuah suara lembut di sebelahku. Aku tidak sadar entah sejak kapan Amelia pindah dan duduk di sebelahku.
“Drama persaingan cinta paling menakjubkan.”jawabku asal.
Wren mengangguk cepat dan tersenyum puas. “Kau akan mendapatkan perlindungan yang tidak pernah bisa kau bayangkan, sobat.”ujar Wren yang langsung membuatku curiga.
“Itukah yang kalian pikirkan tadi?”tukasku, “Kau meminta klan Ursa untuk melindunginya?”tanyaku tidak percaya.
Sekali lagi Wren tersenyum lalu menghampiriku. Wren merendahkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Aku meminta Zac agar memerintahkan Archard untuk menjaga Lorenz.”bisiknya.
Kalau saja saat itu juga aku ditembak dengan peluru perak di jantungku, hasilnya tidak akan lebih megejutkan dari apa yang baru saja kudengar. “Kau gila, Wren.”
“Tidak, Aleandro. Kalau Lazaro memutuskan untuk memberitahu vampir itu, maka hanya klan Ursa yang bias melindungi Lorenz dari serangan mereka.”jawab Wren cepat. “Aku akan pulang. Kau bisa tinggal di gedung ini, Lorenz. tempat ini memiliki pengaman yang tidak bisa kau bayangkan. Ada kamar kosong di lantai milik Geofrey. aku akan menyuruhnya mengantarmu kesana. Dan kau Amelia, Lily ingin kau ikut dengan kami hari ini ke Acasa Manor.”ujar Wren kemudian.
“Aku ikut ke rumahmu.”selaku tiba-tiba yang langsung mendapatkan tatapan bingung dari Wren.
“Baiklah. Terserah saja.”ucapnya kemudian yang langsung menggandeng istrinya berjalan keluar dari kantornya.