22. Jalan Menuju Istana

2579 Words
Zean tidak mengalihkan perhatiannya pada Yuri di saat Mou Lizar mengganggunya di belakang. Dia tidak merasa salah bicara sampai bisa mengubah emosi Yuri dengan cepat, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Lagi pula Zean tidak akan takut pada Yuri entah duku atau sekarang. "Pangeran, Yuri mendung sekali. Kau apakan dia? Kalau emosinya tidak stabil bisa-bisa mengamuk nanti," bisik Mou Lizar pada Zean. Zean hanya meliriknya dan kembali memandang Yuri. "Ikut campur dalam pemerintahan, itu adalah makanan keseharianku. Yuri, begini saja, kuberi kau jawaban pasti. Kita akan menuju istana. Di samping itu sepanjang perjalanan kita kumpulkan energi positif untuk mengisi biji pohon dan jika sudah tiba di istana kita bantu urusan tiap desa. Biar aku yang bicara pada perdana menteri. Jika perlu terhadap sang Raja sekaligus. Bagaimana? Kita bisa dapatkan dua hal sekaligus. Lagi pula hatimu juga tidak terima dan menggerutu sejak tadi, bukan? Raut suram yang kau tunjukkan sangat jelas, Yuri. Aku tau kau tidak bisa berbohong. Hatimu sudah terketuk sedari tadi, tapi pikiranmu terus memikirkan sesuatu," terang Zean panjang membuat Mou Lizar was-was akan jawaban Yuri. Dia takut jika Yuri berprasangka sebaliknya dan salah menerima saran Zean. Namun, Yuri tidak menanggapi sedemikian rupa. Dia justru menghela napas panjang dan berbalik menatap mereka. Lantas jalan mereka terhenti. Orang-orang desa masih saja memperhatikan mereka dan saling berbisik membicarakan mereka yang sangat jelas bukan berasal dari desa Sayuran. "Kak Zean, mungkin kau benar. Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi takutnya justru akan menghalangi jalan kita. Tidak ada salahnya juga dicoba. Baiklah, ayo kita menuju jalan ke istana." senyum Yuri mulai muncul. Mou Lizar mendesah lega tidak jadi takut. Itu membuat Yuri terkekeh. Zean mengangguk dan membalas senyuman Yuri. "Hei, Mou Lizar. Kau kenapa?" tanya Yuri iseng. "Diam kau! Aku khawatir kau akan terpengaruh emosimu yang membuatmu murung. Itu mendung sekali. Aku masih trauma atas pertarungan kalian, ya. Meskipun itu tidak melibatkan emosi," jujur Mou Lizar. "Hahaha, itu tidak akan terjadi." Yuri mengibaskan tangan. Mou Lizar membuang pandangannya membuat Yuri semakin terkekeh. "Coba kulihat kotak itu. Apa isinya?" Zen meminta kotak itu. "Ah, iya benar. Apa isinya, ya?" Yuri memberikannya pada Zean. Zean mulai membuka kotak itu. Dia baru tau ternyata kotakya begitu ringan seperti tidak ada isinya. Baik Mou Lizar ataupun Yuri, mereka sangat penasaran menanti Zean membuka kotak itu. Saat Zean membukanya, mereka tidak terkejut sama sekali. Karena sesuai dugaan, isinya hanyalah gulungan kertas yang tertulis sebuah peta penunjuk jalan ke istana. Bedanya peta ini jauh lebih jelas dari peta pada umumnya dikarenakan lengkap menunjukkan letak posisi dan nama di setiap jalan bahkan terlukis dengan tinta tebal. Mereka saling bertukar pikiran lewat pandangan. Setuju untuk mengikuti petunjuk jalan ke istana negeri Ru. Di sela itu, mereka harus menemukan cara agar energi positif kembali teriakan di biji pohon cincin merah. Zean menggulung kertas peta itu lagi dan menyerahkan kotaknya pada Yuri, "Baik, sudah diputuskan! Kita menuju ke istana!" Yuri tersenyum, "Hmm, benar! Naik kuda atau jalan kaki?" "Jalan kaki saja. Siapa tau ada yang menarik di jalan," usul Mou Lizar. Yuri menjentikkan jarinya, "Ide bagus! Aku juga suka jalan kaki. Ayo, ikuti aku!" melambai menunjukkan arah pada mereka. "Ck, memangnya kau siapa sampai aku harus menurut padamu? Tidak ada ketua yang harus dituruti, ya." sengaja berdecak sambil mengikuti langkah Yuri. Tangannya bersendekap sedikit tidak terima. "Hanya bercanda agar tidak tegang. Mou Lizar, kau tidak mau cari uang? Mumpung ini masih ramai di desa Sayuran," kata Yuri. Kaki mereka terus melangkah ringan. Dua kuda itu tidak pernah rewel atau mengamuk. Talinya selalu berada di tangan Zean. Lalu, Pangeran negeri Zilla itu selalu mendapat pandangan yang sama dari setiap gadis-gadis muda di manapun dia berada seperti sekarang. Sayangnya Zean tidak memperdulikan itu begitu juga Yuri. Mereka memilih tidak memperhatikannya. "Uangku masih lumayan banyak. Kita bisa beli makanan kapanpun asal bertemu dengan makanan. Hahh, aku harap tidak terjebak di hutan lagi selama berhari-hari. Lihat saja, negeri ini hampir keseluruhan berupa hutan." Mou Lizar menghitung uangnya di dalam kantung kain yang terikat di pinggangnya. "Hmm? Kau, 'kan mengenal betul daerah ini. Jadi tidak perlu takut." Yuri melirik ke belakang ingin tahu apa yang dilakukan Mou Lizar. Zean juga mengikuti arah pandang Yuri. "Mou Lizar, kau tidak mau menghibur orang lagi? Itu lebih baik meskipun kau tidak mau dibayar nantinya," saran Zean. Mou Lizar mendelik, "Tentu saja aku mau dibayar sekaligus menghibur orang-orang juga. Bukannya kita sedang fokus ke perjalanan? Bagaimana bisa menghentikannya begitu saja?" "Ah, santai saja. Kita tidak perlu terburu-buru begitu. Emm, kurasa kita belum menemukan jalan keluar dari desa ini. Apa kau tau, Mou Lizar?" sahut Yuri. "Iya, jalan keluarnya masih jauh karena desa ini lumayan besar. Memangnya kenapa?" jawab Mou Lizar. "Nah, pas sekali! Kita gunakan waktu ini untuk bermain sebentar di desa ini. Kau buat pertunjukan saja sana. Sudah lama juga aku tidak melihatmu bermain sihir." Yuri berbalik otomatis menghentikan langkahnya. Tepat di kaki kiri Zean berhenti dia menemukan sesuatu yang epik, "Lihat itu, sedang ada orang yang membongkar gudang besar." menunjuk jalan di depan sana. Banyak orang berbondong-bondong menuju gudang itu bersamaan. Mou Lizar memicing memandangnya. "Itu bukan gudang, Pangeran, melainkan pasar. Di sana sudah memasuki wilayah pasar desa. Lihat, ada banyak toko-toko kecil yang mendagangkan barang-barangnya." "Wah, benar! Aaaa, ada pernak-pernik! Apa itu yang mengkilap? Kakak, ayo kita lihat ke sana! Lalu, kau, Mou Lizar, buat pertunjukan sana! Ayo kita belanjaaaa!!!" seru Yuri bahagia sampai matanya berbinar terpancar cahaya. Menarik Zean cepat membuat dua kudanya meringkik mengikutinya begitu juga dengan Zean yang kualahan menanggapi tarikan Yuri. Yuri tertawa melakukannya. Mou Lizar bingung menggaruk kepalanya, "Ha? Belanja? Pertunjukan sihir? Hahh, baiklah, apa boleh buat?" mengendikkan bahunya dan menyusul Yuri malas. Sorak-sorai ramai di gudang yang dimaksud Zean. Yuri tidak mau mendekat, dia memilih melihat-lihat penjual pernak-pernik yang juga dikerumuni banyak gadis di sana. Zean mengajaknya untuk mendekati gudang itu karena dia penasaran, akan tetapi Yuri tidak mau. Dia terlalu asik dengan pernak-pernik. Rasa penasaran Zean semakin tinggi karena gudang itu sangat bising sekali. Ketika Mou Lizar menghampirinya, barulah dia mengajak Mou Lizar untuk mendekati gudang itu. "Yuri, kau jangan pergi jauh-jauh. Aku mau ke tempat itu. Jika sudah selesai berbelanja pergi cari aku atau Mou Lizar, ya," kata Zean tepat di belakang Yuri. "Iya-iya, aku tau. Wah, cantik sekali!" Yuri menjawab asal-asalan. Dia masih terlena dengan semua benda lucu di depannya. Zean hanya bisa mendesah dan tersenyum pasrah. Ketika kakinya ingin melangkah pergi, seruan para gadis mulai menggangunya membuat gerakkannya terhenti. Mou Lizar menepuk dahinya tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti ini. Merasa dirinya kalah telak dari Zean. "Siapa pemuda tampan itu? Dia membawa dua kuda. Keren sekali, ya!" bisik-bisik yang sangat kentara di samping Yuri, akan tetapi Yuri tidak peduli. "Aku dengar banyak orang dari luar datang ke negeri kita. Mungkin dia salah satunya. Aku tidak mengira kalau orang asing itu sangat tampan! Apa yang lain juga sama tampan? Bisa jadi lebih tampan!" gadis yang satu ini memekik keras. Zean sampai mendelik lalu tersenyum ramah. 'Adakah yang tidak memuji parasku di sini?' batin Zean. Dia mencoba pergi, tetapi beberapa gadis merentangkan tangan di depannya menahan langkah Zean. Zean mundur satu langkah lantaran terkejut. Gadis-gadis itu menampilkan senyum terbaiknya. Jelas itu untuk menggoda Zean. "Eee, permisi. Biarkan aku lewat," kata Zean sopan. "Aduh, jika begitu kau tidak akan dibiarkan pergi. Jangan terlalu sopan pada perempuan muda," bisik Mou Lizar. "Apa? Benarkah? Lalu, aku harus bagaimana?" Zean balas berbisik. Sebelum Mou Lizar menjelaskan cara mengusir gadis dengan baik, gadis-gadis itu terlebih dulu menyela ucapannya. "Kau tidak boleh lewat, orang tampan. Kalau kau pergi saja." menunjuk Mou Lizar untuk pergi. "Apa?! Ini tidak adil! Bagaimana bisa begitu?" Mou Lizar sedikit mengejang tidak suka. "Huh, karena kau aneh." salah satu sari mereka melengos dan yang lainnya mengangguk. Mou Lizar lebih terkejut dari sebelumnya dan Zean hanya tersenyum ramah. Seketika gadis itu berubah sok manis sambil mengedipkan matanya berkali-kali pada Zean. "Hai, Tuan. Senyummu begitu memikat. Boleh kita berkenalan?" "Maaf, permintaanmu tidak bisa diterima karena tidak sopan." bukan Zean yang menjawab, melainkan Mou Lizar. Dia membuat gerakan memotong dari tangannya. Gadis itu mendesis kesal, "Aku tidak bicara padamu, jelek!" Mou Lizar tersulut, "Apa katamu? Sungguh tidak sopan sekali. Rasakan ini!" dalam sekali hentikan jari Mou Lizar membuat bibir gadis itu bungkam. Sekuat apapun Gadi itu berusaha untuk bicara dan membuka mulut, dia tidak akan bisa melakukannya. Justru yang keluar hanya suara dehamannya saja. Teman-teman gadis itu menutup mulutnya syok. "Hei, apa yang kau lakukan padanya? Cepat kembalikan seperti semula!" pinta salah satu sari mereka. Zean juga tersentak meskipun merasa sedikit lucu. Dia menahan tawanya, "Mou Lizar, bebaskan dia. Kasihan." Mou Lizar tersenyum miring sambil merangkul pundak Zean, "Haha, rasakan akibatnya untuk mulut yang tidak bisa di kontrol bicaranya. Gadis sepertimu pantas mendapat sedikit pelajaran, haha. Aku benar, tidak?" menaik-turunkan alisnya pada Zean. Zean mengernyit tidak bisa menjawab. Para gadis itu protes dan semakin ramai menyudutkan Mou Lizar meminta pertanggungjawaban. Zean juga ikut disudutkan karena temannya Mou Lizar. Sudah meminta agar Mou Lizar membuat gadis itu bisa bicara seperti semula, tetapi Mou Lizar keras kepala menolaknya. Dia justru bermain-main lagi. Gemas sudah sekaligus tidak tahan akan bisingnya suara perempuan yang menyalahkannya, dia membuat semua mulut mereka tidak bisa terbuka. Hanya menyisakan gumaman tidak jelas dan meronta berusaha membebaskan diri dari sihir Mou Lizar. "Hahaha, rasakan itu, dasar gadis-gadis tidak sopan! Aahhhh, bagaimana? Haha ,kalian lucu kalau begini. Lucu sekali, hahaha. Percuma saja sekuat tenaga berusaha membuka mulut kalian, tidak akan bisa, Sayang. Hanya aku yang bisa karena aku menyihir kalian. Hahaha." Mou Lizar semakin tertawa terbahak-bahak. Zean juga tak bisa membendung rasa gelinya. Dia hanya terkekeh menahan sekuat tenaga agar tidak tertawa. Gadis-gadis itu semakin meronta dan itu membuat kebisingan semakin besar. Mengganggu transaksi Yuri dengan pedagang pernak-pernik dan semua pelanggannya saja. Geram sudah Yuri sampai mengepalkan tangan. Mengembalikan semua pernak-pernik yang sudah dia pilih dan berbalik ke belakang meninju udara di tengah-tengah Mou Lizar dan Zean. Dua laki-laki itu tersentak kaget. Tawa mereka berhenti lain dengan para gadis yang masih sibuk dengan gumaman tidak jelas. Para pelanggan yang ada di toko itu pun menjadi penonton. Mereka heran bercampur bingung. "Yu-Yuri? Sudah selesai belanjanya, ya?" tanya Zean basa-basi. "Ish, diam kalian! Merusak suasana perempuan sana! Mou Lizar, apa yang kau lakukan? Bebaskan mereka! Kau kusarankan mmeberi pertunjukkan, bukanya mengerjai orang di sini. Sana pergi!" usir Yuri menunjuk jalan lain. Zean menyuruh Yuri bersabar karena dahi Yuri berkerut kesal, "Ahaha, hanya main-main, Yuri. Kau tenang saja." "Kakak, kenapa kau ikut-ikutan? Katanya mau lihat gudang, ya, lihat saja. Jangan ladeni mereka!" Yuri justru membentak Zean. Zean meringis bodoh tidak bisa berkutik. 'Auramu kuat sekali, Yuri. Kalau Cen Dama lihat pasti sudah membujukmu dengan sebutan adik. Ah, ngomong-ngomong bagaimana kabarnya, ya? Aku sampai lupa,' batin Zean. Yuri melengos, "Huh! Kalau jalan pikiranmu aku sudah tau, Kakak. Lain dnegan Mou Lizar. Cepat kembalikan mereka seperti semula!" Zean kembali terkejut. Apakah Yuri juga memikirkan Cen Dama tiba-tiba? Sean berpikir Yuri memikirkan hal yang sama dengannya. Mou Lizar mendelik lalu berdecak. "Kejamnya kau kalau mengomel. Iya-iya, ini aku kembalikan. Sabar, dong." Mou Lizar pasrah menjentikkan jarinya lagi dan seketika mulut semua gadis yang dijahilinya kembali bisa terbuka. Mereka menghela napas berat dari mulut dan mulai mencerca Mou Lizar habis-habisan. Suaranya jauh lebih berisik dan melengking dari biasanya sampai menyita perhatian lebih banyak orang. Yuri tertawa ringan, "Haha, nikmati cacian mereka, ya." dia kembali pada belanjanya begitu saja. Tidak peduli dengan omelan para gadis pada kedua temannya. "Apa? Yuri, tega sekali kau!" Mou Lizar semakin tersulut. Zean menimang sesuatu. Bisingnya lawan jenis yang kesal padanya tidak terlalu diambil pusing. Mou Lizar membantah setiap hinaan yang keluar dari mulut mereka, akan tetapi Zean justru meninggalkannya tanpa berpaling meski Mou Lizar panggil berkali-kali. Lagi pula gadis-gadis itu sudah lupa padanya jadi ini kesempatan baginya untuk lari. Dia berhasil tiba di kerumunan orang-orang yang mayoritas laki-laki di gudang itu. Sungguh terkejut ternyata ada banyak barang yang dikeluarkan dari gudang itu dan mereka sedang memperebutkannya. "Hei, Tuan. Apa yang kalian lakukan?" tanya Zean pada salah satu dari mereka. Orang yang ditanyai Zean menoleh, "Oh, pemilik gudang ini sedang mengadakan diskon besar-besaran. Tokonya mau dibenahi, karena itu semua barangnya dikeluarkan. Sekalian saja harganya diturunkan." Seketika Zean mengangguk paham. "Aku pikir ada apa," gumamnya. Dahinya mengkerut saat pandangannya jatuh pada sebuah benda bersinar terkena pantulan sinar matahari. Benda itu tertimbun di antara benda-benda besar. Zean kesulitan memperhatikannya. "Per-permisi, bolehkah aku minta tolong? Tolong ambilkan benda bulat itu untukku," pinta Zean baik-baik pada setiap orang yang ada di dekat benda itu. Namun, Zean tidak dipedulikan. Sebisa mungkin Zean menggapai benda itu dan akhirnya berhasil. Berbentuk lingkaran dan terlapis kaca dengan tembaga di bawahnya, tak lupa benda runcing di dalam yang bergerak kesana-kemari saat tubuh Zean juga bergerak. Benda itu bernama kompas. Jarum merah menuju ke arah utara. Tidak tahu benda itu berguna atau tidak, Zean membelinya dengan harga yang lebih. "Tuan, aku beli kompasmu, ya." uangnya diserahkan begitu saja di atas benda yang menutupi kompas tadi. Tidak tahu suara pedagang itu di mana yang jelas dia menjawab ucapan Zean. Lalu, Zean kembali Kapa Mou Lizar dan Yuri, akan tetapi mereka sudah tidak ada di tempat pernak-pernik. Para gadis yang bising juga menghilang. Tidak selang lama Zean mendengar seruan penarik perhatian tidak jauh dari sana. Ternyata itu Mou Lizar yang sedang menggelar kain kecil dan menunjukkan aksi sihir kecilnya. Zean segera menuju ke sana dan duduk di sebelahnya sambil memperhatikan kompas. Kudanya masih aman setia mengikutinya. Tidak bertanya pada Mou Lizar tentang keberadaan Yuri karena dia yakin Yuri sedang berjalan-jalan melihat pasar desa sekarang. "Perhatian semuanya! Aku adalah penyihir jalanan yang akan menunjukkan sedikit trik sihir yang sangat jarang dimiliki di negeri ini. Tahukah kalian ada berapa orang yang bisa menggunakan sihir? Sangat sedikit, jadi saksikanlah dan jangan lupa bawa koin perak untukku, ya, hahaha." Mou Lizar mulai berteriak. Orang-orang banyak yang melihatnya lalu menghampirinya bertanya tentang apa yang akan dilakukan Mou Lizar. Zean tidak terpengaruh apapun yang Mou Lizar lakukan. Dia sibuk dengan kompas dan mencoba merubah sedikit sesuatu di sana. Lain dengan Yuri yang benar-benar mengitari pasar desa. Dia membeli dua kalung dari kulit kayu yang sudah diperkokoh di toko pernak-pernik tadi. Rencananya ingin diberikan pada kedua kudanya. Tidak disangka saat melihat-lihat pasar, Yuri menjumpai seorang gadis yang sangat polos nan manis sedang bersembunyi di balik toko kain. Pandangannya selalu tertuju pada toko kecil yang menjual sayuran berbagai bumbu dapur. Yuri meneleng heran memperhatikan gadis itu dari kejauhan. 'Hmm? Dia nampaknya lugu sekali. Ada apa? Apa yang dia takutkan dari toko bumbu dapur itu?' batin Yuri. Melihat kedua hal yang menarik perhatiannya secara bergantian. Kemudian, ketika Yuri ingin menghampiri gadis itu, ternyata seseorang dari toko bumbu dapur tadi muncul sambil membawa keranjang berisi bawang merah dan bawang putih. Orang itu tersenyum memikat siapa pun yang lewat. Yuri tersentak lagi karena orang itu masih muda dan gadis itu juga tersentak mengetahuinya. Seketika gadis tadi berpaling sebentar dan memperhatikan toko itu lagi. Yuri heran kenapa gadis itu bersikap demikian. 'Oh, aku mengerti. Gadis itu sedang menunggu datangnya pemuda itu. Wah, jadi dia diam-diam melihat pemuda itu dari jauh, ya? Memangnya pemuda itu siapa?' pikir Yuri. Memang begitu menawan di usia remaja awal bagi Yuri. Banyaknya pembeli yang mulai mengerumuni toko itu membuat sang gadis kesusahan melihat apa yang ingin dia lihat. Sontak Yuri mengerti jika gadis itu mengincar pemuda penjual bumbu dapur di sana. Gadis itu mendesah pasrah karena sudah tidak bisa melihatnya. Akhirnya dia pergi dengan wajah lesu, akan tetapi ada semburat senyum dan semu merah di pipi ketika dia pergi. Yuri bisa melihatnya dengan jelas membuat senyumnya juga terangkat. Tanpa pikir panjang, Yuri mengikuti gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD