7

3034 Words
*Author POV* Saat Aleandro dan Amelia dalam perjalanan kembali ke Padure Castle, jauh dari Carlisle, Wren sedang berhadapan dengan salah seorang vampir yang berhasil ditahannya dalam serangan ke London beberapa hari lalu. Baru hari ini Wren bisa menemui langsung tahanannya itu setelah beberapa hari ini menjaga Lily yang berkeras keluar Acasa Manor untuk membantu anggota klan Wren yang lain menghadapi serangan. “Apa Lily sudah bisa di’aman’kan?” Tanya Geofrey saat menemani Wren turun ke lantai bawah tanah di Picasa Center, 7 tingkat yang berada di bawah tanah dimana 3 diantaranya digunakan untuk tahanan, dua untuk bunker, dan dua lantai terbawah digunakan untuk ruangan pemulihan. “Kalau saja Eliza tidak datang kemarin, hari ini aku pasti masih bertengkar dan menghancurkan barang-barang di rumahku hanya untuk menahannya agar tidak keluar dari rumah.” Gumam Wren frustasi. “Kau tidak akan pernah bisa membayangkan betapa gilanya aku harus memperlakukannya seperti tahanan!” “Aku tidak berharap aku ingin merasakan apa yang terjadi padamu, Sire.”gumam Geofrey jujur. Wren menggeleng tidak percaya. “Aku tidak tahan harus menerima tatapan bencinya itu, Geofrey Tapi kalau aku mengizinkannya keluar rumah lagi, tidak akan ada yang bisa menjamin kalau dia tidak akan terluka lagi. Aku seperti orang tua renta yang siap mati kapan saja setiap kali memikirkan dia bisa terluka.” “Dia hanya terkena sabetan belati, Sire. Sama sekali tidak berbahaya mengingat hanya butuh kurang semenit baginya untuk melenyapkan bekas luka itu.” “Tidak peduli butuh waktu sesingkat apapun untuk penyembuhannya selama dia terluka, aku yang sekarat!” Geram Wren sambil mengacak rambutnya frustasi. Geofrey tertawa puas mengingat Masternya_yang selama ini selalu bisa menangani Zacis apapun_harus bersusah payah hanya untuk menahan istrinya agar tidak berbuat bodoh dan membahayakan diri sendiri. “Sejujurnya, istrimu sangat membantu selama kau pergi, Master. Semua serangan itu... Banyaknya kerugian di pihak kita mungkin akan lebih besar kalau saja dia tidak bergabung bersama kami. Istrimu... Dia petarung yang tangguh, sire.” Ucap Geofrey serius. Wren terdiam, bahkan dia sama sekali tidak mengucapkan apapun sampai lift berhenti di B3. “Sayangnya aku tahu itu. Makanya aku merasa sakit sendiri saat menghalangi dia untuk datang ke sini. Apa yang dia lakukan selama aku tidak ada benar-benar membuatku bangga sekaligus nyaris mati. Menyadari kalau dia saat ini sudah bisa menjaga dirinya sendiri, mengambil keputusan yang tepat untuk klanku membuatku sakit.” Ujar Wren pelan. “Kau memiliki pasangan yang hebat, Master. Kalau dulu masih ada klan kita yang meragukan hal itu, beberapa hari ini jelas membuktikan kalau mereka salah. Lily berhasil membuat mereka mengakui posisinya sebagai pasanganmu.” Ujar Geofrey jujur. Wren tersenyum. “Itulah yang aku harapkan. Aku tidak ingin pada akhirnya memilih antara pasanganku dan klanku. Tidak lagi saat aku tahu kalau aku akan meninggalkan kalian demi dirinya.” Ujar Wren cepat. “Lupakan masalah itu, sekarang ayo kita mengobrol dengan teman kita ini.” Sambung Wren begitu mereka tiba di depan ruang tahanan yang terbuat dari timah hitam itu. “Pengkhianat busuk!” Sembur vampir di dalam sel itu begitu melihat Wren. “Astaga. Inikah caramu menyapa tuan rumah, teman?” Tanya Wren ringan seakan ucapan vampir tadi bukanlah sebuah hinaan. “Kau menggunakan sihir! Sel ini disihir! Dan tidak ada vampir yang berteman dengan penyihir! Semua yang berhubungan dengan penyihir akan dianggap pengkhianat!” Semburnya lagi. Wren maju beberapa langkah dan menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan. “Tidak, sobat. Itulah kesalahan kaum kita dulu. Bermusuhan dengan penyihir saat kita bisa menjadi teman dengan mereka. Sekarang sudah tidak ada hukum yang mengharuskan kita membunuh setiap penyihir.” Ujar Wren. “Kau sedang kesal ya?” Tanya Wren setelah menyadari kalau hinaan vampir itu bersumber dari kekesalannya. “Sepertinya dia baru kali ini di tempatkan di tempat seperti ini, Master.” “Ah... Aku mengerti. Tapi kau tidak bisa pindah, sobat. Semua ruang ‘tamu’ yang kumiliki terbuat dari timah hitam dengan rantai perak murni. Bersyukurlah kau tidak dimasukkan mereka ke dalam kapsul itu. Tempat itu jauh lebih tidak nyaman daripada ruangan yang hanya menyerap seluruh energimu ini.”ujar Wren ringan sambil menunjuk sebuah peti besi dengan banyak sekali paku runcing di dalamnya, dan seluruh paku_termasuk yang paling besar_terbuat dari perak, tepat berada di jantung. Kalau tahanan yang berada di dalamnya bergerak sedikit saja, paku itu akan langsung mengoyak jantungnya. “Kapsul itu praktis akan menghabiskan darahmu. Aku yakin kau tidak menginginkannya.” Lanjut Wren sambil bergidik ngeri. “Enyah kau, b******k!” Wren menggeleng pelan. “Aku ingin sekali mengabulkan permintaanmu, tapi aku tidak bisa, ini rumahku. Kau tidak ingin mengusirku dari rumahku sendiri bukan? Bagaimana kalau kita bernegoisasi sedikit? Katakan padaku siapa yang memerintahkanmu maka aku akan mengabulkan satu permintaanmu.” “Mendekatlah.” Ucap vampir itu pelan. Wren sempat berpikir sejenak sebelum melangkah mendekati pintu jeruji itu. Begitu Wren mendekat, vampir itu langsung meludahi wajah Wren, bersyukur gerak refleks Wren sangat cepat hingga kejadian itu hanya mengotori pakaiannya. “Bahkan kalau kau membunuhku, aku tidak akan mengatakannya.” Ucap vampir itu angkuh. Geofrey yang melihat kejadian itu terkesiap dan melangkah mundur_seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya_memilih untuk berada di tempat terjauh yang bisa ditemukannya. Senyum di bibir Wren terkembang begitu mendengar ucapan vampir tahanannya, dengan hati-hati disentuhnya pintu jeruji itu sebelum pintu itu hancur berkeping-keping. Pintu yang terbuat dari campuran timah hitam dan titanium itu dibuat agar bisa menyerap dan menahan kekuatan supranatural vampir dan tidak hancur dengan kekuatan fisik seperti apapun kecuali ada yang menghantamkan meteor ke jeruji itu. Tapi sentuhan pelan dari Wren berhasil menghancurkan pintu itu dalam sekejap. Satu lagi bukti tak terbantahkan kalau Wren bukan vampir biasa. “Kau benar-benar ingin dibunuh?”tanya Wren tenang pada vampir itu yang hanya berjarak satu jengkal darinya. Vampir itu hanya diam. Dia tahu kalau Wren adalah seorang pemimpin klan. Tapi dia belum pernah berhadapan langsung dengan Wren. Dia sudah lebih dulu tertangkap sebelum Wren kembali. Dan selama awal penahanannya itu, dia sudah mencoba berkali-kali untuk kabur dari penjara Picasa yang selalu gagal. Kekuatannya sama sekali tidak berguna selama di dalam sel. Sel itu membuat vampir kuat sepertinya pun seperti manusia biasa. Tapi melihat apa yang Wren lakukan beberapa saat lalu membuatnya meyakini sesuatu. Wren jelas bukan musuh yang bisa diremehkan. Wren mengulurkan tangannya ke arah vampir itu dan merapikan pakaian vampir itu. “Aku bukan tipe yang akan langsung membunuh penggangguku, sobat. Aku lebih suka mereka merangkak memohon ampun sebelum membunuh mereka. Dan aku suka melakukan sedikit permainan untuk membuat mereka melakukan itu. Katakan saja aku suka bermain sepak bola dengan kepala para musuhku. Karena kau ada disini, aku rasa aku cukup senang bisa mendapatkan teman bermain setelah beberapa waktu. Bersiaplah, sobat.” Bisik Wren dan tanpa diduga siapapun Wren meraih kepala vampir itu dan membenturkannya dengan sangat kuat ke dinding di belakangnya hingga menimbulkan retakan panjang, baik di kepala vampir itu maupun di dinding. “Brengsek.” Umpat vampir itu spontan. Wren menggeleng pelan dan dengan kakinya menendang kaki vampir itu hingga terdengar bunyi sesuatu patah. “Ckckckck... Siapapun mastermu, seharusnya dia mengajarkan untuk bicara lebih sopan.” Gerutu Wren sebelum berjalan keluar dari ruangan dengan luas 2x2 meter itu. “Pindahkan dia ke dalam kapsul sementara pintunya diperbaiki, Geofrey.” Ujar Wren kemudian sambil berjalan menuju lift, membiarkan Geofrey membereskan sisa-sisa perbuatannya. Panel elektronik di dinding lift baru menunjukkan huruf G saat lift itu berhenti dan pintunya terbuka. Seorang pria berkacamata berjalan masuk seorang diri. Keduanya bersikap seolah tidak saling mengenal hingga lift akhirnya tiba beberapa saat kemudian di lantai 67, kantor pribadi Wren. “Aku pikir kau punya sesuatu yang ingin kau bicarakan hingga membuatmu datang ke sini, Nefen.” Ucap Wren sambil berjalan memasuki kantornya. Pria yang dipanggil Nefen itu menghempaskan dirinya ke salah satu sofa besar yang menghadap ke jendela. “Kau benar. Wagner menolak untuk mengadakan pertemuan dengan vampir. Dia mengatakan kalau dia bisa mengatasi ini, dan kalau memang vampir yang ada dibalik ini semua akhirnya memutuskan untuk muncul, dia juga yang akan menyelesaikannya. Dia tidak peduli dengan kawanan yang tertangkap, menurutnya itu kesalahan mereka sendiri hingga sampai tertangkap, dan dia tidak akan melakukan apapun untuk melepaskan mereka.” Ujar Nefen lancar. “Apa raja kalian itu berpikir dengan otaknya atau dengan bulunya? Dia pikir akan semudah itu menghadapi vampir kuno b******k itu saat kami saja memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan bangsa kalian?” Tanya Wren yang langsung kesal mendengar ucapan Nefen. “Dan bisa-bisanya dia mengacuhkan klannya sendiri seperti itu! Aku tidak percaya kalian memilihnya sebagai pemimpin!” Nefen memajukan tubuhnya. “Kami tidak memilih, Wren. Raja sebelumnya berhak menentukan penerusnya. Jadi, apa yang membuat vampir ini terdengar menakutkan, Wren?” Tanya Nefen serius. “Kenyataan kalau dia dulunya adalah penyihir dan masih menguasai sihir bahkan setelah ribuan tahun hidupnya.” Jawab Wren cepat. “Bukankah kau juga bisa?” Wren menggeleng pelan. “Aku tidak bisa sihir, Nefen. Aku mungkin berteman dengan beberapa penyihir, tapi tidak pernah sampai mempelajarinya. Saat seorang vampir mempelajari sihir, kekuatannya bukan semakin bertambah tapi semakin menipis. Sihir adalah pedang bermata dua untuk kami. Karena itu kaum vampir membenci penyihir selain kenyataan kalau sihir lebih mudah melukai kami dari senjata apapun. Tapi vampir yang akan kami hadapi kali ini berbeda. Dia menguasai sihir bahkan sebelum menjadi vampir dan itu membuatnya nyaris tak terkalahkan.” “Kau tidak merasa berbahaya menceritakan kelemahan bangsamu padaku?” Tanya Nefen ringan. Wren terkekeh pelan sebelum kembali serius. “Sayangnya aku juga tahu kalau kecintaan kalian pada penyihir sama besarnya dengan kotoran semut, yang artinya tidak lebih besar dari kami.” Ujarnya cepat. “Terlebih lagi kau.” Nefen terkekeh mendengar perumpamaan Wren itu. “Jadi, selain sihir, apalagi yang berbahaya dari vampir itu?” “Terlalu banyak yang harus diwaspadai darinya, Nefen. Seperti yang kau tahu dengan pasti, semakin tua usia vampir maka kekuatannya semakin besar. Anggap saja kalau usia Conrad hampir 3 kali usiaku dan bayangkan kekuatan apa yang sudah dimilikinya sampai saat ini. Katakan pada Wagner kalau aku hanya mengajukan tawaran kerja sama sekali lagi. Kalau dia masih menolaknya maka aku akan melakukan segalanya sesuai rencana awal kami sebelum Wagner muncul. Menghabisi para anjing gila itu untuk mendapatkan jalan menuju sang vampir.” “Aku akan mencoba menemui Wagner sekali lagi. Tapi kali ini mungkin butuh waktu karena saat aku kembali ke London, kawananku melaporkan kalau Wagner juga melanjutkan perburuannya hingga ke Carlisle dan sekitarnya. Dan saat ini dia masih berada disana.” Sahut Nefen cepat. “Ngomong-ngomong, aku tidak tahu berapa usiamu.” Sambung Nefen tanpa berniat apapun. “Kalau begitu katakan aku yang meminta pertemuan ini diadakan.” Ujar sebuah suara dari arah pintu kantor Wren. Nefen dan Wren langsung menatap si pemilik suara. Di ambang pintu kantor Wren, Amelia berdiri bersama sang malaikat agung, Navaro, dan istri Wren, Lily. “Aku rasa Wagner akan setuju kali ini kecuali dia ingin menentang OraCenobiae.” Sambung Eliza ringan sambil mengikuti Lily berjalan memasuki kantor Wren. Wren mengerjap tidak percaya_walau sesungguhnya vampir tidak butuh mengejapkan mata. “Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Wren dengan tatapan yang tidak pernah berpindah dari istrinya. Lily tersenyum cerah. “Kau hanya berpesan agar mereka tidak membiarkanku mengganggu tugasmu dan tidak membiarkanku keluar. Kau tidak berpesan kalau aku tidak boleh melihat suamiku bekerja atau fakta kalau aku bisa keluar kalau bersama mereka.” Sahut Lily tenang. “Dan aku ingin melihat suamiku di kantornya.” Tiba-tiba Wren berdiri dan menghampiri Lily. “Demi Tuhan! Kita bersama saat tidur, mandi dan segala hal! Dan kau masih ingin melihatku saat aku bekerja?!” Sembur Wren tanpa memperdulikan kalau di ruangan itu ada orang lain selain mereka berdua. Eliza terkekeh pelan, Navaro tersenyum menatap Wren, Nefen berdeham menegur, sementara wajah Lily memerah. “Apa yang kau katakan, Wren...” Tegur Lily pelan, berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Wren menyentuh pipi Lily dan membuat Lily menatapnya. Dengan cepat Wren mencium bibir Lily kuat dan mendesak. Lily terkesiap dengan tindakan Wren itu, dan sebelum Lily sempat meresponnya, Wren sudah menghentikan ciumannya. “Pikirkan alasan yang lebih masuk akal, amour.” Bisik Wren sambil menarik Lily dan mendorongnya agar duduk di kursi kerja Wren, menahan Lily disana. “Tetap disini.” Geram Wren sambil meremas bahu Lily posesif. Masih dengan senyum di wajahnya. Navaro berjalan mendekati Wren dan menepuk bahu sahabatnya itu pelan. “Maafkan aku, Wren. Aku tidak bisa menahannya kalau istriku sendiri memutuskan untuk mendukungnya.” Bisik Navaro tanpa penyesalan sama sekali. Wren mengangguk paham. “Aku harusnya sudah menduga itu.” Balas Wren cepat. “Jadi apa menurutmu Wagner akan menerima pertemuan kali ini?” Tanya Wren kembali memusatkan perhatiannya pada Nefen. “Kalau memang OraCenobiae itu ikut dalam pertemuan nanti, Wagner tidak punya alasan untuk menolaknya. Setidaknya aku tahu kalau dia tidak begitu bodoh untuk menolak perintah OraCenobiae.” Jawab Nefen datar. “Jadi kali ini, kapan kau ingin bertemu dengannya, Wren?” Wren melirik Eliza dan mendapatkan anggukan setuju dari wanita itu. “Kalau kau bisa menyampaikannya malam ini, aku ingin pertemuan itu diadakan besok.” “Aku bisa menyampaikannya secepat mungkin. Tapi ada masalah lain.” Ucap Nefen cepat. “Apa?” Tanya Wren bersamaan dengan Lily. Keduanya saling menatap sebelum Lily menyengir lebar dan hanya direspon oleh Wren dengan remasan lembut di tangan wanita itu. “Wagner tidak akan mau datang ke tempat ini. Kau harus menemukan tempat netral, Wren.” Ujar Nefen serius. “Dragoste Hall.” Ujar Navaro pelan. “Rumahku, di Windsor. Tidak ada tempat yang lebih netral dibandingkan kediaman OraCenobiae.” Sambung Eliza, menjelaskan maksud ucapan Navaro saat Nefen terlihat bingung mendengar nama asing itu. Semoga saja Wagner tidak tahu kalau Sang OraCenobiae adalah istri dari sahabat baik sang pemimpin klan. Pikir Nefen, lupa kalau dua orang pria lainnya di dalam ruangan itu bisa membaca pikirannya dengan baik. “Tenang saja, Nefen. Hanya sedikit sekali orang yang tahu hubunganku dengan Navaro. Apalagi kehidupan pribadi Navaro. Untuk itulah aku menjalin hubungan dengan banyak makhluk lain, Nefen, untuk merahasiakan yang satu ini. Tidak baik kalau makhluk lain tahu kalau seorang malaikat ada yang menempuh jalan sesat. Selalu ada akibat dari mengetahui rahasia langit, Nefen.” Ujar Wren ringan lalu terkekeh pelan. Dan hanya orang bodoh yang benar-benar mempercayai nada ringan dalam suara Wren yang menyembunyikan ancaman kematian itu. Nefen bangkit dari tempat duduknya. “Aku akan pergi sekarang, Wren. Tepati janjimu setelah semua ini usai.” Ujarnya datar lalu berjalan keluar dari kantor Wren. Begitu Nefen menghilang dari ruangan kerja Wren, Lily bangkit dari tempat duduk Wren. “Janji apa yang dia maksud, sayang?” “Memberikan izin saudaranya untuk membentuk kawanan sendiri di Inggris.” Sahut Wren ringan, seolah masalah ini hanyalah pilihan antara membelikan es krim untuk anak 5 tahun atau tidak. Tidak ada yang berbicara setelahnya selama beberapa saat. Kesunyian itulah yang membuat Wren tiba-tiba memfokuskan dirinya pada suatu hal yang membuatnya sangat tertarik sekaligus terkejut. Kau ingin memberitahukan sesuatu padaku, Navaro? Tanya Wren dalam pikirannya. Malaikat agung itu tersenyum. Benar-benar tersenyum cerah dan kemudian mengangguk. “Aku sudah tahu kalau kau bisa menebaknya bahkan sebelum aku mengatakan apapun.” Ujar Navaro cepat. Kalau ada manusia yang melihat Navaro saat itu, mereka pasti akan langsung bisa menebak jati diri Navaro. Sosoknya saat sedang berbahagia benar-benar terlihat seperti malaikat. “Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Lily bingung, menatap Wren dan Navaro bergantian. Wren segera menghampiri Lily dan memeluk pinggang istrinya penuh kasih. Kecupan ringan mendarat di kepala Lily. “Kita akan mendapatkan kejutan.” Bisik Wren. “Tapi... Ini benar-benar bisa? Benarkah?” Tanya Wren lagi yang ditujukan pada Navaro. Navaro mengangguk yakin. “Ya. Aku sempat terkejut. Karena itu kami menunda perubahan Eliza menjadi malaikat.” Sahut Navaro ringan. “Eliza belum menjadi malaikat?” Sembur Lily cepat. “Lalu apa yang kalian lakukan selama ini hingga tidak memberikan kabar apapun?” “Kami bulan madu. Keliling dunia.” Sahut Eliza puas. “Aku tidak mengerti.” Bisik Lily frustasi. “Jelaskan padaku!” “Sesaat tadi saat kita semua terdiam. Aku merasakan detak jantung, tentu saja. Hanya saja aku sudah susah payah menghitungnya, yang kudengar tetaplah 3 detak jantung, dan salah satunya terdengar lemah, sangat kecil tapi cukup cepat.” Ucap Wren hati-hati supaya istrinya yang lebih mengandalkan firasat ketimbang akal sehat itu mudah mengerti. Lily melepaskan diri dari pelukan Wren dan mengangkat kedua tangannya. “Baiklah, aku tidak mengerti.” Ujarnya pasrah. “Eliza hamil, amour.” Ujar Wren lembut. “APA!?” Seru Lily benar-benar terkejut. “Hamil? Anak Navaro? Benarkah?” “Memangnya anak siapa lagi? Kau pikir aku bisa berselingkuh dari malaikat sombong ini?” Tanya Eliza balik. “Demi Tuhan! Demi Tuhan! Oh! Aku bahagia, Eliza! Benar-benar bahagia! Ya Tuhan!!” Seru Lily lagi sambil menghampiri Eliza dan memeluk sahabatnya itu selama mungkin sebelum melepaskan pelukannya dan menghampiri Navaro. “Dan kau, Angel, kau harus memperhatikan Eliza lebih baik lagi. Jangan pernah meninggalkannya seorang diri, dan jangan pernah memarahinya.” Navaro menghindari tatapan Lily dan mengalihkannya pada Eliza. “Seolah aku bisa melakukan itu padanya tanpa menyakiti diriku sendiri.” Gumam Navaro. “Aku benar-benar senang!” Ujarnya sambil berjalan ke arah Wren dan memeluk vampir itu. “Maaf, aku tahu kalau London sedang krisis, tapi ini benar-benar kabar bahagia! Oh, Wren, kita akan punya keponakan, sayang!” Seru Lily terlalu bersemangat. Wren membalas pelukan istrinya. Ada rasa sakit dalam dirinya mendengar Lily bicara seperti itu. “Maaf kalau kau tidak bisa memiliki anak.” Bisik Wren tulus. Lily menepuk b****g Wren pelan. “Jangan bodoh! Aku tidak peduli itu. Aku sudah bilang kalau aku bahagia karena Eliza akan punya anak. Itu tidak ada hubungannya dengan aku yang tidak akan punya anak. Aku amat sangat puas dengan apa yang kumiliki saat ini. Keluarga yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.” Lily melepaskan pelukan Navaro dan memeluk Eliza penuh kasih. Kedua wanita itu berpelukan cukup lama sebelum saling pandang, tersenyum, berpelukan, tertawa dan berpelukan lagi. Navaro dan Wren hanya bisa melihat istri mereka mengungkapkan kasih sayang ala manusia yang selama ini meresap dalam jiwa mereka. “Dia akan jadi anak yang manja nanti, sobat.” Gumam Wren nyaris berupa bisikan. Navaro mengangguk setuju. “Dan pemberontak. Aku bersumpah sifat itu akan dimiliki oleh putriku, atau putraku, kalau mengingat siapa saja yang akan turut membesarkannya.” Balas Navaro bangga alih-alih terdengar kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD