Walau saat pertama bertemu Aleandro pernah meragukan kemampuan Amelia, tapi belakangan ini mau tidak mau Aleandro harus mengakui kalau wanita itu memang profesional dalam hal memburu dan pengintaian. Amelia berhasil melakukan penyelidikan diam-diam selama beberapa hari di sarang kawanan Lazaro dan sama sekali tidak diketahui oleh mereka. Werewolf terbiasa menyadari bahaya melalui bau, sedangkan Amelia memiliki bau manusia seutuhnya. Tidak ada satupun werewolf yang berinteraksi terlalu lama untuk bisa mengenal bau Amelia secara spesifik, karena itu Amelia berhasil menyelidiki sarang mereka.
Sebagai balasan atas bantuan Amelia selama beberapa hari ini, Aleandro menyempatkan diri melatih Amelia untuk bertarung menghadapi werewolf. Dan wanita itu_sekali lagi_terbukti telah menjadi pemburu alami. Amelia belajar dengan sangat cepat, tubuhnya sudah terlatih untuk bergerak mengikuti instruksi sekeras apapun. Dan itu semua membuatnya menjadi pemburu yang menakutkan bagi vampir biasa.
“Lebih cepat lagi, sayang!” Seru Aleandro setelah berhasil melempar tubuh Amelia hingga menabrak sebatang pohon besar yang ada di sekitar mereka.
Amelia bangkit dan mengusap darah yang keluar di sudut bibirnya. Dulu, dia akan bersumpah kalau Aleandro sengaja melakukan ini semua agar Amelia terbunuh. Tapi sekarang? Entah kenapa Amelia percaya kalau Aleandro tidak akan membiarkan Amelia terbunuh semudah itu.
“Kau benar-benar keras ya Aleandro?” Tanya Amelia kesal. “Kalau aku manusia biasa, aku pasti sudah mati sejak hari pertama kau melatihku.”
Senyum jahil muncul di wajah Aleandro. “Uh oh... Kau tahu kalau kau selalu bisa membuatku keras, sayang.” Sahut Aleandro yang kembali berhasil menangkap Amelia saat wanita itu menyerangnya. “Ingin membuktikannya?” Bisik Aleandro dengan suara seraknya yang khas sebelum kembali melempar Amelia, dan kali ini Amelia berhasil mengontrol tubuhnya untuk mendarat dengan kedua kakinya sebelum menabrak pohon lagi.
“Kalau saat itu tiba, aku yang akan membuatmu memohon. Percayalah.” Geram Amelia.
“Aku akan menunggu saat itu tiba, sayang. Percayalah, aku benar-benar menantikannya.” Bisik Aleandro sebelum sebuah batu sebesar kepalan tangan berhasil menyerempet wajahnya dan memberikan garis lurus di pipi kirinya, garis yang akhirnya mengeluarkan darah.
Aleandro tersenyum puas. “Kau sekali lagi membuktikan kalau kombinasi tubuh dan mulutmu benar-benar berbahaya, sayang.” Ujar Aleandro sambil mengelap darah di pipinya. Entah kenapa Amelia yakin kalau maksud ucapan Aleandro bukanlah serangan yang baru saja dilancarkan Amelia melainkan pada sesuatu yang akan terjadi pada mereka sebentar lagi.
“Tersenyumlah selagi kau bisa.” Geram Amelia semakin kesal.
“Wagner akan pergi sore ini ke Windsor. Menurut mereka Wagner sudah tidak bisa menghindari pertemuan ini lagi. Menurutmu apa yang menunggunya di Windsor?” Tanya Amelia saat dia menemui Aleandro yang sedang menyiapkan diri di ruang depan.
Aleandro mengaitkan pedang ke gantungan di pinggangnya. “Kalau bukan Wren yang meminta pertemuan itu, maka hanya ada satu orang yang mungkin ikut turun tangan. Sang OraCenobiae.” Gumam Aleandro enggan.
“Maksudmu Eliza?” Tanya Amelia memastikan.
“Kau mengenalnya?” Tanya Aleandro spontan karena mendengar Amelia menyebut nama Eliza dengan santai.
“Hanya sesekali bertemu dengannya di Acasa Manor. Pasangan sang malaikat agung. Dan bukankah saat itu kau ada disana? Saat aku menjalankan misi melindungi Eliza di Lunatic Tower?” Sahut Amelia ringan, melupakan kalau sesekali yang dimaksud itu adalah hampir selalu bertemu dalam setiap kunjungannya yang melibatkan Lily Russell. “Apa kau akan pergi sekarang?”
“Tidak. Aku akan pergi setelah matahari terbenam nanti.” Sahut Aleandro cepat. “Dan aku jarang mengingat hal yang tidak penting, Amelia.”
“Kalau begitu aku akan pergi bersiap-siap. Sebentar lagi matahari akan tenggelam.”
Aleandro menghentikan apapun yang sedang dia lakukan. “Kau ikut?”
“Tentu saja. Aku sudah berlatih selama beberapa hari ini, Aleandro. Aku akan mencobanya pada mereka. Dan kau tidak mungkin membawa Lorenz keluar seorang diri. Bagaimanapun disana adalah sarang kawanan itu.”
“Apa kau terbiasa dilarang, Amelia?” Tanya Aleandro penasaran.
Amelia tersenyum lebar. “Tidak. Wren cukup bijak untuk tahu kalau setiap larangannya akan membuahkan pemberontakan.” Jawab Amelia ringan.
“Berarti tidak ada gunanya aku melarangmu, bukan?”
“Yeah~ Begitulah.” Sahut Amelia cepat. “Aku pikir belakangan ini kau berubah, tidak lagi mengkonfrontasiku dalam hal apapun.”
Aleandro menghampiri Amelia dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. “Aku menyadari kalau kau lebih baik ditangani dengan cara yang berbeda.” Ucap Aleandro lembut. “Dan kau lebih penurut kalau aku melakukan ini padamu.” Sambung Aleandro tepat sebelum bibirnya melumat bibir Amelia, mengecup malas, menggodanya.
Amelia membalas ciuman itu sama bernafsunya sebelum memaksa diri menjauhkan bibirnya. “Bukankah ini salah satu tipe wanita dalam hidupmu?” Tanya Amelia serius.
“Tidak. Bisa dibilang kau membuat kategori sendiri. Kau bukan makananku, dan kau juga lebih dari partner di ranjangku.”
Amelia memiringkan kepalanya. “Apa aku harusnya merasa senang atau malah terhina dengan ucapanmu barusan?”
“Terserah kau, manis. Aku punya ide apa yang harus kita lakukan sebelum pergi menjalankan misi bodoh ini.” Bisik Aleandro yang dengan mudah mengangkat Amelia dari lantai dan membopong wanita itu sambil terus menciuminya sepanjang jalan menuju kamar.
Begitu tiba di kamar Aleandro langsung mencium Amelia dengan rakus, seolah Amelia adalah oksigen dan hidupnya bergantung pada ciuman Amelia. Tangan Amelia menyusup ke dalam kaus yang dikenakan Aleandro dan menyentuh kulit punggung Aleandro dengan telapak tangannya, merasakan kehalusan kulit vampir itu. Aleandro masih terus menciumi Amelia saat tangan Amelia bergerak ke depan ke arah pinggang celananya.
“Kau sentuh disana dan aku akan menidurimu di lantai saat ini juga, sayang.” Geram Aleandro di bibir Amelia sambil membuka kancing baju Amelia dan mengutuk pelan saat menemukan kalau Amelia masih mengenakan bra didalamnya. “Kau juga suka sekali membuatku berkutat dengan semua pakaian ini.” Geram Aleandro yang sudah memindahkan bibirnya ke leher Amelia, mengecup dan sesekali menggesekkan taringnya ke kulit lembut Amelia.
“Aku tidak berpikir... Aku kira kita akan langsung berangkat...” Bisik Amelia sambil berusaha untuk menahan tangannya agar tidak menyentuh lebih jauh setelah peringatan dari Aleandro tadi. Amelia sudah pernah merasakan berbagai cara bercinta Aleandro, dari yang paling cepat hingga yang paling lembut. Dan Amelia manyukai semuanya. Tapi entah kenapa saat ini dia ingin merasakan kelembutan Aleandro dalam merayunya, bukan percintaan cepat, panas dan liar seperti biasanya.
Hanya dalam hitungan detik, Amelia yang tadinya sudah mengenakan pakaian berburunya kini sudah berdiri tanpa sehelai benangpun di depan Aleandro. Aleandro mundur dua langkah dan menatap Amelia dengan tatapan yang bisa menelanjangi jiwa seorang alim sekalipun. “Kau indah. Paling indah dari semua yang pernah kutemui.” Bisik Aleandro serak.
“Cukup indah untuk membuatmu bersikap lembut padaku?”tanya Amelia tanpa merasa malu sedikitpun berdiri seperti itu di hadapan vampir yang beberapa minggu lalu menduduki peringkat teratas dalam daftar orang paling menyebalkan dalam hidupnya.
Aleandro kembali mendekati Amelia dan merengkuh wanita itu dalam pelukannya. “Apapun yang kau inginkan.” Bisik Aleandro sebelum melumat kembali bibir Amelia.
Dengan sangat mudah Aleandro membopong Amelia ke atas ranjang dan membaringkan wanita itu tepat di tengah-tengah ranjang. Aleandro melepaskan Amelia untuk membuka pakaiannya sendiri saat Amelia bangkit dan duduk di tepi ranjang, menahan tangan Aleandro. “Aku ingin melakukannya.” Bisik Amelia pelan.
Aleandro tersenyum dan membiarkan kedua tangannya terkulai di sisi tubuhnya. “Silakan. Aku akan menjadi anak baik kali ini.” Ucap Aleandro lalu tersenyum lebar.
Amelia berdiri.
Tangannya merambat naik dari pinggang Aleandro sambil menarik ujung kaus yang Aleandro kenakan dan membukanya. Amelia membuang kaus Aleandro ke lantai dan mulai menyentuh d**a Aleandro dengan ujung-ujung jarinya. Menelusuri lekuk otot yang ada disana sambil terus bergerak turun hingga jari-jarinya menyentuh pinggiran celana jeans yang Aleandro kenakan. Amelia menyisipkan jarinya ke dalam celana Aleandro untuk memudahkan melepas kancing itu saat tanpa sengaja ujung jemarinya menyentuh sesuatu yang membuat Aleandro mengerang kuat. “Kau bisa membunuhku hanya dengan jemarimu, sayang.” Bisik Aleandro yang langsung membuat Amelia merona tapi tetap melanjutkan pekerjaannya.
Begitu kancing itu terbuka, Amelia menarik celana Aleandro turun hingga celana jeans itu berkumpul di kaki Aleandro. Aleandro segera melepaskan dirinya dari celana itu dan tepat saat Amelia akan meneruskan pekerjaannya yang terakhir, Aleandro dengan cepat menahan tangan Amelia. “Aku manyukai sentuhanmu, sayang. Sangat. Tapi aku akan gila kalau kau menyentuhku dengan sangat pelan seperti itu seolah kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan padaku.” Bisik Aleandro sambil meletakkan salah satu tangan Amelia ke atas bukti gairahnya sebelum kembali membawa Amelia ke atas ranjang.
Lorenz berhasil mempertahankan wujud manusianya lebih lama dalam beberapa hari belakangan ini. Dan dia lebih sering menghabiskan waktu dalam wujud manusia dalam penjara bawah tanahnya karena meskipun itu menunjukkan kalau efek darah itu berhasil dinetralisir oleh sistem tubuhnya, berada dalam wujud serigala jauh lebih berbahaya. Dalam wujud serigala semua pikiran Lorenz akan tersampaikan seluruhnya pada werewolf lain yang masih dalam jarak dengar mereka. Tapi berbeda bila Lorenz dalam wujud manusia, pikirannya tetap miliknya sendiri.
Selama beberapa hari ini, Lorenz terus memantau keadaan disekitarnya melalui pikiran werewolf lain. Dan dia tahu kalau hari ini sudah tiba, hari dimana dia akan menjalin kerja sama dengan musuh abadi kaumnya. Tapi dia harus melakukan itu untuk kembali ke kawanannya dan membereskan masalah yang sedang terjadi saat ini. Dan hari ini adalah puncaknya, Lorenz sudah berada dalam wujud manusia hampir setengah hari. Ini adalah waktu paling lama yang bisa dicapainya selama beberapa hari terakhir.
Lorenz baru saja akan kembali ke wujud serigalanya untuk mencari tahu apa yang terjadi saat keributan terdengar di lorong bawah tanah tempatnya ditahan. Instingnya mengatakan kalau itu adalah Aleandro. Dan benar saja, beberapa menit kemudian, seorang wanita yang datang bersama Aleandro dulu muncul di depan selnya diikuti oleh Aleandro. Dengan sekali tendang oleh Aleandro, pintu jeruji itu langsung lepas dari engselnya, wanita yang bersama Aleandro langsung menghambur masuk sementara Aleandro sibuk menghadapi werewolf yang menyadari invasi itu. Lorenz berusaha meyakinkan penglihatannya kalau pria yang bertarung di depan sel-nya itu memang Aleandro, karena vampir itu sama sekali tidak mengeluarkan aura-nya yang selalu bisa mengintimidasi makhluk non human lainnya.
“Bekerja samalah. Aku membuka kunci rantai ini. Setelah itu kau harus mengikutiku.” Ujar Amelia cepat sambil berkutat untuk membuka rantai di kaki Lorenz yang sudah menyebabkan kulit putih pria itu terluka setiap kali dia berubah menjadi serigala dan membuat rantai itu menyempit di kakinya.
“Siapa kau?” Tanya Lorenz pelan.
“Rasanya walaupun aku memperkenalkan diri sekalipun kau belum tentu mengenalku. Ini bukan daerah kekuasaanku.” Gumam Amelia pelan sambil terus berusaha membuka kunci. Makian kecil lolos dari bibirnya. “Maaf. Aku tidak ahli menangani ini.”
“Ayolah, Amelia! Jangan bilang kau terpesona padanya! Aku akan memukul bokongmu kalau kau membuatnya terpesona dengan kehebatan mulutmu.” Seru Aleandro dari luar, masih sibuk bertarung, tapi tetap sempat menggoda Amelia hingga membuat wajah wanita itu nyaris semerah tomat.
“Kau Amelia Williams? Vampir hunter itu?” Tanya Lorenz cepat begitu mendengar nama Amelia keluar dari mulut Aleandro. “Kau vampir hunter yang bekerja bersama vampir?” Tanya Lorenz lagi.
“Oh!” Bisik Amelia pelan. “Bagus. Aku berhasil membukanya. Sekarang ayo kita bergegas.” Sambung Amelia yang sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan yang diucapkan Lorenz.
Amelia sudah melesat ke pintu sebelum berbalik dan mengangguk. “Ya, aku Amelia Williams, vampir hunter.” Sahutnya dan kemudian bergabung menghadapi werewolf di luar bersama Aleandro.
“Kau bawa dia keluar, Amelia. Aku akan menyusul kalian.” Ujar Aleandro cepat sambil memberikan jalan untuk Amelia dan Lorenz.
Dengan satu gerakan cepat yang cukup mengejutkan Lorenz, Amelia sudah kembali berdiri disisinya dan mencengkram pergelangan tangan Lorenz, menyeretnya agar mengikuti lari wanita itu. Sebenarnya dalam wujud apapun, Lorenz percaya diri dengan kemampuan fisiknya, tapi saat ini dia sudah terlalu lama berada dalam wujud manusia, sebentar lagi dia mungkin akan segera berubah menjadi serigala. Tidak terlalu buruk memang, hanya saja terkadang Lorenz masih sering kehilangan kendali atas tubuhnya dalam wujud serigala.
Gemetar tangan Lorenz yang berada dalam cengkraman Amelia membuat wanita itu memperlambat larinya begitu mereka sudah berada di luar rumah. Perubahan aliran energi itu membuat Amelia menyadari akan adanya bahaya. “Oh tidak! Jangan bilang kau akan berubah!” Seru Amelia yang langsung melepaskan tangannya dari Lorenz.
Belum sempat Amelia menjauh dari Lorenz, sesosok werewolf lain menerjang Amelia, membuatnya terpental menabrak tiang listrik yang langsung menimbulkan bunyi derak di tubuh Amelia. Amelia sudah siap menyerang saat Lorenz_yang sudah sepenuhnya berubah menjadi werewolf_menyerang were lainnya itu. Kedua serigala itu kini saling bergulingan dan mencakar. Saat were berwarna coklat pudar itu berhasil mencakar Lorenz dan membuatnya berdarah, Amelia langsung menerjang were coklat itu dengan tumit sepatu bootnya. Perak mungkin tidak mematikan bagi were, tapi jelas tetap dapat melukai mereka. Dengan gerakan cepat Amelia menjauh kembali dari were itu dan melemparkan belati tepat ke mata were itu, membuat werewolf coklat itu meraung kuat.
Amelia baru saja akan kembali ke sisi Lorenz saat instingnya mengatakan mereka dalam bahaya besar. Dua. Tidak, tiga ekor were lain mengepung mereka. Rupanya raungan were coklat itu yang membuat were lainnya bergegas ke tempat mereka.
“Baiklah. Aku akui kalau aku memang ingin menguji kemampuanku bertarung dengan were, tapi tidak dengan sekawanan were.” Gumam Amelia kesal sambil meraih belati lain di sepatu bootnya.
Lorenz yang masih berwujud werewolf berdiri di sisi Amelia. Sepertinya dia masih bisa mempertahankan kesadarannya dan mulai menyerang were yang berada paling dekat dengan mereka. Serangan Lorenz itu membuat Amelia memilih menyerang were yang paling dekat dengan dirinya.
Bergeraklah lebih cepat dari biasanya. Itu ajaran pertama Aleandro. Pikir Amelia yang memang melaksanakan perintah itu dengan baik. Gerakan were tidak pernah lebih cepat daripada vampir, dan menurut Aleandro, gerakan Amelia hampir menyamai vampir muda_yang artinya Amelia bergerak lebih cepat daripada werewolf. Amelia memang tidak terlalu mudah bisa menghindari serangan werewolf yang penuh tenaga itu. Tapi setidaknya Amelia berhasil menghindari lebih banyak serangan daripada sebelumnya. Dan itu membuatnya selamat dari patah tulang.
Serang kaki mereka karena keseimbangan mereka ada di kaki. Itu ajaran kedua dari Aleandro. Pikir Amelia sambil menghunuskan belatinya saat melakukan sliding cepat dibawah tubuh werewolf itu dan berhasil melukai setidaknya dua kaki were itu.
Tapi Amelia melakukan sedikit kesalahan. Cakar dari kaki belakang were itu berhasil merobek pakaiannya dan melukai bahunya. Darah mulai merembes keluar, tidak banyak, tapi cukup untuk memberikan rasa perih di lengan atasnya. Amelia baru saja bangkit berdiri saat dia mendengar sebuah geraman rendah tidak jauh darinya. Geraman itu bukan berasal dari were yang sedang dilawannya atau dari were lainnya.
Geraman itu berasal dari Lorenz!
“Demi Tuhan! Dia memang setengah vampir! Dia bereaksi pada darahku!” Sembur Amelia frustasi sambil berjalan mundur, menjauhi Lorenz yang kini meninggalkan lawannya dan mulai menghampiri Amelia. Amelia tidak ingin melawan Lorenz_tidak saat were itu memiliki informasi berharga tentang target mereka.
Amelia yakin dengan kemampuannya dalam berhadapan dengan were, tapi dia tidak yakin bisa menghadapi 4 ekor werewolf yang salah satunya adalah were berdarah vampir yang harus mereka dapatkan dalam keadaan hidup. Amelia terus mundur sambil mengulur waktu, berharap Aleandro akan segera datang menolongnya.
“Sial! Aku sudah lama belajar untuk tidak mengharapkan pertolongan orang lain, tapi kali ini aku benar-benar membutuhkan pertolongan.” Gerutu Amelia saat sadar kalau dibelakangnya sudah tidak ada jalan. Yang ada hanyalah pintu rumah yang akan membawanya kembali ke dalam rumah dan menghadapi lebih banyak werewolf.
Aku harus membunuh Lorenz kalau memang tidak ada jalan lain. Pikir Amelia frustasi.
Salah seekor were yang mendesaknya kemudian berubah menjadi sesosok manusia, dan Amelia mengenalnya. Sial memang bagi Amelia karena orang itu adalah Lazaro, sang pemimpin kawanan ini. Lazaro mengangkat tangannya, menyuruh para were yang ada disana berhenti bergerak sementara dia sendiri melangkah mendekati Amelia.
“Kau ingin menculiknya, bukan? Tapi sayang sekali… Kau akan berhasil seandainya kau tidak terluka, manis.” Ujar Lazaro dingin. “Dia mungkin bisa mengendalikan nafsunya akan darah saat berwujud manusia, tapi dia sama sekali tidak bisa menahan nafsunya saat berwujud binatang. Dan dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan darah. Dia akan menjadi senjata pembunuh paling hebat. Berikan dia darah manusia maka dia akan langsung menyerang siapa saja.” Sambung Lazaro dengan kepuasan jelas dalam suaranya.
Amelia sedang memikirkan seberapa besar kesempatannya untuk meloloskan diri dengan menyerang Lazaro_saat dia berwujud manusia_saat Amelia merasakan dengan sangat jelas aura kuat yang datang mendekat. Aura yang sangat kuat, yang sangat dikenalnya. Sentuhan gelombang kekuatan yang selalu membuat Amelia merasa nyaman. Senyum langsung merekah di bibir wanita itu. “Yakinlah kalau kau yang akan memohon di akhir, sobat.” Bisik Amelia tepat sebelum bulu-bulu berwarna abu-abu menghujani para were, menancap di tubuh mereka dan melukai mereka dengan fatal, termasuk Lazaro, walaupun dia berhasil menghindari beberapa dari bulu-bulu itu.
Sesosok makhluk bersayap meluncur turun di hadapan Amelia dengan sayap terbentang lebar. Raungan serigala yang terluka itu memenuhi malam, menjadi latar belakang mengikuti turunnya makhluk bersayap itu. “Jangan bunuh yang hitam, Lily. Dia saksi yang kita butuhkan.” Ucap Amelia begitu sosok itu benar-benar berhenti di hadapannya.
Lily berbalik menghadap Amelia_melipat sayapnya dan menghilangkannya_seakan mereka hanya berdua, bukannya bersama gerombolan kecil werewolf. “Kau serius? Dia terlihat ingin membunuhmu.” Tukas Lily cepat sambil melirik Lorenz.
“Hanya karena darahku. Tadinya dia cukup berguna.” Balas Amelia ringan.
Gerakan samar di belakang Lily membuat Amelia terkesiap. Darah seakan disedot keluar dari tubuhnya saat melihat Lorenz melompat kearah Lily. Tidak ada yang bisa membayangkan ketakutan Amelia saat itu. Besarnya sosok Lorenz saat menjadi serigala dan mungilnya sosok Lily yang sedang membelakanginya benar-benar mengurangi umur Amelia 10 tahun lebih awal. Amelia ingin sekali berteriak, tapi suaranya menolak untuk keluar. Dengan lompatan itu dan rasa haus di matanya, Lily tidak mungkin selamat. Dan saat Amelia memejamkan mata, berpikir akan terjadi yang terburuk, Amelia mendengar suara berdebam yang begitu kuat. Dengan cemas Amelia mengulurkan tangan menggapai Lily, wanita itu masih berdiri di tempatnya.
Syukurlah, setidaknya itu bukan Lily. Pikir Amelia lalu membuka matanya hanya untuk mendapati kalau Aleandro sudah berhasil menahan gerakan Lorenz, sementara Lily mengarahkan telapak tangannya pada Lazaro yang berlutut tidak jauh dari sana, seberkas cahaya mulai terbentuk di telapak tangannya.
“Aku masih belum bisa mengontrol bola apiku dengan baik. Jadi aku tidak bisa memperkirakan yang keluar besar atau kecil. Lebih baik kau tidak membuatku mencobanya padamu.” Ujar Lily ringan. “Tangkapan bagus, Aleandro. Jadi apa kita bisa pergi?” Tanya Lily kemudian.
“Kau bisa menyingkirkannya lebih dulu.” Sahut Aleandro datar sambil menginjak leher Lorenz cukup kuat. “Maaf, tapi aku tidak bisa membawamu dalam wujud anjing.”
“Kau bisa membunuhnya!” Seru Amelia kuat.
“Tidak akan. Aku tahu sampai batas mana aku boleh menyiksanya.” Sahut Aleandro ringan dan dengan sengaja meraih salah satu kaki Lorenz_mungkin tangannya_lalu mematahkannya.
Sekali lagi raungan kesakitan memenuhi malam. Amelia menatap Lorenz penuh rasa iba. Dia tidak pernah merasa kasihan pada lawannya, siapapun mereka. Tapi kali ini ada raut kepedihan di wajah Amelia saat Aleandro menyiksa were itu.
“Bawa saja dia, toh dia tidak lama lagi akan mati juga. Tidak ada yang berhasil melawan efek darah itu, dan dia bukan pengecualian.” Ucap Lazaro sebelum berbalik dan segera berubah menjadi werewolf, berlari menembus malam.
“Bisa-bisanya dia tidak memperdulikan anggota kawanannya sendiri!” Sembur Amelia kesal.
“Sudahlah.” Ucap Lily lembut. “Biarkan aku melihat lukamu.” Ujarnya kemudian sambil menarik lengan Amelia yang terluka dan meletakkan tangannya disana. Cahaya lembut muncul dan mulai menghangatkan lengan Amelia saat benang-benang halus saling menjalin dan mulai menutup luka Amelia.
Amelia menarik napas cepat. Apa yang dilihatnya ini jelas bukan kekuatan vampir. Vampir menyembuhkan luka dengan darah dan perlindungan bumi. Tapi Lily? “Kau menggunakan kekuatan malaikat!” Seru Amelia tertahan saat lukanya benar-benar menutup.
Senyum lebar di wajah Lily menjelaskan semua. Wanita itu sudah jauh lebih kuat dan berhasil menguasai kekuatan tersembunyi yang diwarisinya dari The Fallen Angel. “Hadiah saat terakhir kali Lucifer datang berkunjung. Kurasa itu kunjungan yang paling kusukai, mengingat dua kali kunjungan sebelumnya selalu diwarnai bencana.” Ucapnya ringan seakan ayahnya itu memang sering berkunjung alih-alih datang saat anaknya berada dalam bahaya.
Sekali lagi terdengar raungan keras dari arah Lorenz saat Aleandro mematahkan kakinya yang lain, membuat Amelia dan Lily langsung memperhatikannya. Hanya berselang beberapa detik dari raungan Lorenz, tubuh werewolf itu mulai berubah kembali menjadi manusia.
“Wow! Untung aku tidak membunuhnya. Dia manis.” Seru Lily sambil menghampiri Aleandro dan Lorenz_yang kini sudah berwujud manusia tapi dalam keadaan telanjang. “Lebih baik kau lepaskan jaketmu untuknya, Aleandro. Terlalu menarik perhatian kalau kita membawa laki-laki tampan tanpa busana seperti ini.”
Aleandro menggerutu kesal, tapi dia tetap membuka jaketnya dan melilitkannya di pinggang Lorenz. “Kau bisa membunuhku, vampir.” Bisik L setengah sadar.
“Kau juga nyaris membunuhku dalam wujud binatang itu.” Balas Aleandro sambil membantu Lorenz berdiri.
Lily menahan tangan Aleandro sebelum kedua pria itu beranjak pergi. “Menjauhlah darinya, Aleandro. Biarkan aku menyembuhkan lukanya, daripada kau harus menggotongnya sepanjang jalan.” Ucap Lily lalu berlutut di depan Lorenz dan mengulurkan telapak tangannya ke arah kaki Lorenz.