23. Pasar Desa Sayuran

2629 Words
Tidak jauh dari pasar ternyata pemukiman desa masih berlanjut. Gadis itu duduk luruh di tiang besar perbatasan antar rumah. Yuri bersembunyi melihatnya. Gadis itu nampak tersenyum senang bercampur ragu. Terlihat jelas ada kegundahan yang besar ada yang besar di wajahnya. "Ada apa dengannya?" Yuri mengerucutkan bibirnya sambil meneleng. Mengerjap dua kali ketika gadis itu mengikat rambutnya. "Ha! Bekas luka apa itu?" Yuri menahan pekikannya. Ketika rambutnya terikat, di leher gadis itu terdapat bekas luka yang cukup besar berwarna merah gelap. Yuri pikir gadis itu mengalami luka bakas di sana. Namun, melihat senyum gadis itu Yuri berpikir jika perasaannya sedang kacau. Bukan karena luka itu ataupun masalah hidupnya, melainkan sesuatu yang bergelora di d**a sampai membuat detak jantungnya membuncah. "Emm, aku mengerti." Yuri menepuk tangannya sekali lalu terkikik mendekati gadis itu. Beberapa langkah kemudian dia tiba dan gadis lugu itu terkejut melihatnya. Dia ingin lari mengira Yuri orang jahat, tetapi Yuri menghentikannya. "Tunggu dulu! Aku teman, bukan musuh. Hehe, salam kenal." Yuri melambai-lambai menunjukkan deretan giginya. Gadis itu bingung mengerjap polos. "Ha-hai ... kau siapa?" Suara yang halus dan pertanyaan yang sedikit ragu. Yuri melebarkan matanya senang membuat gadis itu semakin bingung. Kakinya sudah ingin melangkah untuk lari saja. "Kau manis sekali. Aku melihatmu di pasar. Kau bersembunyi dari siapa? Aku pikir ada orang jahat yang mengejarmu sehingga kau lari ke sini, jadi aku mengikutimu untuk menyelamatkanmu. Tenang saja, aku ini kuat." Yuri menepuk dadanya berbangga diri. 'Hehe, tidak apa-apa berpura-pura kecil, 'kan? Tidak mungkin juga akau memberitahu kalau dia sedang mengintai pemuda tampan di toko bumbu dapur tadi. Dia bisa malu tertangkap basah,' batin Yuri. "Apa? Kau melihatku bersembunyi?" suara gadis itu sangat lirih walau sedang terkejut. Yuri mengangguk mantap, "Iya, apa kau baik-baik saja?" meneleng sengaja bersikap manis. Gadis itu tidak menjawab lantaran masih terkejut dengan kehadiran Yuri yang tiba-tiba. Pandangannya teralihkan pada rambut Yuri. Matanya melebar seakan terpesona. "Wah, rambutmu panjang sekali. Pasti sulit mengikatnya, 'kan?" kata gadis itu. Yuri melirik ujung rambutnya yang dikepang, "Ah, tidak juga. Aku sudah terbiasa. Kau juga cantik. Apa kau asli dari desa ini? Aku pengembara, mau jadi temanku?" mengulurkan tangan tanpa segan. "Apa? Kau mau berteman dengan gadis biasa sepertiku? Tidak-tidak, itu tidak boleh. Kau pasti orang penting dari jauh, pakaianmu saja sudah bagus. Tidak pantas berteman denganku." gadis itu buru-buru menggeleng sambil menyilangkan tangannya. "Hahaha, aku juga orang biasa. Hanya suka berjalan-jalan di negeri orang, haha. Apa kau mau kembali ke pasar? Kurasa tebakanku salah kalau kau sedang dikejar orang jahat, haha." Yuri sok bodoh menggaruk kepala belakangnya. Gadis itu mulai tersenyum merasakan keramahan Yuri, "Iya, aku tidak dikejar orang jahat. Aku sedang ... ada urusan yang tidak bisa kuhadapi saja di pasar, tapi itu tidak masalah." senyumnya masih terpancar. Kini giliran Yuri yang bingung, "Ha? Urusan macam apa itu?" "Urusan yang ... aneh." gadis itu memalingkan wajahnya. Rautnya berubah gundah, tetapi ada semu merah di pipi. "Hmm? Apa kau sedang malu? Pipimu Semerah tomat." dengan polosnya Yuri menunjuk pipi gadis itu. Seketika gadis itu menutupi pipinya, "Benarkah? Tidak, aku tidak malu." Yuri menyeringai, "Ah, jujur saja. Kau itu pemalu, 'kan? Eh, bagaimana kalau kau menemaniku bermain di pasar? Karena nanti sore aku harus melanjutkan perjalanan. Aku punya dua teman laki-laki yang mungkin sedang bermain pertunjukan sihir di sana. Ayo, temani aku!" Yuri mengulurkan tangannya. Gadis itu mengerjap lagi, "Kau sungguh seorang pengembara, ya? Wah, hebat!" bahkan ketika kagum pun suaranya masih terdengar pelan. Meskipun begitu dia menerima uluran tangan Yuri. "Yeeeeyyy, ayo kita jalan-jalan!" seru Yuri semangat agar gadis itu ikut bersemangat. Namun, gadis itu hanya tersenyum simpul. Dia berjalan mengikuti Yuri tanpa melepaskan kaitan tangannya. 'Dia benar-benar pemalu, ya? Beda sekali denganku sewaktu dulu. Aku mana pernah malu? Haha,' kata Yuri dalam hati. Sebenarnya Yuri ada maksud lain mengajak gadis itu bersamanya sementara. Dia ingin tahu apakah gadis itu masih mencuri-curi pandang pada penjual bumbu dapur itu. Saat di pasar nanti pasti akan terlihat. Penasaran dalam urusan orang lain itu tidak apa-apa asal dalam makna yang baik. Yuri hanya ingin membantu, itu saja. Sebelum dia melanjutkan perjalanannya, kenapa tidak? Tepat sesuai dugaan Yuri, pasar itu masih ramai dan kedua teman serta kudanya membuat pertunjukan sihir sungguhan. Ada banyak orang yang tertarik dan bersorak menikmati sihir Mou Lizar. Namun, Yuri tidak bisa melihat Zean karena Zean duduk sambil mengutak-atik kompas barunya. Dia tersentak dalam hati kala tangan gadis yang dia gandeng gemetar. Yuri menoleh dan ternyata gadis itu menyembunyikan wajahnya pada pemuda penjual bumbu dapur itu lagi. Seketika senyum jahil Yuri terbit. "Hei, aku perhatikan kau gugup saat melihat ke arah sana. Tanganmu sampai bergetar, lihatlah." Yuri menunjuk tangan mereka dengan sorotan mata. Gadis itu tersentak dan menggeleng, "Tidak, buka begitu." "Haha, menolak halus, ya? Aku tau, kau pasti punya hutang di sana yang tidak bisa kau bayar, 'kan? Apa itu urusan yang kau maksud tadi?" tebak Yuri ceria. Gadis itu mendelik, "Apa? Aku tidak punya hutang. Apa lagi di sana. Mendekatinya saja aku tidak berani." beringsut mengalihkan pandangannya lagi. Yuri sangat heran pada gadis itu, "Oh, aku salah? Kalau begitu kenapa tidak berani mendekatinya?" Gadis itu terdiam tidak mau menjawab. Selain itu matanya terus melirik ke arah toko bumbu dapur dan itu tertangkap jelas oleh Yuri. 'Haishh! Kenapa sulit sekali untuk dia jujur? Apa rasa malunya begitu besar? Hahh, tapi kalau dilihat-lihat dia lugu juga. Gemaaassss!' kata Yuri dalam hati. Tidak sengaja keberadaan mereka terlihat oleh Zean. Zean menghentikan aksinya bersama kompas baru dan dia berdiri untuk memastikan itu benar-benar Yuri. Namun, dia tidak berani mendekatinya karena sedang bersama seseorang. Gadis yang lebih muda darinya. Dahi Zean mengkerut tanda bingung. "Siapa yang bersama Yuri? Apa dia membuat masalah?" gumam Zean. Mou Lizar juga tidak sengaja menatapnya. Menemukan Yuri dan gadis itu yang berdiri di tengah-tengah jalan pasar. 'Wah, siapa si manis kecil itu? Teman baru, ya?' pikir Mou Lizar di sela-sela melakukan trik sihir. Dia membuat kelopak bunga dan daun-daun kering berterbangan di udara membuat orang-orang terhibur dan dia mendapat beberapa keping koin perak. Itu sepadan karena dia terus membuat orang sennag dengan berbagai sihir unik lainnya. Bahkan mengajak beberapa dari mereka terlibat. Itu sangat mengasikan sampai lupa waktu. Lain dengan pemuda yang ada di toko bumbu dapur. Dia terus sibuk melayani pembeli. Kebutuhan semacam bumbu memang dibutuhkan setiap hari. Wajar saja dia terlalu laris. Apa mungkin karena parasnya yang rupawan sehingga banyak gadis cantik yang membeli bumbu dapur di tokonya? Yuri menoleh ke toko tersebut. "Jangan!" gadis itu melarangnya. Yuri kembali meneleng, "Kenapa? Sejak tadi kau melihat ke sana, aku juga penasaran tau." Sengaja memancing gadis itu untuk mengatakan maksudnya. Gadis itu nampak gugup untuk bicara. Yuri terus memperhatikannya. 'Tangannya semakin gemetar. Dia bahkan gugup setelah lama berbincang denganku. Sudah jelas penyebabnya adalah pemuda atau toko itu,' pikir Yuri. Gadis itu terjingkat ketika Yuri memegang pundaknya dan menatapnya dalam, "Hei, tidak apa-apa, aku bisa membantu. Kalau kau takut membayar hutang biar aku yang menemanimu. Tenang saja." mengangguk serius dengan senyum. Gadis itu terbelalak, "Sudah kubilang aku tidak punya hutang di sana!" mendadak nada suaranya naik satu tingkat. Yuri tertawa, "Haha, aku hanya bercanda." "Kau sengaja menggodaku, ya?" gadis itu sedikit ternganga. Yuri menggeleng meminta maaf. Lalu, dia menoleh ke toko itu. Terbelalak tidak menduga kalau pemuda itu juga memandang ke arahnya. Tepatnya pada gadis itu dan dia diam saja walau tangannya bekerja melayani para pembeli. "Eh, lihat-lihat! Penjual di toko itu juga melihat ke sini. Apa yang dia lihat, ya?" Yuri menunjuk pemuda itu dengan jelas. Sontak gadis itu menurunkan tangan Yuri dan berpaling. "Sudahlah, ayo kita pergi ke tempat lain. Kalau tidak, aku tidak mau menemanimu lagi." "Eh-eh, ada apa ini? Oh, sekarang aku tau permasalahannya." Yuri tersenyum miring. Gadis itu mengejang kaku tidak mau mendengar ucapan Yuri selanjutnya. Dia lebih gugup dari sebelumnya. Yuri justru semakin menggoda menunjuk hidung gadis itu. "Kau ... ada main dengan pemuda itu, 'kan?" kata Yuri lirih. Gadis itu sungguh tersentak hebat. Tak sengaja langsung lari, akan tetapi terhalang oleh tangan Yuri yang masih menggenggamnya erat membuatnya tidak bisa lepas. Pasti detak jantungnya berpacu cepat sekarang. "Aduh, ini tidak baik. Kau bisa sakit jika terus begini. Lebih baik katakan saja padaku, aku akan membantumu. Kalaupun itu benar soal hutang aku juga mau membantumu. Aku ini orang baik sungguhan," sambung Yuri. Gadis itu tidak mencoba lari lagi. Dia mengahadap ke Yuri agak takut karena matanya tidak bisa untuk tidak melirik ke toko bumbu dapur itu. "Sudah kubilang aku tidak punya hutan dengannya," cicitnya sampai Yuri tidak bisa mendengarnya dengan jelas. "Apa? Kau bicara apa?" Yuri sedikit mendekatkan telinganya. Gadis itu berdecak, "Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Tolong, lepaskan aku." memohon dengan ekspresi yang sangat lugu seperti kucing meminta pertolongan. Yuri sangat tidak tega jika sudah seperti itu. "Hei, kau tidak akan lepas dariku begitu saja sebelum aku mengenalmu. Anggap saja ini paksaan dan sudah takdirmu bertemu denganku, haha. Ayo, aku bawa kau pada teman-temanku. Kita bicara di sana." Yuri menarik gadis itu tanpa persetujuan dari sang gadis. Tentu saja teman barunya meronta tidak rela. Sempat mengira salah mengenal Yuri sebagai orang baik. Keluguannya membuatnya tidak bisa membedakan mana orang jahat dan baik. Yuri sengaja membuatnya ketakutan agar mau mengatakan yang sebenarnya. Katakanlah Yuri memang memaksa sekarang. Zean hanya tersenyum ketika Yuri datang membawa gadis itu. Mou Lizar juga penasaran dan ingin menyapa tetapi dia tidak bisa menghentikan pertunjukannya. Jadi, dia hanya mencuri-curi pandang saja pada Yuri. "Hai, Kak Zean. Wah, Mou Lizar melakukannya dengan baik." Yuri melambai kecil. "Yahh, begitulah. Kau dari mana saja? Aku menunggu sejak tadi." Zean memperlihatkan kompas yang dia rusak. Yuri melotot, "Kau membeli kompas dan kau merusaknya?" "Jangan bingung dulu, aku sedang membuatnya menjadi lebih baik. Ini akan memunculkan keajaiban dari segala arah mata angin." senyum Zean terpancar untuk kompas di tangannya. "Oh, ternyata begitu. Kakak, aku temukan sumber masalah lagi." Yuri menunjukkan gadis pemalu itu. Dia bahkan menutup sebagian wajahnya dengan anak rambut ketika melihat Zean. "Di-dia tampan sekali. Apa kau kakak yang baik?" tanya gadis itu memberanikan diri. Yuri terkikik mendengarnya membuat Zean sedikit geli. "Iya, kami orang baik. Kau membuat Yuri kesulitan, ya?" tanya Zean sambil tersenyum. "Ti-tidak! Dia yang tidak mau melepaskanku padahal aku ingin pergi." menunjuk Yuri yang bersalah. Yuri meringis saat Zean menatapnya meminta penjelasan. Lalu, Yuri berbisik pada Zean meminta Zean untuk melihat apakah pemuda penjual bumbu dapur itu terlihat mencari-cari seseorang di jalan atau tidak dan Zean melakukannya. Yuri mengajak gadis itu duduk. Perhatian gadis itu teralihkan ketika melihat pertandingan Mou Lizar. Mou Lizar sengaja mengerjai salah satu penontonnya untuk ikut serta dan itu menghibur semua orang. Gadis itu pun tertawa membuat Yuri ikut tertawa. "Senyummu manis. Sayang sekali kalau perasaannya pahit," sindir Yuri. Tatapannya tak pernah lepas dari gadis itu seperti menginterogasi dengan cara halus. Tidak lama kemudian Zean kembali dan mengatakan jika pemuda itu memang terlihat seperti mencari seseorang walau hanya berdiri dan berdagang. Yuri semakin senang. Gadis itu dibuat semakin bingung olehnya. "Kau bukan orang jahat, 'kan?" pertanyaan yang sama dari gadis itu. Yuri justru menatapnya lekat. "Tempelkan telapak tanganmu pada telapak tanganku," pinta Yuri anoa berkedip. Jika gadis itu bingung, itu wajar. Namun, Zean ikut bingung sampai memiringkan kepalanya. 'Apa yang mau dilakukan Yuri?' pikirnya. Agak ragu gadis itu menempelkan salah satu telapak tangannya pada Yuri. Saat itu juga Yuri menutup matanya sebentar merasakan detak jantung yang mengalir dari tangan gadis itu. Gadis itu juga teramat heran. Yuri bisa merasakannya dengan sangat jelas. Kemudian, senyumnya menjadi lebih lebar bersamaan matanya terbuka. Gadis itu terbelalak. "Kau harus hati-hati dengan hatimu," ucap Yuri. "Apa?! Apa yang kau maksud?" gadis itu dilanda cemas sekarang. Zean memecah pembicaraan mereka, "Hei, apa yang terjadi? Yuri, siapa gadis ini?" duduk di sebelah Yuri. Yuri melepaskan tangannya dari gadis itu, sontak sang gadis menarik tangannya dan memegangnya erat seolah merasakan detak nadinya sendiri. "Kakak, dia sedang jatuh cinta." dengan polosnya Yuri menunjuk gadis itu. "Apa?!" teriak Zean dan gadis itu bersamaan. "Yuri, apa yang kau bicarakan?" Zean sedikit berbisik. "A-aku tidak seperti yang kau katakan. Itu salah!" gadis itu sudah ingin lari, tetapi Yuri menekan tangannya agar tidak bisa menghindarinya. "Imutnya! Kau terlalu takut sampai seluruh badanmu gemetar. Tenang saja, kerap kali masalah hati pasti bereaksi yang sama," kata Yuri sok mengerti. Zean menggaruk tengkuknya bingung. Menatap Yuri dan gadis itu bergantian. Ekspresi kedua perempuan itu berbeda, Zean tidak tahu mana yang benar dan yang salah. "Yuri, sebenarnya apa yang coba kau selesaikan?" kesah Zean. "Kakak, gadis ini akan jadi pengecut jika terus diam-diam memendam rasanya. Hei, katakan padaku karena aku ingin mendengarnya langsung darimu. Kau suka pemuda tampan penjual bumbu dapur itu, 'kan? Apa kalian sudah berteman?" tanya Yuri tepat sasaran. Bola mata gadis itu semakin melebar bahkan seluruh tubuhnya bergemuruh hebat. "Ha? Apa sampai setakut itu? Apa kau sedang sakit? Tubuhmu bergemuruh, ini tidak baik." Zean memeriksa reaksi gadis itu lewat pandangan. "Dia tidak sakit dan dugaanku tidan mungkin salah, kau tau sendiri itu, 'kan, Kak? Gadis ini sedang merasakan jatuh cinta, haha!" Yuri tertawa sampai matanya menyipit. "A-a-apa?!" bahkan untuk terkejut pun gadis itu harus terbata-bata. Zean juga tersentak, tetapi dia meringis dan tersenyum ramah pada gadis yang masih dipegang Yuri. Mou Lizar pun terkejut mendengarnya. "Kau seperti orang sakit hanya karena itu, ya? Apa soal hati memang sesulit itu?" Zean menengadah ke langit. "Pertanyaan apa itu? Tanyakan saja pada hatimu," jawab Yuri asal. Sontak Zean menatap dadanya, "Hatiku selalu merasa terancam ketika kau pergi jauh dariku, Yuri. Itu yang aku tau," ujarnya lugu. "Apa?!" sekarang giliran Yuri yang mengejang kaget. Zean mengerjap polos, "Apa aku salah bicara? Itu kenyataannya." Yuri menggeleng cepat, "Iya-iya, terserahlah. Sekarang waktunya untuk gadis ini menunjukkan keberaniannya. Ayo katakan padaku kalau kau menyukainya, jujur saja!" Entah paksaan atau dukungan, yang jelas Yuri terlihat menakutkan di mata gadis tersebut. "A-aku tidak tau. Le-lepaskan aku." gadis itu meronta. Matanya berkaca-kaca ingin menangis. Yuri dan Zean panik dibuatnya. "Ah, jangan menangis. Apa aku menakutimu? Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa lagi. Baik, sudah jangan menangis, ya. Usia kita hampir sama jadi jangan cengeng dan penakut begitu. Kalau tidak akan ada banyak orang jahat yang memanfaatkanmu," terang Yuri menghiburnya. Gadis itu seolah menemukan kosa kata baru, "Ce-cengeng? Penakut?" Yuri agak ragu menyatakannya. Dia tidak bisa berbohong, "I-iya." Lalu, gadis itu tertunduk, "Itulah aku. Penakut, pemalu, cengeng, mudah sekali ditipu. Jadi, kumohon jangan bodohi aku. Aku tidak tau kau orang baik atau bukan meskipun beribu-ribu kali kau mengaku sebagai orang baik." Dalam hati Yuri bergumam. Gadis itu membuatnya salah kaprah. Jika salah bicara saja pasti bisa menyakiti perasaannya dan Yuri tidak terlalu suka pada gadis yang cengeng dan tidak percaya diri. Karena itu tidak ada dalam dirinya. Dia menatap gadis itu lekat. Berpikir apakah dia akan membantunya atau tidak. Bukan hanya percintaannya, melainkan mental gadis itu yang terlalu rapuh. 'Kasihan, benar-benar kasihan. Dia setipis daun kering sehingga mudah retak. Aku harus memperbaiki sedikit emosinya agar bisa stabil,' pikir Yuri. "Emm, sepertinya cuaca akan terus mendung sampai nanti sore. Apakah hujan bisa membasahi desa ini?" Yuri menatap langit mengalihkan pembicaraan. Zean ikut menatap langit. "Tentu bisa karena jika tidak ada hujan maka sayuran akan sulit tumbuh." jawab gadis itu sambil mengusap hidungnya. "Oh, begitu. Apa nanti malam akan hujan? Kalau hujan turun pasti perjalanan tidak bisa dilakukan," sambung Yuri. "Apa? Hujan?" Zean masih memandang langit. "Bisakah kami menginap di rumahmu malam ini? Kami bisa bayar sewanya." Yuri tersenyum manis pada gadis itu. "Apa?!" bukan hanya Zean dan gadis itu yang berteriak, tetapi Mou Lizar pun juga. Karena teriakannya membuat para penonton bertanya-tanya. 'Belum juga keluar dari desa ini sudah mau menginap lagi. Katanya mau mengikuti petunjuk jalan ke istana, kenapa jadi begini? Apa maksud Yuri?' pikir Mou Lizar. Sudut bibirnya berkedut. "Apa? Kau yang benar saja, Yuri," bisik Zean. Yuri tidak terlalu mempedulikan protesan mereka. Dia masih asik tersenyum yang semakin dibuat manis pada gadis itu. Tentu saja, awan tidak mendung di atas sana. Tidak mungkin jika hujan akan datang. Dalam arti lain ini murni akal-akalan Yuri saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD